Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Kejadian Malam Itu


__ADS_3

Flash back


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 malam. Ken memicingkan matanya, saat menatap layar ponselnya. Lalu ia beranjak dari duduknya, sambil mengulas senyuman lebar.


"Ken, kau mau kemana?" tanya Alvin.


"Jalan-jalan sebentar, Kak," jawab Ken sambil terus melangkah pergi.


Ken bergegas menuju mobilnya, dengan cepat ia menghidupkan mesinnya, dan melajukannya meninggalkan area rumah sakit. Ken terus menambah kecepatannya, sambil sesekali melirik layar ponselnya. Dengan menggunakan akun abal-abal, ia berhasil melacak keberadaan Sella.


"Kau tidak akan bisa lari dariku, tersenyumlah sepuasmu, berpikirlah jika kau aman. Tapi sebenarnya, ini adalah awal dari kehancuranmu," ucap Ken sambil mencengkeram kemudi mobilnya dengan erat.


Dari informasi yang Ken dapatkan, Sella berencana pergi ke luar kota. Mungkin dia bermaksud menghilangkan jejak, sebelum Ken menyadari perbuatannya. Tapi Ken bukanlah lelaki bodoh, ia menggunakan akun abal-abal yang tidak dicurigai Sella. Dengan akun itu, ia berhasil melacak keberadaan Sella lewat ponselnya.


Satu setengah jam kemudian, jarak mobil Ken dan mobil Sella semakin dekat, hanya tinggal beberapa kilo saja. Ken terus menambah kecepatannya, tak peduli meski kendaraan lain kelabakan saat ia mendahuluinya.


"Aku tidak boleh terlambat!" ucap Ken dengan keringat yang mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Untuk pertama kalinya ia akan bertingkah gila. Cinta, ternyata sebesar ini pengaruhnya bagi kepribadian seseorang.


Ken telah gelap mata, ia tak peduli lagi dengan dosa ataupun akhlak kemanusiaannya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah satu, Sella harus tiada. Karena itulah satu-satunya cara untuk membuatnya diam dan tidak lagi mengusik kehidupannya.


"Maafkan aku, Aya. Mungkin ini akan membuatmu kecewa, tapi inilah caraku mencintaimu." Gumam Ken dengan pelan.


Beberapa menit kemudian, mata Ken menatap mobil warna hitam dengan plat nomor yang sangat dikenalnya. Bibirnya mengulas senyuman lebar, target sudah berada di depan matanya. Ken terus mengikutinya, ia menunggu sampai mereka tiba di tikungan yang berada di pinggir jurang. Malam beranjak semakin larut, jalanan sudah semakin sepi, Ken tertawa menyeringai.


"Kau bodoh Sella, kau berniat ke luar kota malam-malam seperti ini, sama saja dengan memberiku kesempatan. Andai saja kau pergi di siang hari, aku tidak akan bisa bertindak macam-macam." Kata Ken dengan pelan.


Tak lama kemudian, Ken menambah kecepatannya. Sella yang saat itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedikit gugup saat ada mobil yang hendak mendahuluinya dari sisi kiri.


"Apa sih ini orang, belum pernah berkendara ya, mendahului itu dari kanan bukan dari kiri," gerutu Sella dengan kesal. Mau tidak mau ia membelokkan mobilnya sedikit ke kanan.


Sella semakin kesal, saat melihat mobil itu malah menyamainya, bukan mendahuluinya. Saat Sella melambat orang itu juga melambat, saat Sella menambah kecepatannya, orang itu juga melaju lebih cepat. Dengan emosi yang semakin membuncah, Sella menurunkan kaca mobilnya, ia berteriak ke arah pengendara yang ada di sampingnya.


"Woi, orang gila! Berhenti kamu!" teriak Sella dari balik kemudinya.


"Woi, berhenti!" teriak Sella untuk yang kedua kalinya.


Tak lama kemudian, Ken menurunkan kaca mobilnya. Tubuh Sella sekan membeku saat itu juga, ia tidak menyangka jika pengendara itu adalah Ken. Apa yang akan dia lakukan? Tubuh Sella mulai gemetaran, sangat takut dan gugup.


"Hai Sella, bagaimana kabar kamu?" tanya Ken dengan santainya.


