
"Sayang!" panggil Senja sambil menyentuh bahu Ken.
Ken tidak menjawab, namun ia menarik lengan Senja, dan membawa wanita itu ke atas pangkuannya. Dalam keremangan malam, Ken menatap wajah Senja lekat-lekat. Senja juga menatapnya, tetapi ia tak bisa mengartikan raut wajah yang Ken pancarkan. Apakah dia masih kecewa, ataukah dia sudah memaafkannya? Senja bertanya-tanya dalam hatinya.
Senja belum berani membuka suara, ia hanya terus menatap sang suami, sambil menikmati aroma nikotin yang menguar dari mulutnya.
Ken melingkarkan tangan kirinya di pinggang Senja, sedangkan tangan kanannya, masih tetap memegang rokok yang baru saja disulutnya.
"Ken, sayang, jangan diam saja! Seharian kamu mendiamkan aku, apa itu belum cukup? Maaf jika kata-kataku membuatmu marah," ucap Senja dengan pelan.
Ken belum menjawab, namun matanya menatap Senja dengan lebih lekat. Lalu ia meletakkan rokoknya di atas asbak yang berada di bawah kursi. Ken menyelipkan rambut Senja yang berantakan di wajahnya.
"Aku tidak mendiamkan kamu, Aya." Kata Ken.
"Lalu? Sejak tadi siang kau tidak menemuiku. Ini sudah larut, dan kau tidak masuk ke kamar, apa itu namanya jika bukan mendiamkan?"
"Aku hanya memberimu waktu, Aya. Aku tahu kau kecewa, itu sebabnya aku membiarkanmu sendiri, agar kau bisa berdamai dengan hatimu untuk menerima semua ini," jawab Ken sambil membelai pipi Senja.
"Tapi bukan seperti ini caranya."
"Lalu seperti apa? Aya, aku terlalu mencintaimu, aku terlalu takut kehilangan kamu." Ucap Ken.
"Kau menganggap cintaku ini bodoh, terserah! Kenyataannya, aku memang mencintaimu diluar batas kewajaran. Aku kecewa, saat kau tidak bisa mengerti bagaimana perasaanku. Kau pernah kehilangan orang yang kau cintai, kau pasti paham benar bagaimana sakitnya. Itulah yang kurasakan Aya, melihatmu koma, berjuang antara hidup dan mati, di sini rasanya sangat sakit," sambung Ken sambil menyentuh dadanya sendiri.
Senja tertegun, kehilangan orang yang dicintai, satu kalimat yang membuatnya teringat akan masa lalu. Saat sosok Fajar koma tepat dihari ulang tahunnya, saat lelaki yang dicintainya memberikan hadiah yang tak pernah ia lupakan, yakni hadiah yang berupa kematian.
Tanpa dipinta, matanya mulai berkaca-kaca, rasa sedih kembali menyeruak kala mengingat hari tersuram dalam hidupnya.
"Kau tahu kan betapa sakitnya perasaan itu, itulah yang aku rasakan, Aya. Aku sedih, marah, menyesal, kalut, semua bercampur menjadi satu. Aku takut kejadian itu akan terulang di kemudian hari. Makanya aku tidak mau menjebloskan dia ke penjara, karena dia akan semakin dendam saat sudah bebas. Aku tidak mau menempatkanmu dalam bahaya, Aya," kata Ken sambil menyeka sudut mata Senja yang mulai basah.
"Maafkan aku, sayang!" ucap Senja sambil memeluk Ken. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Ken, menghirup aroma parfum yang perlahan menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
"Maafkan aku yang tidak bisa mengerti perasaan kamu, dan maafkan aku yang selalu saja menangis setiap kali mengingat Kak Fajar. Maafkan aku yang dari dulu selalu menyakiti kamu, dan membuatmu kecewa. Maafkan aku yang belum bisa mengimbangi cinta tulusmu. Maafkan aku, Ken, maafkan aku!" ucap Senja disela-sela isakannya. Bahunya bergerak naik turun, seirama dengan tangisnya yang semakin pecah.
"Jangan menangis, dan jangan meminta maaf! Kau tidak bersalah Aya, andai dulu aku jujur sebelum menolong Kania, kau tidak akan salah paham, dan kau tidak akan meninggalkan aku. Soal Fajar, dia pernah menjadi suamimu, wajar jika kau masih mengingatnya. Dan soal hari ini, aku tahu ini salah, tapi aku berharap, kau bisa mengerti bagaimana perasaanku, Aya!" kata Ken sambil mengusap-usap rambut Senja dengan lembut.
"Maafkan aku, maafkan aku!" Senja masih terus meminta maaf, kebaikan Ken membuatnya semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Ssstt sudah, jangan terus meminta maaf! Tersenyumlah, aku tidak ingin melihatmu menangis!" ucap Ken seraya mencium puncak kepala Senja, dan mengeratkan rengkuhannya.
Senja memajamkan matanya, ia meringkuk, menikmati pelukan hangat dari sang suami. Cukup lama mereka saling diam, terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Rembulan malam, gemerlap bintang, menjadi saksi betapa indahnya cinta kasih mereka.
"Aya!" panggil Ken dengan pelan.
"Hmmmm." Gumam Senja.
"Malam semakin larut, ayo kita tidur!" bisik Ken sambil menunduk, menatap wajah Senja yang bersandar di dadanya.
Senja tidak membuka suara, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, hemm?" tanya Ken seraya menangkup pipi Senja dengan jemarinya.
"Aku masih nyaman seperti ini." Jawab Senja.
"Aku akan memelukmu di kamar, sambil berbaring di ranjang, bukankah itu lebih nyaman?"
"Tidak, aku masih ingin seperti ini. Menikmati hangatnya pelukan kamu, di tengah dinginnya angin malam, nyaman sayang!" Jawab Senja dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
Ken mengambil nafas dalam-dalam, menatap senyuman Senja di tengah keremangan malam, membuat hasratnya mulai bangkit.
"Dan niatku memang menggodamu," sahut Senja sambil tersenyum semakin lebar.
"Kau masih sakit, Aya." Bisik Ken.
"Masih cukup kuat untuk menyenangkan kamu," jawab Senja seraya menyentuh dada Ken dengan jemarinya.
"Kau yakin?"
"Bersamamu aku selalu yakin."
Ken menatap Senja lekat-lekat, kini ia tak bisa lagi menahan hasratnya. Ken menangkup kedua pipi Senja, dan memaksa wanita itu untuk mendongak. Lalu ia menundukkan wajahnya, dan mengikis jarak di antara keduanya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, aku tidak akan menyakitimu," ucap Ken dengan pelan, deru nafasnya menghangat, menyapu wajah Senja.
"Aku tahu, kau yang paling mengerti diriku, sayang!" jawab Senja sambil tersenyum.
__ADS_1
Ken juga tersenyum, lalu ia mulai menikmati bibir ranum yang sejak tadi menggodanya. Ken larut dalam kenikmatan yang membuatnya terbuai, ia tak peduli dengan kakinya yang kebas, karena memangku berat tubuh Senja dalam waktu yang cukup lama.
Angin malam tetap berhembus, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun dua insan yang sedang memadu cinta, sedikitpun tak peduli, mereka terlena dalam kehangatan.
Bintang-bintang masih berkedip mesra di atas sana, namun sang rembulan, menyembul malu-malu dari balik awan kelabu.
Jarum jam yang melingkar di tangan Ken, menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ken tersenyum kala menatap tubuh Senja yang berada dalam gendongannya. Ia membawanya masuk ke dalam kamar, dan membaringkannya di atas ranjang.
"Tidurlah, kau pasti lelah!" ucap Ken sambil berbaring di sebelah Senja, lalu ia menarik selimut tebal dan menutupi tubuh mereka.
"Kau juga tidur, ya!" jawab Senja sambil tersenyum.
"Iya, semoga bermimpi indah, Aya!" ucap Ken sambil mencium puncak kepala Senja, dan mengusap keringat yang membasahi keningnya.
"Kau juga!" jawab Senja.
"Iya," kata Ken seraya melingkarkan tangannya di pinggang Senja.
Senja tersenyum, ia bahagia hubungannya dengan Ken kembali membaik. Meskipun ia sempat kecewa dengan sikap Ken, tapi ia berusaha untuk memahaminya. Sejauh ini, cinta miliknya masih tak sebanding dengan cinta yang Ken berikan padanya.
Perlahan Senja mengangkat tangannya, ia menggenggam liontin cangkang kerang yang melingkar manis di leher Ken. Perasaan bahagia semakin membuncah, kala mengingat waktu ia memasangkan kalung itu kepadanya.
"Aya, apa kau masih menginginkannya?" tanya Ken menggoda Senja.
"Aku hanya ingat masa lalu, Ken." Jawab Senja.
"Tapi sentuhan jemarimu rasanya sangat hangat, aku takut tubuhku bereaksi lebih dari ini," ucap Ken sambil menggenggam jemari Senja. Matanya menatap Senja lekat-lekat, semakin lama ia semakin mendekatkan wajahnya.
"Ken, aku lelah!" kata Senja sambil beringsut sedikit menjauh.
"Kalau begitu tidurlah!" ucap Ken sambil tertawa.
"Tidak bisa tidur." Jawab Senja dengan nada yang manja.
"Uhhh manjanya," ucap Ken sambil mencubit pipi Senja. Lalu ia menarik Senja ke dalam pelukannya, dan menyandarakan kepalanya di dadanya. Kemudian ia mengusap-usap rambut Senja dengan lembut.
"Tidurlah! Aku akan tidur setelah kau tidur," ucap Ken dengan pelan.
__ADS_1
Bersambung....