
"Maafkan aku Ken, tapi ini bukan hanya tentang perasaan. Penyesalan, dan rasa bersalahku jua yang membuatku tak bisa membuka hati untukmu. Aku pernah menyakitinya, tapi seperti katamu, semuanya sudah terlanjur. Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah menjaga cintanya, dan menjadikan dia sebagai satu-satunya suami dalam hidupku." ucap Senja sambil beranjak dari duduknya.
Ken ikut beranjak, ia menatap Senja yang berdiri membelakanginya. Ken mengusap wajahnya, dan menyibakkan rambutnya yang berjatuhan menutupi matanya.
"Tapi ada satu hal yang harus kau tahu Aya." ucap Ken sambil melangkah mendekati Senja.
"Setelah tahu kau hamil, Fajar datang menemuiku. Dia menyuruhku untuk menjagamu, Fajar mempercayakan aku untuk menggantikan posisinya di samping kamu." sambung Ken sambil berdiri tepat di sebelah Senja.
"Apa yang kau katakan Ken?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya Aya, saat itu Fajar memang datang menemuiku. Dia menyuruhku untuk menjagamu, dia berkata begitu bukan hanya karena kau hamil anakku, tapi karena dia juga tahu kalau aku sangat mencintai kamu." ucap Ken menjelaskan.
Senja terdiam, ia mencerna kalimat yang baru saja Ken lontarkan.
"Sepertinya kau salah paham Kak, mungkin kau menganggap aku, dan Ken masih saling mencintai. Itu sebabnya kau menyerah, dan menyuruhnya untuk menjagaku. Tapi sebenarnya tidak seperti itu Kak, malam itu aku hanya emosi, aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sikap kamu, aku merasa lelah dengan pernikahan kita yang tak jelas kemana ujungnya." ucap Senja dalam hatinya.
"Aya!" panggil Ken.
"Aku tidak bisa Ken." ucap Senja sambil menatap Ken.
"Kenapa, bahkan setelah aku menjelaskan apa yang Fajar katakan, kamu masih tidak mau memberikan kesempatan Aya?" tanya Ken dengan nada yang sedikit tinggi.
"Maaf Ken, aku tetap pada keputusanku. Aku akan bertahan pada kesendirian ini." jawab Senja.
"Kau jangan salah dalam mengambil kesimpulan Aya! Kau pikir Fajar akan bahagia melihat kamu seperti ini. Bukan begini yang dia inginkan, dia ingin kamu bahagia saat dia tidak bisa lagi membahagiakan kamu. Menjaga cintanya tidak harus seperti ini Aya, cukup ingat dia, dan simpan namanya dalam hati kamu. Tapi jangan menghukum dirimu dalam kesendirian. Fajar menginginkan kamu untuk hidup seperti yang lainnya, memiliki pasangan, dan memiliki keluarga." kata Ken dengan panjang lebar.
"Itu keinginan Kak Fajar, tapi keinginanku tidak seperti itu Ken. Aku bahagia dengan kesendirianku, aku tidak merasa keberatan dengan hal itu." ucap Senja masih kekeh pada keputusannya.
Senja menghela nafas panjang, menolak Ken jauh sulit, daripada menolak Dika. Lelaki ini punya segudang jawaban dari setiap kalimat yang ia lontarkan.
__ADS_1
"Kau masih ingin sendiri? Kau masih tidak memberikan aku kesempatan?" tanya Ken dengan tatapan tajamnya.
"Maaf Ken." lagi-lagi hanya kata maaf yang Senja ucapkan. Entah untuk yang keberapa kalinya ia mengatakan hal itu.
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu Aya. Lima tahun lebih kita menjalin hubungan, kau anggap apa itu Aya!" teriak Ken dengan nafas yang memburu.
Ken melangkahkan kakinya, dan berdiri tepat di depan Senja.
Senja melangkah mundur, namun baru beberapa langkah saja tubuhnya sudah merapat pada pohon cemara yang tumbuh di taman itu. Senja tak bisa lagi bergerak, ia tak punya pilihan lain, selain menatap raut kekecewaan di wajah Ken, yang berada tepat di hadapannya.
"Kau adalah wanita pertama yang membuatku jatuh cinta, dan kau juga satu-satunya wanita yang pernah menjalin hubungan denganku. Dulu kau bilang aku juga lelaki pertamamu, tapi kenapa aku sama sekali tidak ada kesannya dalam hatimu Aya." kata Ken sambil menatap Senja dengan tajam.
"Lima tahun lebih kita menjalin hubungan, tapi dengan mudahnya kau meninggalkan aku. Kau bilang aku selingkuh, padahal sekalipun aku tidak pernah melakukan hal itu. Tapi kau tidak pernah mendengarkan aku, kau pergi dengan prasangka-prasangka kamu yang sama sekali tidak ada benarnya!" sambung Ken seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Enam bulan aku berusaha menjelaskan semuanya, tapi kau tidak pernah mengerti. Kau malah menjalin hubungan dengan Fajar, tanpa pernah memikirkan perasaanku. Bahkan aku harus menelan kekecewaan saat kau memutuskan untuk menikah dengannya. Tapi selama itu aku masih mencintaimu Aya, meskipun aku tahu kau sudah menikah dengan orang lain, hatiku ini masih tidak bisa melupakan kamu. Aku sama sekali tidak bisa melihat wanita lain, selain kamu!" kata Ken dengan nada yang lebih tinggi.
