Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Hadiah Darimu Adalah Kematianmu


__ADS_3

Di atas padang rumput hijau yang menghampar luas, dihiasi beraneka macam bunga berwarna-warni yang bermekaran dengan indahnya.


Fajar, dan Senja sedang duduk bersama. Mereka saling bersandar, dan saling bergandengan tangan.


"Tempat ini sangat indah Kak, apalagi ada kamu di sampingku. Rasanya aku ingin waktu berhenti di sini saja." ucap Senja sambil tersenyum lebar.


"Waktu tidak akan berhenti sayang, waktu akan terus berputar, karena seperti itulah kehidupan." jawab Fajar sambil menatap Senja.


"Aku tahu, tapi waktu bersamamu terlalu indah Kak, itu sebabnya aku ingin waktu berhenti. Agar aku bisa terus menikmatinya." ucap Senja.


"Kamu salah sayang." kata Fajar sambil menyelipkan rambut Senja ke belakang telinganya.


"Kau masih bisa menemukan waktu yang indah dimasa depanmu, meski tanpa diriku. Sayang apapun yang terjadi nanti, raihlah kebahagiaanmu. Tetaplah tersenyum, aku bahagia jika kamu bahagia." sambung Fajar sambil tersenyum.


"Apa maksudmu Kak?" tanya Senja.


"Sebenarnya aku akan pergi." jawab Fajar sambil menghela nafas panjang.


"Waktuku untuk menemanimu sudah habis sayang, kebersamaan kita hanya sampai di sini saja. Ingat selalu pesanku, tetaplah tersenyum, dan kejar kebahagiaan kamu." sambung Fajar.


"Tapi kamu mau kemana Kak, jangan tinggalkan aku! Kau sudah berjanji untuk selalu menemaniku, kenapa sekarang kamu pergi?" tanya Senja dengan nada yang sedikit tinggi.


"Aku menemanimu selama Tuhan masih mengijinkan. Dan sekarang Tuhan sudah tidak mengijinkannya lagi. Sayang aku pergi bukan untuk cinta yang lain, melainkan untuk memenuhi panggilan takdir.


Sayang percayalah, rencana Tuhan tidak pernah salah! Seindah apapun angan kita, takdir Tuhan jualah yang jauh lebih indah." jawab Fajar masih dengan senyumannya.


"Tapi Kak..."


"Ikhlas, sabar, dan tabah. Apapun yang terjadi percayalah itu adalah jalan yang sudah digariskan untukmu. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Sayang jika nanti kau merasa sendiri, tidak ada tempat untuk bersandar, dan berbagi. Ingatlah! Masih ada lantai untuk bersujud, dan masih ada Allah yang akan mendengarkan semua keluh kesahmu. Ceritakan pada-Nya apa yang kau rasakan, nanti hati dan jiwamu akan tentram." ucap Fajar sambil beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana Kak?" tanya Senja sambil ikut beranjak.


"Aku harus pergi, batas waktuku sudah habis sayang. Jadikan kesalahan sebagai pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kejar kebahagiaan kamu, meskipun tanpa diriku. Aku pergi sayang!" kata Fajar sambil memeluk Senja, dan mencium keningnya.


"Kak!" panggil Senja saat melihat Fajar sudah melangkah meninggalkannya.


"Pulanglah! Dan aku juga akan pulang!" kata Fajar sambil meneruskan langkahnya.


"Kak Fajar! Kak!" teriak Senja, namun Fajar tak menghiraukannya. Ia terus melangkah meninggalkan Senja sendirian.


"Kak Fajar! Kak jangan tinggalkan aku Kak! Kak Fajar!" teriak Senja sambil menangis.


Alvin tersentak kaget, saat mendengar Senja memanggil nama Fajar dengan pelan. Alvin menatap wajah Senja, kelopak matanya mulai bergerak-gerak.


"Dokter! Dokter!" teriak Alvin memanggil dokter.


Dan tak lama kemudian seorang dokter wanita masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.


"Dia berbicara dokter." kata Alvin dengan cepat.


"Saya akan memeriksanya." jawab dokter itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Senja mulai membuka matanya dengan pelan. Bola matanya melirik kesana kemari, mencoba mengingat dimana ia berada saat ini.


"Senja! Kamu sudah sadar Senja! Alhamdulillah! Ya Allah terima kasih Ya Allah!" kata Alvin sambil tersenyum senang. Adiknya telah pingsan selama dua hari, dan itu membuatnya sangat khawatir.


"Kak Fajar dimana Kak?" tanya Senja.


Ia sadar jika dirinya kini sedang berada di rumah sakit, namun ia merasa ragu dimana Fajar sekarang. Ia ingat waktu dokter mengatakan Fajar sudah tiada. Tapi ia juga ingat bahwa Fajar baru saja duduk bersamanya di atas padang rumput. Senja tak bisa memastikan mana yang nyata, dan mana yang mimpi.


Alvin tak menjawab, dia hanya menggenggam tangan Senja dengan erat.


"Kak!" panggil Senja.


"Bu Senja, keadaan Ibu sudah lebih baik. Tapi janin dalam kandungan Ibu masih lemah. Nanti makan, dan minum vitaminnya ya Bu. Terus jangan lupa untuk beristirahat yang cukup, dan jangan berfikir yang terlalu berat." ucap dokter sambil menatap Senja.


"Iya dokter, terima kasih." jawab Senja.


"Saya akan keluar sebentar, nanti panggil saya jika butuh sesuatu." kata dokter itu.


"Iya dokter."


"Terima kasih dokter." sahut Alvin.


"Iya." jawab dokter itu sambil mengangguk, dan tersenyum. Lalu beliau melangkah keluar dari ruangan.


