
"Tidak apa-apa Kak, seharusnya kamu juga tidak perlu repot-repot membelikan hadiah untukku. Dengan hadirnya kamu di sisiku saja, aku sudah sangat bahagia." jawab Senja sambil menatap suaminya dengan lembut.
"Kali ini hadiahnya sangat spesial sayang, aku ingin memberikan sesuatu yang tidak akan pernah kamu lupakan. Aku jamin kamu pasti akan mengingatnya sampai nanti." ucap Fajar sambil mengerlingkan matanya.
"Iyakah? Memangnya apa Kak, ahh aku jadi penasaran."
"Nanti kamu juga akan tahu sayang." ucap Fajar.
"Pelit! Kasih tahu sekarang dong Kak." gerutu Senja.
Selama ini Fajar selalu memberinya boneka, dan bunga, karena Senja memang sangat menyukai boneka. Namun untuk kali ini, entahlah hadiah apa yang sedang Fajar persiapkan.
"Kalau kamu aku kasih tahu sekarang, itu tidak akan jadi kejutan sayang. Tunggu saja nanti, tidak lama kok, hanya setengah hari." kata Fajar sambil tersenyum lebar.
"Kak Fajar menyebalkan." gerutu Senja dengan bibir yang manyun.
"Jangan cemberut, nanti hilang cantiknya!" sindir Fajar sambil tertawa.
"Tidak lucu!"
"Kamu tahu dek Mamamu sedang kesal, jelek sekali dia. Jangan dilihat ya, lihat Papa saja yang yang sedang tersenyum manis ini." ucap Fajar sambil mengusap perut Senja yang masih rata.
Senja tersenyum getir, melihat Fajar yang menyayangi anak dalam kandungannya, rasa bersalah kembali bersarang dalam benaknya. Perlahan Senja mengangkat tangannya, ia menggenggam tangan Fajar yang sedang mengusap perutnya.
"Kak!" panggil Senja dengan pelan.
Fajar menghela nafas panjang, ia mencoba tak menghiraukan panggilan Senja. Ia tahu apa yang sedang ada dalam fikirannya Senja.
"Sayang kamu ingin dia lahir laki-laki, atau perempuan?" tanya Fajar sambil menatap Senja.
"Laki-laki, atau perempuan sama saja Kak. Aku tidak mempermasalahkan jenis kelamin, asal dia lahir dengan sehat aku sudah bahagia." jawab Senja.
"Tapi jika boleh meminta, aku sangat berharap dia terlahir laki-laki. Karena jiwa lelaki jauh lebih tegar, daripada jiwa perempuan. Aku tidak ingin dia terpuruk, saat tahu kenyataan bahwa dia adalah anak haram." ucap Senja dalam hatinya.
"Iya kau benar sayang. Oh ya, kamu sudah ada rencana nama untuk dia?" tanya Fajar.
"Belum Kak, lahirannya masih sangat lama, aku belum memikirkan tentang nama." jawab Senja sambil menggeleng.
"Aku punya satu nama, apa kamu setuju?"
"Siapa Kak?" tanya Senja.
"Raysha untuk perempuan, dan Rashya untuk laki-laki. Kedua nama itu punya arti yang sama, yakni berjiwa tegar, dan tangguh. Aku ingin, kelak dia tumbuh menjadi orang yang tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan." jawab Fajar sambil tersenyum.
"Raysha, Rasyha nama yang bagus Kak. Lalu nama panjangnya siapa?" tanya Senja.
"Aku belum memikirkannya." jawab Fajar sambil tersenyum nyengir.
"Yahhh."
"Itu tugas kamu sayang! Nanti sambil menunggu dia lahir, kamu harus mencari nama panjangnya." ucap Fajar seraya tangannya mencubit pipi Senja.
__ADS_1
"Hmmm baiklah."
Fajar menggeliat pelan, lalu ia melirik jarum jam yang berada di atas meja, sudah pukul 06.15 menit.
"Sudah siang sayang, aku mandi dulu ya." ucap Fajar seraya menangkup kedua pipi Senja, kemudian mencium keningnya cukup lama.
"Iya Kak." jawab Senja sambil memeluk pinggang Fajar.
Selang beberapa detik, Fajar melepaskan ciumannya. Kemudian ia bangkit dari tidurnya, dan beranjak turun dari ranjang. Senja masih diam di tempatnya, ia menatap punggung suaminya hingga ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tak lama kemudian, Senja juga bangkit dari tidurnya. Ia turun dari ranjang, dan melangkah menuju meja rias. Ia menyisir rambutnya, dan menguncirnya dengan rapi. Lalu Senja melangkah keluar dari kamarnya, ia menuju ke ruangan dapur.
Di sana tampak Bibi sedang menyiapkan sarapan. Entah apa yang dimasak aromanya sangat lezat.
"Masak apa Bi?" tanya Senja.
"Ini sup jamur Non, kalau ayam gorengnya sudah matang." jawab Bibi sambil menunjuk panci yang masih berada di atas kompor.
"Oh iya Bi." ucap Senja. Lalu ia mulai menyeduh secangkir kopi untuk suaminya.
"Saya tinggal ya Bi." kata Senja sambil melangkah pergi, ia membawa secangkir kopi itu ke kamarnya.
"Iya Non." jawab Bibi.
Senja terus berjalan, dan masuk ke dalam kamarnya, ia letakkan kopi itu di atas meja. Kemudian ia melangkah menuju jendela kamarnya, dan menyibakkan tirainya lebar-lebar. Senja tersenyum kala menatap sang surya yang mulai merangkak naik.
Belum puas Senja menikmati keindahan pagi, tiba-tiba Fajar sudah memeluk pinggangnya dari belakang.
Senja menunduk, pipinya mulai merona. Bisikan Fajar yang mesra, juga hembusan nafasnya yang menghangat, dan rasa hangat itu menjalar hingga jauh ke dasar hatinya.
Dan belum sempat Senja menjawab ucapannya, Fajar sudah kembali berbisik.
"Aku sangat mencintaimu sayang. Satu hal yang terindah dalam hidupku adalah memilikimu, dan menyayangimu. Andai saja aku dapat memutar waktu, aku akan menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku. Membuatmu menjadi wanita pertama, dan juga wanita terakhirku." bisik Fajar sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sangat mencintaimu Kak, meskipun aku bukan wanita pertamamu, tetapi aku sangat bahagia bisa menjadi wanita terakhirmu. Jangan menyesalkan masa lalu, aku juga sama sepertimu. Aku tidak bisa menjadikanmu yang pertama, juga tidak bisa menjadikanmu satu-satunya." ucap Senja sambil menggenggam tangan Fajar yang melingkar di perutnya.
"Iya kau benar, tidak ada gunanya menyesalkan waktu yang telah pergi. Yang bisa kita lakukan hanyalah memperbaiki hal yang belum terjadi. Sayang jaga dia dengan baik ya, pastikan dia tumbuh, dan lahir dengan sehat." kata Fajar seraya tangannya mengusap-usap perut Senja.
"Iya Kak, aku akan menjaganya."
"Aku akan menyayanginya seperti aku menyayangimu." kata Fajar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Senja.
Cukup lama mereka saling berpelukan erat. Seolah sedang melepaskan rindu, karena lama tak bersua. Setelah beberapa menit kemudian, Fajar melepaskan pelukannya, tak lupa ia mengecup puncak kepala Senja terlebih dahulu.
"Aku bersiap dulu ya sayang." ucap Fajar sambil melangkah menuju meja.
"Iya Kak."
Fajar menyisir rambutnya, dan kemudian mengoleskan lotion di kedua tangannya. Sedangkan Senja, ia menyiapkan kemeja, dan juga jas yang akan Fajar kenakan.
"Terima kasih sayang." ucap Fajar sambil meraih kemeja putih yang Senja sodorkan.
__ADS_1
Senja tersenyum, lalu ia membantu Fajar mengancingkan kemejanya.
Beberapa menit kemudian, Fajar sudah rapi dengan setelan formalnya. Ia menenteng tas kerjanya, dan bersiap untuk berangkat.
"Kamu tidak sarapan dulu Kak?" tanya Senja.
"Tidak usah sayang, aku belum lapar. Nanti saja setelah rapat aku akan sarapan di kantor." jawab Fajar.
"Begitu ya."
"Iya, tidak apa-apa kan sarapan sendiri?"
"Tidak apa-apa asalkan Kak Fajar sarapannya jangan sampai telat." jawab Senja.
"Tidak, ya sudah aku pergi ya sayang." ucap Fajar sambil mengecup kening Senja sekilas.
"Hati-hati Kak." jawab Senja sambil tersenyum.
Fajar melangkah keluar dari kamarnya, dan Senja menatapnya hingga ia menghilang di balik pintu.
Namun beberapa detik kemudian, Fajar kembali masuk ke dalam kamar. Senja menatapnya sambil mengernyit heran.
"Kenapa Kak?" tanya Senja.
"Ponselku ketinggalan sayang." jawab Fajar sambil melangkah menuju meja, dan meraih ponselnya yang ada di sana.
"Aku pergi ya sayang." ucap Fajar sambil tersenyum.
"Iya, hati-hati Kak." jawab Senja.
Setelah Fajar menghilang di balik pintu, Senja melangkah mendekati ranjang. Ia melipat selimut tebalnya, dan merapikan bantalnya yang berantakan.
Dan beberapa menit kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Senja menoleh, ternyata Fajar kembali lagi.
"Kenapa Kak?" tanya Senja.
"Kunci mobilku ketinggalan sayang." jawab Fajar.
"Kak jangan terburu-buru, ingat-ingat lagi apa yang perlu dibawa." kata Senja sambil mendekati Fajar yang sedang berdiri di dekat meja.
"Sudah tidak ada sayang, semua sudah kubawa." jawab Fajar sambil tersenyum.
"Yakin?"
"Iya, aku pergi ya sayang." ucap Fajar sambil mengecup kening Senja.
"Iya, hati-hati Kak." jawab Senja sambil tersenyum.
Kali ini Senja mengantarnya hingga ke ruang tamu. Ia berdiri di ambang pintu sampai Fajar menghilang di balik dinding.
Bersambung......
__ADS_1