Kun Fayakun

Kun Fayakun
Abi dan Umi Pensiun:')


__ADS_3

Cerita semakin Author singkat:')


Hari-hari terus berlalu tanpa terasa kini putra pertama Ahkam sudah tumbuh menjadi baby laki-laki yang sangat menggemaskan. Baby laki-laki itu diberi nama 'Al-ahzam Ar-Rayyan' nama yang bagus bukan? tentu saja.


Kini baby Ahzam telah berusia tiga bulan, kini baby laki-laki itu tampak semakin lincah dengan celotehan has anak kecilnya. Selama ini Zeva sangat sering mengunjungi baby Ahzam dan menjadi teman bermainnya. Seperti yang dia mau, Zeva menyebut dirinya Umi agar nanti Ahzam memanggilnya itu.


Tersirat kebahagiaan dikala Zeva menghabiskan waktu bersama baby Ahzam. Tak hanya itu kabar yang lebih menggembirakan adalah kini Klara tengah mengandung dan usia kandungannya baru empat minggu. Baik Zeva maupun Lena sama-sama bahagia mendengar kabar baik itu.


Dan satu lagi hal yang paling baik adalah Aldo sudah menentukan pilihannya jika ia akan segera melamar Lena untuk menjadi istrinya. Tepat dua bulan yang lalu Aldo dan Lena membicarakan mengenai keputusan ini.


Serasa kebahagiaan memihak bersamaan dengan semesta. Tapi satuhal lagi dua minggu yang lalu Nada resmi bekerja di rumah sakit tempat dimana Kahfi juga bekerja. Ia bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit itu.


Tak mengapa sampai sekarang rumah tangga Zeva masih belum ada tanda-tanda terkontaminasi oleh kehadiran orang ketiga.


Seperti hari ini, tampak Zeva tengah menggendong baby Ahzam di rumah besar milik Ahkam. Sedangkan Nur sudah berkutat di dapur bersama dengan bibi.


Banyak alasan mengapa Nur tak mempekerjakan baby sister, sebab dia juga masih sanggup mengurus anaknya sendiri. Selain itu Zeva juga sangat sering datang dan bermain dengan anaknya.


"Ze kamu gak ke cafe?" tanya Nur yang menghampiri Zeva yang tengah duduk di ruang keluarga bersama anaknya.


"Iya Mbak nanti saja, agak sorean sekalian kerumah sakit biar pulang bareng Mas Kahfi" ucap Zeva yang tengah asik menimang baby mungil itu.


"Mbak ini baby Ahzam pertumbuhan nya cepat sekali, mana pipinya semakin embul,, emmmm" sambung Zeva sambil menciumi pipi Ahzam.


"meamm.. maaammm teeaa akhhh" tawa baby laki-laki itu dengan girangnya.


"Haha karna dijagai terus sama Uminya" ucap Nur menyebutkan Zeva sebagai umi Ahzam.


"Mbak" Zeva memilih memangku Ahzam dipangkuannya "Mbak gak papa kan kalau Ze sering jagain anak mbak. Emm jika dipikir Ze egois ya, masak anak Mbak Nur tapi Ze yang lebih sering menjaganya" ucap Zeva sambil menunduk.


Tatapannya sendu, dimana dalam hatinya menyiratkan kesedihan yang siap dipancarkan oleh mimik wajahnya "Gak papa Ze, Mbak paham dan malah Mbak senang ada kamu jadi Mbak gak terlalu repot" ucap Nur dengan senyuman.


"Gimana program hamil kamu? lancar?" tanya Nur sambil sesekali mainkan tangan kecil putranya.


"Emm gitu deh Mbak. Ze takut kalau nantinya Ze gak bisa hamil. Sudah sangat lama Ze menikah dan sampai sekarang juga belum ada tanda kehamilan"


Benara saja semenjak satu bulan belakangan Zeva mulai mengikuti program kehamilan. Usia pernikahannya juga belum mencapai satu tahun, tapi dia tak kunjung hamil dan itu menyiratkan kesedihan pada dirinya.


Terkadang Zeva sempat berfikir bahwa dirinya tak seberuntung Klara, dimana baru tiga bulan menikah sudah dikabarkan hamil, emm sudahlah mungkin Allah punya rencana lain.


