Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Menutup Hati


__ADS_3

Sinar senja semakin meredup, mengantarkan siang, dan menjemput malam. Senja duduk termenung di atas kursi, di ruang tamu. Matanya yang sendu menatap daun pucuk merah yang tumbuh di halaman rumahnya. Daunnya melambai kesana kemari mengikuti arah angin. Tak berbeda jauh dengan hatinya, yang hingga saat ini masih terombang-ambing dalam kedukaan, dan sakitnya kehilangan.


Sudah dua minggu Senja tinggal di rumahnya. Ia kembali menyandarkan hidupnya pada Kakaknya. Usia kandungannya kini sudah genap dua bulan. Hari-harinya hanya berdiam diri di rumah. Sesekali ia menghibur diri dengan merawat tanaman bunga yang tumbuh subur di sekitar rumahnya. Kemarin Senja meminta ijin untuk mencari pekerjaan, namun Alvin melarangnya dengan keras. Alvin tidak tega melihat adiknya yang sedang hamil, harus bekerja, dan mencari uang. Alvin berjanji akan berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua.


Senja menghela nafas panjang. Pisang goreng yang tersaji di atas piring, tak sadikitpun ia sentuh. Setiap kali Alvin pergi, Senja kembali bersedih, ia kembali teringat pada takdir yang terjadi dalam hidupnya.


Alvin baru saja pergi ke klub, ia sengaja berangkat lebih awal, karena ada pelanggan yang memesan tempatnya.


Senja menoleh sekilas saat mendengar ponselnya berdering, ternyata Nina yang menelfonnya, namun Senja tak menghiraukannya. Saat ini ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Tadi ia, dan Nina sempat berbincang lewat chat, namun tak berlangsung lama. Baru beberapa menit saja, Senja sudah meletakkan ponselnya, dan kembali meratapi kesendiriannya.


Tak lama kemudian, Senja beranjak dari duduknya. Ia bermaksud untuk pergi ke kamarnya. Namun disaat Senja hendak menutup pintu, tiba-tiba ada sorot lampu mobil yang menyilaukan matanya. Senja mengernyit heran, siapa gerangan?


"Siapa, mungkinkah temannya Kak Alvin." gumam Senja dengan pelan. Ia terus menatap ke arah mobil yang berhenti di halaman rumahnya.


Tak lama kemudian, seorang lelaki turun dari mobil. Seorang lelaki dengan perawakan yang tinggi, dan rambutnya yang sedikit memanjang. Senja langsung dapat mengenalinya, meskipun wajahnya belum terlihat dengan jelas.


"Untuk apa dia kesini?" batin Senja sambil memalingkan wajahnya. Melihat sosok lelaki yang sedang berjalan ke arahnya, hati Senja kembali sesak. Kesalahannya pada malam itu kembali menghantui pikirannya.


"Aya!" panggil Ken yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Kamu Ken." jawab Senja sambil menatap Ken sekilas.


"Boleh aku masuk?"


"Silakan!" kata Senja sambil duduk di atas kursi.


Ken melangkah masuk, dan duduk di kursi, di depan Senja.


"Apel merah." ucap Ken sambil meletakkan kantong berisi apel yang tadi ia bawa.


"Terima kasih." jawab Senja.


"Hubungan kita sekarang menjadi secanggung ini Aya." ucap Ken dalam hatinya.


"Dimana Kak Alvin?" tanya Ken.


"Sudah pergi." jawab Senja dengan singkat.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik." jawab Senja.


"Syukurlah, bagaimana kandungan kamu?" tanya Ken.

__ADS_1


"Sehat."


"Aya!" panggil Alvin.


"Hmmm."


"Apa kamu tidak ingin tahu bagaimana kabarku?" tanya Ken.


Senja tidak menjawab pertanyaan Ken. Dia hanya terdiam sambil menatap pisang goreng yang sejak tadi diabaikannya.


"Aya!" panggil Ken.


"Ken, sebenarnya apa tujuanmu kemari?" ucap Senja balik bertanya.


"Aku hanya ingin menjengukmu." jawab Ken.


"Untuk apa?" tanya Senja.


"Aya apa maksdumu?"


"Justru aku yang seharusnya bertanya apa maksudmu! Kau tahu Ken, aku ini istri orang! Tidak seharusnya kamu datang kesini, malam-malam begini. Itu tidak baik Ken!" kata Senja sambil menatap Ken.


"Aya aku kesini hanya ingin tahu bagaimana kabarmu, juga bagaimana kandungan kamu." ucap Ken.


"Aya, tidak bisakah kita berbincang sebentar saja."


"Tidak." ucap Senja sambil menggeleng.


"Kenapa?" tanya Ken.


