Kun Fayakun

Kun Fayakun
Menuju Acara Akad


__ADS_3

πŸ“ŒOjo lali like sebelum komen:)


Mentari pagi tampak sudah muncul, bersiap menemani setiap aktifitas anak manusia dimuka bumi.


Hari ini adalah hari minggu jadi hari ini Zeva tidak kekampus dan Papa pun tidak kekantor. Tampak semua telah kumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang telah dibuat para Art.


Semua menikmati sarapan tanpa berbicara. Papa hanya diam saat melihat Ahkam juga sarapan di meja makan. Ia mengira kalau Ahkam tak menginap disini.


Setelah selesai sarapan semua meninggalkan meja makan dan kembali melakukan aktifitas masing-masing.


Di halaman belakang rumah tampak Ahkam sedang berbicara dengan seseorang di telpon.


πŸ“ž "Bun besok adalah hari pernikahan Zeva, dia tetap menikah Bun sebab Papa tidak mau dibantah" Ahkam menceritakan semuanya kepada Bunda yang sedang berada di Singapura melalui telepon.


πŸ“ž "kasihan putri kecilku, Ahkam Bunda akan terbang ke Indonesia sekarang juga. Bunda akan menghadiri acara perikahan adikmu" ucap Bunda dari seberang telpon.


πŸ“ž"Baiklah Bun Ahkam menunggu kedatangan Bunda" ucap Ahkam.


Sangat lama mereka bicara di telpon dan kini telpon pun terputus. Ahkam kembali masuk ke dalam rumah.


**


_Kediaman Hijaya_


"Daniel besok adalah hari pernikahanmu, ya meskipun tidak ada resepsi dan hanya akad nikah saja, kita tetap harus mempersiapkan segalanya" ucap Papa Daniel.


"Pa, urus saja semuanya terserah sama Mama dan Papa" ucap Daniel dingin.


Tidak ada raut bahagia di wajah Daniel, bahkan dia tampak seperti frustasi.


"Baiklah Daniel, Mama sudah mempersiapkan pakaianmu untuk acara akad besok dan semua telah diatur. Sesuai dengan kemauanmu acara ini hanya di hadiri oleh keluarga kita dan keluarga Zeva" ucap Mama Daniel.


"Terserah Ma". Ucap Daniel singkat.


"Anak ini, benar-benar keras kepala" gumam Papa Daniel.


**


Akad pernikahan akan diadakan esok hari di kediaman keluarga Mahendra dan hanya dihadiri oleh kuarga kedua belah pihak, tanpa ada tamu lain dari luar.


"Ze, ini Mama dan Mama Daniel sudah siapkan semuanya untuk acara akad kalian esok hari" ucap Mama Veronika sambil membawa baju pengantin dan semua barang -barang untuk acara akad esok hari.


"Terima kasih Ma" dengan tersenyum paksa.


Mama Veronika pun meletakan semua barang-barang yang ia bawa di kamar Zeva. Setelah itu ia keluar dari kamar Zeva.


"*Ya Allah apakah ini yang terbaik? Rasanya aku tidak bahagia namun aku juga tak punya alasan untuk bersedih. Mungkinkah kelak di pernikahan ini akan hadir rasa cinta diantara aku dan juga suami ku kelak? Aku bahkan tak mengenal siapa dia sebenarnya, aku hanya tau namanya dan juga keluarganya saja"


"Bisakah dia mencintaiku kelak? Dan apakah dia adalah yang terbaik untuku? Namun aku berharap kepadaMu ya Rabb semoga dia benar-benar imam yang sudah kau takdirkan untukku*" batin Zeva sambil duduk di depan meja riasnya.


**

__ADS_1


Sementara di Singapura tampak Bunda Zeva dan suaminya sedang berada di Bandara. Hari ini mereka berdua akan terbang ke Indonesia demi Zeva.


Sedangkan Hafiza dia tidak ikut dan dia berada dirumah bersama Mbak Nur istri Ahkam.


"Bun, kamu yang tenang oke. Kita akan ke Indonesia menemui putrimu dan kita juga akan hadir diacara akad nikahnya" ucap Tn Malik menenangkan istrinya yang tampak sedih.


Ada rasa sedih dan kecewa di hati Bunda Zeva, bagaimana tidak putrinya akan menikah namun sang mantan suami tidak pernah menanyakan pendapatnya.


**


Di Indonesia tampak Ahkam yang sudah siap-siap ingin menyambut kedatangan Bundanya dari Singapura.


"Dek, Kakak keluar dulu ya" ucap Ahkam kepada Zeva.


"Mau kemana Kak? Ze ikut ya" ucap Zeva.


"Kamu besok akan menikah jadi kamu jangan keluar rumah lagi ya. Lagian kakak keluar cuma sebentar" ucap Ahkam sambil memegang kedua bahu Zeva.


"Kak, Zeva takut apakah dia yang terbaik untuk Zeva hiks hiks" terdengar isakan dari bibir Zeva.


