Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Jhon Victory Dan Sella Marvellina


__ADS_3

"Bagaiamana Pak, sudah siap?" Pak penghulu kembali bertanya.


"Mas!" Panggil Nyonya Carolyna.


"I...iya saya siap." Jawab Pak Jhon.


"Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang ya. Pak Reno sudah mempercayakan saya untuk menikahkan Anda, dan Nona Sella. Jadi sekarang mari kita membaca basmallah, setelah itu kita langsungkan akad nikahnya," kata penghulu.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Lalu penghulu mulai menjabat tangan Pak Jhon.


"Saya nikahkan engkau Jhon Victory Bin Alm.Eddie Victory dengan Sella Marvellina Binti Reno Marvellino dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai." Kata penghulu dengan suara yang keras.


"Saya terima nikahnya Sella Marvellina Binti Reno Marvellino dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai."


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah." Jawab mereka dengan serempak.


"Alhamdulillah."


Lalu mereka bersama-sama membaca shalawat, dan juga doa. Sella terus tersenyum saat menyalami kerabat-kerabatnya yang memberikan ucapan selamat padanya.


Ia memeluk kedua orang tuanya, meminta restu dan juga doa. Ia bersikap seolah-olah pernikahan ini adalah awal dari lembaran barunya.


Setelah selesai memberikan ucapan selamat, para kerabat mulai pamit pergi, meninggalkan kediaman keluarga Victory.


"Terima kasih sudah berkenan hadir di acara kami." Ucap Sella sambil ikut mengantarkan mereka hingga ke ambang pintu.


"Sama-sama, sekarang kita sudah menjadi saudara. Sering-seringlah berkunjung ke gubukku," kata salah seorang dari mereka.


"Iya, dalam waktu dekat saya pasti akan kesana." Jawab Sella.


"Sel, Mama dan Papa juga pamit pergi. Kamu baik-baik ya sama suami kamu, harus berbakti, kamu tidak boleh membantah ucapannya," kata Bu Dina sambil memegang kedua bahu Sella.


"Iya Ma."


"Tidak menginap di sini saja Bu?" tanya Nyonya Carolyna.


"Tidak, kami pulang saja. Lagipula Sella juga akan pergi." Jawab Bu Dina.


"Baiklah kalau begitu. Sella, nanti biar Pak supir yang mengantar kalian. Semoga kamu suka dengan rumahnya, semoga kamu merasa nyaman bulan madu di sana. Saya doakan, semoga kamu cepat diberi momongan. Aku sangat senang jika hari itu sudah tiba Sella." Kata Nyonya Carolyna sambil tersenyum senang.


"Terima kasih untuk semuanya." Jawab Sella.


"Ini adalah senyuman terakhirmu Nyonya Carolyna, setelah ini kau akan sengsara. Siapa yang mau hamil, tidak ada Carolyna. Yang kuinginkan harta, bukan keturunan." Batin Sella sambil tersenyum licik.


"Tidak perlu berterima kasih, saya juga bahagia dengan pernikahan ini." Ucap Nyonya Carolyna.


Setelah selesai menata barang-barangnya, Pak Jhon keluar dari kamarnya. Beliau menuju ruang tamu, dan ikut bergabung dengan Sella dan Carolyna.


"Sudah semua Om?" tanya Sella sambil menatap dua koper besar yang dibawa oleh Pak Jhon.


Senyuman terus berkembang di bibir merahnya. Bagaimana tidak, ia akan pindah ke rumah barunya, rumah yang akan menjadi hak miliknya.


"Sudah." Jawab Pak Jhon dengan singkat.

__ADS_1


"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Sella.


"Ayo!" jawab Pak Jhon sambil menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar.


"Nyonya kalau begitu kita berangkat dulu ya." Ucap Sella.


"Iya, hati-hati. Mas, jaga Sella ya. Kabari aku, jika kalian sudah sampai," kata Nyonya Carolyna.


"Pasti Nyonya." Sahut Sella.


"Iya Ma." Sahut Pak Jhon.


"Nyonya, kami juga pamit ya, kami akan langsung pulang ke Surabaya," ucap Bu Dina.


"Iya Bu, hati-hati ya," jawab Nyonya Carolyna.


"Iya." Jawab Pak Reno dan Bu Dina bersamaan.


"Oh ya Sella, tunggu sebentar!" kata Nyonya Carolyna.


"Ada apa?" tanya Sella.


"Ini ada sedikit hadiah dari saya, jangan dibuka sebelum tiba di sana, ya?" kata Nyonya Carolyna sambil memberikan amplop coklat kepada Sella.


"Tidak usah repot-repot Nyonya."


"Tidak apa-apa, ambillah! jangan sungkan," ucap Nyonya Carolyna.


"Baiklah, terima kasih banyak ya Nyonya." Jawab Sella sambil menerima amplop itu.


Setelah itu mereka berangkat bersama-sama. Pak Jhon dan Sella menuju rumah barunya. Sedangkan Pak Reno dan Bu Dina, mereka kembali ke Surabaya.


***


Hari semakin senja, sang surya hampir tiba di peraduannya, menyisakan sinar jingga yang mempesona.


Pak Jhon dan Sella masih berada di dalam mobil, mereka duduk bersama di bangku belakang, menikmati perjalanan yang lumayan panjang.


Sella tak henti-hentinya mengulas sebuah senyuman. Pikirannya menerawang jauh, menerka-nerka seperti apa rumah barunya, bagaimana bentuk kamar tidurnya.


Karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri, ia sampai tak menghiraukan keberadaan Pak Jhon. Beliau duduk diam di sebelah Sella, tidak banyak bergerak, juga tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Apa perjalanan kita masih jauh, Om?" tanya Sella sambil menoleh, menatap pria tua yang kini sah menjadi suaminya.


