
Di dalam ruang tamu yang sederhana, Ken dan Senja sedang duduk bersama di atas kursi rotan. Bertemankan dua cangkir teh hangat, dan sepiring pisang goreng. Rashya masih terlelap dalam tidurnya, sedangkan Alvin, ia sedang menemani Nina di dalam kamarnya.
"Ken!" panggil Senja, ia ingin mengawali pembicaraannya.
"Iya Aya," jawab Ken dengan senyuman manisnya.
"Tentang yang aku katakan tadi, masih belum terlambat kan, Ken?" tanya Senja sambil menatap Ken.
"Tidak ada kata terlambat Aya, aku sudah pernah bilang kan, aku akan selalu setia menunggumu, sampai kapanpun itu," jawab Ken sambil tetap tersenyum.
"Aya, saat kamu masih pingsan setelah melahirkan Rashya, aku mengucapkan satu janji padamu. Aku tidak akan menikah selain dengan dirimu, aku akan tetap sendiri, jika kau juga memilih sendiri. Aku tidak bisa menggantikan kamu dengan wanita lain Aya," ucap Ken sambil menggenggam jemari Senja.
"Maafkan aku Ken, aku sudah membuatmu menunggu cukup lama. Dan maaf juga aku pernah meragukan perasaan kamu, cinta kita pernah kandas karena Keegoisanku," kata Senja sambil tersenyum kecut.
Entah bagaimana cara menyikapi lelaki yang ada di hadapannya ini. Ia pernah menyakitinya, pernah membuatnya menunggu dalam waktu yang lama, namun nyatanya lelaki ini masih sangat mencintainya. Lelaki ini tak pernah bosan untuk meluluhkan hatinya.
"Aya, jangan mengungkit hal itu. Semua itu hanyalah masa lalu. Sekarang, mari kita rencanakan masa depan kita, mari kita perbaiki waktu yang belum kita jalani. Aya, benarkah kau kembali mencintaiku, atau kau malakukan ini hanya demi Rashya? Jujurlah, apapun jawabanmu, aku siap menerimanya," kata Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.
"Aku mencintai kamu Ken, perasaanku kembali seperti dulu. Sebenarnya, sudah cukup lama perasaan ini ada, hanya saja kala itu aku masih ragu," ucap Ella sambil menunduk, menatap jemari Ken yang masih menggenggam tangannya dengan erat.
"Apa yang membuatmu ragu?"
"Aku tidak bisa sepenuhnya melupakan Kak Fajar, meskipun perasaanku untuknya mulai terkikis, namun nyatanya nama Kak Fajar tetap ada didalam hatiku Ken. Aku takut ini akan menyakiti kamu," jawab Senja. Ia mengatakan dengan jujur apa yang sedang dirasakannya.
"Aku mengerti Aya, bagaimanapun juga dia adalah suami kamu. Kalian pernah hidup bersama, walaupun itu tidak lama. Aku tidak memermasalahkan hal itu," kata Ken.
"Tapi satu hal yang harus kau tahu Ken, meskipun namanya masih ada didalam hatiku, namun cinta ini hanya untuk kamu. Aku..."
"Aku mengerti," sahut Ken sambil menempelkan jemari telunjuknya di bibir Senja.
Senja mengangkat wajahnya, ia menatap Ken yang berada tepat di depannya. Senyuman manis yang terukir di bibir lelaki itu, membuat jantungnya semakin berdetak tak beraturan. Bibir itu, adalah satu-satunya bibir yang pernah menyentuh bibirnya.
"Terima kasih untuk perasaan kamu Aya, aku berjanji akan segera menghalalkan kamu. Kau, dan Rashya adalah prioritasku, tujuanku sekarang adalah menjaga, dan membahagiakan kalian," kata Ken sambil memeluk Senja dengan erat.
Senja mengulas senyuman lebar, saat berada dalam dekapan Ken. Perlahan ia mengangkat tangannya, dan melingkarkannya di pinggang Ken. Senja memejamkan matanya, tubuh ini masih sama hangatnya seperti dulu, seperti saat mereka masih memadu cinta.
"Aku sangat merindukan kamu Aya, aku sangat rindu dengan saat-saat seperti ini," bisik Ken dengan pelan.
"Maafkan aku Ken, yang sudah menyiksamu dalam rindu. Sekarang kau sudah berhasil meluluhkan hatiku, halalkan aku, dan aku akan menjadi milikmu," jawab Senja juga dengan bisikan.
"Kau benar, aku akan segera membicarakan hal ini dengan Mama, dan Papa. Kita berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar, agar cinta ini bisa menjadi sesuatu yang halal."
__ADS_1
"Iya Ken, jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama. Cukup sekali saja kita melakukan dosa yang hina," jawab Senja.
"Aku sepemikiran denganmu Aya," kata Ken sambil mengeratkan pelukannya.
Cukup lama mereka saling berpelukan erat, seolah sedang melepas rindu yang benar-benar membuncah. Senja menyandarkan kepalanya di dada Ken, membiarkan aroma parfum menyeruak ke dalam hidungnya. Sedangkan Ken, ia juga betah menghirup wangi shampoo yang melekat pada rambut Senja.