Dengan cepat Ahkam langsung memeluk adiknya dan menenangkannya.


"Jangan bersedih, maaf kan Kakak yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kita serahkan kepada Allah, semoga ia yang terbaik untukmu" terdapat kesedihan dalam nada bicara Ahkam.


"Sudah jangan menangis, Kakak mau keluar sebentar tapi kalau kau tetap saja menagis Kakak tidak jadi keluar" ucap Ahkam.


"Yasudah pergilah, Ze tidak sedih lagi" ucap Zeva melepas pelukannya dan mengusap sisa air matanya.


"Yasudah Kakak pergi dulu nanti aku akan kembali jadi tenang saja, Assalammualaikum" ucap Ahkam sambil mencium puncak kepala Zeva.


"waalaikumussalam Kak" ucap Zeva dan tersenyum.


Ahkam pun melangkah keluar dari kamar Zeva menuruni satu persatu anak tangga.


Saat ingin membuka pintu Ahkam menghentikan langkahnya saat melihat sang nenek tengah berdiri di depannya.


"Mau kemana cucuku yang tampan ini?" ucap Nenek.


"Nek, Bunda sebentar lagi tiba di Indonesia jadi Ahkam ingin menjemputnya di Bandara" ucap ahkam.


"Kenapa kau tak mengatakannya dari awal, nenekmu ini juga ingin menyambut ibumu, sudah sangat lama aku tak pernah berjumpa dengannya" keluh Ny Karina sambil mencubit lengan Ahkam.


"Maaf nek, ini juga mendadak"


"Yasudah aku akan ikut bersamamu, tunggu sebentar disini" ucap Nenek dan ia melangah masuk kekamarnya.


Mau tidak mau Ahkam pun menurut dan ia menunggu neneknya. Setelah beberapa menit Ny Karina keluar dari kamarnya dengan membawa tas miliknya.


"Ayo, kita ke bandara aku sudah siap" ucap Nenek membuyarkan lamunan Ahkam.


Tanpa di perintahkan dua kali Ahkam pun melangkah bersama sang nenek keluar rumah menuju garasi.

__ADS_1


"Ahkam gunakan mobil nenek saja, kamu yang menyetir tidak usah pakai supir" ucap Ny Karina sambil menyerahkan kunci mobilnya.


"Baik lah nek" sambil mengambil kunci mobil dan membukakan pintu mobil untuk sang nenek.


Kini mobil honda jazz berwarna silfer telah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota yang tidak terlalu ramai sebab hari minggu.


Didalam mobil Ahkam dan neneknya hanya diam sepanjang perjalanan tanpa berbicara apapun.


Hingga mobil yang mereka kendarai telah sampai di area parkir bandara.


Ahkam dan Ny Karina turun dari mobil dan langsung menuju keruang tunggu bandara.


Setelah beberapa menit menunggu tampaklah Ny Laura Bundanya Ahkam bersama Tn Malik suaminya telah keluar dari pesawat yang mereka tumpangi.


"Bunda" ucap Ahkam sambil menghampiri Bundanya dan menyalim tangan Bunda dan Tn Malik yang sekarang adalah Papanya.


Bunda memeluk Ahkam dan menagis, Ahkam yang mengerti kenapa Bundanya menangis langsung membalas pelukan Bundanya dan menenangkan tangisannya.


"Sudahlah Bun, Bunda harus kuat ini juga demi Zeva agar dia tidak ikut sedih saat melihat Bunda bersedih" sambil mengusap-usap punggung sang Bunda.


Bunda melepaskan pelukannya dam melihat seorang wanita paruh baya dengan balutan hijab dan baju gamis yang terlihat modis.


"Mama" ucap Bunda Ahkam dan menghampiri Ny Karina.


"Laura, sudah 15tahun lebih kita tidak pernah bertemu. Kau sudah banyak berubah" ucap Nya Karina dan memeluk Bunda Ahkam mantan menantunya dulu.


"Ma kenali ini suami Laura, Mas Malik" ucap Bunda memperkenalkan Papa Malik.


Dengan sopan dan ramah Papa Malik menyalim tangan Ny Karina.


"Kau sangat beruntung mendapatkan nya, kalian terlihat sangat harmonis" ucap Ny Karina.


"Alhamdulillah, jika begitu Ma"


"Yasudah mari kita pulang, aku yakin Zeva juga merindukanmu dia pasti sangat bahagia bisa bertemu dengan Ibunya lagi" ucap Nya Karina dan mereka berjalan bersama.


Ahkam membantu membawa koper yang di bawah oleh Bunda dan Papa Malik.


Setelah masuk kedalam mobil kini mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang.


Di mobil tampak Ny Karina dan Bunda berbicara panjang lebar mengenai yang terjadi kepada Zeva.


Sedangkan Papa Malik dan ahkam hanya menjadi pendengar saja.


.


🍁


🍁


πŸ“ŒTerima kasih sudah mampir, like,komen, rate5, love dan vote

__ADS_1


__ADS_2