Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Pernikahan Alvin Dan Nina


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Semburat sinar surya mulai mengintip di ufuk timur. Menyambut jiwa-jiwa insani yang baru terjaga dari dunia mimpi.


Di rumah Alvin tampak beberapa orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hari ini adalah hari pernikahannya. Seharusnya sudah dilaksanakan sejak sebulan yang lalu, namun harus tertunda karena ada musibah yang menimpa adiknya kala itu.


Alvin tidak menyelenggarakan pesta besar, hanya pesta kecil yang dihadiri oleh kerabat, tetangga, dan teman dekatnya saja.


Di ruangan dapur, tampak Senja sedang membantu Ibu-Ibu lainnya yang sedang memasak. Perutnya yang mulai membuncit tak membuatnya bermalas-malasan. Justru ia menjadi lebih semangat diusia kandungannya yang hampir menginjak 4 bulan.


Bahkan dengan sedikit kemampuannya, ia mulai menerima orderan kue kering. Meskipun untungnya hanya sedikit, tapi setidaknya bisa ia kumpulkan untuk biaya lahiran nanti. Senja merasa tidak enak jika membebankan semua kebutuhannya kepada Alvin, apalagi sekarang Kakaknya sudah menikah. Senja mencoba membuka usaha yang bisa ia lakukan dari rumah. Dengan begitu dia bisa beristirahat, jika merasa lelah, dan letih.


"Nja jangan terlalu capek!" kata Alvin sambil mengambil secangkir kopi yang berada di atas meja dapur.


"Tidak Kak, aku hanya membantu mengupas bawang." jawab Senja yang saat itu memang sedang mengupas bawang.


Alvin tersenyum sambil mengangguk. Lalu ia melangkah pergi sambil membawa kopinya. Ia ikut membantu membereskan ruang tamu, yang akan menjadi tempat untuk ijab qabulnya nanti.


Hampir tengah hari semua orang yang ada di sana tampak bernafas lega. Jamuan, dan juga tempat sudah disiapkan dengan rapi. Hanya tinggal menunggu sang mempelai wanita yang akan datang beberapa menit lagi.


Alvin sengaja melakukan ijab qabul di rumahnya sendiri. Karena ia akan mengajak Nina tinggal di rumah ini, ia tidak akan tega jika meninggalkan Senja sendirian.


Sekitar setengah jam kemudian, Nina dan keluarganya sudah tiba di rumah Alvin. Mereka dipersilakan masuk, dan duduk di atas tikar yang sudah digelar di atas lantai.


Mereka dijamu dengan dengan jajanan basah yang sudah dipersiapkan sejak tadi pagi.


"Ayah, Ibu!" sapa Alvin sambil menyalami kedua mertuanya.


"Setelah ini kau yang akan bertanggubgjawab atas hidup Nina. Tolong jaga dia ya nak!" kata Pak Sardi sambil menepuk bahu Alvin.


"Pasti Yah, aku pasti akan menjaganya, dan juga membahagiakan dia." jawab Alvin sambil tersenyum. Ia melirik Nina yang sedang duduk di samping Ayahnya. Wajahnya terlihat begitu cantik dengan polesan make up yang sedikit tebal.


"Ahh betapa indahnya hidupku nanti, ditemani seorang wanita yang parasnya, dan hatinya bak bidadari. Ternyata seperti ini rasanya mencintai, dan dicintai." batin Alvin sambil tersenyum.


"Nak tolong jangan marah ya, kalau nanti sikapnya Nina manja. Selama ini dia terbiasa bermanja-manjaan sama Ibu." ucap Bu Ninik.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Justru aku malah merasa senang kalau Nina mau bermanja denganku." jawab Alvin sambil tertawa.


Tak lama kemudian, Senja keluar dari kamarnya, dan ikut bergabung bersama mereka semua. Ia terlihat sangat cantik dengan balutan gamis warna biru muda, yang dipadukan dengan kerudung warna putih.


Dika yang saat itu sedang duduk di sudut ruangan, menatapnya sambil tersenyum getir.


"Kau sangat cantik Senja. Sejujurnya aku sangat ingin menggantikan posisi Fajar, namun sepertinya kau tidak memberiku kesempatan sedikitpun." ucap Dika dalam hatinya.


Berkali-kali ia mencoba mendekati Senja, namun wanita itu sama sekali tak membuka hati untuknya.


"Om, Tante!" sapa Senja sambil menyalami kedua orang tua Nina.

__ADS_1


"Wahh semakin cantik saja kamu nak, sudah berapa bulan ini?" tanya Bu Ninik sambil menyentuh perut Senja.


"Tiga bulan Tante, sebentar lagi menginjak empat bulan." jawab Senja sambil tersenyum.


"Semoga sehat sampai lahiran."


"Aamiin, terima kasih ya Tante." jawab Senja.


Dan Bu Ninik menjawabnya dengan senyuman.


"Nina, cantik sekali kamu hari ini." ucap Senja sambil memeluk Nina dengan erat. Sahabat dekatnya sebentar lagi akan menjadi Kakak iparnya.


"Kamu jauh lebih cantik, daripada aku Nja!" jawab Nina sambil tertawa.


"Aku tahu ucapanmu hanya untuk menghiburku." cibir Senja.


"Aku serius." ucap Nina masih dengan tawanya.


"Oh ya, apa sekarang aku harus memanggil Kakak?" tanya Senja sambil tersenyum miring.


"Jangan gila, aku ini tetap sahabatmu!" jawab Nina sambil menatap Senja.


