
Rasa sayang itu umum. Tetapi cinta itu hanya satu. Orang sayang belum tentu cinta, tetapi orang cinta sudah pasti sayang:')
Sesuai rencana malam ini Kahfi pergi bersama istrinya menghadiri acara pernikahan Nada. Jejeran tamu undangan dari kalangan pebisnis turut meramaikan, acara pernikahan di gelar dengan sangat mewah. Tak hanya dari kalangan pebisnis dari pihak rumah sakit juga turut hadir, beberapa dokter dan suster yang tidak bertugsa turut hadir.
"Selamat ya Dr Nada. Semoga langeng, SAMAWA sampai ke jannah nya Allah ya" ucap Kahfi ketika menjabat tangan Nada.
"Terima kasih Dr Kahfi" setelah sekian lama ahirnya wanita ini bisa bicara dengan formal.
Kahfi juga menjabat tangan pengantin peria, berbeda dengan Zeva ia menangkupkan kedua tangannya saat berada di hadapan suami Nada. Satu buah kado yang terbungkus rapi diberikan Kahfi kepada Nada. Hitung-hitung sebuah kenangan untuk Nada menempuh kehidupan baru.
Tak lama mereka ada di acara pernikahan Nada, Zeva buru-buru meminta pulang. Mungkin karena tamu undangan yang sangat ramai membuatnya tak nyaman.
"Mas berhenti dulu! Ze mau makan sate" pinta Zeva ketika mobil yang mereka naiki melintasi pedagang sate gerobak yang tampak ramai.
Kahfi buru-buru menghentikan mobil dan memarkirkan nya di pinggir jalan agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya. Ketika keduanya keluar dari dalam mobil dan menuju ke penjual sate, alangkah terkejutnya pengunjung sate benar-benar ramai di luar dugaan dari yang terlihat.
Jejeran pembeli tengah mengantri. Baru Zeva ingat jika ini adalah pedagang sate tempat ia dulu sering makan bersama Ahkam kakanya sewaktu Ahkam masih kuliah.
"Pak satenya dua porsi" ucap Kahfi ke pedagang sate.
Pedagang itu sudah berusia lanjut tapi masih saja terlihat strong. Keringat juga membanjiri pelipisnya mungkin ia kepanasan dan matanya juga agak berair akibat mengipasi panggangan sate menggunakan kipas manual.
"Mengantri sebentar ya Mas" pinta pedagang sate masih asik dengan kipas di tangannya yang di angguki oleh Kahfi
Sedangkan pegawai lainnya tengah sibuk mengantar pesanan pengunjung yang tengah duduk di bangku kayu serta meja kayu yang tersedia. Pengunjung saat ini benar-benar ramai mungkin karena ini malam kamis kali ya?
Kahfi mengajak istrinya untuk duduk di bangku pelastik serta meja kecil yang tersedia, karena cuma itu yang tersisa.
"Kamu dingin Ze?" Kahfi menggeser bangkunya agar lebih dekat ke istrinya. Ia meraih tangan Zeva yang tampak menggosok-gosokan di lengannya.
"Bagaimana kalau satenya dibungkus saja?" tanya Kahfi sambil mengusap usap telapak tangan Zeva.
__ADS_1
"Enggak mas, Ze mau makan disini. Mas tau? dulu Ze sering kesini sama kak Ahkam tapi sewaktu dia masih kuliah dan terahir Ze kesini sama kak Ahkam sewaktu Ze mau menikah sama Mas Daniel. Emm Kak Ahkam bela-belain dari Singapura kesini...
" Niatnya kembali mau batalin sama protes ke papa masalah pernikahan Ze dulu, eh taunya percuma. Terus emm kalau gak salah satu hari atau berapa hari lagi sebelum Ze menikah Kak Ahkam bawa Ze jalan-jalan kesini. Hemm hitung-hitung nostalgia hahah" tawanya saat mengingat kebersamaannya dengan Ahkam.
Zeva bercerita panjang lebar dan Kahfi dengan setianya menjadi pendengar yang baik. Ia masih setia mengusap-usap pelan telapak tangan istrinya. Hingga dua porsi sate padang tersaji rapi di meja mereka.
"Ini mas pesanannya" ucap penjual sate sambil meletakkan dua porsi sate.
"Terima kasih pak" ucap Zeva dan Kahfi dengan senyumannya.
Setelah penjual sate kembali, Zeva langsung meraih sate yang ada di hadapannya. Dengan membaca bismilah ia mulai memakan satu persatu sate "Benar-benar gak berubah rasanya" ucapnya sembari tetap melahap sate.
"Mas di makan ini enak, jangan ngeliatin Ze terus" keluh Zeva saat ia tengah menikmati sate suaminya malas sibuk menatapnya.
Garis senyuman tertarik dari bibir Kahfi "Pelan-pelan makannya Ze, mas gak bakalan comot satenya kok" bukannya menggubris ucapan Zeva, Kahfi malah berucap lain.
