Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Niat Licik Sella


__ADS_3

"Jaga bicaramu!" bentak Bu Rani sambil melotot tajam.


Dadanya naik turun menahan emosi. Suara Ken terdengar cukup keras, banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Bu Rani takut, jika salah satu di antaranya ada yang mengenalnya.


"Saya hanya menjawab ucapan Tante." kata Ken dengan santainya.


"Tapi kamu tidak berhak bicara tentang Fajar!" bentak Bu Rani.


"Tante juga tidak berhak merendahkan Aya." jawab Ken dengan tegas.


"Yang kubicarakan itu fakta, kenyataannya dia memang wanita rendahan." kata Bu Rani sambil memicingkan matanya.


"Yang saya bicarakan juga fakta Tante, kenyataannya Fajar memang sakit HIV." jawab Ken masih tidak mau kalah.


"Diam! Sekali lagi kamu bicara seperti itu, aku tidak akan segan-segan untuk menampar mulutmu!" bentak Bu Rani sambil menunjuk-nunjuk muka Ken.


Belum sempat Ken menjawab bentakan Bu Rani, tiba-tiba Senja sudah lebih dulu menyahut.


"Ken sudah! Ma maaf..."


"Diam! Jangan pernah memanggilku Mama, kamu bukan lagi bagian dari keluargaku. Dan satu lagi, aku tidak sudi mendengar suara kamu!" bentak Bu Rani dengan penuh emosi.


Lalu beliau melangkah pergi, meninggalkan Ken, dan Senja.


Senja memejamkan matanya, perasaan bersalah itu kembali menyeruak dalam hatinya. Perlahan air matanya mulai menetes, dan membasahi kedua pipinya.


"Jangan menangis! Aku tidak sanggup melihat air matamu." kata Ken sambil mengusap air mata Senja dengan kedua jemarinya.


Senja mendongak, menatap wajah Ken yang berada di hadapannya.


"Terima kasih." ucap Senja dengan pelan.


"Aku lebih suka melihat senyumanmu, daripada mendengar ucapan terima kasih darimu." jawab Ken sambil menyelipkan rambut Senja di belakang telinganya.


"Kau masih tidak berubah." kata Senja sambil tersenyum tipis. Ken adalah lelaki yang pintar bicara, dan Senja selalu saja kalah darinya.


"Aku memang tidak berubah Aya, baik kebiasaanku, maupun perasaanku." ucap Ken dengan serius.


"Maaf Ken, aku...aku..."


"Aku tahu, jangan terburu-buru Aya. Kau tidak usah khawatir, aku akan selalu menunggumu. Aku tidak akan pernah berpaling darimu." sahut Ken sambil memegang kedua bahu Senja.


"Maafkan aku Ken."


"Jangan meminta maaf, aku mengerti bagaimana perasaan kamu. Tersenyumlah, aku di sini selalu sabar menantimu!" kata Ken sambil tersenyum lebar.


Senja tidak menjawab ucapan Ken, namun ia menanggapinya dengan senyuman manis yang tulus dari dasar hatinya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang mengintipnya sambil tersenyum licik. Seseorang itu adalah Sella. Dia tersenyum lebar saat mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Sepertinya kamu akan kecewa, karena sebentar lagi penantianmu itu akan sia-sia Ken. Aku memberimu satu kesempatan lagi, jika kau masih menolakku, jangan salahkan aku, kalau nanti aku menggunakan cara yang lain." ucap Sella sambil menatap layar ponselnya. Lalu ia melangkah pergi sambil tersenyum. Entah apa yang sedang direncanakannya, hanya dirinya saja yang tahu.


***


Keanggunan sang surya mulai tampak di kaki langit timur. Semburat cahayanya memberikan warna keemasan pada mega-mega putih yang ada di sekitarnya. Hari masih pagi, semilir anginnya masih terasa dingin. Namun tidak menghentikan langkah seorang gadis yang sedang berjalan di trotoar.


Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat, namun karena high hells yang dikenakannya, ia merasa sedikit kesulitan. Sesekali ia melirik gelang jam yang melingkar di tangannya, sudah pukul setengah tujuh. Waktunya tinggal setengah jam lagi, dan jarak menuju kantornya masih lumayan jauh.


"Dasar taxi menyebalkan, selalu saja mengabaikan pelanggan. Seharusnya kalau tidak bisa katakan saja, dengan begitu aku akan memesan taxi yang lain. Awas ya kalau nanti aku telat, tanggungjawab kamu!" gerutu gadis itu dengan kesal. Entah kepada siapa ia berbicara, karena hanya udara hampa yang sedang ada di dekatnya.


Gadis itu semakin mempercepat langkahnya, namun tak lama kemudian ia dikagetkan oleh mobil yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.


"Hai!" sapa lelaki yang sedang duduk di depan kemudi mobil.


Gadis itu tidak menjawab, ia mengernyit heran sambil menatap lelaki itu lekat-lekat. Seakan mencoba mengingat siapa gerangan dirinya.


"Kamu gadis yang di taman itu kan?" tanya lelaki itu, yang ternyata adalah Dika.


"Iya Om." jawab gadis itu sambil tersenyum, kini ia ingat siapa lelaki itu.


"Sepertinya kamu sedang terburu-buru, mau kemana?" tanya Dika.


"Kerja Om." jawab gadis itu dengan singkat.


"Om kerja dimana?" tanya gadis itu.


"Apa ikut saja ya, kalau jalan kaki aku bisa telat. Mau pesan taxi lagi, ponsel malah ketinggalan. Lagipula ini pagi hari bukan malam, dia tidak akan berani melakukan yang macam-macam. Demi pekerjaan tidak apa-apalah meskipun sedikit malu." batin gadis itu dalam hatinya.


"Aku bekerja di perusahaan Emerald. Kau sendiri bekerja dimana, ayo kuantarkan." kata Dika sambil membuka pintu mobilnya.


"Baiklah Om." jawab gadis itu sambil mendekati mobil Dika, dan kemudian melangkah masuk. Gadis itu duduk di sebelah Dika.


"Kau kerja dimana?"


"Sebenarnya saya mau ke kantor Imperrium, kebetulan ada rapat di sana." jawab gadis itu.


"Oh baiklah." ucap Dika sambil melajukan mobilnya.


Hampir lima belas menit perjalanan, mereka masih diam. Tidak ada salah satu dari mereka yang membuka suara. Dika fokus dengan jalanan yang ada di hadapannya, sedangkan gadis itu, ia memalingkan wajahnya, dan menatap suasana luar dari balik kaca mobil.


"Boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Dika sambil menatap gadis itu sekilas. Jika dipandang dari samping, hidungnya terlihat begitu mancung, dan pipinya juga tampak menggemaskan. Ahh gambaran yang sangat manis.


"Boleh." jawab gadis itu.


"Boleh, tapi tidak menyebutkan siapa namanya. Apa aku harus bertanya lagi, ahh dasar wanita, terlalu menyukai basa-basi." gerutu Dika dalam hatinya.

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanya Dika.


"Anna." jawab gadis itu sambil menoleh, dan menatap Dika sekilas.


"Aku Dika, kamu bisa memanggilku Dika saja, atau Kak Dika. Jangan memanggilku Om, aku belum setua itu. Dan juga jangan berbicara yang terlalu formal, aku bukan atasanmu." ucap Dika.


"Memangnya Om umur berapa?" tanya Anna.


"Aku 32 tahun, belum terlalu tua kan?" jawab Dika.


"Berarti aku tidak salah memanggil Om. Kata Ibu, aku harus memanggil kak untuk orang yang 5 tahun lebih tua dariku. Lalu memanggil om untuk orang yang 10 tahun lebih tua dariku, jika selisihnya 20 sampai 25 tahun, aku harus memanggilnya pak. Dan jika lebih dari itu aku harus memanggil kakek. Dan umurku baru 21 tahun, selisih umur kita 11 tahun, berarti aku harus memanggil om, bukan kak." kata gadis itu dengan panjang lebar.


"Oh My God, bisa sedetail itu ya. Aku jadi penasaran seperti apa ibunya." batin Dika sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Om keberatan ya?" tanya Anna sambil menatap Dika.


"Tidak, panggil saja sesukamu." jawab Dika dengan cepat.


"Kalau begitu om saja ya, aku sudah nyaman dengan panggilan itu." ucap Anna.


"Iya, terserah kau saja."


"Terima kasih Om." ucap Anna sambil tersenyum.


Dika menanggapinya hanya dengan anggukan, dan gumaman pelan.


"Om!" panggil Anna, setelah hening beberapa saat.


"Hmmm."


"Bisa minta tolong cepat sedikit tidak, aku hampir telat. Hari ini Pak bos mengajakku menghadiri rapat penting, dan berkas-berkasnya ada padaku. Aku tidak bisa menghubunginya, karena ponselku ketinggalan. Kerjasama ini sangat penting bagi Pak bos, aku tidak mau mengacaukannya. Tolong ya Om!" ucap Anna dengan cepat.


"Astaga gadis ini, kelihatannya saja lugu, dan polos, tapi sebenarnya sangat cerewet. Mulutnya tidak secantik wajahnya. Tapi dari buku yang pernah kubaca, wanita yang banyak bicara itu sangat andal dalam berciuman. Benar, atau tidak ya, ahh otakku jadi travelling." ucap Dika dalam hatinya, seraya melirik Anna yang sedang menatapnya.


"Om!" panggil Anna.


"Iya, aku akan menggigitnya." ucap Dika sambil menatap bibir Anna.


"Hah! maksudnya apa Om?" tanya Anna sambil mengernyit heran.


"Eh ehm tidak, maksudnya iya aku akan melaju lebih cepat, iya begitu." jawab Dika sambil tersenyum miring.


"Sial, aku malah salah ngomong lagi." gerutu Dika dalam hatinya.


Lalu ia menginjak pedal gasnya, dan menambah laju kecepatannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2