"Apa yang kau lakukan, berhenti Ken!" teriak Sella. Ia semakin gugup saat teringat dengan tikungan tajam yang tak jauh dari mereka saat ini. Tikungan yang berada di pinggir jurang, mungkinkah Ken akan bertingkah gila?


"Kenapa kau ketakutan, apa kau merasa bersalah denganku?" tanya Ken.

__ADS_1


"Jangan gila, aku tidak melakukan apa-apa!" bentak Sella.


"Kalau begitu kenapa kau takut?" tanya Ken.


Sella tidak menjawab, namun dia melambatkan laju mobilnya. Jarak tikungan itu semakin dekat, lebih baik dia memutar arah sebelum Ken bertingkah gila. Sella yakin, saat ini Ken sudah tahu apa yang dia lakukan terhadap Senja.


Namun diluar dugaan, Ken juga melambatkan laju mobilnya, ia terus menyamai kecepatannya. Mobil mereka terus berjalan beriringan.


"Berhentilah, jika kau ingin mati!" kata Ken sambil mengeluarkan pistol miliknya. Ia menodongkannya ke arah Sella.


"Kecepatan peluru ini sangat tinggi, bisa menembus kaca mobil dengan begitu mudah. Apa kau ingin salah satu pelurunya melubangi kepalamu Sella, atau mungkin dadamu? Agar darah kotor dalam hatimu bisa mengalir keluar, sehingga kau tidak lagi menyimpan iri, dengki, maupun dendam," sambung Ken dengan tatapan tajamnya.


"Kau, kau jangan gila Ken! Apa yang akan kau lakukan?" teriak Sella dengan mata yang membulat lebar. Sejak kapan Ken menjadi sekejam ini?


"Aku hanya ingin melakukan seperti apa yang kau lakukan terhadap Aya. Mengeluarkan sedikit darah! Bukankah seperti ini yang namanya keadilan Sella?"


Sella tidak menjawab, otaknya berpikir keras. Ia menatap wajah Ken sekilas, ada aura pembunuh yang terpancar dari kilatan matanya. Lari, itulah satu-satunya kata yang ada dalam pikiran Sella. Berputar balik itu tidak mungkin, Ken terus menyamai kecepatannya, ia tidak akan punya kesempatan. Satu-satunya pilihan adalah maju, ia akan melaju kencang, dan meninggalkan Ken di belakang.


Tanpa banyak kata, Sella langsung menginjak pedal gas kuat-kuat. Mobilnya lansung melesat, dan meninggalkan mobil milik Ken. Ken tersenyum miring, rencananya berjalan dengan lancar, dengan cepat ia mengikuti mobil Sella. Telapak kakinya terus menginjak pedal gas dengan kuat.


"Aku tidak akan menembakmu, karena nanti semua orang akan tahu, jika kau mati karena dibunuh. Tapi jika membuatmu jatuh ke jurang, orang akan menganggap kau kecelakaan. Sekarang kau tahu, siapa di antara kita yang paling pintar, Sella?"


Sampai tiba di tikungan, Ken terus menambah kecepatannya. Mobilnya melesat dengan cepat, dan mendahului mobil Sella dari sisi kiri. Sella kelabakan, namun ia mempertahankan posisi mobilnya, ia tidak membelokkan ke kanan walau hanya sedikit saja.


"Aku tidak membunuhmu Sella, aku hanya mencelakaimu, seperti kau mencelakai Aya. Jika nanti kau mati, itu memang takdirmu. Tapi jika kau masih hidup, kupastikan kau tidak akan sehat dan normal seperti sedia kala," ucap Ken sambil memutar balik mobilnya, ia akan kembali ke rumah sakit.


Flash back off


"Kau gila Ken, kau sudah membunuh Sella!" teriak Senja sambil menutup mulutnya. Ia tak menyangka jika Ken akan bertingkah senekat itu.


"Aku tidak membunuhnya, aku hanya mencelakainya. Seperti dia mencelakai kamu." Jawab Ken.


"Itu sama saja Ken, secara tidak langsung kamu sudah membuatnya mati. Dimana hati nurani kamu, Ken?" teriak Senja sambil menangis.


"Aku melakukan ini demi kamu, aku mencintai kamu, aku tidak ingin dia menyakiti kamu untuk yang kedua kalinya," ucap Ken sambil sambil memegang bahu Senja.


