
Air mata Senja mengalir tanpa permisi, membasahi kedua pipinya, dan kemudian jatuh di atas pangkuannya. Ia tak tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya, kehadiran Bibi sama sekali tak ia sadari, karena hanya suara Arrion yang terus terngiang di telinganya.
"Maaf ini saya, Arrion bukan Fajar. Saya tadi menemukannya pingsan di jalan, lalu saya membawanya ke rumah sakit. Sekarang keadaan Fajar sangat kritis." kata Arrion waktu berbicara dengan Senja ditelefon.
"Non! Non Senja kenapa?" tanya Bibi sambil mengguncang bahu Senja.
Bibi yang tadi sedang membersihkan ruang tamu, langsung lari tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan Senja.
"Non, jawab saya! Non Senja kenapa?" tanya Bibi dengan suara yang lebih tinggi.
Namun Senja masih tetap bergeming, bibirnya terkatup rapat, dan hanya air matanya saja yang terus berderaian.
"Non jangan membuat saya panik Non. Jawab saya, Non Senja ini kenapa? Ada masalah apa, katakan Non!" kata Bibi.
Karena masih tidak mendapatkan jawaban dari Senja, Bibi beranjak dari duduknya. Dia melangkah mengambilkan segelas air putih untuk Senja.
"Minum dulu Non!" kata Bibi sambil membantu Senja minum.
Beberapa detik kemudian, Senja sudah menghabiskan air putihnya, dan ia terlihat lebih tenang sekarang. Bibi tak lagi bertanya, dia menunggu sampai Senja bicara sendiri.
Senja menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya.
"Kak Fajar sedang kritis, dia membutuhkan aku. Aku tidak boleh terus menangis di sini, aku harus kesana, dan melihat keadaannya." batin Senja dalam hatinya.
"Kak Fajar sedang dirawat di rumah sakit Bi, aku harus segera kesana." kata Senja dengan cepat, lalu ia beranjak dari duduknya.
"Tuan Fajar kenapa Non? Tadi pagi masih baik-baik saja kan Non?" tanya Bibi.
"Dia sakit." jawab Senja dengan singkat.
"Sakit apa Non?"
"Entahlah Bi aku juga tidak tahu, aku pergi dulu ya Bi." jawab Senja.
"Iya Non hati-hati." kata Bibi.
"Iya Bi." jawab Senja sambil menyambar tas selempangnya, dan bergegas keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Bibi masih tertegun di tempatnya, dia menerka-nerka sakit apa gerangan. Melihat reaksi Senja, sepertinya keadaan Fajar cukup buruk.
Sementara itu, Senja berjalan menuju halaman apartemen sambil menangis. Ia tahu Fajar kritis karena penyakitnya. Perkatan Fajar saat menyebut dirinya sudah stadium akhir, terus terngiang dalam ingatan Senja.
Tak lama kemudian, Senja naik ke dalam taxi yang dipesannya, dan ia menyebutkan tempat tujuannya.
"Kamu harus bertahan Kak, aku butuh kamu disampingku." ucap Senja dalam hatinya.
Senja mengambil ponselnya, dan ia mengirimkan pesan singkat untuk Alvin. Ia mengabari Kakaknya bahwa Fajar sedang dirawat di rumah sakit. Tak lupa ia juga mengirimkan pesan untuk Ibu mertuanya.
Lalu Senja menutup wajahnya dengan kedua tangannya, semua ini benar-benar kenyataan yang sulit untuk dipercaya.
"Ya Allah tolong sembuhkanlah Kak Fajar, angkat penyakit yang bersarang dalam dirinya. Hamba mohon Ya Allah, hamba tidak tega melihatnya menderita." batin Senja sambil menitikkan air matanya.
Sekitar setengah jam kemudian, taxi yang membawa Senja sudah tiba di halaman rumah sakit. Senja langsung turun, dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang ICU.
Di depan ruangan ia bertemu dengan seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Bu, bisakah saya bertemu dengan pasien yang bernama Fajar Mahardika?" tanya Senja dengan cepat.
"Anda keluarganya?"
"Oh, silakan masuk Bu! Pak Fajar ada di dalam, dan kebetulan Pak Arrion juga ada di sana." jawab perawat itu.
"Terima kasih Bu." jawab Senja sambil membuka pintu ruangan.
Senja melangkah masuk, dan ia menutup mulutnya saat melihat Fajar yang terbaring di atas ranjang. Matanya tertutup rapat, dan wajahnya terlihat sangat pucat. Slang infus menancap di lengan kirinya, dan ventilator tampak terpasang di hidungnya. Detak jantungnya yang terekam dalam monitor, terdengar sangat menyayat hati.
Tubuh Senja lemas, dan gemetaran. Perlahan ia melangkah mendekati Fajar, dan seketika tangisnya tumpah saat itu juga. Ia memeluk tubuh Fajar dengan erat, dan air matanya mengalir membasahi leher Fajar.
"Apa yang terjadi denganmu Kak? Buka matamu Kak, jangan membuatku khawatir. Ayo bangun Kak Fajar!" kata Senja disela-sela tangisnya.
Arrion yang saat itu sedang berdiri di depannya, turut memejamkan matanya. Ia tahu bagaimana perasaan Senja saat itu. Tanpa dipinta sudut matanya mulai basah, Arrion tak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya.
"Sekarang saja kau sudah sepilu ini, lalu bagaimana nanti jika keadaan semakin memburuk Senja." batin Arrion sambil menyeka air matanya.
Arrion tahu betul bagaimana kondisi Fajar saat ini. Menurut perkiraannya, kemungkinan Fajar akan sadar tidaklah lebih dari 5%. Kondisinya sudah sangat parah, kehamilan Senja benar-benar mengguncang jiwanya. Fajar yang dulu punya keyakinan untuk bertahan hidup, akhir-akhir ini keyakinannya mulai goyah karena luka dihatinya. Semakin hari daya tahan tubuhnya semakin melemah, dan antibodinya semakin menurun. Sekarang ia sudah benar-benar dikalahkan oleh penyakitnya.
__ADS_1
"Kak Fajar!" panggil Senja sambil menangis histeris.
Senja mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Fajar yang pucat pasi. Rasanya ia masih tidak percaya, tadi pagi mata yang tertutup rapat itu masih menatapnya dengan lembut. Bibirnya masih membisikkan kata cinta, dan tangannya masih memelukanya dengan erat dan hangat.
"Kak, aku di sini Kak! Bangun dan lihat aku Kak!" kata Senja sambil menggenggam tangan Fajar yang sangat dingin.
Senja terus menumpahkan tangisnya, ia tak peduli meski Arrion terus menatapnya. Senja memejamkan matanya, bayangan tentang Fajar tadi pagi terus melintas dalam ingatannya.
Dan tubuh Senja membeku seketika, kala ia mengingat satu kalimat yang Fajar lontarkan.
"Kali ini hadiahnya sangat spesial sayang, aku akan memberimu sesuatu yang tidak akan pernah kamu lupakan. Aku jamin kamu akan mengingatnya sampai nanti." satu kalimat yang membuat jantung Senja seakan berhenti berdetak.
Senja menggenggam tangan Fajar dengan semakin erat, hatinya kini mulai bergejolak.
"Kamu harus sadar Kak, kamu harus sembuh. Katanya kamu mencintaiku, jadi kamu pasti akan menemaniku kan Kak. Aku tidak bisa sendirian, aku butuh kamu Kak." batin Senja sambil menatap mata Fajar yang masih terpejam.
"Ya Allah tolong selamatkan Kak Fajar, sembuhkanlah dia Ya Allah." ucap Senja sambil memejamkan matanya.
"Duudklah! Kau boleh menemaninya!" kata Arrion sambil meletakkan kursi di dekat Senja.
"Terima kasih." jawab Senja sambil menggeser kursi itu, dan kemudian duduk di atasnya.
"Kenapa Kak Fajar tiba-tiba seperti ini?" tanya Senja tanpa menoleh. Pandangannya belum beralih dari wajah Fajar, dan tangannya juga masih menggenggam tangan Fajar.
"Tadi aku bertemu dengannya di depan pusat perbelanjaan. Aku melihatnya membawa kue ulang tahun, dan kotak kado. Dia meletakkannya di dalam mobil, lalu dia keluar, dan hendak menghampiriku. Namun tiba-tiba dia pingsan, lalu aku langsung membawanya kesini. Dan saat kuperiksa kondisinya sudah sangat kritis." jawab Arrion sambil menghela nafas panjang.
"Kapan kira-kira dia akan sadar?" tanya Senja.
"Aku hanya seorang dokter, yang bisa kulakukan hanyalah berusaha menyelamatkannya. Namun untuk yang lainnya, serahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Berdoalah, semoga dia bisa sadar secepatnya." kata Arrion sambil berusaha tersenyum.
"Sesungguhnya aku tidak yakin, melihat keadaannya saat ini, bisa mempertahankan detak jantungnya saja itu sudah sebuah mukjizat. Kondisi Fajar tidak semakin membaik, tapi semakin memburuk." batin Arrion sambil menatap monitor yang ada di sebelahnya.
"Dia masih ada harapan untuk sembuh kan?" tanya Senja.
Arrion menghela nafas panjang, pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab. Mau menjawab tidak, itu pasti akan melukai Senja. Namun mau menjawab bisa, itu sama saja dengan memberikan harapan palsu.
"Fajar aku sudah mengingatkanmu dari awal, katakan yang sebenarnya pada Senja. Andai saja kamu jujur mungkin Senja tidak akan khilaf, dan saat ini kamu masih ada kemauan untuk hidup. Saat SMA aku mengenalmu sebagai lelaki yang baik, aku tidak menyangka kau bisa menjalin hubungan sebebas itu dengan Adara." batin Arrion dalam hatinya.
__ADS_1
"Dokter, Kak Fajar masih ada harapan untuk sembuh kan?" tanya Senja untuk yang kedua kalinya.
Bersambung.....