
"Assalammualaikummm... Yuhu Umi, Abi, Aldo pulang" teriaknya dipagi buta sepanjang perjalanan pintu masuk hingga ke ruang makan.
"Mas jangan teriak-tetiak masih pagi ini" Keluh Lena. Ia memukul ringan lengan suaminya. Sedangkan yang di apa malah menyengir tanpa dosa.
"Umi, Abi" ucap Aldo saat ia telah menemui orang yang di cari nya.
"Waalaikumussalam, kenapa teriak-tetiak di pagi hari Do?" keluh Abi.
Untung saja Abi tidak tersedak kopi panas miliknya. Akibat suara Aldo yang berteriak menganggu ketenangan di pagi hari.
Kedua pasutri ini menyalim Abi dan Umi dan ikut gabung di meja makan "Katanya dua hari lagi baru kembali, kamu bohongin kita semua Do?" tuding Umi.
"Umi sayang, bukannya bohong cuman Aldo udah kangen ama masakan Umi" ucapnya membela diri.
Bagaimana tidak sudah tiga hari berlalu, semenjak mereka menikah. Hari-hari terlalui tanpa terasa.
Sementara mereka sibuk berbincang, Mang Umar tampak menurunkan koper yang di bawa Aldo dari mobilnya "Den ini kopernya, Aden naiki sendiri atau Mamang yang taru langsung kekamar?" tanya Mang Umar.
"Biar Aldo yang bawa keatas, Mamang duduk saja. Atau mungkin ikut sarapan sama Umi" tawar Aldo.
"Mamang susah sarapan Den. Kalau gitu mamang pamit ke depan ya, ada kerjaan soalnya"
"Iya, terima kasih ya mang" ucap Aldo. Ia tersenyum kala mang Umar mengangguk sebagai jawaban.
Aldo berlalu ke lantai atas menuju kamarnya. Kamar yang tiga hari belakangan ia tinggalkan. Ia memboyong dua koper yang berisi barang-barang istrinya. Sesuai rencana mereka akan tinggal di rumah Umi. Satu atap tanpa terpisah.
Ia melewati kamar Kahfi yang berada di sebelah kamarnya. Pintu kamar masih tertutup, dan di bawah dia juga tak melihat adik serta adik iparnya. Apa mungkin mereka belum bangun? namun ini sudah pukul 6.30 pagi jadi gak mungkin kan belum bangun.
Setelah meletakkan koper di kamarnya Aldo berlalu turun kembali ke lantai bawah. Pemandangan pagi yang hangat Umi dan Abi tersenyum ringan saat bercengkrama bersama Lena menantunya.
"Umi, Kahfi dimana kok gak keliatan? Dan Ze juga?"
"Masih dikamar kali Do. Tadi selesai sholat subuh balik lagi, Zeva kakinya bengkak mungkin lagi istirahat abis Umi urut sebentar tadi"
Benar adanya. Tadi sehabis sholat subuh berjamaah, Zeva kembali kekamarnya. Kakinya membengkak mungkin efek hamil. Umi mengurutnya sebentar agar meredakan pembengkakannya, dan mungkin saat ini lagi istirahat.
__ADS_1
"Kak Aldo udah balik?" tanya pemuda gagah yang baru saja nongol.
Aldo menoleh. Di dapatinya seorang adik yang sudah rapi dengan balutan kemeja biru dengan lengan yang di gulung hingga siku "Baru sampai Fi"
"Apa kabar Mbak? manten baru kok udah keluyuran" senyum Kahfi menyapa Lena yang sudah sah menjadi kakak iparnya.
"Alhamdulillah baik dok" senyum Lena.
"Panggil Kahfi Mbak. Jangan dokter lagi kan sekarang Mbak jadi kakak ipar saya"
"Heheh belum biasa Fi" tukas Aldo. Bukan Lena yang menjawab melainkan Aldo. Dasar aneh! siapa yang di tanya siapa yang jawab.
Kahfi menggeser kursi agar ia bisa duduk dan ikut sarapan pagi bersama. Bi Nani masih sibuk menyirami tanaman di halaman belakang. Mang Umar membereskan pekerjaannya. Ia memotongi tanaman menjalar yang mulai menyemak dan memenuhi dinding.
"Fi gimana Zeva sekarang, kakinya masih sakit?" tanya Umi.
Pagi ini Umi yang melayani sarapan. Ia menuangkan air di setiap gelas. Dan menyendokkan nasi goreng yang masih hangat.
