Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Emosi Ken


__ADS_3

Tepat pukul 07.00 pagi, Anna tiba di halaman Kantor Imperium. Ia bergegas melepaskan sabuk pengamannya, dan kemudian bersiap turun dari mobil.


"Terima kasih ya Om." kata Anna sambil tersenyum.


"Iya." jawab Dika dengan senyuman manisnya, seraya menatap Anna yang sudah keluar dari mobilnya.


Setengah berlari Anna meninggalkan mobil Dika, dan mulai memasuki ruangan kantor.


"Jadi kau bekerja di sini, semoga kedepannya kita bisa bertemu lagi." gumam Dika sambil tersenyum.


Dan kemudian ia mulai melajukan mobilnya, dan pergi meninggalkan Kantor Imperium.


Sementara itu Anna berlari menuju ruangan yang telah ditunjukkan oleh karyawan. Sesampainya di ambang pintu, ia melihat wajah Ken yang terlihat sangat kesal. Nafas Anna terengah-engah, ia menyodorkan beberapa berkas yang dibutuhkan dalam rapat ini.


"Maaf Pak saya telat." kata Anna sambil menunduk.


"Sebentar lagi rapat akan dimulai, kau kemana saja, sama sekali tidak mengangkat telfonku." gerutu Ken sambil memeriksa beberapa berkas yang baru saja diterimanya.


"Maaf Pak, ponsel saya ketinggalan." jawab Anna.


"Ya sudah ayo masuk, catat setiap poin yang penting! Saya tidak mau ada kesalahan lagi." kata Ken sambil melangkah masuk.


"Baik Pak." jawab Anna sambil mengikuti langkah Ken, dan kemudian duduk di sebelahnya.


Lalu mereka semua terdiam, dan mengikuti jalannya rapat yang sudah dimulai.


***


Hari sudah hampir senja, Ken baru saja keluar dari kantornya. Hari ini adalah hari yang melelahkan, pagi-pagi sekali ia sudah menghadiri rapat, dan baru selesai sekitar pukul 10.00. Lalu ia mengurus kontrak kerjasamanya, dan kemudian langsung meninjau ke lapangan. Setelah itu Ken pergi ke kantornya, untuk mengambil berkas yang harus ia selesaikan.


"Benar-benar hari yang sibuk." gerutu Ken sambil berjalan menuju parkiran.


Namun tak lama kemudian, langkah Ken terhenti. Ada seorang wanita yang menghampirinya, sambil memanggil namanya.


"Ken!" panggil Sella sambil berjalan mendekati Ken.


"Dia lagi, kapan dia akan berhenti menggangguku." batin Ken dalam hatinya.

__ADS_1


"Sudah mau pulang?" tanya Sella sambil tersenyum.


"Iya." jawab Ken tanpa membalas senyuman Sella.


"Sekertarismu mana?" tanya Sella.


"Sudah pulang, kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Ken sebenarnya aku kesini, karena ingin membicarakan hal penting denganmu." kata Sella sambil menatap Ken.


"Hal penting apa? Bicara saja!" jawab Ken.


"Tapi tidak di sini, tidak bisakah kita bicara sambil minum, atau..."


"Aku tidak punya banyak waktu Sella. Tapi baiklah, kita bicara di sana, kau silakan memesan minum sepuasmu!" sahut Ken sambil menunjuk kantin yang berada di area kantornya.


"Aku setuju." ucap Sella sambil tersenyum.


"Kau akan menerimaku, atau tidak, itu tidak akan mengubah apapun. Pada akhirnya kau tetap akan menjadi milikku." batin Sella sambil mengikuti langkah Ken yang berjalan di depannya.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah duduk berhadapan disalah satu meja yang berada di dekat jendela.


"Katakan apa yang ingin kau bicarakan!" kata Ken sambil menatap sinar surya yang semakin meredup.


"Minum dulu Ken, jangan terburu-buru." jawab Sella sambil menyesap minumannya.


"Sella aku tidak punya banyak waktu, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Katakan sekarang, atau aku akan pergi!" kata Ken dengan tegas.


"Kau masih tidak berubah Ken, sangat tidak suka basa-basi. Baiklah aku akan mengatakannya sekarang, tapi sebelum itu aku ingin bertanya dulu padamu." ucap Sella sambil tersenyum lebar.


"Apa?"


"Apa kau masih tidak berubah pikiran? Ken aku sangat mencintai kamu, tidak bisakah kamu menerimaku?" tanya Sella sambil menatap Ken.


"Maaf Sella, aku tidak bisa. Aku tidak mencintai kamu, tolong mengertilah!" jawab Ken.


"Apa yang kau harapkan dari Senja, bukankah dia sudah menolakmu. Kau bersedia menunggunya, sedangkan dia masih mencintai suaminya. Sebagai seorang laki-laki dimana harga dirimu kamu! Lagipula belum tentu dia mau menerimamu, sampai kapan kau akan berharap pada hal yang tidak pasti. Pikirkan itu Ken!" kata Sella sambil menatap Ken dengan tajam.

__ADS_1


"Sepertinya dia paham betul dengan hubunganku bersama Aya." batin Ken dalam hatinya.


"Harga diri, kau berani bicara tentang harga diri Sella. Aku laki-laki, menunggu seorang wanita karena cinta adalah hal yang wajar. Tapi kau, kau seorang wanita, kau menyatakan cinta pada laki-laki yang sudah menolakmu. Apa itu namanya menjunjung tinggi harga diri Sella." ucap Ken dengan santainya.


"Dan jika kau bertanya sampai kapan aku akan menunggu Aya, tentu saja sampai dia menerimaku." sambung Ken sambil menyesap kopinya.


Wajah Sella memanas, kata-kata Ken benar-benar mempermalukannya. Sella menghela nafas panjang, mencoba meredam emosinya yang mulai tersulut.


"Jika selamanya dia tidak bisa menerima kamu, bukankah itu sama saja dengan melakukan hal bodoh Ken!" kata Sella sambil memicingkan matanya.


"Hal bodoh ya, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri Sella. Kau memaksakan perasaanmu, padahal aku jelas-jelas sudah menolakmu. Sedangkan aku, Aya tidak menolakku. Dia hanya memintaku untuk menunggu. Lalu siapa yang lebih bodoh Sella." ucap Ken dengan santainya.


"Kau benar-benar menyebalkan Ken, kau membuat kesabaranku habis!" kata Sella sambil beranjak dari duduknya.


"Aku hanya bicara apa adanya Sella." jawab Ken sambil menaikkan alisnya.


"Kau dengar baik-baik ya Ken! Sekarang kau boleh mencampakkan aku, tapi dihari nanti, kupastikan kau akan bertekuk lutut di hadapanku. Kau pikir aku tidak bisa melakukan hal lain. Ingat ya Ken, mau atau tidak mau, pada akhirnya kau akan menjadi milikku!" kata Sella sambil melangkah pergi.


Namun baru beberapa langkah saja ia berjalan, tiba-tiba tanganya sudah dicekal dengan keras oleh Ken. Sella menoleh, ia meringis sakit karena Ken semakin mengeratkan cekalannya.


"Sepertinya hatimu memang kotor Sella, sejak dulu kau selalu tidak suka jika aku dan Aya bahagia. Kau boleh merasa senang, karena dulu kau berhasil membuat aku, dan Aya berpisah. Tapi sekarang, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Kau boleh bermimpi, tapi jangan terlalu tinggi. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, aku tidak suka wanita licik sepertimu." kata Ken tepat di wajah Sella.


"Jika aku tidak bisa bermimpi tinggi, kau juga tidak akan bisa Ken. Aku gagal memilikimu, kau juga akan gagal memiliki Senja. Camkan itu Ken!" jawab Sella masih tidak mau kalah.


"Kau berani bermain denganku Sella."


"Aku tidak takut denganmu!" jawab Sella dengan cepat.


"Baiklah, tapi sebelum bermain tidak ada salahnya jika aku memberitahu aturan permainannya. Aku tidak akan mengusikmu, jika kau tidak mengusikku. Tapi jika sekali saja kau mengusikku, atau mengusik Aya. Aku akan membuat sisa hidupmu penuh dengan penderitaan. Semua orang bisa bersikap kejam Sella, tak terkecuali juga aku!" ucap Ken sambil melepaskan cekalannya.


"Pikirkan baik-baik sebelum kau memutuskan untuk bermain denganku!" kata Ken sambil menatap Sella dengan tajam, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Sella sendirian.


Sella berdiri terpaku sambil menatap kepergian Ken. Tangan kanannya mengusap lengan kirinya yang memerah.


"Kau benar-benar menyebalkan Ken, kau bahkan memperlakukan aku seperti ini." gerutu Sella sambil menggenggam lengannya yang sedikit nyeri.


"Aku ingin melihat seangkuh apa dirimu nanti, saat berhadapan dengan keluargamu. Kau bodoh, kau bahkan akan menghidupi anaknya Fajar. Apa kau lupa, jika hubungan keluargamu dengan keluarga Mahardika itu cukup buruk. Kau benar-benar telah dibutakan oleh Senja." kata Sella seorang diri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2