Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Senja Kembali


__ADS_3

"Aya, kamu kenapa?" tanya Ken yang baru menyadari perubahan sikap Senja.


Senja masih diam terpaku, bibirnya terkatup rapat, seolah enggan menjawab pertanyaan Ken.


"Aya, jawab aku! Apa yang terjadi?" Ken berteriak sambil menggoyangkan bahu Senja.


"Kak Fajar normal dan dia tidak imp*ten," ucap Senja dengan pelan. Ia menunduk dan kembali menitikkan air matanya.


"Kamu yakin?" tanya Ken.


"Aku sangat yakin." Senja mengangguk.


"Jadi ... Fajar sakit?"


"Mungkin. Kemarin aku bertemu dengan Hana dan suaminya. Jika Hana menikah dengan Arrion, semuanya menjadi masuk akal." Senja bergumam sambil menyeka air matanya.


"Apa maksudmu?"


"Aku menanyakan tentang Adara pada Hana. Hana tidak mengatakan di mana Adara sekarang, tapi ia sangat yakin bahwa Adara tidak mungkin mengganggu rumah tanggaku. Lalu suaminya ... ia membisikkan sesuatu padaku. Dia menyuruhku untuk berhenti mencari tahu, karena Kak Fajar sangat mencintaiku. Dia juga bilang, terkadang kenyataan lebih menyakitkan dari yang kita bayangkan," ungkap Senja dengan panjang lebar.


"Aya! Kenapa kemarin kamu tidak mengatakan hal ini padaku? Aku sudah bilang 'kan, katakan semuanya agar aku bisa membantumu. Tapi kenapa banyak sekali hal yang kamu sembunyikan?" kata Ken dengan intonasi tinggi.


"Aku fikir itu tidak penting," ucap Senja dengan pelan.


"Itu sangat penting, Aya. Andai saja aku tahu dari kemarin, mungkin semuanya ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Aya, aku sudah mengambil kesucianmu. Kalau saja aku tahu kamu masih perawan, aku tidak akan pernah menodaimu. Aku tidak menyangka pernikahan yang kamu jalani ternyata serumit ini." Ken menunduk.


Ia benar-benar larut dalam penyesalan. Kekhilafan yang yang mereka lakukan semalam, tidak akan berakhir begitu saja. Semua itu pasti akan berdampak pada masa depan mereka.


"Selama ini aku tidak menduga sejauh itu, aku fikir Kak Fajar mengkhianatiku. Aku kira karena ada hati yang sedang dijaga, itu sebabnya dia tidak mau menyentuhku," ucap Senja.


Ken menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. Mengapa pikiran Senja sedangkal itu? Dulu sewaktu sekolah, Senja termasuk anak yang cerdas, tetapi dalam hal memahami lelaki, mengapa ia sangat bodoh. Mana ada lelaki normal yang tahan mendiamkan wanita dalam waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Kamu bodoh, Senja, kenapa kamu tidak bisa memikirkan kesimpulan yang lain. Dan aku, iya, aku juga bodoh. Aku tidak bisa mengendalikan na*suku, aku tidak bisa berfikir dengan akal sehatku," batin Ken seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ken!" panggil Senja.


"Hmmm," gumam Ken.


"Aku ingin sendiri," ucap Senja dengan pelan, ia takut jika perkataannya menyinggung perasaan Ken.


"Kamu yakin, kamu tidak butuh teman?"


"Aku butuh waktu untuk sendiri, Ken," ucap Senja.


"Baiklah, aku mengerti." Ken tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.


"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian semalam. Aya, tenangkan fikiran kamu. Bersedih boleh, tapi jangan berlebihan. Tetaplah menjadi Cahaya Senja yang selalu tersenyum. Nanti ajak Fajar bicara baik-baik, siapa tahu dia mau mengatakan yang sebenarnya. Aku juga akan tetap mencari informasi tentangnya. Jaga dirimu baik-baik, Aya." Ken berkata sambil mengusap rambut Senja. Lalu memeluknya sekilas, dan kemudian melangkah pergi meninggalkannya.


Setelah tubuh Ken menghilang di balik pintu, Senja kembali menunduk dan menitikkan air matanya. Kedua tangannya meremas tepian ranjang dengan sangat erat. Hatinya serasa hancur berkeping-keping. Tak pernah ia bayangkan, bila ujung pernikahannya akan sekelam ini.


Senja beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati kursi dan duduk di sana. Matanya menatap nanar pada sepiring roti bakar dan segelas air putih yang tersaji di atas nampan.


Sedangkan Fajar, lelaki itu hadir pada saat ia sedang terluka. Fajar mengulurkan cinta tulusnya dan mengajaknya merajut ikatan halal. Namun seiring berjalannya waktu, sikap aneh Fajar membuatnya curiga, dan lagi-lagi ia kembali salah paham dengan pasangannya. Ia menganggap Fajar selingkuh, dan besar kemungkinan anggapannya itu sangat salah. Kini, ia sudah menodai pernikahannya. Andai saja benar sikap Fajar karena sakit. Ahh, betapa berdosanya ia, mengkhianati kesucian cinta dari suami.


"Kenapa aku bisa sekejam ini, aku telah melukai dua lelaki yang tulus mencintaiku. Kenapa aku sebodoh itu, kenapa aku selalu salah paham dengan pasanganku?" ucap Senja di sela-sela tangisnya.


"Kak Fajar, maafkan aku. Maafkan kebodohanku." Senja meratap sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Fajar masih terduduk lesu di sofa kamarnya. Setelan formal yang ia pakai kemarin, sekarang pun masih melekat di tubuhnya. Kehilangan Senja membuatnya menjadi kacau. Sejak kemarin, Fajar belum makan, juga belum membersihkan diri. Ia hanya duduk sambil menatap layar ponsel. Berharap ada kabar dari orang suruhannya, atau justru kabar langsung dari istrinya.


Namun, hingga kini Fajar masih terbelenggu dalam kekhawatiran. Orang suruhannya belum ada yang menemukan keberadaan istrinya. Begitu halnya dengan nomor Senja, sampai saat ini belum bisa dihubungi.

__ADS_1


"Kamu kemana, Sayang? Tolong jangan menyiksaku seperti ini. Maafkan sikapku yang mengecewakan kamu." Fajar meraih foto pernikahannya.


Ia mengusap foto itu dengan pelan. Satu setengah tahun menikah, rasanya belum ada kebahagiaan yang mereka rajut barang sehari saja. Fajar senantiasa diselimuti rasa takut dan khawatir. Sedangkan Senja, selalu diselimuti rasa curiga dan kecewa.


"Kembalilah, Sayang, jangan menghukumku seperti ini. Aku berjanji akan memperlakukan kamu dengan lebih baik lagi. Aku berjanji akan mengatakan keadaanku dengan jujur. Aku tidak peduli kau akan meninggalkanku,atau tidak. Tapi sekarang tolong kembalilah! Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan meluruskan semuanya padamu," kata Fajar dengan pelan.


Fajar menghela napas panjang, lalu membawa foto itu melangkah mendekati jendela. Fajar berdiri di sana dan menatap sinar surya yang masih menghangat. Sang surya! Entah sampai kapan Tuhan mengijinkan dirinya untuk menatap surya.


Fajar menunduk dan menatap foto pernikahan yang masih ada dalam genggaman. Senyuman manis tampak terukir di bibirnya, juga di bibir istrinya. Fajar kembali mengusapnya dengan pelan, dan kini matanya mulai berkaca-kaca.


"Menikah dengan seseorang yang kita cintai, tidak selalu berjalan manis dan bahagia, karena terkadang juga menyakitkan. Andai saja aku bisa memutar waktu, aku akan memperbaiki sikapku di masa lalu. Dengan begitu, aku tidak akan mengalami semua ini. Aku dan Senja pasti hidup bahagia," kata Fajar dengan pilu. Buliran bening mulai menitik dari sudut matanya.


"Dulu aku terlalu meremehkan dosa dan tak pernah memikirkan karma. Sekarang, semuanya sudah terlambat, penyesalanku tak akan mengubah keadaan. Aku hanya bisa berharap, semoga Tuhan masih mengijinkan kamu tetap ada di sampingku. Aku ingin melewati saat-saat terakhirku bersamamu, Senja." Fajar berkata sambil mendekap foto itu dengan erat.


Fajar masih larut dalam kesedihannya. Penyesalan yang tiada dasar, seakan mengurungnya dalam kepedihan yang tak terkira. Fajar masih berdiri menghadap jendela, dengan tatapan mata yang datar dan kosong. Fajar tak mendengar kala ruangan kamar itu terbuka.


"Kak Fajar." Samar-samar Fajar mendengar suara Senja memanggilnya.


Namun, Fajar masih tetap bergeming dan justru memejam. Ia menganggap suara itu hanyalah ilusi karena kerinduan yang telah membuncah.


"Kak Fajar." Lagi-lagi suara itu terdengar begitu nyata di telinga Fajar.


"Kau baik-baik saja, Kak?"


Fajar tersentak. Suara itu nyata dan bukan ilusi, karena kini Fajar merasakan sentuhan hangat di bahunya. Dengan cepat Fajar menoleh, dan sosok istrinya sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Senja! Benarkah itu kamu, Sayang?"


"Iya, ini aku, Kak." Senja menjawab sambil tersenyum getir. Ia makin merasa bersalah saat melihat keadaan Fajar yang sangat kacau.


"Maafkan aku, Sayang," Fajar memeluk Senja dengan erat.

__ADS_1


"Kali ini aku akan mengatakan semuanya padamu. Jika kau memilih pergi, aku tak akan melarang. Setidaknya kau sudah tahu, betapa tulusnya aku mencintaimu," ucap Fajar dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2