"Kak, aku ingin duduk." kata Senja sambil berusaha bangkit dari tidurnya.


Alvin beranjak dari duduknya, dan membantu Senja. Kini Senja sudah duduk sambil menyandarkan punggungnya di bantal.


"Kak!" panggil Senja.


"Kak Fajar dimana?" tanya Senja.


"Senja, apa kau tidak ingat dengan apa yang terjadi pada Fajar?" kata Alvin balik bertanya. Suaranya terdengar pelan, dan tertahan.


Senja menatap Kakaknya lekat-lekat, mendengar jawabannya, dan juga melihat raut wajahnya, sepertinya ada hal buruk yang terjadi.


Lalu Senja menunduk, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Satu hal yang pertama melintas dalam fikiran Senja adalah ucapan Arrion, yang mengatakan bahwa Fajar sudah tiada. Lalu ia tak ingat lagi apa yang terjadi dengan dirinya.


Kemudian Senja mengingat kebersamaannya waktu di padang rumput, serta beberapa ucapan, dan pesan yang Fajar lontarkan padanya.


Air mata Senja mulai menetes, kini ia tahu mana yang nyata, dan mana yang mimpi. Dirinya kini sedang berada di rumah sakit, tentu saja kejadian yang nyata adalah yang terjadi di rumah sakit. Fajar Mahardika, lelaki yang menjadi suaminya, kini telah tiada.


"Kak Fajar." ucap Senja dengan pelan. Tangisnya mulai pecah, air matanya jatuh membasahi pangkuannya.


"Kamu yang sabar Nja, ini sudah takdir. Doakan dia, dan ikhlaskan dia, agar dia bisa tenang di sana." kata Alvin sambil memeluk Senja dengan erat.


"Aku tidak sanggup Kak, aku butuh dia, aku mencintai dia. Aku ingin Kak Fajar kembali Kak." ucap Senja disela-sela isakannya.


"Kita tidak bisa melawan takdir Nja, yakinlah jika ini adalah jalan yang terbaik, yang sudah digariskan Tuhan untuk kalian." kata Alvin sambil mengusap-usap punggung Senja.


"Tapi aku tidak sanggup Kak."

__ADS_1


"Kamu harus sanggup, ada Kakak yang akan selalu ada untuk kamu. Senja dengarkan Kakak!" kata Alvin sambil melepaskan pelukannya, dan memegang kedua bahu Senja.


"Kamu harus sanggup melewati ini semua, ingat Senja, ada nyawa yang sedang tumbuh dalam rahim kamu. Itu amanah, kamu harus menjaganya, kamu harus memastikan dia baik-baik saja. Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi kamu juga harus memikirkan anakmu." ucap Alvin sambil menatap Senja lekat-lekat.


"Jaga dia Senja, dia adalah bagian dari diri kamu!" kata Fajar sambil meraih tangan Senja, dan meletakkannya di perutnya.


Senja terdiam, ia tak menjawab ucapan Kakaknya. Lalu Senja menggerakkan tangannya, dan mengusap perutnya dengan pelan. Alvin benar, ada janin di dalam sana yang butuh perhatiannya. Seperti pesan Fajar waktu itu, dia harus menjaga bayinya. Ahh Fajar, kini dia telah pergi. Kini yang tersisa hanyalah kepingan kenangan, serta luka yang menganga.


"Apakah Kak Fajar sudah dikebumikan?" tanya Senja.


"Sudah, dia sudah dikebumikan kemarin." jawab Alvin.


"Kemarin?"


"Iya, kamu tidak sadar selama dua hari Nja." ucap Alvin.


"Aku ingin ke pemakamannya Kak, tolong antarkan aku kesana sekarang!" kata Senja dengan cepat.


"Senja tenanglah! Kondisimu masih lemah, kamu masih harus dirawat di sini. Lagipula sekarang sudah malam, besok saja ya." ucap Alvin.


"Tapi..."


"Besok pagi aku akan mengantarmu, dengan syarat malam ini kamu harus makan, dan minum vitamin." sahut Alvin.


"Baiklah." jawab Senja dengan pelan.


Senja mengangkat wajahnya, dan tak sengaja matanya menatap kue ulang tahun, dan juga 4 parcel buah yang berjajar di atas meja.


"Kak!" panggil Senja.


"Iya."


"Kenapa ada banyak buah?" tanya Senja.


"Tadi pagi banyak yang menjengukmu. Farah, Dika, Viky, Gerry, Nina, dan...dan juga Ken." jawab Alvin.


Senja menunduk, mendengar nama Ken lagi-lagi ia teringat akan kesalahannya. Mungkin kesalahan itu memang akan menghantuinya seumur hidupnya.


"Kau mau makan buah, atau kuenya?" tanya Alvin.


"Tolong ambilkan kuenya Kak." jawab Senja.


"Baiklah." kata Alvin sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah mengambil kue, dan kemudian menyerahkannya kepada Senja.


"Kau tidak mau buahnya?" tanya Alvin.


"Tidak." jawab Senja sambil menggelengkan kepalanya.


Senja menunduk, menatap kue ulang tahun yang ada di pangkuannya. Tanpa dipinta, bayangan tentang hari terakhirnya bersama Fajar, melintas kembali dalam ingatannya.


"Aku tidak menyangka, jika hadiah yang kau maksud ternyata seperti ini Kak. Kau bilang hadiah yang berbeda, yang akan selalu kuingat, dan tak mungkin aku lupakan. Ternyata hadiah yang kau berikan adalah kematianmu. Setelah ini aku akan sangat benci dengan hari ulang tahunku, karena dihari itulah aku mulai kehilangan kamu." ucap Senja dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2