Kesucian Cinta Yang Ternoda

Kesucian Cinta Yang Ternoda
Menyerah


__ADS_3

Waktu terus bergulir begitu saja. Tak terasa dua minggu sudah berlalu, sejak malam dimana Senja dinyatakan positif hamil. Hubungan mereka tetap berjalan seperti sedia kala. Fajar bisa menerima kesalahan Senja, dan kini lelaki itu malah lebih menyayanginya. Kondisi Fajar masih sama seperti malam itu. Ia sering lelah, dan bahkan wajahnya semakin pucat. Namun meskipun demikian, ia tetap beraktifitas seperti biasanya. Sejak seminggu yang lalu ia sudah kembali bekerja.


Begitu juga dengan pagi ini, Fajar sudah rapi dengan setelah formalnya. Ia duduk di sofa sambil memeriksa beberapa berkas yang perlu ia bawa. Sedangkan Senja, kala itu ia masih tidur-tiduran di atas ranjang.


"Kak!" panggil Senja sambil menatap suaminya lewat pantulan cermin.


"Iya sayang." jawab Fajar tanpa menoleh, ia masih fokus pada lembaran berkas yang sedang dipegangnya.


"Bukankah ini masih terlalu pagi, kenapa kau sudah rapi?" tanya Senja. Kala itu jarum jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


"Pagi ini ada rapat penting diluar kantor sayang, aku harus segera berangkat agar tidak terlambat." jawab Fajar sambil menoleh, dan menatap istrinya.


Senja tak menjawab, ia hanya menatap suaminya lekat-lekat. Dan tak lama kemudian Fajar beranjak dari duduknya. Ia melangkah mendekati istrinya yang terus menatapnya.


"Kenapa?" tanya Fajar sambil duduk di samping Senja.


"Apa kau baik-baik saja Kak?" tanya Senja dengan hati-hati.


Ia menilik wajah suaminya yang akhir-akhir terlihat semakin pucat.


"Apa yang kau bicarakan, tentu saja aku baik-baik saja." jawab Fajar sambil tertawa.


Senja bangkit dari tidurnya, ia kini duduk menghadap suaminya. Senja kembali menilik wajah lelaki itu. Guratan-guratan halus di bawah matanya kini terlihat semakin jelas. Pipinya lebih cekung, dan bibirnya tampak pucat. Senja mengangkat tangannya, dan mengusap rahang suaminya yang tak sekokoh dulu.


Senja menggigit bibirnya, rasa sesak perlahan menyeruak ke dalam hatinya. Ia tahu Fajar tidak baik-baik saja, namun lelaki itu selalu berusaha menutupi rasa sakit yang dialaminya.


"Kamu kenapa hemm?" tanya Fajar sambil menggenggam tangan Senja yang masih menempel di rahangnya.


"Cutilah untuk beberapa hari, dan gunakan waktumu untuk beristirahat. Aku tahu keadaanmu sedang tidak baik Kak, kau semakin pucat." ucap Senja dengan pelan.

__ADS_1


"Kamu ada-ada saja sayang, aku tidak apa-apa. Lihatlah! Aku baik-baik saja. Kamu jangan terlalu memikirkan keadaanku, ingat apa yang dokter bilang, kau tidak boleh berfikir yang berat-berat." kata Fajar sambil merapikan rambut Senja yang berantakan.


"Tapi Kak..."


"Sudah jangan terlalu khawatir, percaya saja padaku!" sahut Fajar memotong ucapan Senja.


Senja tidak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang sambil tetap menatap Fajar lekat-lekat.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya, jaga diri baik-baik di rumah. Cepat bersihkan dirimu, setelah itu pergilah sarapan, Bibi sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Hari ini aku usahakan untuk pulang lebih awal." kata Fajar sambil memeluk Senja dengan erat.


"Hati-hati ya Kak."


"Iya. Kau mau titip sesuatu?"


"Tidak." jawab Senja sambil menggeleng.


"Jika nanti tiba-tiba kau menginginkan sesuatu, telfon aku ya." ucap Fajar sambil melepaskan pelukannya.


"Ya sudah aku pergi sekarang ya sayang. Jaga dia dengan baik." kata Fajar sambil mangusap perut Senja dengan lembut. Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar kamar. Tak lupa ia juga menyambar tas kerjanya, yang sudah ia siapkan.


Senja menatap tubuh suaminya hingga ia menghilang di balik pintu. Perasaan resah, dan gelisah selalu berkecamuk di dalam hatinya. Sikap Fajar yang sekarang jauh lebih baik, juga wajah pucatnya. Ah semua itu selalu berputar-putar dalam benak Senja.