"Mas ini Ze udah pelan-pelan kok"
"Mas sate Ze sudah habis. Tapi punya mas kok gak dimakan? mas gak suka ya?" wajahnya mulai memancarkan kekhawatiran.
Ia berargumen dalam benaknya. Apakah suaminya tidak menyukai sate? atau suaminya tidak suka makanan pinggir jalan? tapi kenapa dia pesan dua jika dia memang tidak menyukainya? itulah yang di fikirkan Zeva.
"Mas masih kenyang. Melihat Ze makan dengan lahap saja mas bahagia. Tapi tunggu Ze apa masih mau tambah lagi? biar mas pesanin?"
"Enggak, Ze juga sudah kenyang kok. Tapi itu punya mas di makan. Jangan sampai mubazir tidak baik membuang-buang makanan"
Kahfi menyetujui ucapan istrinya, dengan perlahan ia mulai meraih sate di hadapannya dan mulai memakannya. Satu cucuk sate tak menggoyahkan dirinya untuk memberikan argumen. Tapi pada saat tusukan ketiga Kahfi mulai berkomentar.
"Ze, gak salah kamu ajakin mas makan sate disini. Satenya benar-benar enak, gak kalah sama yang di restoran"
"Tuhkan mas makanya di cobain dari tadi. Baru nyadar kan kalau satenya enak banget"
__ADS_1
"Haha iya iya. Sepertinya mas selalu terlambat. Termasuk terlambat menyadari kalau sate ini sangat enak, seenak kamu hahah" tawanya lepas masih dengan tangan memegang sate.
"Apa? kok gak jelas. Itu dimakan satenya Ze udah kenyang ngantuk" sarkas Zeva dengan logat juteknya.
Benar-benar kalem tapi sekali bicara rada gak nyambung. Dasar Kahfi ada ada saja. Masa iya istri sendiri disamain dengan sate.
Setelah sate di piring ludes Kahfi meneguk segelas air putih hingga tandas. Malam ini perutnya benar-benar dimanjakan oleh makanan sederhana yang nikmatnya tiada tara apa lagi di nikmati bersama orang tercinta.
Angin malam yang bertiup sepoy-sepoy menjadi teman dikala Kahfi dan Zeva berjalan ringan. Tadi setelah membayar satenya mereka memilih berjalan sebentar di sekitar. Keluhan Zeva yang katanya mengantuk hilang seketika.
Genggaman tangan Kahfi seolah tak ingin ia lepas. Lengkap sudah kebahagiaan mereka. Hanya butuh hal sederhana untuk mengungkapkan rasa sayang masing-masing dari mereka.
Tak lama lagi buah hati mereka akan hadir melengkapi keluarga kecilnya. Dulu Kahfi pernah berkata meminta izin untuk pindah dan tinggal di rumah sendiri tapi Umi, Abi dan Aldo selalu saja melarang.
Umi selalu berdalil bahwa ia tidak ingin tinggal terpisah dengan anak dan menantunya. Lagian rumah mereka cukup besar jika harus di tempati dengan banyak orang. Umi selalu bilang jika Aldo dan Kahfi sudah menikah maka mereka akan tetap tinggal satu atap.
Bukan mengapa, tapi Umi hanya ingin menghabiskan waktu senjanya bersama anak dan para menantunya. Begitupula nantinya ia akan bermain sepanjang waktu bersama cucu-cucunya kelak.
"Kita pulang sayang? ini cuacanya juga semakin dingin, malam semakin larut" Tanya Kahfi sambil merangkul pundak Zeva.
Benar-benar sweet hanya saja keluhan yang tak pernah tinggal. Zeva begitu mungil dan pendek! Tapi fisik bukan menjadi masalah kan? bukan cinta namanya jika hanya memandang fisik melainkan hanya obsesi semata. Benar bukan? ah tentu saja itu kebenarannya!
"Yasudah ayo mas"
Keduanya menuju ke mobil. Setelah masuk mobil berlalu membelah jalan raya yang sedikit lengang sebab hari juga sudah malam. Jarak rumah sudah tidak terlalu jauh tapi entah kenapa Zeva malah larut kedalam dunia mimpi saat masih berada di mobil.
Kahfi menyetir dengan kecepatan sedang. Ia paham mungkin istrinya kelelahan atau bahkan kekenyangan. Ia betsyukur setelah kejadian Zeva muntah semenjak itu pula Zeva sudah tak pernah muntah-muntah lagi.
Dan masalah ngidam? ah benar-benar beruntung Zeva tidak banyak maunya apalagi ia tidak pernah meminta makanan yang aneh-aneh di malam hari. Cukup senang bukan. Lengkap sudah.
Coretan Kecil \=^~^\=
__ADS_1
Sate... 'Sate'ringat saat saat indah bersama ko. Hari dimana kita selalu habiskan waktu bersama. Namun apa daya sa punya cinta bukannya harta. Dimana ko punya orang tua tak merestui hubungan kita... Wkwkk gaje bgt:v