Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Manisnya Cinta


__ADS_3

Semilir angin pagi berhembus dengan perlahan, menggoyangkan setiap dedaunan yang diterpanya. Butiran demi butiran embun, menetes pelan, dan pecah menguarkan aroma basah. Semburat sinar surya, memberikan warna jingga pada langit, dan mega yang ada di sekitarnya.


Suasana pagi yang sangat indah, seindah hati Fajar, dan Senja yang sedang memadu cinta. Saat ini mereka sedang berlibur di puncak, menyewa sebuah villa mewah berlantai tiga.


Fajar dan Senja sedang duduk bersama di balkon kamarnya. Menyesap secangkir kopi, sambil menikmati susana pagi yang masih berkabut. Sejak Fajar mengatakan kejujurannya dua minggu yang lalu, hubungan mereka semakin harmonis. Cinta kasih mereka kembali bersemi, seperti saat dulu sewaktu mereka masih pacaran.


Meskipun s*ks adalah hal yang sangat penting dalam pernikahan. Namun nyatanya, dengan cinta kasih yang tulus, mereka bisa menjalani pernikahannya walau tanpa melakukan hal itu.


"Kamu kenapa tidak membuat coklat?" tanya Fajar sambil menatap istrinya.


"Lagi tidak ingin Kak." jawab Senja.


"Kenapa? Biasanya setiap pagi kamu selalu meminumnya. Suasana di sini dingin sayang, cocok sekali kalau minum yang hangat-hangat." ucap Fajar.


"Iya, tapi entahlah, lagi tidak ingin Kak." jawab Senja.


"Sayang!" panggil Fajar.


"Iya Kak." jawab Senja.


"Beraiap-siaplah! Setelah ini aku akan mengajakmu jalan-jalan." kata Fajar sambil mengusap rambut Senja.


"Ini masih pagi Kak."


"Tapi kita belum sarapan kan, sekalian kita keluar sambil cari makan. Aku sudah mencari rekomendasi tempat yang menyediakan makanan enak, di sekitar sini." ucap Fajar sambil tersenyum.


"Gara-gara Kak Fajar yang tidak mengizinkan aku masak, coba kalau aku boleh masak, kita tidak perlu repot-repot keluar." kata Senja sambil menatap suaminya.


"Kita sedang berlibur sayang, aku ingin kau santai, dan menikmati waktumu di sini. Aku tidak ingin membebanimu dengan tugas memasak, karena selama ini kau juga sudah melakukannya setiap hari." ucap Fajar.


"Tapi aku senang melakukannya Kak."


"Tapi aku lebih senang kau tidak melakukannya. Sayang menurutlah! Hanya selama kita liburan saja, aku tidak mengizinkanmu memasak." kata Fajar tidak mau kalah.


"Baiklah, iya." jawab Senja mengalah.


"Kita hanya beberapa hari pergi berlibur sayang. Setelah itu aku akan kembali sibuk dengan pekerjaanku. Jadi kita harus menghabiskan waktu berlibur kita dengan sebaik mungkin." kata Fajar sambil meraih tubuh Senja, dan membawanya kedalam pelukannya.


Senja menurut, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Senja memejamkan matanya, menikmati semilir angin pagi yang menerpa wajahnya. Bersandar di dada Fajar, adalah satu hal yang sangat nyaman baginya. Namun saat mengingat pengakuan Fajar kala itu, hatinya terasa sesak dan sakit. Entah sampai kapan, Tuhan mengizinkan mereka untuk tetap bersama.


"Kak!" panggil Senja setelah hening cukup lama.


"Hmmm." gumam Fajar sambil memainkan rambut Senja yang meriap tertiup angin.


"Jangan terlalu memporsikan diri dalam bekerja Kak. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu." ucap Senja sambil menggenggam lengan Fajar.

__ADS_1


"Aku tahu sayang, aku bekerja tidak sampai lelah kok. Hanya saja aku harus setiap hari datang ke kantor, memantau pekerjaan karyawan, juga memeriksa beberapa berkas yang harus aku tanda tangani." jawab Fajar dengan panjang lebar.


"Baguslah kalau begitu, mmm Kak."


"Kenapa?"


"Kalau nanti kamu pergi ke Singapura, bolehkah aku ikut?" tanya Senja sambil mendongak, menatap Fajar yang juga sedang menatapnya.


"Aku tidak pergi ke Singapura lagi." jawab Fajar sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Senja dengan cepat, ia sedikit kaget mendengar jawaban Fajar. Mungkinkah suaminya telah putus asa, dan tak mau berobat lagi.


"Arrion sekarang bekerja di Indonesia, jadi aku tidak perlu jauh-jauh ke Singapura lagi untuk menemuinya." jawab Fajar.


Senja bernafas lega, ia menatap suaminya sambil tersenyum. Dalam hati ia berdoa, semoga ada keajaiban yang bisa menyembuhkan penyakitnya Fajar.


"Syukurlah kalau begitu Kak, aku lega mendengarnya." ucap Senja sambil tersenyum lebar.


"Senyumanmu sangat manis sayang!" ucap Fajar seraya menundukkan kepalanya, dan mencium kening Senja cukup lama.


***


Jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Fajar, dan Senja sedang berjalan bersama menyusuri jalanan berkelok yang berada di kawasan puncak. Mereka hendak pergi ke rumah makan yang terkenal dengan soto babatnya. Rumah makan itu letaknya tidak begitu jauh dari villa yang mereka sewa, jadi Fajar dan Senja memutuskan untuk berjalan kaki saja.


"Suasana di sini berbeda jauh dengan suasana di apartemen ya Kak. Di sini sangat sejuk, pemandangannya juga sangat asri. Lihat bunga-bunga itu Kak, cantik sekali kan." kata Senja sambil menunjuk ke arah bunga mawar yang tumbuh di kanan kiri jalan.


"Iya."


"Iya." lagi-lagi hanya kata iya yang keluar dari mulut Fajar.


"Kak kamu menyebalkan! Aku bicara panjang lebar, kau hanya menjawabnya dengan satu kata iya. Memangnya tidak ada kalimat lain apa." gerutu Senja dengan bibir yang manyun.


Fajar tidak menjawab, ia hanya tertawa saat melihat kekesalan Senja.


"Hubungan kita yang seperti ini, mengingatkanku pada waktu pacaran dulu sayang. Setelah menikah, ini pertama kalinya kita berlibur menghabiskan waktu dengan cinta, dan tawa. Kau tahu sayang apa yang kurasakan saat ini, aku sangat bahagia melihat wajahmu ceria seperti tanpa beban. Sayang, aku harap senyuman itu selalu ada, meskipun nanti aku tak ada lagi disampingmu." ucap Fajar dalam hatinya.


"Kak, kamu malah diam!" teriak Senja sambil menggoyangkan lengan Fajar.


"Ada apa?" tanya Fajar masih dengan tawanya.


"Aku bicara panjang lebar kamu hanya diam, kamu fikir aku radio rusak." gerutu Senja.


"Aku sedang menatap wajahmu sayang."


"Jangan merayu!"

__ADS_1


"Aku serius! Sekarang tatap mataku, dan dengarkan aku!" kata Fajar sambil memegang kedua bahu Senja, dan menatapnya lekat-lekat.


"Aku sangat bahagia melihat wajahmu yang ceria. Sudah lama aku tidak menatap senyumanmu yang setulus ini. Senja, aku bahagia jika kau bahagia. Jadi berjanjilah padaku untuk selalu bahagia." ucap Fajar sambil tersenyum, seraya kedua jemarinya menyentuh bibir Senja.


"A...apa maksudmu Kak?" tanya Senja dengan gugup. Sepertinya ada makna lain, yang Fajar siratkan dalam kalimatnya.


"Tetaplah tersenyum, karena senyummu adalah bahagiaku. Berjanjilah untuk tetap bahagia, jika kau tidak ingin aku terluka." jawab Fajar.


"Kak aku masih tidak mengerti." sahut Senja.


"Sudahlah lupakan saja!" kata Fajar sambil memetik bunga mawar putih yang ada di sebelahnya, lalu ia memberikan setangkai mawar itu untuk Senja.


"Tapi Kak..."


"Jangan terlalu difikirkan, coba hirup aroma mawar ini, itu lebih menyenangkan." kata Fajar sambil tersenyum.


Senja mengikuti arahan Fajar, ia menghirup aroma mawar itu dalam-dalam.


"Wangi kan?" tanya Fajar.


"Lebih wangi kamu Kak." goda Senja sambil mengerlingkan matanya.


"Pandai merayu ya sekarang."


"Belajar dari suami." jawab Senja sambil tersenyum miring.


"Katakan sekali lagi!" kata Fajar pura-pura kesal.


"Belajar dari suami." teriak Senja sambil tertawa.


Lalu ia berlari saat Fajar hendak menggelitiknya.


Sekitar tiga menit kemudian, mereka sudah tiba di depan warung makan yang mereka tuju. Mereka langsung melangkah masuk, dan ternyata pengunjung di warung ini cukup ramai. Fajar, dan Senja memilih meja yang berada di sudut ruangan. Mereka memesan dua porsi soto babat, dan dua gelas teh hangat.


Tak berapa lama kemudian, pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka. Aroma kuah soto yang khas mulai menyeruak masuk ke dalam hidung mereka. Benar-benar menggugah selera.


"Sepertinya ini sangat lezat sayang!" kata Fajar sambil mengaduk-aduknya sebentar, kemudian menyuapnya.


Senja juga melakukan hal yang sama. Namun perutnya tiba-tiba terasa mual saat sesendok soto babat mulai masuk kedalam mulutnya. Senja menahannya, ia berusaha keras menelan soto yang sudah ia suap. Namun semakin lama rasa mual itu semakin menjadi, dan ia tak bisa menahannya lagi.


"Sebentar Kak." teriak Senja sambil menutup mulutnya. Ia berlari ke belakang, menanyakan tempat toilet pada salah satu pelayan.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Senja tiba di toilet. Dan ia langsung muntah-muntah di sana. Fajar yang saat itu mengikuti langkah Senja, langsung menghampiri istrinya, dan memijit tengkuknya.


"Sudah kubilangkan, pakai baju yang berlengan panjang. Di sini udaranya dingin, kau pasti masuk angin sayang." kata Fajar.

__ADS_1


"Semoga kamu benar Kak, semoga ini hanyalah masuk angin biasa." batin Senja dalam hatinya.


Bersambung.....


__ADS_2