
"Duduk saja." jawab Senja tanpa menoleh. Mendengar suaranya saja ia sudah tahu, bahwa yang datang itu adalah Dika.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Dika sambil menatap Senja.
"Tidak ada, aku hanya ingin duduk." jawab Senja.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, sabar ya." ucap Dika sambil tersenyum, meskipun sebenarnya Senja tak melihat ia tersenyum, atau tidak.
"Aku tidak apa-apa." jawab Senja sambil menggigit bibirnya.
"Senja!" panggil Dika.
"Hmmm." gumam Senja, kali ini ia menatap Dika sekilas.
"Bolehkah aku mengobati luka hatimu?"
"Aku tidak terluka." jawab Senja dengan cepat.
"Senja maksudku, bolehkah aku mengisi hati kamu. Aku tidak buru-buru untuk meminta balasan, tapi bisakah kamu memberikan aku kesempatan. Aku berjanji akan selalu mencintai kamu, dan mencintai anak kamu." ucap Dika dengan serius.
"Aku tidak bisa. Kak Fajar baru dua bulan pergi, dan kamu sudah mengatakan hal ini Kak. Inikah cara kamu menghargai dia, inikah yang disebut sahabat!" kata Senja sambil beranjak dari duduknya.
"Senja maksudku bukan begitu! Aku..."
"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin menduakan Kak Fajar. Aku akan selalu mencintai dia, aku tidak peduli meskipun dia telah tiada. Hanya namanya yang selalu ada didalam hatiku Kak!" sahut Senja.
"Senja kau masih muda, masa depanmu masih panjang. Kau tidak boleh menutup hatimu seperti ini. Itu akan menyiksa dirimu sendiri." ucap Dika sambil ikut beranjak.
"Kak bisakah kamu menghargai aku? Kuburan Kak Fajar itu masih basah, dan kamu sudah mengatakan hal itu padaku. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu Kak!" bentak Senja sambil melangkah pergi, meninggalkan Dika sendirian.
"Senja tunggu, maaf maksudku..." Dika tidak melanjutkan ucapannya, karena Senja sama sekali tidak menghiraukannya.
Dika mengacak rambutnya dengan kasar, maksud hati ingin mendekatinya, tapi justru malah menyinggung perasaannya.
"Kau sekarang sangat sensitif Senja." ucap Dika seorang diri.
***
Seorang wanita cantik sedang berjalan sambil menyeret kopernya. Rambut panjangnya yang dicat kemerahan meriap di kedua bahunya. Tubuhnya yang sintal dibalut dress merah yang dipadukan dengan blazer warna hitam. Penampilannya terlihat lebih sempurna dengan high hells yang membungkus kaki jenjangnya.
Dia adalah Sella, dia baru saja turun dari pesawat yang membawanya pulang ke kampung halamannya. Bibirnya yang sensual mengulas senyuman lebar, kala ia menginjakkan kakinya di Bandara Juanda. Pekerjaannya di Jakarta sudah selesai, dan kini ia kembali ke Kota Surabya untuk mengejar masa depannya.
"Aku kembali Ken, aku harap perasaan kamu sudah berubah." batin Sella sambil melangkahkan kakinya.
Sella terus berjalan menuju mobil yang menjemputnya. Ia sudah tidak sabar untuk kembali ke rumahnya, dan kembali mengejar cintanya.
Tak lama kemudian Sella mempercepat langkahnya, kala pandangan matanya menangkap sosok Ibunya.
"Mama!" teriak Sella sambil menghambur kedalam pelukan Ibunya.
"Anak Mama sudah kembali, semakin cantik saja kamu Sel." ucap Bu Dina sambil mengusap-usap punggung anaknya.
"Bagaimana kabar Mama, sehat kan?" tanya Sella sambil melepaskan pelukannya.
"Yah seperti yang kamu lihat, Mama sangat sehat." jawab Bu Dina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah, Mama sendirian?" tanya Sella.
"Iya, Pak supir hari ini sedang cuti, istrinya sakit. Dan Papamu juga masih sibuk di kantor. Ya sudah ayo pulang, kita berbincang di rumah!" ajak Bu Dina sambil menggandeng tangan Sella.
"Iya Ma." jawab Sella sambil mengikuti langkah Ibunya.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam mobil. Bu Dina menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Mereka mulai meninggalkan bandara, dan meluncur menyusuri jalan raya yang cukup padat.
"Kamu ingat Senja? Teman kamu yang dulu itu." tanya Bu Dina sambil menatap anaknya sekilas.
"Ingat Ma, kenapa?" Sella balik bertanya.
"Tentu saja aku ingat, dia adalah wanita yang berhasil mencuri hatinya Ken. Gara-gara dia, Ken tidak pernah menganggapku." ucap Sella dalam hatinya.
"Dia sekarang menjadi janda, suaminya meninggal." kata Bu Dina.
"Apa!!" teriak Sella. Ia tersentak kaget saat mendengar perkataan Ibunya. Fajar meninggal, kapan dan kenapa? Tidak ada yang mengabarinya selama ini.
Dulu Senja pernah menelfonnya, dan meminta tolong padanya untuk mencari tahu tentang Adara. Namun dia tidak pernah mencari tahu tentangnya, karena sebenarnya Sella tidak terlalu menyukai Senja. Dia hanya memanfaatkannya untuk mendekati Ken. Namun semakin hari Ken semakin menjaga jarak dengannya, dan dia tidak mendapatkan informasi apapun tentang Adara. Sejak saat itu ia tidak tahu lagi bagaimana kabar Senja.
"Dia teman dekatmu ya?" tanya Bu Dina saat melihat reaksi Sella.
"Tidak juga, tapi aku kaget Ma. Karena yang kutahu suaminya masih muda. Kenapa tiba-tiba meninggal?"
"Jika Senja menjadi janda, kesempatanku untuk memiliki Ken akan semakin kecil. Tapi tidak, kali ini aku tidak boleh kalah lagi dengannya. Bagaimanapun caranya Ken harus menjadi milikku." batin Sella.
"Dia sakit, dari kabar yang Mama dengar, sejak kecil jantungnya memang lemah, dan kemarin kambuh hingga meninggal." jawab Bu Dina.
"Kapan itu Ma?" tanya Sella.
"Oh, kasihan ya Senja." ucap Sella.
"Iya. Apalagi dia hamil lho Sel. Tidak tahu nasibnya nanti bagaimana, mengurus anak seorang diri." kata Bu Dina.
"Hamil." gumam Sella.
"Jika Senja hamil, mungkinkah Ken masih mengejarnya? Seharusnya tidak kan, apa enaknya menghidupi anak orang. Ahh semoga saja usahaku untuk mendekati Ken tidak gagal lagi kali ini." ucap Sella dalam hatinya.
"Sel!" panggil Bu Dina.
"Eh iya Ma."
"Ahh kamu ini, diajak bicara malah melamun." kata Bu Dina.
"Bukan melamun Ma."
"Terus?"
"Hanya bahagia saja Ma. Akhirnya aku kembali kesini, aku bisa berkumpul lagi bersama Mama, dan Papa." jawab Sella sambil tersenyum.
"Dasr manja!" cibir Bu Dina sambil tertawa.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, namun Ken masih larut dalam pekerjaannya. Ia tak menghiraukan ucapan sekertarisnya yang sedari tadi mengingatkannya untuk makan siang.
__ADS_1
"Pak, Anda belum makan siang." ucap Anna untuk yang kesekian kalinya. Anna adalah gadis polos, dan cerdas yang bekerja sebagai sekertarisnya Ken.
"Aku belum lapar. Tinggalkan saja pekerjaan kamu, dan makanlah! Ini sudah lewat jam makan siang, kamu jangan menungguku!" kata Ken tanpa menoleh.
"Tapi Pak."
"Makanlah dulu, dan lanjutkan nanti. Ini jam istirahatmu!" kata Ken sambil menatap Anna sekilas.
"Tapi..."
"Pergilah! Ini perintah dari atasanmu!" kata Ken.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Anna sambil beranjak dari duduknya.
"Iya." jawab Ken dengan singkat.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, mumpung otakku mau diajak fokus." batin Ken dalam hatinya.
Beberapa hari kemarin, ia sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Senja, dan Senja. Karena sampai saat ini wanita itu belum memberikan kesempatan untuknya.
Disaat Ken sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar. Ken mendengus kesal, siapa yang mengganggunya?
"Masuk!" teriak Ken.
Pintu ruangan terbuka, tampak di sana seorang wanita cantik sedang tersenyum padanya. Wanita itu melangkah masuk sambil membawa kotak makan berbentuk hati.
"Hai Ken bagaimana kabar kamu?" tanya Sella sambil di kursi, di depan Ken.
"Sejak kapan dia pulang, dan untuk apa dia datang kesini. Ckk mengganggu saja!" gerutu Ken dalam hatinya.
"Baru saja duduk, tapi sudah disuguhi pemandangan yang menjengkelkan!" batin Sella sambil menatap pigura foto yang ada di atas meja Ken. Foto Senja, dan Ken sewaktu mereka masih berpacaran.
"Aku baik, kamu kapan pulang?" jawab Ken sambil memijit pelipisnya.
"Baru kemarin, kamu tidak bertanya bagaimana kabarku?" tanya Sella sambil mengerlingkan matanya.
"Kelihatannya kabarmu juga baik." ucap Ken.
"Tidak Ken, kabarku buruk." kata Sella sambil memasang raut sedih di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Tidak apa-apa." jawab Sella sambil tersenyum.
"Wanita aneh." batin Ken sambil melirik Sella sekilas.
"Oh ya ini aku bawakan bronis kukus, aku sendiri lho yang membuatnya." ucap Sella sambil meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih." jawab Ken.
"Makanlah, itu sangat manis. Aku membuatnya khsusus untukmu." ucap Sella sambil tersenyum.
"Aku masih kenyang Sel, aku makan nanti saja ya. Dan aku juga minta maaf, aku harus pergi dulu, ada rapat penting yang harus aku hadiri. Aku akan menyuruh sekertarisku untuk menemanimu." kata Ken sambil melirik jarum jam yang melingkar di tangannya.
"Kau adalah wanita yang telah membuat Senja salah paham padaku. Jadi jangan harap kau bisa mendekatiku Sella. Tidak akan pernah, dalam mimpipun aku tidak akan pernah menjadi milikmu." ucap Ken dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung