Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Telefon Dari A


__ADS_3

"Aku sangat mencintainya, dan aku pasti akan membahagiakan dia dengan caraku sendiri!" ucap Fajar dengan tegas, setelah sekian detik ia diam tak bersuara.


"Aku memang tidak bisa menjadi suami seperti yang lainnya. Tapi aku juga tidak akan kehabisan cara untuk membahagiakan Senja. Mungkin ini terdengar egois, tapi perihal cinta, sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata." ucap Fajar dalam hatinya.


"Pegang omongan kamu! Ini adalah terakhir kalinya aku melihat Senja bersedih. Jika dikemudian hari kau masih mengulanginya, aku tidak akan segan-segan untuk memisahkan kamu dengannya!" kata Alvin sambil menunjuk muka Fajar. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Fajar sendirian.


"Kau tidak tahu bagaimana kesulitanku Vin. Aku tidak menyentuh Senja, karena aku tidak ingin dia celaka. Menjamin keselamatannya adalah salah satu caraku mencintainya." ucap Fajar dalam hatinya.


Fajar mengacak rambutnya dengan kasar sambil menggeram kesal.


"Adara, kau benar-benar menghancurkan hidupku!" gumamnya dengan suara yang pelan.


Kemudian Fajar melangkahkan kakinya, ia menuju ke kamarnya, dan mencoba melupakan semua hal bodoh yang pernah ia lakukan bersama Adara. Fajar menatap sekilas ke arah Alvin, dan Dika yang sedang duduk di ruang tengah. Fajar terus melangkah, dan melenggang masuk ke dalam kamarnya.


Fajar menghampiri Senja yang masih terlelap di atas ranjang. Ia mengulurkan tangannya, dan menyentuh kening Senja.


"Apa yang terjadi padamu sayang, maafkan aku yang tidak ada disampingmu saat kau sedang sakit." ucap Fajar dengan pelan, lalu ia mengusap kening Senja, dan menciumnya cukup lama.


Senja menggeliatkan tubuhnya, dan ia mengerjapkan matanya dengan pelan. Ia sedikit tersentak saat melihat Fajar sudah duduk di hadapannya.


"Kak Fajar!" panggil Senja sambil menatap wajah Fajar lekat-lekat, seolah ia masih belum percaya, jika Fajar sudah kembali.


"Bagaimana keadaanmu, maafkan aku sayang, aku pulang sedikit terlambat." ucap Fajar sambil mengusap-usap pipi Senja.


"Masih sedikit pusing, tapi aku tadi sudah minum obat." jawab Senja.


"Sejak kapan kau sakit?" tanya Fajar.


"Sejak kemarin pagi. Tapi semalam Kak Alvin menemaniku, dia menginap di sini, dan merawatku." jawab Senja sambil tersenyum.


Meskipun dalam hati Senja merasa sedikit sakit, karena selama ini Fajar menghilang tanpa kabar. Namun ia juga merasa sangat bahagia, Fajar telah kembali hadir di sisinya. Sebesar apapun kekecewaannya terhadap sikap Fajar, namun tidak menutup kenyataan, bahwa ia juga sangat merindukan lelaki itu.


"Iya tadi aku sudah bertemu dengan Alvin, dan aku juga bertemu dengan Dika." ucap Fajar, sebenarnya ia hanya memancing Senja. Ia ingin tahu apakah semalam Dika juga ikut menginap di sini, atau tidak.


"Iya tadi Kak Dika kesini mengantarkan kunci klub, semalam Kak Dika yang menjaga di sana." kata Senja.


"Oh begitu, tadi aku bertemu saat dia baru saja membeli makanan." ucap Fajar sambil menggenggam tangan Senja.

__ADS_1


"Syukurlah Dika tidak menginap di sini, aku cemburu sayang, dia pernah mencintaimu." ucap Fajar dalam hatinya.


"Kamu sekarang makan ya, aku suapi." kata Fajar sambil membantu Senja untuk bangkit daru tidurnya.


"Iya." jawab Senja sambil mengangguk, ia duduk sambil menyandarkan punggungnya dibantal yang sudah ditumpuk.


Fajar beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju ke meja. Ia mengambil nampan berisi makanan, dan membawanya ke ranjang. Sepiring nasi putih, semangkok sup jamur, dan dua potong ayam goreng, serta ada beberapa irisan buah apel yang juga diletakkan dalam mangkok.


"Aku tidak mau ayamnya." ucap Senja sambil menatap Fajar.


"Kenapa?"


"Ingin makan lauk sup saja." jawab Senja.


"Baiklah, asal dihabiskan ya, biar cepat sembuh." kata Fajar sambil tersenyum.


Senja mengangguk, dan kemudian ia membuka mulutnya saat Fajar mulai menyuapkan makanannya. Senja mengunyahnya pelan, dengan pandangan mata yang tak lepas dari Fajar.


"Caramu memperlakukanku sangat lembut Kak, seolah kau benar-benar mencintaiku. Tapi kenapa kau tak pernah menyentuhku, dan kau selalu hilang kabar saat ke Singapura. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku Kak." ucap Senja dalam hatinya.


