
Bu Ratih, dan Pak Jeffry tersentak kaget. Mereka menatap Ken dengan mulut yang menganga lebar.
"Apa maksud kamu Ken?" tanya Pak Jeffry dengan tegas.
"Jelaskan Ken! Apa maksud dari perkataanmu itu!" kata Bu Ratih masih dengan nada yang tinggi.
"Maafkan aku Ma, maafkan aku Pa. Aku salah, aku telah menodai Aya. Sekarang dia sedang mengandung anakku." ucap Ken sambil menunduk.
"Sebenarnya ini belum saatnya untuk mengatakan semuanya. Tapi karena Sella, aku harus berterus terang. Biarlah Mama, dan Papa memarahiku, asalkan mereka tidak melarangku untuk mendekati Aya." ucap Ken dalam hatinya.
"Kamu serius Ken?" tanya Pak Jeffry.
Dan Ken hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Apa ini hanya alasan kamu saja Ken, agar kami merestui niat kamu, begitukah Ken?" tanya Bu Ratih dengan jantung yang berdetak cepat.
Anaknya mengahamili istri orang, benar-benar kenyataan yang sangat sulit untuk dipercaya.
"Aku mengatakan kebenarannya Ma, dia memang anakku. Hanya saja aku belum bisa jujur sama Mama, dan Papa." kata Ken sambil sambil menatap ibunya.
"Ken!" teriak Pak Jeffry.
Ken tidak menjawab, namun ia menoleh dan menatap ayahnya yang sudah beranjak dari duduknya.
"Kapan kau melakukan itu?" tanya Pak Jeffry sambil menatap Ken dengan tajam.
"Disaat Fajar masih hidup Pa." jawab Ken.
Tanpa basa-basi Pak Jeffry langsung menampar wajah Ken dengan keras. Ken merasakan sakit, dan panas di pipinya. Namun ia tak membantah, apalagi melawan, karena semua ini memang pantas untuk ia dapatkan.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu? Dia istri orang dan kamu menidurinya, apa menurutmu yang kau lakukan itu benar! Hah!" bentak Pak Jeffry sambil mengepalkan tangannya.
"Kau tahu itu adalah dosa yang sangat besar Ken, kenapa kamu bisa seceroboh itu. Katakan kenapa kau bisa melakukannya! Sebodoh itukah kamu dalam mengontrol emosi, dan hasratmu, dimana akal sehatmu Ken!" bentak Pak Jeffry.
"Maafkan aku Pa, aku tidak sengaja melakukannya. Aku..."
"Dia sampai hamil, dan kau bilang tidak sengaja, alasan macam apa itu Ken!" bentak Pak Jeffry sambil melayangkan tangannya. Beliau hendak menampar Ken untuk yang kedua kalinya.
"Tunggu Mas!" teriak Bu Ratih.
__ADS_1
Pak Jeffry menurunkan tangannya, kini beliau menatap istrinya dengan tajam.
"Jangan kau bela dia Ma, bahkan pukulanpun sebenarnya tidak cukup untuk menghukum kesalahannya." kata Pak Jeffry.
"Biarkan aku berbicara dulu dengannya Mas." jawab Bu Ratih.
"Ken!" panggil Bu Ratih.
Ken tidak menjawab, namun ia menoleh dan menatap ibunya.
"Kau yakin dia mengandung anakmu? Jika saat itu Fajar masih hidup, besar kemungkinan kalau yang dia kandung itu adalah anaknya Fajar. Apa Senja hanya ingin menjebakmu Ken?" tanya Bu Ratih sambil menatap anaknya lekat-lekat.
"Aku sangat yakin Ma." jawab Ken.
"Kenapa kau seyakin itu? Dengar ya Ken, berpikirlah dengan logika, jangan hanya berpikir dengan cinta." kata Bu Ratih.
"Aku juga berpikir dengan logika Ma, saat aku menidurinya pada malam itu, dia masih perawan. Aku adalah lelaki pertama yang menyentuhnya." ucap Ken dengan pelan.
Jawaban Ken sontak membuat kedua orang tuanya terhenyak. Bagaimana tidak, satu tahun lebih Senja menikah, dan Ken bilang wanita itu masih perawan. Apakah ada rumah tangga yang seperti itu?
"Apa maksudmu Ken, kamu jangan bicara sembarangan. Itu tidak mungkin!" bentak Pak Jeffry dengan tatapan tajamnya. Beliau sangat tidak percaya dengan ucapan Ken. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah menikah akan tetap perawan sampai selama itu.
"Mana mungkin bisa seperti itu, mereka sudah lama menikah. Apa jangan-jangan Senja melakukan operasi selaput dara?" sahut Bu Ratih.
"Tidak, Fajar memang tidak pernah menyentuh Aya. Aku awalnya juga tidak mengerti, tapi setelah aku menyentuhnya, aku baru tahu seperti apa jalan pernikahan mereka." jawab Ken dengan pelan. Ia menundukkan kepalanya, kesalahan pada malam itu kembali terlintas dalam ingatannya.
