
Di dalam sebuah rumah yang sederhana, tampak seorang lelaki, dan dua orang wanita sedang duduk lesu di atas kursi rotan. Mereka adalah Alvin, Nina, dan juga Senja. Mereka sedang berkumpul di ruang tamu, dengan pandangan mata yang tak lepas dari lembaran koran yang terbentang di atas meja.
Sejak tadi pagi mereka resah, dan gelisah setelah membaca berita hangat yang tertulis di dalam koran itu.
"Bagaimana Nja, sudah ada kabar dari Ken?" tanya Alvin memecah keheningan.
"Dia baru saja bicara dengan Papa Hery, beliau setuju bekerjasama dengan Ken." Senja menjawab dengan nada yang gemetaran.
Bagaimana tidak, hari pernikahannya kurang beberapa hari lagi, dan sekarang malah tersebar berita miring yang menyudutkan keluarga Antony, dan Mahardika. Dalam hal ini Senja merasa sangat bersalah, seolah ia yang menjadi akar permasalah, atas apa yang terjadi pada keluarganya Ken.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Kak?" tanya Senja dengan pelan, sejak tadi matanya sudah berkaca-kaca.
"Tenangkan pikiran kamu Nja, kita tunggu bagaimana Ken mencari jalan keluarnya," kata Alvin sambil menatap Senja.
"Benar Nja, ini menyangkut tentang bisnis, kita jangan gegabah. Sedikit saja kita salah langkah, akibatnya bisa fatal Nja," sahut Nina.
Senja tidak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya Allah berikanlah kemudahan untuk masalah ini, ijinkanlah hamba menikah dengan Ken, Ya Allah," ucap Senja dalam hatinya.
"Tadi Dika menelfonku," ucap Alvin dengan tiba-tiba, setelah hening untuk beberpaa detik lamanya.
Bibir Senja masih terkatup rapat, ia tak mengeluarkan sepatah katapun, namun ia menatap kakaknya lekat-lekat, seolah ia meminta penjelasan lewat tatapan matanya.
"Dia bertanya tentang Fajar, dia mempertanyakan benar tidaknya berita itu," ucap Alvin dengan pelan.
"Lalu Kak Alvin menjawab apa?" tanya Senja.
"Aku tidak memberikan jawaban apapun, aku suruh dia bertanya langsung pada Om Hery. Bukan hakku untuk menjawab semua itu Nja," jawab Alvin sambil menatap Senja.
"Iya, Kak Alvin benar, ini menyangkut nama baik keluarga." Senja menjawab sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Disaat mereka masih berbincang bersama, tiba-tiba mobil Ken datang, dan berhenti di halaman rumah. Senja bernafas lega saat menatap bibir Ken masih mengukir senyuman lebar. Semoga itu bukan senyuman palsu, semoga ada titik terang dari masalah ini, pikir Senja kala itu.
"Kak Alvin, Aya!" sapa Ken sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, dan kemudian duduk bergabung bersama mereka.
"Bagaimana Ken?" tanya Senja dengan cepat.
__ADS_1
"Om Hery setuju saat kuajak bekerjasama, nama baik kita tidak akan tercoreng lagi. Aku punya cara untuk menyerang balik," kata Ken sambil menatap Senja, dan Alvin secara bergantian.
"Bagaimana caranya?" tanya Alvin.
"Aya harus diperiksakan ke dokter, dan nanti hasilnya akan kita tunjukkan kepada publik. Kita juga akan mengatakan, bahwa Rashya adalah anaknya Fajar. Dengan Aya yang negatif mengidap HIV, publik akan ragu jika Fajar mengidapnya, karena penyakit itu pasti menular. Dan soal Rashya, saat hari pernikahan nanti, aku akan resmi menyematkan nama Antony padanya. Aku menikahimu, sudah tentu aku menerima anakmu, publik tidak akan curiga dengan hal itu," jawab Ken dengan panjang lebar.
"Apakah Mama Rani setuju dengan rencanamu ini, Ken?" tanya Senja. Sepertinya hal yang mustahil, jika Bu Rani mau mengakui Rashya sebagai cucu kandungnya, walaupun hanya pura-pura.
"Setuju atau tidak, tapi ini adalah satu-satunya cara Aya, tidak ada cara lain untuk membersihkan nama Fajar, selain dengan cara ini. Dan lagi, jika kita berhasil membuktikan bahwa berita itu bohong, orang yang ada dibalik semua ini pasti akan keluar dengan sendirinya," jawab Ken.
"Kau yakin ini akan berhasil Ken?" tanya Alvin.
"Aku pasti berhasil Kak, bahkan tidak sampai disini saja. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang berani mengusik keluargaku, aku akan membuatnya hidup dalam kesengsaraan." Ken berkata dengan sangat tegas. Tangannya tampak mengepal dengan erat, dan nafasnya terdengar memburu, terlihat jelas jika ia sedang dikuasai amarah.
"Aku hanya bisa membantumu dengan doa Ken," kata Alvin.
"Tidak apa-apa Kak, itu sudah lebih dari cukup. Kak Alvin percaya saja padaku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Aya," ucap Ken dengan tegas.
"Aku percaya padamu," kata Alvin sambil menepuk bahu Ken.
"Sekarang aku akan mengajak Aya ke rumah sakit Kak, aku akan segera meluruskan masalah ini.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil tasku dulu!" kata Senja sambil beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju ke kamarnya.
Tak berapa lama kemudian, Senja kembali ke ruang tamu, dengan tas selempang yang sudah menggantung di lengannya.