***


Suara gemericik air samar-samar terdengar dari kamar mandi, rupanya Fajar sudah bangun terlebih dahulu. Senja menghela nafas panjang, mengingat tentang kemarin, ahh Fajar memperlakukannya dengan begitu lembut. Andai saja sikap Fajar bisa terus seperti itu, dan ia tidak melakukan hal yang mencurigakan, pasti Senja akan sangat bahagia saat ini.


"Kau jangan bodoh Senja, jika dia menyakitimu, tinggalkan saja dia. Kau berhak bahagia dengan lelaki lain yang tulus mencintaimu!"


Sebaris kalimat yang Alvin ucapkan pada Senja kemarin. Senja memijit pelipisnya, belum juga tahu keseluruhan jalan pernikahannya, Alvin sudah semarah itu. Senja tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alvin nanti saat tahu, bahwa Fajar tak pernah menyentuhnya. Pasti lelaki itu sangat murka.


"Kak Alvin tidak boleh tahu, aku harus bisa menyembunyikannya rapat-rapat. Kak Fajar memang sudah mengecewakan aku, tapi nyatanya hatiku masih sangat mencintainya. Aku tidak ingin berpisah darinya." ucap Senja sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang! Kau sudah bangun!" sapa Fajar yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sudah Kak." jawab Senja sambil bangkit dari tidurnya.


"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Fajar sambil melangkah mendekati Senja.


Senja menatap wajah Fajar lekat-lekat. Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan rambut basahnya. Wajah putihnya dihiasi titik-titik air, terlihat segar, dan mempesona.

__ADS_1


"Kak Fajar!" panggil Senja sambil membelai rahang Fajar. Melihat wajah tampan suaminya dalam jarak yang dekat, jujur Senja sangat terpesona.


"Sayang, apa yang kau rasakan sekarang?" Fajar mengulangi pertanyaannya, ia sedikit gugup saat tangan hangat Senja menyentuh kulitnya dengan lembut.


"Masih sedikit pusing, dan tubuhku juga masih lemas." jawab Senja tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tidurlah! Hari masih pagi, biar aku saja yang memasak. Kau istirahat saja sayang." kata Fajar sambil merangkul tubuh Senja, dan mencium keningnya sekilas.


"Kau ingin makan apa hari ini?" tanya Fajar sambil melepaskan rangkulannya.


"Terserah Kak Fajar saja." jawab Senja sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku tinggal masak dulu ya. Istirahatlah, nanti aku akan membangunkanmu jika sarapannya sudah siap, hari ini aku tidak bekerja." kata Fajar sambil membantu Senja berbaring.


"Terima kasih Kak."


"Iya." jawab Fajar sambil menyelimuti tubuh Senja.


Lalu Fajar melangkah keluar kamar, dan Senja menatapnya sambil menggigit bibirnya.


"Lagi-lagi kau tidak tertarik Kak." ucap Senja dengan pelan. Lalu ia memalingkan wajahnya, saat tubuh Fajar sudah menghilang di balik pintu.


Setengah jam sudah berlalu, namun Senja masih berbaring dengan mata yang terbuka. Ia tidak bisa lagi memejamkan matanya, tidak ada sedikitpun rasa kantuk dalam dirinya. Kemudian Senja bangkit dari tidurnya, ia turun dari ranjang, dan bermaksud menyusul Fajar yang berada di dapur. Diam didalam kamar sendirian, ia merasa bosan.


Namun langkah kaki Senja terhenti, saat ia hampir tiba di ambang pintu. Senja dikejutkan oleh suara getaran ponsel yang berada di atas meja. Senja menoleh, lalu melangkah mendekati meja. Ada telefon masuk diponselnya Fajar. Dengan ragu Senja meraih ponsel itu, dan ia mengernyitkan keningnya saat membaca nama penelfonnya.


A, itulah nama yang tertera diponsel Fajar. Senja mengamati nomornya dengan cermat, dan ia bisa menarik kesimpulan bahwa nomor itu bukan nomor Indonesia. Senja berfikir sejenak, lalu ia menghentikan gerakan jempolnya yang hendak mengusap tombol hijau.


"Aku tidak boleh gegabah, aku tidak boleh membuat Kak Fajar curiga." ucap Senja seraya mengambil ponsel miliknya.


Belum sempat Senja mengetik nomornya, tiba-tiba telefon itu sudah berakhir. Senja mendengus kesal, lalu ia mencoba mencarinya didaftar panggilan. Namun sayang, rencana Senja kembali gagal, karena ponsel Fajar dipasang sandi yang tidak ia ketahui.


"Ahh menyebalkan!" gerutu Senja sambil meletakkan ponsel Fajar, dan bersiap melangkah keluar kamar.


Tetapi belum sempat Senja melangkah, tiba-tiba ponsel Fajar kembali bergetar. Penelfonnya adalah nomor yang sama. Senja mengulas senyuman di bibir ranumnya, lalu ia duduk di kursi, dan dengan cepat ia menyalin nomornya.


"Sayang! Apa yang kau lakukan?" tanya Fajar yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Senja.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2