"Semoga kamu tidak membohongiku Kak, kuharap keadaanmu memang baik-baik saja." ucap Senja dengan pelan. Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju ke kamar mandi.


***


Ditengah keramaian kota, di antara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Fajar terus melajukan mobilnya menyusuri jalan raya yang cukup padat. Tujuannya adalah sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari kantor miliknya.


Fajar terus melajukan mobilnya, dan akhirnya ia berhenti di halaman apartemen yang selama ini belum pernah ia kunjungi.

__ADS_1


Fajar menunduk, menatap kedua kakinya yang dibungkus sepatu hitam. Kedua tangannya mencengkeram kemudi mobil dengan erat, sambil memejamkan matanya, fikirannya kembali menerawang jauh. Fajar kembali teringat dengan percakapannya bersama Arrion kemarin.


Flash back:


Fajar, dan Arrion sedang duduk berhadapan di ruangannya Arrion. Kala itu Fajar baru saja memeriksakan dirinya.


"Kau membutuhkan perawatan intensif, itu berguna untuk meningkatkan antibodimu. Daya tahan tubuhmu semakin lemah, ini bukanlah hal yang baik Fajar." kata Arrion.


"Sudahlah aku tidak butuh semua itu. Apapun usaha yang kulakukan, jika takdir sudah menggariskan kematianku, aku juga akan mati." jawab Fajar dengan tatapan mata yang datar.


"Apa yang kau bicarakan! Mati itu pasti, bukan hanya dirimu saja, tapi juga aku, dan juga semua makhluk yang bernyawa. Tapi sebagai manusia yang punya akal, dan fikiran, kita harus berusaha, dan juga berdoa. Kau tidak boleh seperti ini, kau jangan menyerah pada pemyakitmu Fajar!" teriak Arrion sambil beranjak dari duduknya.


Ia tahu sahabatnya itu sedang kecewa, ia benar-benar terpukul saat tahu istrinya hamil dengan orang lain. Kenyataan yang sangat mengguncang jiwanya, dan semua itu membuat penyakitnya semakin memburuk.


"Aku tidak menyerah, aku hanya bicara apa adanya. Kau sendiri yang bilang kalau aku sudah stadium akhir. Aku sudah tidak ada harapan untuk sembuh." ucap Fajar sambil menunduk.


"Aku tahu, tapi bukan berarti kau harus menyerah. Dengar Fajar! Kalaupun kamu tidak sembuh, tapi setidaknya berusahalah bertahan. Bangkitkan kemauan untuk tetap hidup dalam diri kamu. Masih banyak orang yang menyayangimu, yang selalu mengharapkan kehadiranmu. Ingat! Senja butuh kamu! Kamu masih punya kewajiban untuk membahagiakan dia!" kata Arrion dengan tegas.


"Kamu salah Arrion!" teriak Fajar sambil beranjak dari duduknya. Kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Dengan aku tetap bertahan hidup, itu malah menyiksa Senja, bukan membahagiakannya. Sekarang aku sadar, sampai kapanpun aku tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya, dan itu pasti menyiksa batinnya. Menceraikannya itu tidak mungkin, dia sudah tahu keadaanku, dengan sifatnya yang seperti itu, dia tidak akan mau meninggalkan aku. Jadi biarkan takdir saja yang memisahkan kita." sambung Fajar dengan mata yang berkaca-kaca.


Kehamilan Senja menyadarkan Fajar akan pentingnya nafkah batin dalam sebuah pernikahan. Dengan kondisinya yang sudah stadium akhir, Fajar tak lagi berusaha melawan penyakitnya. Ia sudah menyerah, dan berputus asa. Sekarang ia malah berpendapat, bahwa kehadirannya adalah beban dalam hidup Senja.


"Kau gila Fajar! Kau benar-benar gila! Buang jauh-jauh pemikiran bodoh itu! Kau harus semangat, kau tidak boleh menyerah! Senja sedang hamil, apa kau tega membiarkan dia melahirkan seorang diri." teriak Arrion dengan nafas yang memburu.


"Membiarkan dia melahirkan seorang diri itu memang menyakitkan. Tapi itu lebih baik, daripada terus menerus mengikatnya dalam sebuah ikatan yang menyiksa batinnya. Sejak menikah denganku dia selalu menderita. Menghadapi sikapku, menghapi sikap Mama itu sudah cukup membuatnya terluka." ucap Fajar sambil membalikkan badannya, dan membelakangi Arrion.


"Sekarang semuanya sudah sangat terlambat, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya bahagia adalah kematianku. Dengan itu dia bebas mengejar kebahagiaannya, dan tak akan ada lagi beban dalam dirinya." sambung Fajar sambil melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Flash back off


Bersambung.....


__ADS_2