"Tidak masalah tetap ikhtiar ya. Semangat baby Ahzam adalah anakmu juga kan" ucap Nur.


Senyuman terbit sempurna di wajah Zeva kala ia mulai memiliki kesibukan lain yaitu berkunjung kerumah kakanya dan bermain bersama keponakannya.


..


Sore ini selepas dari cafe Zeva langsung menuju ke rumah sakit untuk menemui suaminya. Tapi sayang kata suster Kahfi sedang berada di dalam ruang operasi tengah menangani pasiennya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 dimana hanya menunggu sebentar lagi maka adzan magrib akan tiba. Pas! sesuai yang dikatakan adzan magrib pun berkumandang mengalun merdu dari musholah rumah sakit.


Zeva sadar sudah lebih dari satu jam dia menunggu suaminya di ruangan miliknya dengan ditemani oleh buku yang ada diruangan Kahfi.


Dengan segera ia langsung menuju ke mushola rumah sakit untuk melaksanakan panggilan sang Khalik.


Selesai sholat tak lupa ia memanjatkan segala doa. Bermunajat, meminta kepada sang pemilik kehidupan. Nyawa dari segala nyawa, penguas dari segala penguasa, pemilik kehidupan dari segala kehidupan.


Perasaan damai meliputi dikala hati sudah merasakan nikmat yang Allah berikan setelah melaksanakan sholat. Zeva langsung menuju kembali ke ruangan suaminya.


Saat dilihat almameter suaminya sudah menggantung di kursi kebesarannya. Itu tandanya Kahfi tadi sudah masuk ke ruangannya. Zeva mencari ke sekitar ruangan tapi tak menemukan sosok yang dicari.


Zeva memilih duduk kembali disofa guna menunggu Kahfi. Mungkin ia sedang sholat atau yang lainnya begitu pikirnya.


Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok yang ditunggunya sedari tadi "Assalammualaikum Ze" ucap Kahfi sambil melangkah masuk ke ruangannya.


Sebelum nya tadi selesai melakukan operasi Kahfi sudah diberi tahu bahwa istrinya menunggunya, tapi ketika ia keruangannya tak ada siap-siapa didalam. Dan ia memilih pergi kemushola untuk melaksanakan sholat magrib yang tertunda.


"Waalaikumussalam, Mas habis sholat?" Zeva bangkit dari duduknya menghampiri Kahfi.


Rambut pemuda itu masih agak basah, sisa air wudhu masih melekat setia pada alis tebal dan juga rambut hitamnya "Iya Ze maaf ya, kamu jadi nunggin disini"


"Gak papa. Yaudah gimana kerjaan Mas sudah selesai kan?"


"Sudah kok. Kamu mau langsung pulang?" tanya Kahfi yang sudah berada dekat dengan Zeva "Kenapa? kok mukanya beda, kamu sedih Ze?" Kahfi menelisik lebih dalam ekspresi wajah istrinya.


"Alhamdulillah, rezekinya cepat" tanggap Kahfi "Apa karna ini kamu sedih?" tebak Kahfi.


Memang segitu sedihnya ya sampai-sampai ketara banget diwajah Zeva. Padahal ia sudah menyembunyika perasaan sedihnya itu tapi apalah daya.


"Mas" matanya sudah berkaca kaca. Keristal bening sudah siap tumpah membentuk seperti aliran sungai yang akan meluncurkan air dengan bebas.


"Jangan sedih, kitakan sudah ikut program. Mungkin sebentar lagi akan ada hasilnya. Kita tetap ikhtiar dan selalu tawakal ya. Sampai Allah berikan apa yang kita harapkan" jelas Kahfi sambil meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.


Entahlah ahir-ahir ini Zeva sangat cengeng jika menyangkut tentang anak dan masalah yang berbau kehamilan. Mungkin dihatinya ada rasa sedih yang melanda, dikala sudah lumayan lama menikah namun belum juga hamil.


"Sudah jangan sedih, kita menikah juga belum setahun kan" Kahfi melerai pelukannya dan mengusap sisa air mata yang ada di wajah istrinya.


