Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Kamu Telat?


__ADS_3

"Kak Fajar, Kak Senja dimana?" ucap Farah mengulangi pertanyaannya.


"Senja...Senja sedang tidur. Tadi kita melewati perjalanan yang panjang, mungkin dia lelah." jawab Fajar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bu Rani tidak menjawab, beliau hanya mencibir sambil melangkahkan kakinya. Namun baru saja berjalan beberapa langkah, Bu Rani mengernyitkan keningnya. Beliau sedikit kaget saat melihat Senja yang sedang tertidur di sofa. Tubuhnya masih dibalut jaket, dan kakinya juga masih dibungkus sepatu. Sementara tas selempangnya tampak tergeletak begitu saja di lantai.


"Dia tidur di sini! Dengan keadaan yang seperti ini! Oh My God dimana sopan santunnya, benar-benar mencerminkan wanita miskin!" kata Bu Rani dengan nada yang sedikit tinggi. Beliau menatap Senja sambil memicingkan matanya.


"Ma jangan seperti itu, dia lelah. Beberapa hari ini keadaannya kurang sehat." sahut Fajar sambil mendekati Ibunya.


"Sudah miskin, penyakitan pula. Ahh sial sekali aku punya menantu seperti dia. Bangunkan dia Fajar, sangat tidak sopan tidur di ruang tamu." kata Bu Rani sambil melangkah meninggalkan Fajar. Beliau berjalan menuju ke ruangan dapur.


"Jangan dengarkan omongan Mama ya Kak. Mama memang suka begitu." ucap Farah sambil megusap bahu Fajar.


"Kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja kok. Ngomong-ngomong dimana Zian, kenapa tidak kamu ajak?" tanya Fajar.


"Dia tadi masih tidur Kak, nanti biar Mas Dion yang mengajaknya kesini." jawab Farah.


"Mmm begitu." ucap Fajar sambil melangkah mendekati Senja.


"Aku ke dapur dulu ya Kak." kata Farah.


"Iya."


Fajar menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Jika diamati wajahnya terlihat sedikit pucat. Sejak di puncak, ia selalu mual dan pusing. Ada rasa khawatir yang perlahan menyeruak ke dalam hati Fajar. Apa yang terjadi dengan istrinya? Mungkinkah dia sakit? Sejak kemarin Fajar membujuknya untuk periksa ke dokter, agar tahu apa yang terjadi dengan dirinya, anemia, atau mungkin asam lambungnya naik. Namun Senja selalu menolak, ia selalu mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.


"Sayang! Bangun sayang!" ucap Fajar sambil menepuk pipi Senja dengan pelan. Sesungguhnya ia sangat tidak tega membangunkan sang istri. Namun mau bagaimana lagi, ia juga tidak mau jika Ibunya mengatakan kalimat yang lebih pedas.


"Sayang! Ayo bangun!" kata Fajar dengan nada yang sedikit tinggi.


Senja menggeliat pelan, ia mengucek matanya, dan kemudian menatap Fajar yang sedang duduk berjongkok di sampingnya.


"Sudah malam ya Kak?" tanya Senja.


"Belum, masih sore, tapi ada Mama." jawab Fajar.


"Mama? Kesini?" tanya Senja sambil mengernyit heran.


"Iya, baru saja datang. Acara makan malamnya nanti di sini sayang, bukan di rumah Mama." jawab Fajar sambil tersenyum.


"Hah!!" teriak Senja sambil melotot tajam. Lalu ia beranjak dari duduknya, dan menatap Fajar dengan tajam.


"Kamu serius Kak? Tapi aku belum masak apapun, sekarang sudah jam berapa?" tanya Senja dengan panik.


"Kamu tenang saja. Sudah ada Bibi yang memasak, juga dibantu Mama dan Farah. Sekarang kamu mandi saja, berendam sebentar di air hangat. Nanti lelah, dan penatmu akan berkurang." kata Fajar.

__ADS_1


"Apa tidak lebih baik aku ke dapur saja Kak. Membantu Mama, dan Farah." ucap Senja.


"Mandilah dulu, Mama tahu kamu lelah." kata Fajar sambil tersenyum.


"Baiklah!" jawab Senja sambil beranjak dari duduknya. Ia menyambar tas selempangnya, dan kemudian melangkah menuju ke kamarnya.


***


Tepat pukul 07.00 malam, keluarga Pak Hery berkumpul di apartemen Fajar. Mereka duduk bersama di meja makan. Pak Hery, Bu Rani, Fajar, Senja, Dion, dan juga Farah. Sementara Zian, ia sedang bermain bersama pengasuhnya di dalam kamar.


Berbagai menu telah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Ada rendang, sup jamur, cap cay, dan juga ayam asam manis. Di sana juga tersedia aneka buah, dan juga minuman manis.


Perut Senja kembali terasa mual, saat aroma daging rendang mulai menyeruak kedalam hidungnya. Ia menyentong sedikit nasi, dan juga sup jamur.


"Sayang, ini rendangnya. Aku ambilkan ya!" kata Fajar sambil menatap Senja.


"Tidak usah Kak." jawab Senja sambil menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku lauk ini saja." jawab Senja.


"Kondisi kamu itu sedang tidak sehat, harus makan makanan yang bergizi. Memangnya kamu mau menjadi wanita yang penyakitan?" sahut Bu Rani sambil menatap Senja.


"Ma sudah! Niat kita tadi makan bersama lho. Jaga sikap Mama." kata Pak Hery sambil menatap istrinya.


"Tolong ambilkan Kak!" pinta Senja tiba-tiba. Tak mau lagi mendengar ungkapan pedas dari Ibu mertuanya. Senja memilih untuk mengalah, dan akan berusaha menyantap daging rendang itu.


Fajar tersenyum, lalu ia meraih piring Senja, dan meletakkan dua potong daging rendang di sana. Senja menatap piring itu dengan resah. Bagaimana caranya ia menyantap daging itu, jika melihat, dan mencium aromanya saja ia sudah sangat mual.


"Sekarang mari kita berdoa, dan kita nikmati makan malam ini." ucap Pak Hary sambil menatap anak istrinya.


"Iya Pa." jawab mereka bersamaan.


Setelah mengucapkan doa, mereka mulai menyantap makanannya. Tak ada lagi yang bersuara, hanya bunyi dentingan sendok yang terdengar di ruangan itu.


Di antara mereka, hanya Senja yang merasa tidak nyaman. Sesuap nasi yang ia kunyah, rasanya sulit sekali untuk ditelan. Aroma daging rendang yang semakin menguar, rasanya mengaduk-aduk perutnya. Namun Senja berusaha keras untuk tidak muntah.


"Fajar, ada hal penting yang ingin Mama bahas denganmu." kata Bu Rani sambil menatap Fajar.


"Iya Ma, tapi nanti ya. Sekarang aku yang akan membicarakan hal penting sama Mama." jawab Fajar sambil menghela nafas panjang.


"Sudah saatnya aku meluruskan semuanya. Aku tidak ingin Mama terus menyalahkan Senja." ucap Fajar dalam hatinya.


"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan? Bukan soal menunda kehamilan kan." tanya Bu Rani sambil melirik Senja.

__ADS_1


"Bukan Ma." jawab Fajar.


"Katakan! Setelah itu Mama yang akan bicara." kata Bu Rani.


"Sebenarnya..." belum sempat Fajar meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Senja beranjak dari duduknya. Ia berlari menuju ke kamar mandi, sambil menutup mulutnya.


"Kenapa istrimu?" tanya Bu Rani.


"Akhir-akhir ini dia sering muntah-muntah Ma. Sejak kemarin aku mengajaknya ke dokter, tapi dia tidak mau." jawab Fajar sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah menyusul istrinya.


Bu Rani juga tidak mau ketinggalan. Beliau beranjak dari duduknya, dan mengikuti langkah Fajar.


"Sebentar ya Mas." ucap Bu Rani sambil menatap suaminya.


Dan Pak Hery menjawabnya dengan anggukan.


Di kamar mandi Senja terus muntah-muntah. Tubuhnya terasa sangat lemas, seperti tak bertenaga. Fajar mendekatinya, dan memijat tengkuknya.


"Kamu kenapa sayang? Kita ke dokter ya, sejak kapan hari lho kamu seperti ini." kata Fajar sambil menatap istrinya.


"Aku tidak apa-apa Kak, aku hanya mual. Setiap kali mencium aroma daging, perutku langsung tidak enak." ucap Senja sambil memegangi perutnya.


"Sejak kapan kamu seperti ini?" tanya Bu Rani yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Senja.


"Sekitar semingguan Ma." jawab Senja.


"Ada keluhan lain?" tanya Bu Rani.


"Mak...maksud Mama?" tanya Senja.


"Selain daging, apa ada lagi makanan yang membuat kamu mual?" ucap Bu Rani, balik bertanya.


"Tidak ada Ma." jawab Senja sambil menggeleng.


"Tapi sekarang kamu juga tidak pernah minum coklat sayang. Padahal dulu kamu selalu meminumnya. Apa kira-kira asam lambung kamu naik, jadi merasa tidak enak makan dan minum. Atau kamu anemia makanya sering lelah?" kata Fajar menerka-nerka.


"Kamu telat?" tanya Bu Rani sambil menatap Senja. Beliau tak menghiraukan ucapan Fajar, yang menduga apa gerangan yang terjadi pada istrinya.


Sontak saja pertanyaan itu membuat Fajar, dan Senja tersentak kaget. Keresahan dalam hati Senja semakin menjadi, ia sangat takut jika dirinya benar-benar hamil. Fajar menatap Senja dengan intens, seolah ia mencari jawaban dari gelagat istrinya.


"Maksud Mama apa?" tanya Fajar pada Ibunya, namun pandangan matanya tak lepas dari istrinya. Senja sedang menautkan kedua tangannya, ia terlihat gugup, dan salah tingkah.


"Dari gejalanya, mungkin saja istri kamu hamil. Makanya Mama tanya, dia telat atau tidak." jawab Bu Rani.


Senja menunduk, ia tahu Fajar sedang menatapnya. Jantungnya berdetak cepat, dan keringat dinginnya mulai mengucur. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2