Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Satu Minggu Kemudian


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti. Seminggu sudah berlalu, sejak Senja kembali tinggal di rumahnya. Kesehatannya sudah semakin membaik, begitu pula dengan janin yang ada dalam kandungannya. Alvin selalu berada di dekat Senja, tak pernah sekalipun ia meninggalkan adiknya. Bahkan untuk belanja, dan mengurus klub, ia meminta bantuan pada Dika. Alvin selalu memastikan Senja untuk makan tepat waktu, dan beristirahat yang cukup. Meskipun hari-harinya, Senja hanya berdiam diri di dalam kamarnya, namun Alvin tak pernah mengusiknya. Ia membiarkan apapun yang dilakukan adiknya selama itu tidak membahayakan dirinya, dan juga bayinya.


Pagi ini Senja bangun lebih awal, ia menyusul Kakaknya yang sedang memasak di dapur. Alvin mengernyit heran, tidak biasanya Senja keluar kamar sepagi ini. Biasanya sampai Alvin selesai menyiapkan sarapanpun, Senja belum keluar jika tidak dipanggil.


"Selamat pagi Kak." sapa Senja sambil duduk di kursi, ia menatap Alvin yang sedang mengocok telur.


"Pagi Nja, mmm hari ini aku cuma masak telur dadar, tidak apa-apa kan? Persediaan sayurnya sudah habis, hanya tinggal telur dan mie instan yang tersisa." ucap Alvin sambil menoleh, dan menatap adiknya sekilas.


"Sejak kapan aku pilih-pilih makanan Kak, sini biar aku bantu." kata Senja sambil beranjak dari duduknya, dan meraih mangkok berisi telur yang sedang dipegang Alvin.


"Oh baiklah." jawab Alvin sambil menggaruk kepalanya.


"Senja terlihat jauh lebih baik, daripada kemarin. Ahh semoga saja dia bisa terus seperti ini." ucap Alvin dalam hatinya.


"Kak Alvin sudah berusaha keras menghiburku, dan menguatkan aku. Aku tidak boleh terus-terusan membebani fikirannya. Aku harus berusaha terlihat baik, agar Kak Alvin bisa bekerja, dan beraktivitas seperti biasanya. Mulai sekarang, luka ini cukup aku, dan Tuhanku saja yang tahu." batin Senja sambil menuangkan kocokan telur ke dalam teflon.


"Kak!" panggil Senja tanpa menoleh, ia fokus menatap telur dadar yang mulai menguning.


"Iya Nja."


"Hari ini akan pergi ke apartemen." ucap Senja dengan pelan.


"Apa! Apa kau akan tinggal di sana?" teriak Alvin dengan cepat. Bukan apa-apa, tapi dengan keadaan Senja yang sekarang ini, dia tidak tega jika Senja tinggal berjauhan dengannya.


"Tidak usah berteriak, bukan seperti itu maksudku." sahut Senja sambil tersenyum, seraya meletakkan telur dadar ke dalam piring.


"Lalu?" tanya Alvin sambil mengernyit heran.


"Aku akan mengambil barang-barangku Kak. Aku akan membawanya kesini, dan aku akan tinggal bersama Kakak lagi. Apartemen itu milik Kak Fajar, bukan milikku." jawab Senja sambil tersenyum getir.


Senja kembali mengingat tentang semalam. Bu Rani menelfonnya dengan penuh amarah. Dia menyalahkan Senja yang tidak memberitahu tentang penyakitnya Fajar. Juga menyalahkan Senja yang hamil anak orang lain. Mengatakan Senja adalah perempuan murahan, yang tidak bermartabat, dan hanya menginginkan hartanya Fajar.


"Jika kamu memang tidak menginginkan hartanya Fajar, sudah seharusnya kamu pergi dari apartemen itu! Itu milik Fajar, kamu sama sekali tidak punya hak. Kamu datang menjadi bagian dari keluarga ini tanpa membawa harta sepeserpun, jadi seharusnya kamu juga pergi tanpa membawa apapun!"

__ADS_1


"Aku akan pergi Ma."


"Jangan panggil aku Mama, kamu bukan lagi menantuku. Aku tidak punya menantu yang rendah seperti kamu!"


Itulah percakapan singkatnya dengan Bu Rani semalam. Senja tak membantah, karena kenyataannya dia memang hamil dengan orang lain. Dan harta, kenyataannya dia memang tidak membawa harta sedikitpun waktu berumah tangga dengan Fajar.


"Aku akan kembali ke rumah ini, aku akan tinggal bersama Kakak yang sudah merawatku sejak kecil. Aku akan memulai hidupku yang baru di sini, hidup yang sendiri, tanpa didampingi oleh lelaki yang kucintai." batin Senja dalam hatinya.


"Nja!" panggil Alvin.


"Iya Kak."


"Kamu melamun, kenapa? Ada masalah?" tanya Alvin.


"Tidak Kak, aku tidak apa-apa." jawab Senja.


