
"Dokter!" teriak Ken, karena dokter belum juga menjawab pertanyaannya.
"Nyonya Senja kehilangan banyak darah, dan Anda sedikit terlambat membawanya ke sini. Ada segumpal darah yang membeku di dalam kepalanya." Kata Dokter menjelaskan kondisi Senja.
"Apakah darah itu akan mengganggu kesehatannya, Dokter?" tanya Ken.
"Iya, sebenarnya darah itu harus segera diangkat dengan cara operasi. Karena jika tidak, takutnya darah itu akan menjadi infeksi atau juga kanker. Tapi..." Jawab Dokter.
"Tapi apa, Dokter?" tanya Ken dengan cepat.
"Kondisi Nyonya Senja cukup buruk, detak jantungnya sangat lemah. Terlalu beresiko, jika mengoperasinya dalam kondisi seperti ini," ucap Dokter sambil menghela nafas panjang.
"Lalu, lalu bagaimana, Dokter?" tanya Ken.
"Saya memberikan dua pilihan kepada Anda. Yang pertama, Nyonya Senja tidak dioperasi. Meskipun detak jantungnya masih lemah, tetapi akan tetap stabil. Namun resikonya, darah itu bisa menjadi infeksi atau juga kanker. Ini cukup buruk bagi kesehatannya dimasa depan. Yang kedua, Nyonya Senja dioperasi. Tidak akan ada infeksi, atau juga kanker dikemudian hari. Namun dengan kondisinya yang selemah ini, itu sangat beresiko, akibatnya bisa sangat fatal." Jawab Dokter memberikan penjelasan dengan panjang lebar.
Ken dan Alvin mengusap wajahnya dengan kasar, mereka dalam dilema, bingung harus memilih yang mana. Dua pilihan itu sangat buruk, tidak ada yang tidak beresiko.
"Kak, bagaimana ini?" tanya Ken sambil menatap Alvin.
Alvin menggelengkan kepalanya, ia juga belum tahu harus memilih yang mana.
"Dokter!" panggil Alvin.
"Iya."
"Jika tidak dioperasi, kapan kira-kira dia akan sadar?" tanya Alvin.
Lagi-lagi dokter menghela nafas panjang, kali ini sambil mengusap keningnya yang dipenuhi bintik-bintik keringat.
"Saya tidak bisa memastikannya Pak, kondisi Nyonya Senja cukup parah. Yang pasti, saya akan berusaha semaksimal mungkin, untuk membuatnya sadar, tapi saya juga tidak bisa berjanji." Jawab Dokter itu.
"Jadi, meskipun tidak dioperasi, Senja akan tetap koma." Batin Alvin dalam hatinya.
"Dokter, jika dioperasi, kira-kira harapan berhasilnya berapa persen?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Dengan kondisinya yang seperti ini, harapan berhasilnya tidak terlalu banyak."
"Tapi masih ada harapan kan, Dokter?"
"Ada." Jawab Dokter itu.
"Ken!" panggil Alvin.
"Iya Kak."
"Aku ingin bicara denganmu!" kata Alvin sambil menggandeng lengan Ken, dan mengajaknya berjalan sedikit menjauh.
"Ada apa, Kak?" tanya Ken.
"Apa Senja dioperasi saja, bagaimana menurutmu?"
"Itu terlalu beresiko Kak, aku takut, aku...aku..."
"Aku tahu apa yang kau takutkan, karena aku pun juga merasakan hal yang sama. Tapi Ken, meskipun tidak dioperasi, Senja akan tetap koma. Dan jika darah itu dibiarkan dalam kepalanya, itu akan berpengaruh buruk padanya. Aku tidak mau dia sakit-sakitan," ucap Alvin.
"Aku juga tidak mau Kak, aku ingin dia sehat dan baik-baik saja." Jawab Ken.
Cukup lama Ken terdiam, menimang-nimang pilihan, yang sebenarnya semua adalah pilihan buruk. Lalu Ken mengucapkan basmallah dalam hatinya, sebelum menjawab ucapan Alvin.
"Aku setuju Kak, biarkan dokter mengoperasi Aya," kata Ken sambil memejamkan matanya. Sesungguhnya ia berat mengambil keputusan ini, tapi tidak ada cara lain, pilihan yang satunya, juga cukup berat baginya.
"Baik, ayo kita temui dokter!" ajak Alvin sambil melangkahkan kakinya.
"Dokter!" panggil Alvin, saat ia sudah tiba di depan pintu ruangan.
"Iya, bagaimana keputusan Anda?" tanya Dokter itu.
"Kami memilih dioperasi. Tolong usahakan yang terbaik untuk istri saya, saya mohon Dokter," jawab Ken sambil menatap dokter itu dengan lekat-lekat.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong bantu saya dengan doa!"
__ADS_1
"Pasti Dokter, tapi, sebelum dioperasi, bolehkah saya menjenguknya sebentar saja?" tanya Ken.
"Silakan!" ucap Dokter, sambil membuka pintu ruangan.
Ken berjalan memasuki ruang IGD, dan dokter mengikuti langkahnya di belakang. Air mata Ken kembali menitik, saat netranya menatap tubuh Senja yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat, dan matanya tertutup rapat, ada ventilator, dan ada slang infus yang menancap di lengannya.
"Aya, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu," ucap Ken sambil menangis. Ia duduk di sebelah Senja, ia menggenggam jemari tangannya yang sangat dingin. Wanita yang sangat ia cintai, kini sedang berjuang di antara hidup dan mati.
"Aku yakin kau pasti bisa Aya, kau pasti bisa melewati semua ini. Ingat Rashya, dia masih sangat membutuhkan kamu. Dan ingat juga aku, tanpa kamu, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya melanjutkan hidupku. Kamu adalah cahayaku Aya, tanpa kamu aku gelap, aku tidak bisa melihat indahnya dunia," ucap Ken sambil mencium jemari Senja.
"Aku meminta pada dokter untuk mengoperasi darah dalam kepalamu, tolong berjuanglah untuk itu Aya. Ingat, masih banyak orang yang menyayangimu, yang masih sangat menginginkan kehadiran kamu. Aku mohon berjuanglah!
Aya, kau pernah merasakan sakitnya kehilangan. Aku tahu, kau tidak akan melakukan hal itu padaku, kan? Ingat Aya, aku di sini masih menunggumu, berjuanglah untuk kembali," kata Ken sambil memeluk tubuh Senja, dan mencium keningnya cukup lama.
"Kembalilah istriku, aku suamimu, masih setia menunggumu. Ada buah hati kita, tolong jangan kecewakan dia," bisik Ken di telinga Senja.
"Detak jantung pasien sedikit membaik, terus ajak dia berbicara!" kata Dokter.
"Be...benarkah?" tanya Ken sambil menatap gelombang garis hijau yang ditampilkan di monitor.
"Iya, jika detak jantungnya bisa terus membaik. Kemungkinan besar, operasinya akan berjalan dengan lancar." Jawab Dokter menjelaskan.
Ken mengalihkan pandangannya, ia kembali menatap wajah istrinya. Jemari Ken bergerak pelan, mengusap pipi Senja dengan lembut.
"Aku tahu kau sedang berusaha Aya, teruslah berjuang! Di sini, aku menunggumu sembari memanjatkan doa untukmu. Kau adalah wanita yang kuat, kau pasti bisa. Beri aku
kesempatan untuk menebus kedalahanku. Jangan menepiskan aku dalam perasaan bersalah, seumur hidupku. Aya, ingatlah cinta kita, kau tidak akan melepaskannya, kan? Berjuanglah Aya, demi Rashya, demi aku, dan demi kakakmu. Kami di sini sangat membutuhkan kehadiran kamu," ucap Ken dengan pelan.
Selang beberapa detik, Ken dikejutkan oleh buliran bening yang menetes dari sudut mata Senja.
"Dokter, dia menangis!" teriak Ken.
"Itu bagus, artinya dia mendengar apa yang Anda bicarakan. Semakin kuat keinginannya untuk hidup, semakin besar peluangnya untuk selamat. Saya akan segera membawanya ke ruang operasi. Mohon Anda menunggunya dengan sabar, dan jangan lupa untuk berdoa. Saya hanya manusia biasa, saya hanya bisa berusaha, tanpa bisa menentukan hasilnya. Hanya Tuhan yang punya kuasa untuk menentukan hidup dan mati seseorang." Kata Dokter dengan panjang lebar.
"Saya mengerti Dokter," jawab Ken sambil menunduk.
__ADS_1
"Aku tahu hidup dan mati adalah takdir. Tapi sejujurnya, aku sangat berharap batas hidup Aya tidak sesingkat ini. Aku terlalu mencintainya, aku tidak sanggup kehilangan dia. Jika boleh meminta, aku ingin lebih dulu menghadap Sang Illahi, aku tidak akan kuat jika dia yang lebih dulu pergi," batin Ken sambil menatap Senja lekat-lekat. Tanpa dipinta, air matanya kembali menetes, membashi kedua pipinya.
Bersambung...