"Tidak." Jawab Pak Jhon dengan singkat, nada suaranya terdengar sangat datar.


"Kenapa Om seperti tidak senang, apa Om tidak bahagia menikah denganku?" tanya Sella, kini ia menyadari perubahan sikap Pak Jhon.


Sejak menerima lamaran Nyonya Carolyna, hari ini adalah pertama kalinya ia bertatap muka dengan Pak Jhon. Sejak tadi pagi, Pak Jhon lebih banyak diam, tidak seperti biasanya, yang sangat suka merayu dan menggoda Sella. Entah kenapa, Sella juga tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya.


"Memangnya kau bahagia?" Pak Jhon balik bertanya.


"Tentu saja, kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Semakin kesini, aku semakin nyaman dengan Om." Jawab Sella sambil bergelayut manja di lengan Pak Jhon.


"Bagaimana mungkin aku tidak bahagia, hartamu yang berlimpah, sebentar lagi akan menjadi milikku." Batin Sella dalam hatinya.


"Aku pegang kata-kata kamu Sella." Kata Pak Jhon.

__ADS_1


"Maksudnya apa Om?" Tanya Sella sambil mendongak, dan menatap wajah Pak Jhon.


"Nanti kau akan mengerti." Jawab Pak Jhon sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Meskipun tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan suaminya, namun Sella tidak banyak bertanya. Ia kembali duduk dengan tegak, dan menatap jalanan panjang ada di hadapannya


Sekitar setengah jam kemudian, Sella mengernyitkan keningnya. Mobil yang ia tumpangi, kini melaju semakin jauh dari pusat kota. Kemana? Kenapa melewati jalan kecil, yang sepertinya menuju ke pedesaan? Apakah ini jalan menuju ke puncak, atau pinggir pantai?


Beberapa pertanyaan mulai bermunculan dalam benak Sella, dan entah kenapa hatinya menjadi gelisah. Sella terus menatap keluar, melihat jalanan kecil yang berkerikil. Ah di mana ini sebenarnya.


Tak lama kemudian, mobil berbelok di gang yang lebih kecil. Tidak ada rumah, tidak ada toko, tidak ada satupun bangunan yang berdiri di pinggir jalan. Sejauh mata memandang, hanya pohon pisang yang terlihat.


"Kenapa ini seperti di pedesaan, Om?" Tanya Sella.


"Diamlah!" jawab Pak Jhon.


Belum sempat Sella melontarkan pertanyaan keduanya, tiba-tiba mobil sudah berhenti, tepat di depan rumah sederhana yang cat temboknya mulai mengelupas. Sella menoleh kesana kemari, hanya ada tiga rumah, dan rumah yang ada di hadapannya adalah rumah yang paling sederhana.


"Silakan Tuan!" kata Pak supir sambil mengangguk.


"Silakan? Om apa maksudnya ini? Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Sella dengan cepat. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan, mungkinkah pilihannya ini salah?


"Turun! Dan aku akan menjelaskan semuanya!" kata Pak Jhon dengan tegas, tatapannya terlihat sangat tajam.


Tak ada pilihan lain, akhirnya Sella ikut turun. Ia menatap nanar pada lingkungan yang ada di sekitarnya. Tempat yang sangat jauh dari apa yang dibayangkannya. Pak supir menurunkan dua koper, dan memberikannya kepada Pak Jhon.


"Tugas saya sudah selesai Tuan, sekarang saya pamit undur diri." Kata Pak supir sambil melangkah masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu jawaban dari Pak Jhon.


Sella masih diam terpaku, ia belum bisa memahami situasi yang sedang terjadi. Mobil yang mengantarnya sudah berputar balik, dan sekarang sudah mulai melaju, meninggalkan ia dan suaminya.


"Om..."


"Masuk!" bentak Pak Jhon sambil menyeret koper yang dibawanya.


Pak Jhon mengeluarkan kunci yang ada di sakunya, lalu membuka pintu rumah itu.


"Tunggu apa lagi? Ayo masuk!" bentak Pak Jhon untuk yang kedua kalinya.


Sella mendengus kesal, namun ia mengikuti langkah Pak Jhon yang sudah sampai di ruang tamu.


"Om, apa maksudnya ini?" tanya Sella sambil berdiri tepat di hadapan Pak Jhon.


"Kamu masih bertanya apa maksudnya, semua ini terjadi karena kebodohan kamu!" Bentak Pak Jhon.


"Kenapa aku? Bukankah Om, yang berniat menikahiku. Kenapa sekarang Om menyalahkan aku?" Tanya Sella dengan nada yang tinggi. Ia merasa kesal, karena sejak tadi Pak Jhon membentaknya.


"Aku cukup pintar, tidak seperti kamu yang sangat dungu. Menurutmu aku sudah gila, meminta izin untuk menikah lagi. Pikir pakai otak, istri mana yang rela dimadu, bahkan dia sendiri yang melamar untuk suaminya. Kamu benar-benar bodoh!" bentak Pak Jhon tepat di depan wajah Sella.


"Lalu, lalu..."


"Buka telinga kamu lebar-lebar! Jika kamu tidak tuli, pasti kamu tahu suara siapa itu!" bentak Pak Jhon sambil mengeluarkan ponselnya.


Detik berikutnya, Sella terpaku dengan mulut yang menganga lebar. Dadanya terasa sesak, seakan tak ada lagi ruang untuk bernafas. Hancur sudah dunianya, ia kini terjatuh dalam dalam lubang yang paling dalam.


"Ken." Gumam Sella dengan sangat pelan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2