"Nin, aku titip Rashya ya, aku akan pergi sebentar," kata Senja sambil menatap Nina, kala itu Rashya sedang tidur.
"Iya Nja, kalian hati-hati ya."
"Iya, Kak kami pergi dulu ya."
"Iya, hati-hati!"
***
Keesokan harinya.
__ADS_1
Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00 pagi. Namun Ken, Senja, dan juga Pak Hery, mereka sudah berkumpul di kantor milik Antony. Mereka hendak mengklarifikasi berita miring, yang kemarin sempat beredar.
Mereka duduk di kursi masing-masing, sedangkan di hadapan mereka, sudah berkumpul beberapa wartawan yang sudah siap dengan segudang pertanyaannya.
Ken sengaja mengundang banyak wartawan, agar klarifikasinya segera beredar, dengan begitu lawannya akan tahu, jika dia tidak mudah untuk dijatuhkan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Ken mengawali pembicaraannya.
"Di sini saya akan mengklarifikasi tentang berita bohong yang sudah tersebar luas. Saya akan memberikan keterangan terkait berita yang kemarin, setelah itu saya memberikan kesempatan untuk bertanya, kalau saja ada yang merasa kurang paham," kata Ken dengan suara yang lantang.
"Di sini saya mewakili keluarga Antony, di sebelah kiri saya ada Cahaya Senja, calon istri saya, dan di sebelah kanan saya ada Pak Hery wakil dari keluarga Mahardika.
Saya tidak tahu siapa yang menuliskan berita itu, tapi yang jelas berita itu adalah bohong. Saya punya bukti yang akurat, ini adalah hasil pemeriksaan dokter atas diri Senja. Dia negatif menderita penyakit HIV," ucap Ken dengan panjang lebar, sambil menunjukkan selembaran kertas, yang merupakan hasil pemeriksaan dokter atas diri Senja.
"Berikut juga ada keterangan tentang HIV AIDS. Pasien yang menderita HIV AIDS stadium akhir, tidak mungkin bisa memiliki keturunan, tanpa menularkan penyakitnya. Pemeriksaan ini saya lakukan di rumah sakit terbesar di Kota Surabaya, apakah masih ada yang meragukan hasil ini?" sambung Ken dengan tegas.
Ken menatap beberapa wartawan yang berkumpul di hadapannya, mereka tampak saling berbisik. Entah apa yang sedang mereka diskusikan.
"Jika benar Fajar Mahardika menderita HIV AIDS, sudah tentu Cahaya Senja juga terjangkit virus itu. Tapi nyatanya tidak, dia negatif, dari sini sudah dapat disimpulkan, bahwa Fajar benar-benar meninggal karena jantung lemah, bukan HIV," ucap Ken.
"Dan untuk hubungan saya dengan Cahaya Senja. Perlu diketahui, kita berteman sejak SMA sampai kuliah, dan juga sampai bekerja. Dia sekarang sendiri, dan tidak memiliki pasangan, jadi apakah salah jika saya mencintainya? Tidak peduli bagaimana keadaan dia, karena saya tidak pernah memandang orang dari status sosialnya, saya menilai orang dari kepribadiannya," sambung Ken.
Para wartawan tampak saling berbincang, lalu tak lama kemudian, ada satu orang yang melangkah maju, dan mengajukan pertanyaan untuk mereka.
"Lalu bagaimana tanggapan dari Pak Mahardika, bukankah hubungan keluarga Mahardika, dan keluarga Antony itu cukup buruk. Apakah Anda ikhlas jika cucu Anda hidup bersama keluarga Antony?" tanya wartawan itu.
"Itu salah, hubungan keluarga kita cukup baik. Mungkin kita pernah terlibat dalam persaingan bisnis, tapi tidak lantas membuat hubungan kita memburuk. Hubungan kita baik, bahkan belakangan ini kita merencanakan kerjasama untuk pembangunan sebuah proyek," jawab Pak Hery sambil tersenyum.
"Tapi menurut berita yang beredar tidak seperti itu Pak."
"Berita tidak sepenuhnya benar, seperti halnya berita kemarin, jelas-jelas itu adalah kebohongan. Tapi saya tidak tahu kenapa bisa diterbitkan begitu saja, terkadang demi uang, seseorang melupakan akhlaknya. Demi pundi-pundi rupiah, mereka sengaja menyebarkan fitnah," jawab Pak Hery dengan tegas.
Setelah cukup lama menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wartawan, kini Ken mengakhiri klarifikasinya. Semuanya berjalan sesuai dengan rencananya, tidak ada satupun yang curiga dengan kebenarannya. Mereka percaya jika Fajar, dan Senja tidak menderita HIV. Mereka juga percaya jika dulu ia sempat dekat dengan Senja, dan kembali menjalin hubungan setelah Fajar meninggal, mereka tidak ada yang curiga jika Rashya adalah anaknya.
"Saya rasa cukup sampai disini saja, karena semuanya sudah saya terangkan dengan jelas. Satu hal yang perlu diingat, jika setelah ini masih ada yang mengatakan bahwa Cahay Senja adalah penderita HIV, saya tidak akan segan-segan untuk membawanya ke ranah hukum. Karena itu sama saja dengan pencemaran nama baik! Saya pasti akan menuntut pertanggung jawabannya!" kata Ken sambil beranjak dari duduknya, sorot matanya terlihat sangat tajam.
"Setelah ini dalangnya pasti akan keluar, dan aku akan membuatnya hidup segan mati tak mau!" batin Ken dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung...