Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Bertemu Bu Rani


__ADS_3

"Kau masih mengingatnya." ucap Senja dengan pelan.


"Tidak ada satu halpun tentang dirimu yang aku lupakan Aya. Semua tentang kamu, aku masih sangat mengingatnya." jawab Ken dengan serius.


Senja tidak menjawab, ia hanya mengulas senyuman tipis di bibir ranumnya. Kalimat itu seakan menjadi sindiran keras baginya. Mengejar masa depan, dan jangan terbelenggu dengan masa lalu, ahh benar-benar sesuai dengan situasinya saat ini.


"Ken di perempatan depan belok kiri ya, tidak jauh kok, sekitar 200 meter." ucap Senja sambil menatap Ken sekilas.


"Iya." jawab Ken sambil tersenyum. Lalu tak lama kemudian, ia membelokkan mobilnya, dan mengikuti arahan Senja.


Ken menghentikan mobilnya di depan rumah minimalis yang berada di pinggir jalan.


"Biar aku saja!" kata Ken sambil menahan tangan Senja yang hendak membuka pintu mobilnya.


"Tapi..."


"Tunggu di sini, biar aku saja yang mengantarnya kesana." kata Ken sambil tersenyum.


Lalu Ken melepaskan tangan Senja, dan kemudian turun dari mobilnya. Ia mengambil kantong plastik yang ada di kursi belakang, dan kemudian mengantarnya pada sang pembeli.


Tak lama kemudian, Ken sudah kembali, dan masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah Senja sambil tersenyum.


"Ini uangnya." kata Ken sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Senja.


Senja menerima uang itu sambil mengernyit heran, jumlahnya Rp.1.000.000, padahal seharusnya hanya Rp.400.000. Kenapa selisihnya begitu banyak?


"Ken ini salah, ini terlalu banyak, aku harus menjelaskan pada orangnya." kata Senja dengan cepat.


"Tidak usah, katanya kembaliannya untuk kamu." jawab Ken.


"Tapi kembaliannya lebih banyak, daripada harga yang yang seharusnya. Aku tidak bisa menerimanya Ken, aku harus mengembalikan ini kepada pemiliknya." kata Senja.


"Aya dengarkan aku! Sebagai penjual rasanya tidak etis, jika kita mengembalikan apa yang sudah diberikan oleh pembeli kepada kita. Dia sangat menyukai kuemu, itu adalah wujud dari rasa terima kasihnya padamu. Dia akan tersinggung, kalau kamu mengembalikannya." ucap Ken menjelaskan.


"Tapi Ken..."


"Sudah diterima saja, itu rezeki." sahut Ken sambil melajukan mobilnya.


"Maafkan aku Aya, aku hanya bisa membantumu sedikit. Sebenarnya aku sangat ingin membantu lebih banyak, tapi kau pasti akan menolaknya. Hmmm sepertinya aku harus memikirkan cara yang lain, untuk meringankan bebannya." ucap Ken dalam hatinya.


"Benarkah ini rezeki, tapi ini terlalu banyak. Sebenarnya aku sangat tidak enak untuk menerimanya." batin Senja sambil memasukkan uang itu ke dalam tasnya.


"Aya!" panggil Ken.

__ADS_1


"Hmmm."


"Kau ingin dia nanti lahir laki-laki, atau perempuan?" tanya Ken sambil menatap Senja sekilas.


"Sama saja, laki-laki atau perempuan yang penting sehat." jawab Senja.


"Iya kamu benar. Aya kamu sudah ada nama untuk dia?" tanya Ken, ia berusaha mencari topik obrolan agar mereka tidak saling diam.


"Sudah." jawab Senja dengan singkat.


"Siapa?"


"Rashya untuk laki-laki, dan Raysha untuk perempuan. Keduanya memiliki arti yang sama, yakni berjiwa tegar, dan tangguh. Aku harap kelak dia akan menjadi orang yang tangguh, dan tidak mudah menyerah." jawab Senja sambil tersenyum, ia teringat dengan Fajar, dia adalah orang yang memberikan nama itu untuk anaknya.


"Nama yang bagus, apa kau sendiri yang mencarinya Aya?" tanya Ken.


Senja menunduk, cukup lama ia terdiam, ia merangkai kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ken.


"Aya!" panggil Ken.


"Bukan." jawab Senja, meskipun cukup lama ia merangkai kata. Namun kenyataannya hanya satu kata yang berhasil ia ucapkan.


"Apakah Fajar?" tanya Ken.


Ken menghela nafas panjang, ada sedikit perasaan tidak nyaman yang mulai mengganjal di hatinya. Anaknya seharusnya adalah miliknya, seharusnya dia dan Senja yang berhak memberikan nama untuknya. Namun tak lama kemudian, Ken mulai menenangkan hatinya. Ia sadar jika hadirnya anak itu dari sebuah kesalahan.


"Aku tidak boleh egois, lagipula hanya sebuah nama kan. Apa yang kulakukan terhadap Fajar, itu jauh lebih menyakitkan, daripada hanya nama yang ia tinggalkan untuk anakku." ucap Ken dalam hatinya.


"Ken!" panggil Senja.


"Iya Aya." jawab Ken sambil menoleh sekilas.


"Kau keberatan ya?" tanya Senja, entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman saat melihat Ken diam tanpa kata.


"Tentu saja tidak." jawab Ken sambil tersenyum.


"Aya akan sangat kecewa kalau aku menolak nama itu. Mungkin ini juga salah satu cara untuk menghargai Fajar, dia sudah mempercayakan Aya padaku. Dia sudah menghargai aku, jadi sudah seharusnya aku melakukan hal yang sama." batin Ken.


"Kau serius? Kalau keberatan katakan saja, nanti kita cari nama yang lain." ucap Senja sambil menatap Ken.


"Kita, maksudnya aku dan dia. Yes yes yes, akhirnya kau menganggapku juga Aya. Apa ini artinya ada titik terang dari penantianku, ahh semoga saja." batin Ken sambil menyembunyikan senyumannya.


"Ken!" panggil Senja, karena Ken tak kunjung menjawab ucapannya.

__ADS_1


"Aku serius Aya, lagipula itu juga nama yang bagus, aku sangat setuju. Hanya saja aku ingin dia menyandang nama belakangku, kau tidak keberatan kan?" tanya Ken.


"Tidak." jawab Senja sambil menggeleng.


"Biarlah dia menyandang namanya Ken, lambat laun semua orang juga akan tahu kalau ini bukan anaknya Kak Fajar." batin Senja dalam hatinya.


Mengingat sikap mertuanya, rasanya kebenaran akan segera terungkap. Tidak mungkin Bu Rani menyembunyikan hal ini lama-lama.


"Tapi Ken!" kata Senja dengan cepat, ia baru menyadari satu hal yang sempat ia lupakan.


"Kenapa?"


"Jika kau menyematkan nama belakangmu, apa itu tidak masalah bagi keluargamu. Apa orang tuamu akan mengijinkannya Ken? Meskipun hanya sebuah nama, tapi itu juga berpengaruh Ken." kata Senja. Ia tidak ingin bermasalah dengan keluarganya Ken.


"Kau tenang saja, tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Tidak akan ada masalah, meskipun dia menyandang nama belakangku." jawab Ken.


"Kau yakin?"


"Sangat yakin." jawab Ken sambil tersenyum manis.


Tak lama kemudian, Ken menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan. Senja, dan Ken turun dari mobil, dan mulai melangkah masuk. Mereka berjalan beriringan, namun Ken tidak menggandeng tangan Senja. Ia berusaha untuk memahami perasaan Senja. Ia ingin membuat Senja merasa nyaman saat berada di sampingnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Beberapa perlengkapan bayi dengan aneka macam model, dan aneka macam warna, tertata dengan begitu rapi. Senja mulai melihat-lihat, dan mulai memilihnya.


"Sebentar lagi aku akan menjadi ibu, seperti apa ya rasanya." batin Senja sambil tersenyum.


Belanja perlengkapan bayi membuatnya tersadar, jika sebentar lagi sosok mungil itu akan hadir dalam hidupnya.


"Ini bagus Aya! Ini juga bagus! Tapi yang ini lebih lucu! Yang ini sangat imut! Kau mau yang mana Aya?" tanya Ken dengan antusias, sambil memilih baju bayi yang tertata di hadapannya.


"Pilih saja mana yang kau suka, semuanya bagus." jawab Senja sambil tersenyum.


"Kamu terlihat begitu bahagia Ken." batin Senja sambil menatap Ken yang berdiri di sebelahnya.


Disaat mereka sedang sibuk memilih perlengkapan bayi, tiba-tiba ada wanita paruh baya yang datang menghampiri mereka. Wanita itu melipat tangannya di dada, dan menatap mereka dengan sinis.


"Punya suami tapi hamil dengan lelaki lain, benar-benar rendahan. Tapi wajarlah, namanya juga orang miskin, pasti berbeda dengan orang yang punya kedudukan." sindir Bu Rani dengan tatapan sinisnya.


Senja menunduk, meskipun ia belum menatap wajahnya, namun ia sudah tahu siapa yang berbicara padanya, beliau adalah wanita yang pernah ia panggil mama.


Ken mengepalkan tangannya, emosinya mulai tersulut saat melihat Senja direndahkan. Apalagi mata wanita itu sekarang mulai berkaca-kaca, emosi Ken semakin membuncah.


"Lelaki yang mengidap HIV AIDS stadium akhir, apa kira-kira bisa menghamili seorang wanita, tanpa menularkan penyakitnya?" tanya Ken sambil membalikkan badannya, dan menatap Bu Rani.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2