
Fajar menghela nafas panjang. Samar-samar bibirnya mengulas sebuah senyuman. Entah apa yang ada dalam fikirannya, hanya dirinyalah yang tahu.
Fajar melepaskan sabuk pengamannya, dan kemudian ia turun dari mobil. Ia melangkah menuju apartemen nomor 12 yang berada di lantai dua.
Beberapa menit kemudian, Fajar sudah tiba di tempat tujuannya. Ia berdiri di ambang pintu, menata hatinya sebentar sebelum memencet bel yang ada di sana.
Dengan keyakinan, dan tekad bulatnya Fajar memencet bel itu. Dan tak lama kemudian pintu apartemen terbuka.
Tampak di sana seorang lelaki muda yang tampan, dan berambut gondrong. Sedang berdiri tegap, sambil memandang Fajar dengan tatapan heran.
"Silakan masuk!" kata Ken sambil berusaha tersenyum.
"Fajar, untuk apa dia datang kesini?" ucap Ken dalam hatinya.
"Terima kasih." jawab Fajar sambil melangkah masuk.
Ia terus berjalan, dan duduk di sofa ruang tamu.
Ken mengikutinya di belakang, lalu ia duduk di depan Fajar.
"Benarkah kamu Kenzo Antonio Putra?" tanya Fajar mengawali pembicaraannya.
"Iya, itu aku." jawab Ken.
"Ada apa ini, apa kira-kira Fajar tahu tentang malam itu." batin Ken dalam hatinya.
"Aku Fajar, suaminya Senja." ucap Fajar sambil menghela nafas panjang.
Cukup lama ia menjeda kalimatnya, butuh sedikit waktu untuk merangkai kata-kata yang tepat.
"Silakan!" kata Ken sambil menyodorkan rokok yang berada di atas meja.
"Aku tidak merokok." jawab Fajar.
"Oh maaf."
"Tidak apa-apa, sebenarnya aku datang kesini untuk membicarakan sedikit hal denganmu. Cukup penting!" kata Fajar dengan serius.
"Hal apa?"
"Kau mencintai Senja?" tanya Fajar.
Ken tersentak kaget saat mendengar pertanyaan Fajar. Lelaki itu menanyakan hal yang cukup sensitif dengan begitu tenangnya. Apa dia begitu pandai menyembunyikan emosi, atau memang dia tidak punya rasa cemburu?
"Apa yang kau tanyakan, Aya itu istrimu, mana mungkin aku mencintainya." jawab Ken berbohong.
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Tentu saja, dia hanya masa laluku. Hubungan kita sudah berakhir, sudah tidak ada perasaan apa-apa diantara kita." jawab Ken denagn cepat.
"Tapi dia hamil anakmu." ucap Fajar dengan santainya.
Perkataan Fajar bagaikan petir yang menyambar ditengah hari. Sangat mengagetkan! Keringat Ken perlahan mulai membasahi keningnya. Mungkinkah kesalahannya dimalam itu, berujung fatal seperti ini?
"Ap...apa maksudmu?" tanya Ken dengan gugup.
"Aku tahu semuanya, Senja sudah mengatakannya padaku. Dan sepertinya kau juga tahu apa yang terjadi dengan diriku." jawab Fajar sambil menatap Ken.
"Aku...aku..."
"Aku tidak butuh penjelasanmu, yang aku butuhkan hanya jawabanmu! Kau masih mencintai Senja?" tanya Fajar dengan lebih tegas.
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus menjawab apa. Jika menjawab tidak, apakah Fajar akan semudah itu mempercayainya. Dengan dia datang kesini, pasti dia sudah memiliki banyak informasi tentangnya.
Dan jika menjawab iya, ahh betapa berengseknya dia. Mengusik rumah tangganya seseorang yang mengidap penyakit. Saat ini Ken sudah tahu apa yang terjadi dengan Adara. Dan secara tidak langsung, ia juga bisa menebak apa penyakitnya Fajar.
"Jawab aku!" kata Fajar dengan suara yang lebih tinggi.
"Apa maksudmu menanyakan ini padaku? Maaf aku tahu aku memang salah, tapi malam itu hanyalah kesalahan, aku tidak punya niatan untuk merebut Aya darimu." ucap Ken.
"Kau tidak punya niatan untuk mengambil Senja dariku?"
"Tidak!"
"Hah!" teriak Ken dengan kaget.
Apa maksudnya ini, apa penyakitnya itu yang telah membuat otaknya oleng. Apakah sekarang dia sedikit gila. Menyerahkan istrinya pada lelaki lain yang pernah menjadi kekasihnya. Oh tidak, kenyataan macam apa ini.
"Aku tidak bisa menemaninya dalam waktu yang lama. Dan aku akan bahagia, jika ada lelaki yang tulus mencintainya, dan bisa membahagiakan dia." kata Fajar, ia tak menghiraukan kekagetannya Ken.
"Apa maksudmu? Aya itu mencintaimu!" ucap Ken. Kini ia mulai sadar, jika lelaki yang duduk di hadapannya ini sedang berputus asa.
"Aku tahu." jawab Fajar dengan santainya.
"Lalu kenapa kau ingin menyerahkannya padaku? Kau fikir dia mau. Kau dengar ya, yang dia cintai itu kamu, dia akan bahagia jika menjadi istrimu." kata Ken.
"Kau tidak mengerti Ken, pernikahan ini tidak membuatnya bahagia, tapi malah membuatnya terluka. Aku tidak bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, dan aku tahu itu cukup menyiksa batinnya." ucap Fajar dengan pelan.
"Kamu salah, kamu bisa melakukannya. Bahkan memiliki anak pun kamu bisa, asal kamu mau mengikuti arahan dokter. Selama kamu..."
"Cukup! Aku yang lebih tahu tentang diriku. Simpan teori kamu itu, karena tidak semua ODHA bisa melakukannya." sahut Fajar sambil beranjak dari duduknya.
"Aku tahu kamu masih mencintainya, dan untuk itu aku datang kesini. Berjanjilah padaku untuk selalu menjaganya, disaat nanti aku sudah tidak bisa menemaninya." sambung Fajar.
"Kamu jangan gila! Dia tidak mencintaiku, yang dia cintai itu kamu! Jangan pernah menyerah pada penyakitmu, Aya sangat membutuhkanmu!" kata Ken sambil ikut beranjak.
__ADS_1
Fajar tak menjawab perkataan Ken, ia hanya menanggapinya dengan senyuman hambar.
"Kau lihat ini! Dia sama sekali tidak mencintaiku, dia sangat mencintaimu." ucap Ken sambil menyodorkan ponselnya, dan menunjukkan pesan singkat yang Senja kirimkan padanya.
Fajar menerima ponsel itu, dan membaca pesan yang Ken tunjukkan. Fajar tersenyum getir, karena kebodohannya dimasa lalu, sekarang takdir cintanya begitu menyakitkan.
"Aku yang lebih mengerti bagaimana perasaannya. Ken berjanjilah padaku." kata Fajar sambil menepuk bahu Ken.
"Aku...aku..."
"Jika kau tidak bersedia, aku akan minta tolong pada orang lain untuk menjaganya." sahut Fajar.
"Jangan! Aku..."
"Kalau begitu berjanjilah!" kata Fajar.
"Baiklah! Baik, aku berjanji akan selalu menjaganya." ucap Ken.
"Terima kasih." jawab Fajar sambil melangkah pergi.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia melangkah keluar dari apartemen.
Ken memandang kepergian Fajar dengan tatapan nanar, apa yang baru saja terjadi membuat hatinya bergejolak. Dapat ia lihat dengan jelas bagaimana pucatnya wajah Fajar.
"Kenapa Fajar sekarang menyerah, separah apa penyakitnya?" ucap Ken seorang diri.
"Bodohnya aku, seharusnya malam itu aku bisa menahan hasratku. Fajar pasti sangat terpukul setelah tahu kenyataan ini. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bisa-bisanya aku mengusik rumah tangga mereka." kata Ken sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Aya kenapa kisah cintamu serumit ini." ucap Ken sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sementara itu Fajar terus berjalan menuju halaman apartemen. Ia masuk ke dalam mobilnya, dan duduk di depan kemudi.
Fajar menatap tangannya yang sedang mencengkeram kemudi mobil. Senyuman tipis tampak terukir di bibirnya.
"Hanya aku yang mengerti tentang Senja, dan tentang pernikahan ini. Meskipun menurut semua orang menyerah adalah tindakan pengecut, namun bagiku inilah yang terbaik." ucap Fajar dengan fikiran yang menerawang jauh.
Fajar mengingat umpatan Arrion yang mengatakannya gila, saat tahu ia mulai menyerah. Dan baru saja Ken juga mengatakan hal yang sama. Tapi mereka hanya melihat dari satu sisi, itu sebabnya mereka bersikeras menyuruh Fajar untuk tetap bertahan. Mereka tidak pernah mengerti apa yang ia, dan Senja rasakan.
"Kalian tahu darimana datangnya kecewa, itu dari seseorang yang kita anggap istimewa. Dan itulah yang aku rasakan saat ini. Aku tahu diriku ini hina, dan berlumur dosa. Tapi aku juga insan biasa, yang merasa sakit saat cintaku dikhianati. Aku tahu semua ini bukan murni kesalahannya Senja, karena aku juga bersalah. Aku salah karena tidak bisa melakukannya untuk Senja." ucap Fajar.
Fajar menatap bungkusan obat yang berada di dalam kantong palstik, yang ia letakkan di dalam mobil. Bungkusan obat yang masih utuh, padahal seharusnya obat itu sudah ia minum sejak dua minggu yang lalu.
"Percuma aku minum obat, karena sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Apa gunanya aku berusaha bertahan, kehadiranku hanya menjadi luka, dan beban. Jadi lebih baik memang menyerah, biarkanlah penyakit ini mengantarku pada kematian." kata Fajar sambil menitikkan air matanya.
"Aku harap kepergianku nanti, akan menjadi awal kebahagiaanmu Senja!" bisik Fajar dengan sangat pelan.
Bersambung....
__ADS_1