Ia menatap Senja yang masih diam tak bersuara.
Kurang apa aku Aya! Kenapa kau memperlakukan Fajar sebaik itu, sedangkan kamu tidak bisa melakukannya padaku!"
"Apa Fajar itu lelaki sempurna? Tidak Aya. Begitu lama kamu terluka karena sikap dia yang tidak jujur. Lalu kamu melakukan kesalahan, dan setelah kamu tahu kalau dia sakit, kamu menyesalinya. Lalu kenapa kamu tidak menyesal, saat tahu kalau aku tidak bersalah Aya!
Kenapa hanya kesalahanku yang kau lihat, kenapa kesalahannya Fajar tidak. Kenapa setega itu kau memperlakukan aku Aya! Apa cintaku selama ini hanya kau anggap mainan, hah!" teriak Ken sambil mengepalkan tangannya.
Ia benar-benar frustasi menghadapi sikap Senja yang sangat keras kepala.
"Aku tidak mengerti Aya. Kau selalu mengatakan, bahwa kau telah menodai cintanya Fajar. Tapi asal kau tahu, kau juga sudah menodai cinta tulusku Aya. Kau meninggalkan aku begitu saja, sedangkan disisi lain aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku tahu, aku memang belum menikahimu, tapi perasaan cinta ini aku yakin jauh lebih besar, daripada cintanya Fajar. Tidakkah kau mengerti itu Aya?" ucap Ken dengan pelan. Bintik-bintik keringat tampak membasahi keningnya. Matanya yang sayu, menatap Senja tanpa kedip.
Senja menunduk, ia tak tahu lagi harus menjawab apa. Ken benar-benar pintar, dia berhasil membuat membuat hatinya dalam dilema.
__ADS_1
"Aya!" panggil Ken sambil menyelipkan rambut Senja yang berantakan di wajahnya.
Senja belum menjawab, hanya matanya yang kini mulai berkaca-kaca. Ia tahu sikapnya pasti sangat melukai Ken, tapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Saat ini perasaannya hanya untuk Fajar, dan ia belum siap mencintai yang lain. Baru lima bulan Fajar pergi meninggalkannya, ia masih butuh waktu untuk menerima kenyataan itu.
"Pikirkan juga anak kita Aya, dia butuh sosok serorang ayah." kata Ken dengan pelan.
"Aya!" panggil Ken, karena Senja masih tetap terdiam.
"Kak Fajar baru lima bulan pergi, aku butuh waktu." ucap Senja dengan pelan.
"Kau mau memberiku kesempatan?" tanya Ken sambil tersenyum.
"Iya, tapi jangan terlalu berharap, karena aku tidak tahu kapan aku bisa membuka hatiku untukmu. Aku tidak memaksamu untuk terus menungguku. Jika nanti kau bisa jatuh cinta dengan yang lain, aku tidak apa-apa, karena kau juga berhak bahagia." jawab Senja sambil menatap Ken.
"Aku tidak akan jatuh cinta lagi Aya. Aku akan menunggumu." kata Ken.
"Baiklah, jika seperti itu yang kau inginkan. Aku akan merawat anak kita dengan baik, aku tidak akan menghadirkan sosok ayah selain kamu. Jika nanti aku bisa membuka hatiku, dan memtuskan untuk menikah. Pasti lelaki yang kupilih adalah kamu." ucap Senja.
"Aku pegang kata-kata kamu Aya. Aku harap kamu tidak pernah mengingkarinya." kata Ken.
"Tidak, tapi jika nanti aku tidak bisa membuka hatiku, kau harus mengerti Ken." ucap Senja.
"Aku mengerti Aya, aku ikhlas jika kau memang memilih sendiri. Tapi aku tidak ikhlas jika kau bersama dengan yang lain." jawab Ken sambil tersenyum.
"Aku akan berusaha meluluhkan hatimu. Aku yakin aku bisa, suatu saat nanti kau pasti mencintaiku seperti dahulu. Aku sangat menantikan hari itu Aya." ucap Ken dalam hatinya.
"Awalnya aku ingin menyuruhnya untuk berhenti mencintaiku. Tapi akhirnya aku malah memberikan kesempatan untuknya. Entah yang kulakukan ini salah, atau tidak. Aku tidak tahu harus memilih yang mana, menjaga cintanya Kak Fajar, atau menjaga perasaan anakku. Aku percayakan semuanya pada takdir, aku biarkan semuanya mengalir seperti air. Biarkan waktu yang menjawab, seperti apa jalan hidupku nanti." ucap Senja dalam hatinya.
Mereka berdua diam terpaku, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada yang bersuara, dan hanya gemirisik angin yang terdengar samar-samar.
__ADS_1
Bagian 1 Selesai (lanjut bagian 2)