"Sudah kubilang aku ini istri orang, jadi kamu jangan menggangguku Ken! Kejarlah masa depan kamu, dan juga kebahagiaan kamu. Jangan terbelenggu dengan masa lalu, itu akan menyakitimu!" kata Senja.


"Apa maksudmu Aya? Apa salah jika aku masih mengaharapkan kamu?"


"Tentu saja salah, hubungan kita sudah berakhir Ken. Sudah saatnya kamu melupakan aku, dan membuka hati untuk wanita lain." jawab Senja.


"Kau kenapa bicara seperti itu Aya, kau tau aku masih mencintaimu. Lagipula kau sedang mengandung anakku, bagaimana bisa aku melupakan kamu." kata Ken sambil menatap Senja.


"Tidak perlu mengatakan hal itu! Aku tahu ini anak kamu, aku juga tidak akan pernah menyembunyikan kebenarannya. Jika nanti dia sudah lahir, kau boleh menemuinya, kau boleh menganggapnya anak. Tapi tolong Ken, jangan berbicara tentang perasaan. Karena kau tahu kan bagaimana perasaanku, yang kucintai Kak Fajar Ken, suamiku." ucap Senja dengan panjang lebar.


"Tapi Aya..."


"Kau ingin bilang kalau Kak Fajar sudah tiada. Aku tahu, aku sangat tahu Ken. Tapi meskipun dia telah tiada, dia masih tetap suamiku, aku masih tetap mencintainya." sahut Senja dengan cepat.

__ADS_1


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu Aya. Aku juga tidak memaksa kamu untuk membalas perasaanku. Tapi tolong, biarkan aku menjagamu." kata Ken.


"Tidak!" teriak Senja sambil beranjak dari duduknya.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan lagipula aku juga masih punya Kak Alvin. Ken, tolong mengertilah! Cukup sekali saja aku mengkhianati Kak Fajar, aku tidak ingin mengulanginya." sambung Senja dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku hanya ingin menjagamu, aku tidak akan menuntut apa-apa darimu." ucap Ken sambil ikut beranjak.


"Tidak Ken. Tolong menjauhlah dariku, dan kejar kebahagiaan kamu! Aku ingin melewati semua ini sendiri." kata Senja.


"Kebahagiaanku adalah mencintaimu Aya!"


"Cukup Ken! Aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi! Pulanglah!" kata Senja dengan pelan.


"Tidak Aya."


"Pulanglah Ken!"


"Tapi Aya."


"Pulanglah!"


"Baiklah! Aku akan pulang, jaga dirimu baik-baik Aya." kata Ken sambil menghela nafas panjang.


"Mungkin aku datang terlalu cepat, Fajar pergi baru satu bulan yang lalu. Mungkin Aya masih butuh waktu untuk sendiri, aku akan mencoba mengerti perasannya." ucap Ken dalam hatinya.


"Iya." jawab Senja dengan singkat, sambil menatap Ken yang mulai melangkah keluar dari rumahnya. Ken terus berjalan mendekati mobilnya.


"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Dulu aku membuka celah, hingga akhirnya aku terjerumus kedalam lembah kemaksiatan. Sekarang tidak lagi, aku tidak akan memberikan kesempatan untuk Ken, aku akan menjaga jarak dengannya." batin Senja sambil menatap tubuh Ken yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama kemudian, mobil Ken mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya. Senja menutup pintunya, dan kemudian melangkah menuju ke kamarnya.


Senja duduk di kursi, di dekat meja. Ia meraih foto pernikahan yang ia letakkan di sana.


"Maafkan kesalahanku Kak, sekarang aku sangat menyesalinya. Kak Fajar, bantu aku untuk tetap teguh pada pendirianku. Aku ingin menjaga cinta kamu, aku tidak ingin menodainya untuk yang kedua kalinya." ucap Senja sambil mengusap foto Fajar yang sedang tersenyum.


"Ya Allah tolong kuatkan hambamu ini. Jadikanlah Kak Fajar sebagai satu-satunya imamku. Hamba hanya manusia biasa, yang tak pernah lepas dari kekhilafan. Hanya hidayahmulah yang bisa membuat hamba tetap teguh dengan niat ini." ucap Senja sambil memejamkan matanya.


Senja berniat menutup pintu hatinya untuk semua lelaki, entah seseorang yang baru dikenalnya, atau seseorang yang hadir dari masa lalunya. Dia ingin menjadikan Fajar sebagai satu-satunya lelaki yang menjalin ikatan halal dengannya.


Namun sebagai manusia biasa, Senja hanya bisa berencana. Untuk takdir yang akan terjadi selanjutnya, Senja hanya bisa pasrah atas kehendak-Nya. Karena hanya Tuhan yang berkuasa membolak-balikkan hati, dan perasaan manusia.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2