"Mas gak akan tinggalin Ze kan. Meskipun Ze nantinya gak bisa hamil?"


"Jangan bicara seperti itu. Mas akan selalu disini bersama Ze. Apapun yang terjadi" Kahfi mencium puncak kepala Zeva dan kembali memeluknya sambil mengusap pundaknya dengan sayang.


"Kita pulang? sudah malam dan jika kita terus disini maka hari akan semakin larut" sambung Kahfi "Senyum, wajah kamu lucu kalau nangis gini" gurau Kahfi.


Keduanya berjalan untuk menuju keluar rumah sakit dengan bergandengan. Sesekali Kahfi merangkul pundak istrinya dan mendaratkan ciuman di puncak kepala Zeva.


"Abi" panggil seorang gadis yang masih menggunakan almameter rumah sakit.

__ADS_1


Kahfi dan Zeva menoleh ke arah sumber suara dan pemandangan pertama yang di dapat adalah hal yang tidak asing.


"Ya. Kenapa dr Nada?" tanya Kahfi.


"Sudah mau pulang Bi?


"Maaf dr ini rumah sakit jadi cobalah profesional jangan memanggil nama saya dengan sebutan Abi, panggi seperti orang lain memanggil saya"


"Maaf baiklah,apa kau sudah ingin pulang dr?"


"Tentusaja. Jika tidak ada hal yang penting saya permisi duluan" jawab Kahfi dengan senyuman.


Ah gadis ini menganggu saja. Apa perlunya dia menanyakan Kahfi. Apa dia tidak lihat atau dia sudah buta jika istrinya ada di samping pemuda yang di panggil nya.


Baiklah tanpa menunggu lama Kahfi langsung menggandeng istrinya untuk melanjutkan tujuan nya yaitu parkiran untuk mengambil motor sport miliknya dan setelah itu pulang.


Udara malam lumaya dingin. Angin sepoy-sepoy mengalun menyapa pengendara malam hari.


"Apa kamu kedinginan Ze?" tanya Kahfi disaat-saat motor sport nya membelah jalan raya yang tampak masih ramai oleh pengendara.


"Sedikit" jawab Zeva.


Kepalanya sudah menyandar di pundak Kahfi, tangannya memeluk erat pinggang suaminya. Sesekali Kahfi memegang tangan Zeva yang melingkar di perut nya. Benar saja tangan Zeva lumayan dingin.


Beginilah mereka lebih menyukai bepergian dengan motor dari pada menaiki mobil. Dengan dalih lebih cepat jika naik motor.


..


Pagi ini mentari menyinari dengan gagahnya. Ada yang beda dengan pagi ini. Kenapa Umi dan Abi masih memakai pakaian santai saat ini? bukankan mereka harus bekerja?


"Umi, umi gak kerumah sakit?" tanya Kahfi saat setelah berada di meja makan "Dan Abi gak ngantor?" sambungnya sambil duduk.


Zeva menuangkan sereal dan susu kedalam mangkuk suaminya. Sarapan pagi ini memang sangat ringan dan sederhana.


"Abi sudah pensiun dari kantor, dan Aldo yang akan menangani urusan kantor. Begitupula Umi. Jadi sekarang rumah sakit kamu yang urus Fi. Selain jadi dr kamu juga direkturnya sekarang" ucap Abi.


"Kapan? maksud Kahfi sejak kapan Abi dan Umi pensiun? kenapa Kahfi baru tau hal ini?"


"Sudah dari lama Umi dan Abi ngurus semua berkas dan surat yang diperlukan untuk pensiun dan baru saat inilah kita bisa pensiun seutuhnya tanpa harus bekerja lagi" jelas Umi.


"Emm memang bagus Mi, Bi. Biar Ze ada temannya dirumah dan gak bosan" tambah Kahfi.


Aldo dan Zeva hanya menyimak. Zeva sama halnya dengan Kahfi, ia baru tahu jika kedua mertuanya sudah pensiun. Namun berbeda dengan Aldo, pemuda ini tahu lebih awal.


.


.

__ADS_1


Cerita semakin dekat ke END:')


__ADS_2