Kun Fayakun

Kun Fayakun
Canggung


__ADS_3

๐Ÿ“ŒPlease ojo lali like, sebelum komen:)


Setelah disuruh oleh mama Daniel untuk masuk duluan akhirnya Zeva dan Daniel masuk kedalam kamar Daniel.


Kamar yang sangat luas dilengkapi dengan kamar mandi semua perabotan dan barang-barang yang ada dikamar Daniel tampak tersusun dengan rapi.


Dinding yang bercat putih abu-abu tampak sangat nyaman untuk ditempati berlama-lama. Lemari berukuran king, ranjang berukuran king dan serba dilengkapi dengan barang-barang mahal kelas atas.


Sedari tadi tidak ada pembicaraan antara Daniel dan Zeva. Keduanya tampak diam dan Daniel memilih untuk membersihkan diri nya terlebih dahulu.


Tampak Zeva sedang bingung, ia ingin bicara namun tak tau ingin bicara apa. Kini dia tengah duduk di sofa panjang yang berada di kamar Daniel. Dari tadi dia hanya duduk dan merenung entah apa yang ia pikirkan, tampak Daniel baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lebih baik bersihkan dirimu dulu" ucap Daniel membuat Zeva tersadar dari lamunannya.


"Emm i iya"ucap Zeva sedikit gugup dan berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan di kediaman Mahendra kini rumah sudah terlihat sepi sebab Bunda dan Papa Malik memutuskan untuk kembali ke Singapura setelah Zeva dibawa kerumah mertuanya.


Sedangkan Ahkam ia masih dirumah dan masih berbicara kepada sang nenek.


"Nek lusa Ahkam juga akan kembali keSingapura" ucap Ahkam.


"Kenapa terlalu cepat" tampak raut wajah kesedihan dari sang nenek.


"Maafkan Ahkam sebab tidak bisa terlalu lama disini, soalnya disana Ahkam juga memiliki tanggung jawab nek" sambil memeluk Nenek Ahkam memberikan pengertian.


"Yasudah, jika nanti kau tidak sibuk lagi maka kembalilah ke sini" ucap Nenek.


"Aku akan kembali, tenaglah aku sangat menyayangi Zeva dan nenek jadi insyaallah aku akan luangkan waktu untuk bisa kembali ke Indonesia lagi" ucap Ahkam.


**


Setelah tadi membersihkan diri Zeva langsung memakai setelan baju tidur panjang beserta hijab sederhana miliknya dan kini ia sedang menunggu waktu untuk sholat magrib.


Sedangkan Daniel sejak tadi hanya diam sambil mengotak atik laptopnya. Entah apa yang sedang ia kerjakan Zevapun tidak tahu.


Tak berapa lama suara azan berkumandang menandakan bahwa waktu sholat magrib telah tiba.


Dengan perlahan Zeva mengeluarkan mukenah beserta menggelar sajadah miliknya dilantai dan mengambil wudhu dikamar mandi.


Setelah selesai wudhu Zeva keluar dari kamar mandi dan masih melihat Daniel mengotak atik laptopnya.


"Mas apa kamu tidak sholat dulu?" ucap Zeva dengan suara lembut dan bergetar.

__ADS_1


Sebenarnya ia sangat canggung dengan posisi saat ini. Ia merasa dirinya ada namun seolah-olah tidak dianggap oleh Daniel keberadaannya.


"Jika kamu mau sholat silahkan, aku masih sibuk" ucap Daniel dingin tanpa expresi.


"Mas ingatlah sesibuk apapun dirimu, sholat adalah hal utama sebab itu adalah kewajiban seorang muslim" ucap Zeva.


"Aku sudah mengatakannya jika kau ingin sholat maka sholatlah, tidak usah menasehatiku" ucap Daniel dengan nada sedikit tinggi tanpa melihat Zeva.


Zeva terdiam mendengarkan penuturan dari Daniel dengan rasa sedih ia berjalan dan mengenakan mukenahnya dan langsung melaksanakan sholat magrib tanpa di imami suaminya.


Saat ini Zeva hanya bisa berdoa agar suaminya segera sadar dan mendapatkan hidayah agai ia mau melaksanakan ibadah sholatnya. Dengan kelembutan hati Zeva memohon kepada Allah untuk kebaikan Daniel.