"Cinta bukan seperti ini, Ken. Tidak harus melakukam dosa besar untuk mencintai."


"Dosa biar aku tanggung sendiri, memang inilah caraku mencintaimu." Jawab Ken.


"Kamu salah, bukan kamu saja yang menanggung, tapi kita semua. Jika perbuatanmu ini terungkap polisi, kau akan dipenjara. Dan lagi, jika mereka tahu kau menyimpan senjata ilegal, kau pikir berapa tahun kau akan mendekam di sana. Pikirkan aku, pikirkan Rashya, pikirkan Mama dan Papa. Pikirkan perasaan kami, jika semua itu terjadi!" teriak Senja.


"Itu tidak mungkin terjadi."

__ADS_1


"Itu sangat mungkin, kenapa kamu bilang tidak?"


"Senjata itu bukan senjata ilegal, aku membelinya secara legal, aku membayar pajak setiap tahunnya. Dan lagi, Sella kecelakaan, perbuatanku tidak akan pernah terungkap." Ucap Ken dengan tegas.


"Tapi tetap saja, kau tidak seharusnya melakukan itu. Sekarang apa bedanya kau dengan Sella, tidak ada, sama-sama jahat! Aku kecewa sama kamu Ken, sangat kecewa!" kata Senja sambil memalingkan wajahnya.


Ken menatap Senja lekat-lekat, kenapa istrinya itu tidak mengerti bagaimana perasaannya.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa. Aku dan Sella memang sama, Sella bertingkah gila karena mencintaiku, dan aku bertingkah gila karena mencintaimu. Kau memaafkan aku atau tidak, itu adalah hakmu. Yang penting aku sudah jujur padamu, kau tahu, kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui hal ini. Aku tahu yang aku lakukan adalah salah, tapi aku melakukam ini demi menjaga kamu, karena aku sangat mencintaimu, Aya. Sekali lagi maafkan aku!" ucap Ken sambil beranjak dari duduknya, ia melangkah pergi meninggalkan Senja yang masih menangis.


***


Malam telah larut, jarum jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Senja masih terjaga, ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Rashya sedang tidur dengan neneknya, Senja berdiam diri sendiri di dalam kamarnya. Sejak siang tadi, Ken sama sekali belum menemuinya. Sejak keluar dari kamar, ia langsung menuju ruang kerjanya, tidak makan, dan juga tidak mandi. Saat makan malam, orang tuanya memanggilnya, namun dia menolak, dengan alasan masih menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit. Orang tuanya tidak tahu, jika Ken sedang mendiamkan Senja.


Beberapa menit kemudian, Senja beranjak dari duduknya, ia menggulung rambunya asal-asalan, dan menatap bayangan dirinya di dalam cermin.


"Apa aku berlebihan, apa sebesar itu rasa kecewanya Ken padaku? Selama ini dia tidak pernah mendiamkan aku, apa kata-kataku tadi sangat melukainya." Gumam Senja dengan pelan.


"Aku harus menemuinya, aku harus berbicara dengannya," ucap Senja sambil melangkahkan kakinya.


Senja keluar dari kamarnya, ia menuju ke ruang kerja, tempat Ken berada.


"Ken! Ken!" panggil Senja sambil mengetuk pintunya.


Cukup lama Senja menunggu, namun tidak ada jawaban dari dalam, daun pintu juga masih tertutup rapat.


"Ken! Ken!" panggil Senja untuk yang kedua kalinya.


Senja menghela nafas panjang, lalu ia membuka pintu itu, yang ternyata tidak dikunci. Senja membukanya dengan lebar, dan ia menatap ke setipa jengkal ruangan yang terlihat sangat gelap.


"Ken, kamu di mana?" tanya Senja.


Masih tidak ada jawaban, lalu mata Senja menatap ke arah pintu yang menuju ke balkon, pintu itu terbuka dengan lebar. Senja melangkah menuju ke sana, dan ia melihat Ken sedang duduk di kursi sambil menyesap rokok.


"Ken!" panggil Senja.


Ken tak menoleh, apalagi menjawab, seolah ia tidak mendengar suara Senja. Ia tetap menghisap rokoknya kuat-kuat.


Lagi-lagi Senja menghela nafas panjang, lalu ia melangkah dan mendekati Ken.


"Sayang!" panggil Senja sambil menyentuh bahu Ken.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2