"Begitukah?"


"Tentu saja, memangnya kau menganggap aku apa?" tanya Nina.


"Otakmu mulai geser." cibir Nina sambil tertawa. Dan Senja juga ikut tertawa bersamanya.


"Andai saja aku bisa membuatmu tertawa seperti itu Nja, pasti aku sangat bahagia. Ahh jangankan membuatmu tertawa, sekadar membuatmu mau berbincang denganku saja, itu butuh perjuangan yang keras." batin Dika sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Beberapa menit kemudian, pak penghulu sudah datang. Beliau langsung dipersilakan masuk, dan duduk di dekat meja yang sudah dipersiapkan. Jantung Alvin mulai berdetak cepat saat menatap penghulu yang sudah siap di hadapannya.


"Apakah kita mulai sekarang?" tanya Pak penghulu.


"Boleh." jawab Alvin sambil mengusap keningnya yang mulai berkeringat.


"Sudah bisa ijab qabulnya?"


"Insya Allah." jawab Alvin.


"Bagus! Kalau begitu kita mulai ya, tapi sebelum itu, mari kita ucapkan basmallah dulu bersama-sama." kata Pak penghulu.


Lalu mereka mengucapkan basmallah bersama-sama. Setelah itu Pak penghulu mengucapkan doa-doa, dan kemudian mulai menjabat tangan Alvin.


"Saya nikahkan engkau Alvin Aldiansyah Bin Alm.Pramono dengan Nina Anindita Binti Sardi dengan mas kawin lima gram emas dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Nina Anindita Binti Sardi dengan mas kawin lima gram emas dibayar tunai." kata Alvin dengan suara yang lantang.

__ADS_1


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah!" jawab mereka dengan serempak.


"Alhamdulillah! Mari kita ucapkan puja, dan puji syukur kita kehadirat Allah Swt yang telah menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan yang halal." ucap Pak penghulu sambil tersenyum.


Lalu beliau memimpin doa, dan shalawat.


Setelah selesai membaca doa, dan shalawat, Nina menyalami tangan Alvin, dan menciumnya. Alvin tersenyum, kemudian mencium kening istrinya cukup lama. Untuk pertama kalinya ia mencium seorang wanita.


Kemudian Alvin, dan Nina memeluk kedua orang tuanya, sekaligus meminta doa restu atas pernikahan yang baru saja mereka laksanakan.


"Alvin terima kasih sudah memilih Nina sebagai pasangan hidupmu. Tolong sayangi dia sebagaimana kami menyayanginya. Nina, berbaktilah kepada suamimu, ridhonyalah yang bisa membuka pintu syurga bagimu. Doa Ibu akan selalu menyertai kalian, semoga kalian dilancarkan rezekinya, dan secepatnya diberi momongan. Semoga kalian bisa bersama sampai tua." ucap Bu Ninik sambil memeluk Alvin, dan Nina secara bergantian.


"Terima kasih Bu, sudah merestui kami, dan sudah memberikan doa yang terbaik untuk kami. Saya pasti akan menyayangi Nina, saya akan berusaha keras untuk membahagiakan dia." jawab Alvin sambil tersenyum.


"Terima kasih Ibu." ucap Nina sambil memeluk Ibunya dengan lebih erat.


"Ayah sudah mempercayakan hidup Nina kepadamu. Tolong jangan kecewakan Ayah ya nak." kata Pak sardi sambil memeluk Alvin.


"Tidak akan pernah Yah." jawab Alvin dengan tegas.


"Jangan manja lagi ya, kau sekarang sudah dewasa. Kau sudah menyandang status sebagai seorang istri. Dan mungkin sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu, jangan terlalu merepotkan suamimu!" kata Pak Sardi sambil memeluk anak gadisnya.


"Iya Yah." jawab Nina dalam pelukan Ayahnya.


"Selamat ya Kak, aku sangat senang akhirnya Kakak menikah. Sekarang Kakak tidak sendiri lagi, Kakak sudah memiliki pendamping hidup. Aku sangat bahagia Kak." ucap Senja sambil memeluk Alvin.


"Terima kasih Senja." jawab Alvin dengan singkat. Ia tak tahu harus mengatakan apa, karena ia tahu jauh di dasar hatinya, Senja pasti sangat terluka. Ia pasti mengingat pernikahannya bersama Fajar.


"Nina selamat ya, sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluargaku. Aku titip Kakak ya." ucap Senja sambil memeluk Nina.


"Terima kasih Nja, sekarang aku ada di dekat kamu, jangan sungkan untuk berbagi beban denganku. Aku akan berusaha untuk selalu ada buat kamu Nja." jawab Nina dengan pelan.


"Kau memang sahabat terbaikku Nin." ucap Senja.


Satu persatu dari mereka bergantian memberikan ucapan selamat kepada Alvin, dan Nina. Setelah selesai, mereka mengisi acara dengan makan-makan bersama. Gelak tawa, dan canda terdengar memenuhi ruangan itu. Raut kebahagiaan tampak mewarnai wajah-wajah mereka.


***


Senja melangkah perlahan menuju halaman belakang rumahnya. Ia tidak ingin satu orang pun tahu tentang kesedihannya. Hari ini mengingatkannya pada hari dimana ia, dan Fajar saling melepaskan masa lajang, dan memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan yang halal.


Senja duduk di atas bangku sambil menatap pohon mangga yang mulai berbunga. Dahannya bergerak pelan tertiup angin yang berhembus sepoi-sepoi.


"Boleh aku duduk?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2