"Udah mendingan Mi. Dia sedang tidur, mungkin masih ngantuk tadi malam gak bisa tidur kakinya sakit katanya"
"Iya Mi, jam sepuluh nanti"
Semuanya menikmati sarapan pagi. Sarapan dengan anggota keluarga yang baru. Menantu rumah sudah komplit. Kebahagiaan keluarga bertambah.
..
Jam menunjukkan pukul dua siang. Rumah Umi tampak sepi mungkin anggota keluarganya tengah istirahat atau lainnya.
Dikamar Zeva tampak ia tengah berbincang bersama Lena. Tadi setelah merapikan semua barang-barangnya Lena memilih menemui Zeva. Hitung-hitung mengusir kebosanan.
"Masih sakit kaki kamu Ze? tadi pagi kata Umi kaki kamu membengkak?" tanya Lena.
"Udah mendingan Le, eh maksudnya Mbak heheh" tawanya. Ia belum terbiasa memanggil Lena dengan sebutan Mbak.
"Panghil Le aja Ze. Jangan terlalu canggung begini. Baby gimana kabarnya?" Lena mengelus perut buncit Zeva.
__ADS_1
"Gimana kalau Ze panggil Cici, kan artinya kakak. Ze gak biasa kalau panggi Mbak, mungkin udah kebiasaan panggil nama"
"Terserah kamu Ze. Senyaman nya saja" Lena tersenyum.
"Oke Cici Lena" Ucapan Zeva membuat Lenaa tersenyum.
Panggilan baru yang begitu bagus. Sangat ringan untuk dicerna dan di dengar. Membuat nyaman tanpa rasa canggung.
"Oya jenis kelamin bayinya kaloan sidah tau Ze?"
"Ze sepakat sama Mas Kahfi untuk tidak mengetahui jenis kelamin diawal. Biar kejutan"
Setiap USG. Kahfi dan Zeva sepakat untuk tidak mempermasalahkan jenis kelamin bayinya. Meski terkadang rasa penasaran hadir tapi mereka gubris agar tak memikirkan hal itu. Lebih tepatnya sedikasih Allah saja.
Toh perempuan atau laki-laki kan tidak masalah. Semua anugrah dari Allah yang patut di syukuri. Mengetahui bahawa dirinya hamil saja sudah bahagia. Pasalnya ia takut jika nantinya dia tidak bisa hamil. Namun nyatanya tidak.
" Oh bener juga kalau belum di ketahui kan bisa jadi kejutan nanti pas berojol" senyum Lena. Jika mengingat kata berojol kembali ke kisah Klara yang membuat security RS kalang kabut di buatnya "Baby Ahzam tidak ada kemari Ze?" sambung Lena.
"Semenjak pernikahan kemarin Ahzam belum ada kemari Ci" jawab Lena.
"Eee kalau nanti anak kamu laki-laki pasti komplit, jadinya aku punya tiga ponakan boy. Gak kebayang Ahzam yang semakin besar, Naufal juga semakin lincah dan nanti bayi kamu. Membayangkan nanti kalau mereka besar pasti akan menjadi pemuda tampan" ujar Lena.
Tatapannya jauh kedepan menerawang apa yang sedang ada di hayalannya. Tiga pemuda gagah penerus papa masing-masing. Ketampanan hakiki yang mewarisi sempurna.
"Ditambah lagi nanti anak kalian, pasti jadi tambah ramai Ci" ujar Zeva "Kalian gak nunda buat punya anak kan Ci?"
"Tidak Ze. Mas Aldo juga katanya pengen punya anak cepat dan aku juga gak keberatan. Huh... pasti nanti jadi sangat ramai rumah Umi Ze" ucap Lena antusias.
"Ze gak nyangka ya Umi sama Abi baik banget. Aku kira tinggal sama mertua gak enak tapi ini mertua kita memang yang terbaik" Lena memegang tangan Zeva. Bercerita dengan antusias.
Zeva mendengarkan setiap tanggapan dan pujian Lena. Benar adanya Abi dan Umi sangat baik. Bahkan dahulu pertama menikah Zeva sangat takut dirinya akan ditolak menjadi menantu di keluarga ini.
Tapi nyatanya tidak. Umi sangat antusias begitu pula Abi. Meski dahuli ia terlihat tegas namin tak disangka kehangatan dan kasih sayangnya sangat bersahaja. Mengayomi setiap anggota keluarga dengan antusias. Bahkan ia tak segan untuk mengayomi para pekerja di rumah.
..
__ADS_1
Mampir juga di "SENJA SOREA"