"Apa maksudmu Ken, apa yang terjadi dengan Fajar dan Senja? Mana mungkin seorang lelaki tidak menyentuh istrinya, katakan ada apa sebenarnya!" kata Pak Jeffry sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ada sesuatu yang tidak boleh diketahui publik. Aku bisa menjelaskannya dengan detail, asalkan Papa mau berjanji satu hal padaku." ucap Ken sambil mengangkat wajahnya, dan menatap ayahnya.
"Janji apa?"
"Jangan kaitkan ini dengan bisnis. Meskipun Om Hery pernah mengacaukan tender Papa, dan dia termasuk rival bisnisnya Papa. Tapi jangan jadikan kelemahan ini untuk mengalahkan dia. Aku bisa menjelaskan semuanya, jika Papa berjanji untuk tidak memberitahukannya kepada siapa pun." ucap Ken dengan serius.
"Iya aku berjanji, sekarang katakan apa yang terjadi!" kata Pak Jeffry dengan cepat.
"Fajar meninggal bukan karena jantung lemah, tapi karena HIV AIDS." ucap Ken dengan pelan.
"Apa!" teriak Pak Jeffry, dan Bu Ratih bersamaan.
__ADS_1
"Apa kau serius Ken?" tanya Pak Jeffry sambil duduk di sebelah Ken.
"Aku serius Pa, itu sebabnya dia tidak pernah menyentuh Aya. Dia sudah stadium akhir, sudah tidak ada cara untuk menyentuh Aya tanpa menularkan penyakitnya. Itu sebabnya Aya masih suci." jawab Ken menjelaskan.
"Fajar sering pergi berobat ke Singapura, namun dia tidak pernah mengatakan tentang penyakitnya kepada Aya, sehingga dia salah paham. Aya menganggap Fajar masih menjalin hubungan dengan Adara. Waktu itu Aya meminta tolong padaku untuk mencari tahu tentang Arrion, dan juga Adara." sambung Ken meneruskan ceritanya.
Pak Jeffry, dan Bu Ratih menatapnya dengan intens. Mereka mendengarkan ucapan Ken dengan seksama.
"Namun informasi tentang Adara telah ditutup total, aku gagal menemukannya. Dan mencari Arrion dalam satu negara itu juga bukan hal yang mudah. Kala itu Aya baru saja bertengkar dengan Fajar, dia sedang kalut. Dan aku, jujur aku masih sangat mencintainya. Lalu kita berdua terjerumus dalam kemaksiatan, akal sehat kita telah dikalahkan oleh hasrat sesaat. Dan malam itu aku tahu kalau Aya masih suci, lalu aku juga tahu seperti apa jalan pernikahannya. Lambat laun aku juga mengerti, kalau Fajar itu sakit, dan Arrion adalah dokternya. Sedangkan Adara, dia sudah meninggal tepat dihari pernikahannya Aya." sambung Ken sambil menunduk, dan memegangi kepalanya.
"Kamu bodoh Ken, kenapa bisa seceroboh itu. Senja sudah menjadi istri orang, seharusnya kamu bisa mengendalikan hati kamu!" kata Pak Jeffry.
"Maafkan aku Pa, aku tidak menyangka jika seperti ini kisahku bersama Aya. Aku memang masih mencintainya, tapi sebenarnya juga bukan seperti ini yang aku harapkan." jawab Ken.
"Fajar, dan keluarganya tahu soal ini?" tanya Pak Jeffry.
"Tahu Pa, waktu itu Fajar malah menemuiku, dan dia menitipkan Aya padaku. Aku merasa bersalah sama dia, tapi semuanya sudah terlanjur." jawab Ken dengan tetap menunduk.
Ken yang sedang larut dalam kesedihannya, tiba-tiba saja berteriak keras saat merasakan sakit di telinga kirinya. Rupanya Bu Ratih menjewernya dengan sangat keras.
"Bagus sekali ya kelakuan kamu, menghamili istri orang, dan kamu menyembunyikan semuanya dari orang tua kamu. Kamu menelantarkan anak kamu di luaran sana, dan kamu tidak mau bertanggungjawab! Dimana harga diri kamu sebagai lakai-laki! Kamu pengecut Ken!" bentak Bu Ratih sambil terus menjewer telinga Ken.
"Mama lepaskan Ma, aduh sakit Ma! Ma ampun Ma!" teriak Ken seraya memegangi telinganya, dan berusaha melepaskan tangan ibunya.
"Itu tidak seberapa dengan sakitnya hati Mama yang kamu abaikan ini Ken. Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini sejak awal?" tanya Bu Ratih sambil melotot tajam.
"Maaf Ma, aku berencana untuk mengatakan semuanya saat Aya sudah bisa menerimaku." jawab Ken sambil mengusap telinganya yang memerah.
"Oh begitu ya. Berarti kalau Senja tidak menerima kamu, selamanya kamu tidak akan mengatakan hal ini pada Mama, iya!" bentak Bu Ratih.
"Bukan begitu Ma."
"Lalu?"
"Aku...aku..."
"Papa sangat tidak setuju dengan keputusan kamu!" sahut Pak Jeffry dengan tiba-tiba.
"Maksud Papa?" tanya Ken dengan cepat. Ia langsung menegakkan duduknya, dan menatap ayahnya dengan jantung yang berdetak cepat.
__ADS_1
Bersambung....