Setelah selesai sholat ia masih melihat Daniel yang tetap sibuk sehingga ia memilih turun untuk membantu menyiapkan makan malam.


"Hufff berat rasanya bila harus seperti ini. Aku ada namun seolah dia tidak menganggab ku" batin Zeva.


Dilantai bawah tepatnya didapur Zeva melihat Ibu mertuanya sedang memasak dibantu oleh Artnya.


"Zeva dimana Daniel kok kamu turun sendiri?" tanya Mama Daniel.


"Mas Daniel dikamar Ma, tampaknya dia sedang sibuk. Biar Ze bantu Mama masak ya" ucap Zeva.


Dengan telaten Zeva membantu Ibu mertuanya memasak didapur. Setelah beberapa menit semua hidangan makan malam tampak sudah tersusun rapi diatas meja.


"Mama panggil Papa dulu, kamu panggil suamimu ya"ucap Mama Daniel dan diangguki oleh Zeva.


Dan taklama Mama dan Papa mertua juga telah turun, dan berkumpul di meja makan.


Mama mengambilkan makanan untuk Papa dan Zeva juga mengambilkan makanan untuk Daniel. Tanpa menolak Daniel menerima piring yang telah diisi oleh Zeva.


Setelah usai mengambil makanan untuk Daniel kini Zeva mengisi piring miliknya dan duduk disamping Daniel.


"Wow Ma, ini masakannya lezat dan bener bener lezat" ucap Papa Hijaya tiba-tiba.


"Yaampun Pa, kaget lo Mama kirain entah mau bilang apa"


"Hhhhh, ini masakannya bener-bener lezat Ma"


" Yaiyalah Pa ini yang buat mantu kita" sambil tersenyum memandang Zeva.


"Serius Ma, yaampun ternyata mantu kita sangat jago masak" ucap Papa dan Zeva hanya tersenyum.


"Papa bener ini sangatlah lezat" batin Daniel dan terus melanjutkan makannya.

__ADS_1


Setelah selesai makan Daniel langsung kembali ke kamarnya begitu pula dengan Papa.


Zeva dan Mama merapikan meja makan dan dibantu oleh Art.


"Ze, Mama kekamar duluan kamu juga pergi istirahat pasti kamu lelah kan? Itu piring kotornya biar bibik yang beresin" ucap Mama.


"Iya Ma"


Mama pun berjalan meninggalkan dapur menuju ke kamarnya. Sedangkan Zeva ia mencuci piring kotor.


"Non sudah biar saya saja yang cuci, non istirahat lah" ucap bi Ina.


"Biar saya saja yang beresin bibik istirahat lah" ucap Zeva dengan tersenyum.


"Non ini sudah menjadi tanggung jawab saya, jadi biarkan saya yang melakukannya" ucap bi Ina.


Dengan tersenyum Zeva mengucapkan"Istirahat lah bik ini biar Ze yang membereskan".


Akhirnya bi Ina pun pasrah dan membiarkan Zeva mencuci piring dan ia mengerjakan pekerjaan yang lain.


"Sudah selesai, dan sudah masuk waktu sholat isya" gumam Zeva.


"Bik sudah masuk waktu sholat isya bibik sholatlah dan Zeva juga keatas" ucap Zeva.


"Iya non, selesai ini bibi akan sholat" ucap bi Inah tersenyum ramah.


Dan Zeva menuju lantai atas kamar nya dan Daniel. Ia tak melihat keberadaan Daniel dan memilih untuk melaksanakan shalat.


Dibalkon kamarnya tampak Daniel tengah berdiri memandangi gelapnya langit malam. Ia tampak berfikir mengenai kehidupannya entah ia harus bersedih atau berbahagia dengan pernikahannya.


Apalagi ia mengingat seharusnya ini adalah malam pertamanya bersama Zeva. Entah apa yang harus ia lakukan.


"Huffff" Daniel tampak membuang nafas kasar dan mengusap tenggkuknya.


Angin malam tampak berhembus hawa dingin menusuk tulang dengan langkah perlahan Daniel masuk kekamarnya dan ia meliha Zeva tengah melaksanakan ibadah sholat.


"Dia begitu sholeha, apakah aku bisa mencintainya?" gumam Daniel lirih.


.


.


.

__ADS_1


๐Ÿ Bantu support author:)


Sudah lama gak up dan ini up kembali:)


__ADS_2