Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Niat Jahat Sella


__ADS_3

Senja sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia terpaku seolah tak mampu mengenali bayangan wajah yang terlukis di dalam sana. Seorang wanita bergaun putih berhiaskan bunga-bunga kecil, dan permata warna biru, dengan wajah yang sudah disulap bak boneka. Rambut panjangnya digerai begitu saja, dengan hiasan mahkota kecil di puncak kepalanya. Gambaran yang sangat sempurna, MUA yang baru saja meriasnya, benar-benar profesional.


Disaat Senja belum puas menatap bayangan wajahnya, tiba-tiba Ken masuk ke dalam kamar, dan menghampirinya.


"Aya!" panggil Ken.


"Kau sangat cantik Aya, rasanya aku ingin menikahimu detik ini juga," ucap Ken sambil menatap Senja lekat-lekat.


"Kau jangan sembarangan Ken, menjauhlah!" kata Senja sambil tertawa lebar.


"Aku serius, kau benar-benar cantik Aya."


"Ken, jangan menatapku seperti itu!" kata Senja sambil memalingkan wajahnya, ia tersipu malu saat Ken menatapnya tanpa kedip.


"Kenapa, hmm?" tanya Ken sambil melangkah lebih mendekat. Kini Ken berdiri tepat di depan Senja.


"Aku senang melihatmu merona seperti ini, Aya," ucap Ken sambil meraih dagu Senja, dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.


"Ken, aku..." ucap Senja dengan gugup. Wajah Ken terlihat begitu tampan dengan balutan kemeja putih, dan jas warna hitam. Senyumannya terlihat begitu manis, menyiratkan perasaan aneh dalam benaknya. Perlahan rasa panas mulai menjalar diseluruh tubuhnya.


"Ken, belum halal!" teriak Bu Ratih dari ambang pintu.


Sontak Ken, dan Senja langsung menoleh menatap Bu Ratih. Ken tersenyum lebar, sedangkan Senja, ia menunduk malu.


Bu Ratih melangkah mendekati mereka, beliau berdiri di antara keduanya.


"Ditahan, jangan macam-macam, tiga minggu lagi, tidak lama itu." Bu Ratih bicara sambil menatap Ken dan Senja.


"Tidak macam-macam Ma, aku hanya melihat wajahnya, siapa tahu Mbak Kellyn melakukan kesalahan," kilah Ken.

__ADS_1


"Kelihatan bohongnya," cibir Bu Ratih.


Ken tertawa keras menanggapi ucapan ibunya, sedangkan Senja, ia tetap menunduk menahan malu.


"Fotografernya sudah datang, apa kalian sudah siap?" tanya Bu Ratih sambil menatap Ken, dan Senja.


"Bagaimana Aya, istirahat dulu atau..."


"Aku sudah siap," jawab Senja sambil mengangkat wajahnya.


"Bagus, kalau begitu Mama suruh kesini ya," kata Bu Ratih.


"Iya Ma," jawab Ken sambil tersenyum.


Menurut konsep yang sudah Ken rencanakan, mereka akan melakukan pemotretan di dalam kamar, di taman belakang rumah, dan juga di ruang tengah, yang tentu saja semua tempat itu sudah didesain dengan dekorasi yang menarik.


Foto pertama diambil di balkon kamar, dengan hiasan bunga-bunga dekor di sekitarnya, dan background gedung-gedung tinggi yang tampak di kejauhan sana.


Tangan Ken melingkar di pinggang Senja, sedangkan Senja mengalungkan tangannya di leher Ken. Ken sedikit menunduk, dan Senja sedikit mendongak, dengan senyuman manis yang terukir di bibir keduanya.


Foto kedua diambil dengan pose yang berbeda, Senja duduk di atas kursi berenda, dengan satu tangannya menggenggam buket bunga. Sedangkan Ken, ia berdiri sambil menggenggam jemari Senja. Mereka saling menatap, dan saling melemparkan senyuman manis.


Setelah melakukan pemotretan di dalam kamar, mereka pindah ke ruang tengah. Sebuah ruangan yang sudah didesain dengan sangat romantis. Ada dua kursi, dan satu meja kaca di dalam ruangan itu, dengan hiasan lampu kristal, serta lilin-lilin kecil yang menyala meliuk-liuk.


Ken dan Senja saling duduk berhadapan, Ken tampak menyematkan cincin manis di jemari Senja, dan Senja, ia menatap kekasihnya sambil tersenyum lebar. Sebuah foto yang menggambarkan sebuah lamaran yang romantis.


Selesai di ruang tengah, mereka pindah ke belakang rumah. Sebuah taman yang penuh dengan aneka macam bunga. Di depannya tampak kolam yang luas, dengan airnya yang terlihat sangat jernih.


Ken dan Senja berbaring di atas rerumputan hijau yang sudah dihiasi ribuan kelopak mawar. Mereka saling bertatapan, dengan jemari tangan yang saling bertautan.

__ADS_1


Kemudian mereka duduk bersama di tepi kolam, sambil menggenggam minuman di dalam gelas. Dengan background aneka bunga berwarna-warni, mereka seolah sedang minum bersama dengan suasana yang romantis.


Setelah itu mereka saling berdiri, Ken memeluk Senja dari belakang. Ken melingkarkan tangannya di pinggang Senja dengan erat, sembari menyandarkan kepalanya di bahu Senja. Sedangkan Senja, ia sedikit menoleh, sambil menangkup pipi kekasihnya. Bola mata mereka saling melirik, seolah saling menyiratkan rasa lewat tatapan mata.


***


Satu minggu kemudian, persiapan pernikahan Ken dan Senja sudah berjalan 80%. Semua undangan sudah disebar, mulai yang untuk kerabat, tetangga, rekan kerja, relasi bisnis, dan teman-teman yang lainnya.


Banyak diantara mereka yang memuji cinta Ken, dan Senja. Mereka menganggap jika Ken dan Senja adalah pasangan yang serasi. Namun juga ada diantaranya yang merasa kurang setuju. Mereka menganggap pilihan Ken kurang tepat, karena Senja adalah janda, dan berasal dari kalangan sederhana. Namun mereka tidak memusingkan hal itu, karena pilihan hidup ada pada tangan masing-masing.


Namun ada satu orang yang benar-benar benci dengan kebersamaan mereka, dia adalah Sella, wanita yang pernah mencintai Ken.


Detik ini Sella menatap nanar kertas undangan yang sedang digenggamnya, ia mendapatkan itu dari kenalannya.


"Aku tidak habis pikir, kenapa kau dan ibumu sama-sama bodoh Ken, mau-maunya kalian diperdaya oleh wanita seperti Senja. Sekarang tersenyumlah sepuasmu Ken, karena saatnya nanti kau akan lupa bagaimana caranya tersenyum," kata Sella sambil tertawa menyeringai.


Ia terus menatap foto Ken, dan Senja yang terlukis jelas didalam kertas undangan.


"Ken, Ken, cinta benar-benar membuatmu buta, kau memandang dia terlalu sempurna, hingga kau tidak sadar dengan noda yang ada pada dirinya. Tapi kau tenang saja Ken, sebentar lagi aku akan membuatmu sadar, dan kuharap itu tidak terlambat Ken.


Kau salah menolakku Ken, kau tidak tahu siapa aku sekarang, heh ternyata keberuntungan masih berpihak padaku, rupanya dunia masih tidak mengijinkan aku untuk terjatuh," ucap Sella.


Lalu Sella beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju jendela kamarnya. Dengan kertas undangan yang masih tergenggam erat di tangannya, Sella menatap rintik hujan yang turun membasahi bumi.


"Aku harus mengorbankan tubuhku, demi menyelamatkan masa depan keluargaku, aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini. Kau pernah mengecewakan aku Ken, aku tidak akan pernah mengijinkan kamu bahagia. Ingat, pernikahanmu dengan Senja itu hanya dalam mimpi, tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyatamu. Aku tidak bisa memilikimu, orang lain juga tidak akan bisa. Aku akan membuatmu hancur Ken, sebentar lagi keluarga Antony akan jatuh, sejatuh-jatuhnya," kata Sella sambil memicingkan matanya. Mengingat tentang Ken, emosinya kembali tersulut.


"Tunggu saja jam tayangnya, sekali aku menepuk, tiga lalat akan mati." Sella meremas kertas undangan itu, dan melemparkannya ke tempat sampah. Bibirnya mengukir senyuman yang menyeringai.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2