Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Hari Kelam Untuk Sella


__ADS_3

"Ada apa, Om?" tanya Sella sambil duduk di sebelah Pak Jhon.


"Lihatlah! dia masih muda, dan cantik. Tidak bisakah, kamu menambah sedikit saja, Mik?" tanya Pak Jhon sambil menatap Mike, beliau tak menghiraukan pertanyaan Sella.


"Om, maksudnya apa ini, Om?" teriak Sella. Ia menyadari situasi yang sedang terjadi. Jhon Victory akan menjualnya pada lelaki kekar yang sekarang duduk di hadapannya.


"Jangan kaget, ini yang terbaik untuk kita." Jawab Pak Jhon dengan santainya.


"Aku istrimu, dan kau mau menjualku. Itukah yang kau anggap terbaik?" bentak Sella.


"Jangan munafik Sella, pernikahan kita ini hanya karena kesalahan. Tidak ada cinta diantara kita, jadi kenapa tidak mengambil jalan tengah saja. Kau untung, dan aku juga untung." Kata Pak Jhon.


"Tapi Om..."


"Dengar baik-baik, Mike ini orang kaya, dia bisa menghidupimu dengan layak. Dan aku, aku akan meminta sedikit uang sebagai gantinya, untuk menyambung hidupku." Sahut Pak Jhon memotong pembicaraan Sella.


"Kamu gila Om, kamu sudah tidak waras. Aku tidak mau, jangan paksa aku Om, aku tidak mau!" teriak Sella.


"Kenapa? Menjadi istriku, kau juga naik ke ranjang, padahal aku tahu kau tidak mencintaiku, dan aku tidak bisa memberikan imbalan apa-apa untukmu. Jika kau naik ke ranjang dia, kau akan mendapatkan harta. Hidupmu akan jauh lebih baik," jawab Pak Jhon masih dengan nada santainya.


"Kau gila, kau benar-benar gila!" teriak Sella sambil beranjak dari duduknya, dan melangkah cepat menuju pintu. Pikirannya hanya satu, lari dari tempat ini.


Namun belum sempat Sella menjangkau handle pintu, tiba-tiba tangannya sudah dicekal oleh Mike. Sella tak berkutik, ia tak bisa melawan tubuh kekar yang sedang mendekapnya.


"Kau mau kabur kemana manis, hemmm? Aku sudah membayarmu dengan harga yang mahal, kau harus memuaskan aku malam ini, dan malam-malam selanjutnya," kata Mike sambil tertawa.


"Ini bukan pilihan Sella, tapi keputusan. Mulai sekarang kita hidup sendiri-sendiri, kau mulailah melayani dia dengan baik. Dan aku, aku akan menyambung hidupku di tempat lain. Terima kasih untuk kenangan indah yang kau berikan padaku. Mike, hati-hati dia sedikit liar," ucap Pak Jhon sambil melangkah keluar, meninggalkan Sella dan Mike. Tangannya tampak menggenggam segepok uang ratusan ribu. Sella benar-benar marah.


"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Sella sambil meronta, mencoba melepaskan rengkuhan Mike.


"Temani aku dengan baik, nanti aku akan memperlakukanmu dengan lembut," jawab Mike, seraya memaksa Sella untuk mengikuti langkahnya. Ia membawa Sella masuk ke dalam kamar.


***


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 12.00 malam. Sella terisak di atas ranjang kamarnya. Sesekali menatap jijik pada sosok Mike yang terlelap di sebelahnya.

__ADS_1


Bukan kehidupan seperti ini yang Sella inginkan, namun kenapa keadaan menjebaknya dalam situasi sepahit ini. Meskipun ia sama sekali tidak mencintai Pak Jhon, namun hatinya sangat sakit, setelah tahu kalau lelaki itu menjualnya. Sehina itukah dirinya?


"Apa salahku, kenapa hidupku berakhir seperti ini.


Apa salah jika dulu aku mencintai Ken, dan berusaha mendapatkan cintanya. Lalu kenapa, takdir memberikan jalan yang seburuk ini untukku. Mama, Papa, aku merasa jijik dengan diriku sendiri, tolong aku Mama, Papa." Ucap Sella disela-sela isakannya.


Air mata terus berderaian membasahi kedua pipinya, seakan ia tak punya niatan lagi untuk melanjutkan hidupnya. Disaat Sella merasa sangat putus asa, tiba-tiba matanya menatap celana panjang milik Mike. Secercah harapan, kembali bersarang dihati Sella. Ada banyak rencana yang ia susun di dalam otaknya.


Perlahan Sella turun dari ranjang, ia memunguti pakaiannya, dan membalutkannya di tubuh. Lalu ia mengambil celana Mike, dan mencari sesuatu yang ada di sakunya.


"Dia orang kaya, dia pasti punya banyak uang." Kata Sella dalam hatinya.


Benar saja dugaannya, Sella berhasil menemukan beberapa lembar uang ratusan ribu di dalam dompetnya. Di sana juga terdapat beberapa kartu kredit, dan Sella juga mengambilnya.


"Dengan uang ini, aku bisa pulang ke Surabaya. Aku akan kembali pada Mama dan Papa, tak peduli mereka bangkrut atau tidak, tapi setidaknya aku hidup bersama keluargaku," gumam Sella sambil menyimpan seluruh uang, dan kartu kredit ke dalam tas kecilnya.


Lalu Sella melangkah pelan, dan pergi meninggalkan Mike.


Hampir satu jam perjalanan, namun Sella masih berada di kawasan kampung, entah berapa jam lagi ia bisa sampai di kota.


Sella terus berjalan, menyusuri jalanan berkerikil yang terkadang menanjak, dan juga menurun. Ia tak menghiraukan suara jangkrik yang terus mengerik, menemani setiap langkahnya. Persawahan, sungai, lahan kosong, pohon besar, bahkan kuburan, sama sekali tak menghentikan langkah Sella. Ia tak peduli meskipun nanti ada hantu yang akan mengejarnya, yang penting ia bisa pulang ke kampung halamannya. Karena Jhon dan Mike, jauh lebih menyeramkan, daripada hantu yang bergentayangan.


***


Sang fajar sudah menyingsing di ufuk timur. Beberapa insan mulai berlalu lalang di Terminal Pasar Minggu, Jakarta. Melihat beberapa bus yang siap beroperasi, Sella mulai beranjak dari duduknya, ia akan naik bus yang paling pagi.


Sekitar satu jam yang lalu, ia tiba di terminal ini, kedua kakinya terasa sakit dan lelah. Namun Sella tak peduli, ia harus secepatnya tiba di Surabaya, dan bertemu dengan orang tuanya.


Tak berapa lama kemudian, Sella sudah duduk di bangku, di dalam bus. Ia bernafas lega saat bus mulai melaju meninggalkan terminal.


"Aku akan meninggalkan kota ini, meninggalkan kenangan laknat yang merusak masa depanku. Mama, Papa, aku akan segera kembali, semoga kita bisa hidup bahagia bersama." Batin Sella sambil menghela nafas panjang.


"Ken, aku belum melupakanmu. Aku akan segera tiba di Surabaya, aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku tidak peduli akan berakhir mati atau di penjara, yang penting aku sudah membalaskan dendamku. Kau dan Senja, adalah orang pertama yang mengantarkan aku kedalam kehancuran. Kau lihat saja Ken, bagaimana aku membuat wanitamu menderita." Batin Sella sambil tersenyum licik.


"Aku sudah hancur, jadi aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan padaku. Tapi kau, saat ini kau dan Senja sedang bahagia, kau akan sangat menderita, jika aku merampas kebahagiaan itu." Ucap Sella dalam hatinya.

__ADS_1


***


Sinar surya semakin meredup, mega-mega hitam bergulung, menutupi hamparan langit biru. Semilir angin berhembus, semakin lama semakin kencang, sepertinya beberapa menit lagi hujan deras akan mengguyur kota. Sella melipat tangannya di dada, merapatkan jaket yang membungkus tubuhnya. Ia kini berada di dalam taxi yang membawanya pulang ke rumah. Sella mengambil nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan pelan. Setelah melewati perjalanan yang rumit, akhirnya ia tiba di Kota Surabaya, dan beberapa saat lagi ia akan bertemu dengan orang tuanya.


Dari balik kaca mobil, Sella menatap keluar. Gerimis mulai turun bersamaan dengan cahaya kilat yang seakan-akan membelah langit. Suasana yang sangat kelam, sekelam jalan hidup Sella.


Taxi terus melaju, menerjang hujan yang turun semakin lebat. Sella semakin meringkuk, melawan hawa dingin yang seakan menusuk tulangnya.


Sekitar satu jam perjalanan, taxi berhenti di depan rumah mewah berlantai dua. Sella memicingkan matanya, mengamati bangunan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti saat itu, saat ia belum pergi ke Kota Jakarta.


"Semoga Mama dan Papa masih tinggal di sini." Batin Sella dalam hatinya.


"Pak, tunggu sebentar ya! Saya akan memeriksa dulu, orangnya masih tinggal di sini atau tidak," ucap Sella sambil meraih payung yang ada bawah kakinya.


"Iya, Nona." Jawab supir itu.


Lalu Sella beranjak turun dari taxi, kemudian ia melangkah mendekati pintu gerbang rumahnya. Kemana pak satpam, pikirnya kala itu.


Sella memencet bel yang ada di sana, berharap yang muncul adalah orang tuanya.


Cukup lama Sella menunggu, namun tidak ada tanda-tanda orang keluar dari dalam rumah. Kemana mereka?


Hati Sella mulai cemas, mungkinkah orang tuanya sudah pindah?


Tanpa pikir panjang, Sella kembali memencet bel untuk yang kedua kalinya, lalu ketiga kalinya, hingga kelima kalinya, namun tidak ada seorang pun yang membuka pintu rumah itu.


Kelopak mata Sella mulai memanas, pandangannya semakin memburam, karena buliran bening sudah menggenangi bola matanya.


Dengan hati yang teriris sakit, Sella mulai melangkahkan kakinya. Ia berjalan gontai menuju taxi yang ditumpanginya.


"Aku harus kemana, di mana Mama dan Papa? Kenapa jalan hidupku harus sesulit ini?" gumam Sella sambil menggigit bibirnya.


Air matanya mulai menetes, seiring hujan yang terus berjatuhan membasahi bumi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2