"Apa Tante Rani mengatakan sesuatu padamu, apa dia yang membuatmu cepat-cepat pindah?" tanya Alvin.


"Bukan Kak, jangan salah paham. Aku hanya sadar diri saja. Itu milik Kak Fajar, bukan milikku. Lagipula aku masih punya Kakak, untuk apa aku tinggal di sana sendiri, lebih baik aku tinggal di sini menemani Kakak." jawab Senja sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, nanti kuantar ya." ucap Alvin sambil membalas senyuman Senja.


"Semoga yang kamu katakan itu benar Nja, semoga Tante Rani tidak menyakiti kamu." ucap Alvin dalam hatinya.


***


Jarum jam yang melingkar di tangan Senja menunjukkan angka 09.00. Senja, dan Alvin baru saja tiba di halaman apartemen. Mereka sengaja menyewa taxi, karena Senja akan membawa barang-barangnya. Meskipun tidak banyak, namun akan sulit jika merena naik motor.


"Kakak belanja saja tidak apa-apa. Aku bisa beres-beres sendiri." ucap Senja pada Alvin.


"Kamu yakin?" tanya Alvin.


"Yakin Kak, daripada nanti kita mampir-mampir lagi, lebih baik Kakak belanja sekarang saja, sambil menununggu aku beres-beres." kata Senja.

__ADS_1


Alvin tampak berfikir sejenak, sesekali ia menatap adiknya yang sedang tersenyum padanya.


"Baiklah, aku akan belanja. Kamu hati-hati ya, aku akan segera kembali." ucap Alvin.


"Iya, Kakak juga hati-hati ya."


"Iya." jawab Alvin sambil melangkah mendekati taxi yang tadi ditumpanginya.


Setelah Alvin pergi, Senja juga melangkahkan kakinya. Jantungnya berdetak dengan cepat saat ia sudah memasuki lift.


Beberapa menit kemudian, Senja sudah tiba di ambang pintu apartemen. Sebuah tempat yang menjadi saksi bisu atas hubungannya bersama Fajar, menjadi saksi atas cinta yang mereka rajut dalam sebuah ikatan pernikahan.


Dengan perlahan Senja membuka pintu itu, ia melangkah masuk dengan mata yang berkaca-kaca. Senja menatap perabotan yang ada di ruang tamu, tidak ada yang berubah, masih sama seperti beberapa waktu lalu. Namun ruangan ini menjadi hampa, rasanya tak ada lagi kehangatan, dan kebahagiaan saat ia memasukinya. Justru yang ada hanyalah perasaan luka yang teramat sakit, yang begitu menyayat hatinya.


Senja terus melangkahkan kakinya, air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya. Hening, sepi, tak ada lagi suara, tak ada lagi canda tawa. Sejak Fajar tiada, Bibi pelayan juga pergi dari apartemen ini. Beliau kembali bekerja di rumah Bu Rani.


Senja berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Dadanya terasa sesak, seakan tak ada lagi ruang untuk bernafas. Dengan tubuh yang gemetaran, Senja membuka pintu kamarnya. Matanya yang berair menatap setiap jengkal kamar itu.


Senja melangkah masuk, dan berlari menuju jendela kamarnya. Tirainya yang masih terbuka lebar, mengingatkannya pada suatu pagi di hari ulang tahunnya. Di sanalah Fajar memeluknya dengan erat sambil membisikkan kata-kata cinta yang membuatnya merona.


Senja mencengkeram tirai itu dengan sangat erat, dan menumpahkan tangisnya di sana. Ia tak menyangka jika hari itu, menjadi hari terakhirnya bersama Fajar.


"Kak Fajar! Kak Fajar!" panggil Senja sambil menangis.


Setelah cukup lama berdiri di sana, Senja melangkah menuju ranjangnya. Senja meraba sprei putih, dan juga selimut coklat yang masih berantakan. Ia kembali teringat dengan canda tawanya bersama Fajar di pagi itu. Fajar yang meminta dipanggil sayang, Fajar yang mengusap perutnya, dan mencarikan nama untuk anaknya. Dan sekarang semua itu tinggal kenangan, semua itu tak akan bisa terulang.


Senja memeluk selimut tebal warna coklat yang ada di depannya. Selimut yang biasanya menutup tubuh mereka disaat terlena, selimut yang menjadi saksi disaat mereka tidur sambil berpelukan mesra. Senja memeluk selimut itu dengan semakin erat, dan ia menenggelamkan wajahnya di sana. Tangis Senja semakin pecah saat aroma parfum yang biasa Fajar pakai mulai menyeruak ke dalam hidungnya.


"Aku merindukanmu Kak!" ucap Senja disela-sela tangisnya.


Kini yang bisa Senja hirup hanyalah parfum bekasnya, bukan lagi aroma tubuhnya yang sebenarnya.


Fajar hanya tinggal kenangan, dan bayangan. Dia tak bisa lagi menjelma dalam wujud yang nyata.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2