
"Kak Fajar! Kak kamu mendengarku Kak!" teriak Senja dengan gemetaran.
Arrion yang mendengar teriakan Senja, dia langsung berlari mendekatinya.
"Kak Fajar menangis, aku melihat jelas air matanya menetes. Apa dia akan sadar?" tanya Senja dengan cepat.
"Aku akan memeriksanya." ucap Arrion.
Arrion langsung memeriksa kondisi Fajar, dan dia menggigit bibirnya kala melihat kondisi Fajar yang semakin memburuk. Detak jantungnya jauh lebih lemah, dari beberapa menit yang lalu.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan Nja!" batin Arrion dengan getir. Matanya menatap nanar pada garis gelombang hijau yang ada dalam monitor. Semakin detik, detak jantung Fajar semakin melemah.
"Dokter! Ada apa?" tanya Senja saat melihat Arrion yang sedikit panik.
"Keluarlah dulu! Detak jantungnya melemah. Aku akan memeriksanya" jawab Arrion dengan cepat.
"Ba...baiklah!" jawab Senja sambil beranjak dari duduknya. Ia keluar ruangan dengan tubuh yang gemetaran.
"Ya Allah selamatkanlah Kak Fajar." ucap Senja dalam hatinya.
Setelah Senja keluar dari ruangan, Arrion langsung mengambil defibrilator, dan mulai menggunakannya. Kala itu detak jantung Fajar sangat lemah, bahkan nyaris tak berdetak.
Cukup lama Arrion berusaha keras menyelamatkan Fajar, ia tak peduli dengan tangannya yang lelah, atau tubuhnya yang sudah dibasahi keringat. Yang ada dalam fikirannya hanyalah keselamatan Fajar.
Manusia memang diwajibkan untuk berusaha, dan berdoa. Namun soal takdir, hanyalah Tuhan yang tahu. Sekeras apapun kita berusaha, jika Tuhan sudah menggariskan batas umur seseorang, kita tidak bisa menentangnya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukakan, selain tabah, sabar, dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Seperti halnya saat ini, setelah lebih dari setengah jam berjuang menyelamatkan Fajar. Namun pada akhirnya Arrion harus menelan kekecewaan. Arrion harus tabah, meskipun hatinya sangat sakit dan terluka. Fajar Mahardika, pasiennya sekaligus sahabatnya, kini telah kembali pada-Nya. Fajar telah pergi untuk selama-lamanya. Tak ada lagi detak jantungnya, dan tak ada lagi denyut nadinya.
Arrion menitikkan air matanya, untuk pertama kalinya ia benar-benar menangis saat gagal menyelamatkan pasiennya.
"Innalillahi wainna ilaihi raji'un! Innalillahi wainna ilaihi raji'un!
__ADS_1
Innalillahi wainna ilaihi raji'un!" ucap Arrion sambil menunduk.
"Mudahkanlah jalannya Ya Allah, berikanlah dia tempat yang indah di sisi-Mu." bisik Arrion sambil melepaskan slang infus, ventilator, dan juga alat-alat lainnya yang terpasang di tubuh Fajar.
Arrion mencengkeram pinggiran ranjang dengan erat, hatinya teramat sakit kala menatap wajah pucat Fajar yang kini sudah tak bernyawa.
"Dokter!" panggil perawat.
"Dia sudah tiada." jawab Arrion sambil menarik selimutnya, dan menutup wajah serta kepala Fajar.
"Aku akan memberitahukan hal ini pada keluarganya." kata Arrion sambil melangkah meninggalkan ruangan. Arrion berjalan sambil menyeka air matanya.
Di luar ruangan, semuanya terlihat sangat panik. Sejak Senja keluar, dan membawa kabar bahwa jantung Fajar semakin melemah, mereka semua langsung larut dalam fikirannya masing-masing. Tidak ada yang berbicara, hanya suara tangis yang terdengar di antara mereka.
Farah, dan Dion baru saja tiba, Farah langsung menangis sambil memeluk Ibunya, kala tahu apa yang terjadi pada Kakaknya.
Farah sangat menyesal, hatinya sangat sakit karena terlambat mengetahui hal ini. Andai saja ia tahu dari dulu, ia pasti bisa menjadi tempat untuk berbagi beban.
"Dokter, bagaimana keadaan Fajar?" tanya Pak Hery sambil mendekati Arrion. Jantungnya berdetak cepat saat menatap wajah Arrion yang muram, dan tampak ragu untuk menjawab pertanyaannya.
"Dokter!" panggil Pak Hery.
"Maaf, saya gagal menyelamatkannya. Fajar sudah tiada." kata Arrion sambil memejamkan matanya.
Kalimat yang baru saja ia lontarkan, pasti akan membuat mereka semua semakin menangis, dan menjerit sakit, terutama Senja. Arrion tak bisa lagi membayangkan bagaimana perasaan Senja saat mendengar kabar ini.
Mereka semua langsung terhenyak, kalimat yang Arrion ucapkan bagaikan petir yang menyambar tempat diulu hati. Sangat mengagetkan, dan sangat menyakitkan.
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin dokter! Katakan jika semua ini tidak benar!" teriak Bu Rani sambil menarik-narik lengan Arrion.
"Maaf Bu."
__ADS_1
"Dokter pasti salah, Fajar pasti masih hidup. Selamatkan Fajar dokter, tolong selamatkan Fajar!" teriak Bu Rani sambil menangis. Beliau terduduk lemah di lantai, beliau menutup wajahnya sambil terus menangis meraung-raung.
Kali ini Pak Hery tidak menenangkan Bu Rani. Beliau larut dalam fikirannya sendiri. Pak Hery diam terpaku di tempatnya, tubuhnya seakan membeku dan tak bisa digerakkan lagi. Fajar, anak lelakinya yang ia tahu sehat, dan bugar. Detik ini ia telah tiada, ia telah pergi untuk selama-lamanya. Kenyataan yang sungguh sangat sulit untuk dipercaya. Perlahan air matanya mulai menetes membasahi pipinya yang mulai keriput.
"Sabar Bu, ini sudah takdir!" ucap Arrion sambil membantu Bu Rani untuk berdiri.
"Kak Fajar tidak mungkin meninggalkan aku, Kak Fajar pasti masih hidup. Mas, katakan jika semua ini hanya mimpi!" teriak Farah sambil menangis histeris. Ia benar-benar tak menyangka, jika Kakaknya akan pergi secepat ini.
"Yang sabar ya sayang." ucap Dion sambil memeluk istrinya. Dion mengusap-usap lengan Farah, berharap wanitanya akan tabah dalam menghadapi musibah ini.
Selain mereka, ada satu lagi wanita yang sangat terpukul saat mendengar kabar buruk ini. Dia adalah Senja. Kalimat yang Arrion ucapkan berhasil menghancurkan hatinya hingga menjadi kepingan-kepingan kecil yang nyaris tak berujud.
Fajar lelaki yang sangat dicintainya, lelaki yang sudah disakitinya, kini telah pergi untuk selama-lamanya. Fajar meninggalkannya seorang diri, disaat ia belum sempat memperbaiki kesalahannya. Sepahit inikah takdir hidupnya?
Senja tak bisa lagi melihat apa yang terjadi di sekitarnya, bahkan tangisan keluarganya, dan juga rangkulan Alvin sama sekali tak ia sadari. Yang ada dalam fikirannya hanyalah Fajar, dan semua kenangan bersamanya.
"Kak Fajar menyerah karena aku telah mengkhianatinya, dan sekarang Kak Fajar pergi untuk selama-lamanya. Inikah hukuman yang harus kuterima atas kesalahan yang telah aku lakukan? Kak Fajar, apakah kamu tidak bisa memaafkan aku, sehingga kamu lebih memilih untuk pergi dariku." ucap Senja dalam hatinya. Air matanya terus mengalir, membasahi kedua pipinya.
Senja mengingat kembali buliran air mata yang Fajar teteskan beberapa saat yang lalu.
Dan hatinya semakin menjerit sakit. Kini ia sadar sebesar apa luka yang Fajar simpan akibat perbuatannya yang menyimpang.
Dan selama ini Fajar menutupinya dengan senyuman, hanya demi membuatnya bahagia. Cinta Fajar yang setulus itu, telah ia nodai dengan sesuatu yang hina. Cinta Fajar yang sebesar itu, telah ia balas dengan luka, dan kecewa.
"Aku benar-benar wanita yang jahat!" batin Senja dalam hatinya.
Detik selanjutnya, Senja merasakan tubuhnya melemah. Tenaganya sekan menghilang entah kemana. Pandangan matanya semakin memburam, dan ia tak ingat lagi dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Alvin yang saat itu berdiri di sebelahnya, dan merangkulnya, langsung tersentak kaget saat menyadari tubuh adiknya yang tiba-tiba lemah. Senja terjatuh ke dalam pelukannya.
"Senja! Senja! Bangun Senja!" teriak Alvin, memanggil adiknya yang pingsan.
__ADS_1
Bersambung.....