Beberapa menit kemudian, Ken melepaskan pelukannya. Ia tersenyum, seraya menangkup kedua pipi Senja dengan kedua tangannya.
"Mulai saat ini, jika ada apa-apa jangan kau pendam sendiri. Aku akan menjadi pendamping hidup kamu, aku akan menjadi sandaranmu, jadi berbagilah beban denganku," ucap Ken dengan pelan.
"Iya, aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu," jawab Senja.
"Semoga ini akan menjadi awal yang indah untuk hidup kita Aya," ucap Ken.
Senja menanggapinya dengan aggukan, dan senyuman.
***
Tepat pukul 07.00 malam, Ken tiba di rumahnya. Langkahnya terasa ringan, hidupnya seakan tanpa beban. Sebesar inikah pengaruh cinta dalam hidupnya?
Bibir Ken tak henti-hentinya mengulas sebuah senyuman, membayangkan Senja yang akan menjadi miliknya, ah itu sangat menyenangkan.
"Mama! Papa!" teriak Ken sambil melangkah menuju meja makan, kala itu kedua orang tuanya sedang makan malam bersama.
"Ada apa Ken? Jangan berteriak!" sahut Bu Ratih sambil menatap anaknya yang melangkah mendekatinya.
"Kenapa kamu?" tanya Pak Jeffry dengan keheranan. Bagaimana tidak, baru saja datang, Ken langsung tersenyum lebar, seolah ada sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.
"Aku membawa kabar baik," ucap Ken sambil duduk di kursi kosong, di sebelah ibunya.
"Kabar apa?" tanya Bu Ratih.
Ken belum menjawab, ia hanya tersenyum sembari menyulut rokok yang baru saja diambilnya.
"Ken!" panggil Pak Jeffry.
"Aya bersedia menikah denganku Pa," kata Ken sambil mengepulkan asap rokoknya.
"Kamu serius Ken?" sahut Bu Ratih dengan spontan.
"Serius Ma," jawab Ken.
__ADS_1
"Syukurlah, ah aku benar-benar senang mendengarnya. Pa, anak kita akan menikah, dia tidak lagi menjadi bujang lapuk Pa," kata Bu Ratih dengan sorot mata yang berbinar senang.
"Ma, aku belum setua itu. Aku baru 27, belum genap 30. Aku masih sangat muda," protes Ken sambil menatap ibunya.
"Itu menurutmu, menurut Mama kau sudah sangat tua," sahut Bu Ratih tidak mau kalah.
Ken tidak menjawab, dia hanya menghela nafas panjang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi rencana kamu kapan?" tanya Pak Jeffry, sambil menatap Ken yang sedang menyesap rokoknya.
"Secepatnya Pa," jawab Ken.
"Itu bagus, bagaimana kalau bulan depan?" tanya Pak Jeffry sembari meneguk kopi hitam yang tinggal setengah.
"Bulan depan? Apa itu tidak terlalu lama?" Ken balik bertanya.
"Terus menurutmu kapan? Besok, atau lusa, begitu?"
"Tidak juga sih Pa, tapi lebih cepat kan lebih baik, benar kan?"
"Bulan depan itu sudah cepat Ken. Ini pernikahan ya, bukan hanya permainan. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Apa kau tidak ingin mengadakan pesta besar?" tanya Pak Jeffry.
"Ingin dong Pa, itu adalah hari bahagiaku, tentu saja harus ada pesta. Lagipula aku juga ingin mengatakan pada seluruh dunia, kalau Aya itu adalah istriku, milikku," kata Ken sambil tersenyum lebar.
"Tapi kamu harus siap lho Ken," sahut Bu Ratih.
"Siap untuk apa Ma?" tanya Ken sambil mengernyit heran.
"Senja sudah menjadi janda, sedangkan kau masih lajang, pasti tidak semua orang membenarkan pilihan kamu, karena mereka tidak mengerti seperti apa jalan hidup kalian. Apalagi Fajar meninggal baru setahun, pasti banyak diantara mereka yang mencemooh tindakan kalian. Mama harap kamu jangan mudah emosi, dan lagi, jaga Senja, jangan sampai dia sakit hati, karena omongan orang-orang," kata Bu Ratih menjelaskan.
"Aku mengerti Ma, itu sebabnya aku masih menyembunyikan siapa nama belakang Rashya. Tapi hidupku adalah pilihanku. Aku tidak akan terpengaruh dengan omongan orang, tapi aku juga tidak akan tinggal diam, kalau ada yang menyinggung perasaan Aya," jawab Ken dengan tegas.
"Bagus, itu baru namanya laki-laki," sahut Pak Jeffry.
"Restu dari Papa, dan Mama itu sudah sangat cukup bagiku. Aku tidak akan mempermasalahkan hal yang lain," jawab Ken.
"Kamu benar Ken. Baiklah, kalau begitu mulai besok Mama akan mempersiapkan pernikahan kalian. Bulan depan, kau dan Senja akan menikah," kata Bu Ratih.
"Terima kasih Ma,"
"Rasanya aku sangat senang, kedua orang tuaku merestui niatku, mereka sangat menyukai calon istriku. Ini benar-benar anugerah terindah dalam hidupku," ucap Ken dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung....