
Teriknya panas mentari menyinari bumi. Cahayanya menyilaukan mata setiap manusia. Hari ini benar-benar panas. Cuaca sangat menyengat kulit tubuh.
"Ayo mas, Ze udah siap" ajak Zeva.
Ia telah rapi dengan gamis panjang berwarna hijau muda lembut, senadah dengan hijabnya. Hari ini ia dan suaminya akan pergi ke rumah sakit untuk chek kandungan. Beruntung jadwal Kahfi peraktek dirumah sakit hari ini lagi kosong.
"Kok cantik banget sih sayang" keluh Kahfi. Ia menarik Zeva kepelukannya.
Hari ini dia benar-benar berniat bermanja-manja pada istrinya. Setelah seminggu belakangan jadwal prakteknya sangat padat, membuatnya ekstra sabar karena memilih waktu yang sedikit bersama istrinya.
"Ayo mas, ini sudah jam satu lewat. Jadwal USG jam dua nanti kita terlambat" keluh Zeva. Ia mulai tak nyaman saat berada diposisi begini. Dia takut suaminya meminta hal yang lebih disaat ia sudah rapi dan bersiap pergi.
"Yasudah ayo" Kahfi mengalah. Ia menuruti kata istrinya.
Keduanya melangkah keluar dari kamar. Sampai di ruang keluarga terlihat Abi dan Umi tengah sibuk menonton tv.
"Umi, Abi kita pamit chek up kandungan ya"
Kedua pasutri ini menyalim tangan Umi dan Abi bergantian "Hati-hati sayang" pinta Umi.
Setelah berpamitan keduanya berlalu meninggalkan rumah, menggunakan jeep kesayangan Kahfi mereka menuju ke rumah sakit. Cuaca siang ini sangat panas. Beruntung keduanya tidak menaiki moge.
Setelah sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ke dr kandungan. Dr Ana. Selaku dr yang menangani Zeva selama ia hamil. Dulu mereka mengikuti prgram bayi tabung bersama Dr Arum, tapi kali ini Zeva telah hamil dan dr Ana yang menangani.
"Assalammualaikum, Siang dok" ucap Kahfi dan Zeva ramah. Keduanya masuk kedalam ruangan dr Ana.
"Waalaikumussalam siang dr Kahfi, dan Ze" senyum ramah terbit di bibir dr Ana.
Setelah berbincang sebentar Dr Ana menyuruh Zeva berbaring di brankar. Ia menyingkap sedikit gamis Zeva dan mengoleskan gel di perut putihnya. Dingin. Itulah yang terasa. Alat USG mulai bekerja dengan digerakkan oleh Dr Ana.
Layar monitor tampak menampilkan satu buah biji benih, cabang bayi yang masih berukuran kecil seperti kacang. Titik hitam menjadi pusat perhatian.
Kahfi berdiri disamping istrinya yang tengah terbaring. Tangannya tak lepas menggengam tangan istrinya. Keduanya dengan fokus menatap ke layar monitor.
"Usianya baru delapan minggu. Makanya masih sebesar biji kacang. Bagaimana apa ada keluhan selama ini Ze?" tanya Dr Ana.
Kahfi dan Zeva mendengarkan penjelasan Dr. Anak mereka sangat kecil di dalam sana.
"Benar-benar kecil, dan suatu saat dia akan tumbuh menjadi bayi yang sangat menggemas kan. Umi menanti kehadiranmu nak" Senum Zeva mengembang dikala ia bermonolok dalam hatinya.
Dr terus menggerakkan alat USG itu "Alhamdulillah tidak ada dok" jawab Zeva.
"Syukurlah. Perkembangan bayi kalian sangat baik. Vitamin dan nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan. Biasanya di trisemester awal kehamilan selalu terjadi mual-mual pada wanita hamil kebanyakan. Apa kamu tidak Ze"
__ADS_1
"Sewaktu pertama tau kalau hamil iya dok, Ze sempat mual-mual. Rasanya perut kaya diaduk, selera makan juga menurun. Tapi kali ini enggak" jelasnya.
"Bagus. Sangat bagus, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Perkembangan janin kalian sangat baik. Jika nafsu makan semakin meningkat maka itu suatu hal yang wajar" senyum Dr Ana. Ia menyudahi USG dan membersihkan sisa gel dari perut Zeva.
Kahfi membantu Zeva bangun dari brankar, gamisnya juga sudah rapi kembali. Perasaanya lega. Bayinya sangat mungil. Ia bahkan tak mampu berucap. Mungkin jika dikatakan Kahfi adalah golongan orang-orang yang sulit mengungkapkan ekspresinya dengan kata-kata. Itu benar adanya.
..
Sedangkan di tempat lain Aldo bukannya bekerja ia malah sibuk bergosip di cafe milik Zeva. Ralat lebih tepatnya bukan bergosip melainkan berbincang.
"Le bagaimana jika nanti malam aku melamar mu di rumah mu dan di hadapan orang tuamu?"
Seketika Lena tercekat dengan pernyataan Aldo. Bagaimana mungkin? secepat ini? Tapi bukan masalah kan. Toh sudah lama mereka saling mengenal dan menjalin hubungan.
"Apa tidak terlalu mendadak Kak?"
Satuhal yang pasti mereka bertemu tanpa sengaja saat tengah menjenguk Zeva yang koma sewaktu belum menikah dulu. Dimana Lena sebagai sahabat Zeva dan Aldo tengah menjenguk Zeva juga karena ia adalah adiknya Ahkam. Dan Ahkam adalah sahabat Aldo.
"Jika mendadak menurutmu bagaimana jika kusa? malamnya, aku akan kerumah mu bersama kedua orang tuaku dan Kahfi juga, serta Zeva"
"Terserah kakak saja. Kalau boleh tau apa alasan kaka sehingga begitu yakin dengan hubungan kita?"
"Aku mencintaimu. Lebih dari itu. Aku memandangmu sebagai seorang istri yang cocok untuk ku. Bukannya tak perlu memiliki alasan jika kita memiliki niatan baik untuk menuju ikatan halal" Aldo menatap wanita di hadapannya.
"Apa kau meragukan niatan ku Le?" sambung Aldo. Ia menatap manik hitam milik Lena. Mencari sebuah kebenaran.
"Aku tidak meragukanmu kak. Hanya saja aku tidak menyangka. Jika nanti aku menikah denganmu otomatis Dr Kahfi akan menjadi adik iparku, begitu pula Zeva..
" Benar-benar lucu bukan. Dimana Zeva adalah sahabatku dan tidak menyangka hubungan kita akan semakin erat. Dan Dr Kahfi tidak kebayang disaat usianya lebih tua dari ku, tapi dia harus memanggilku Mbak, karena aku kakak iparnya"
Lena jauh menatap kedepan. Menerawang jalinan hubungan yang akan terjadi di masa depan. Semuanya serba memiliki ikatan. Ikatan persahabatan akan semakin erat karena adanya ikatan kekeluargaan yang akan hadir.
"Jangan pernah menerawang jauh kedepan. Seolah kita mendahului takdi sang maha Kuasa" tegur Aldo.
"Hanya membayangkan saja!" tukas Lena.
Keduanya tersenyum kembali hanyut dalam perencanaan untuk hidup dimasa depan. Keduanya sama-sama baik. Mungkin mereka pantas jika di sandingkan.
Beralih dari sepasang kekasih kembali lagi ke pasutri yang tengah bahagia ini.
"Mas gak nyangka banget disini ada malaikat kecil kita" ucap Kahfi sambil mengelus perut Zeva yang masih rata.
Saat ini keduanya tengah duduk di taman rumah sakit. Tadi seusai USG Zeva meminta di belikan es kelapa muda yang di jual di dekat taman rumah sakit.
__ADS_1
"Mas bahagia Ze" sambungnya sambil mendaratkan ciuman di kening istrinya.
Zeva masih anteng menyedot es kelapa muda di tangannya. Jauh ia menerawang membayangkan setiap kejadian dalam hidupnya. Ia tak menyangka menikah sampai dua kali dengan orang yang berbeda.
Ia berharap dan selalu berdoa semoga Kahfi adalah suami nya hingga nanti sampai maut memisahkan. Dulu ia berfikir takdir yang Allah gariskan untuknya sangatlah disayangkan. Tetapi semakin kesini ia semakin bersyukur.
Meski ia harus kehilangan neneknya. Tapi banyak hal positif yang hadir di kehidupannya. Suami sholeha dengan mertua yang baik hati serta kakak ipar yang sangat hangat. Meski suka jahil.
Papa Mahendra yang telah berubah. Sikapnya semakin hangat dan perduli setelah kematian almarhumah Ny Karina.
"Mas nanti anak kita mau di beri nama apa?" tiba-tiba saja pemikiran menggelitik hadir di otaknya. Ia penasaran.
"Apa ya?" kahfi meletakkan tangannya bersedekap di dada dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk ringan dagunya. Seolah berfikir "Mas belum kepikiran!" ucapnya.
"Astaufirullah, Ze kira mas begitu lagi mikir tapi nyatanya tidak" keluh Zeva.
"Jangan terlalu di pikirkan sayang. Yang penting bayinya sehat sampai nanti lahiran. Baru deh kita cari nama yang pas buat bayi kita"
"Iya mas iya"
"Kita pulang Ze?" tanya Kahfi.
"Tunggu sebentar ya mas"
"Baiklah"
"Oh ya mas, Mbak Nada gimana kabarnya?"
"Dr Nada, emm kalau gak salah kamis nanti dia kembali praktek lagi setelah belakangan cuti pernikahan"
"Oo. Mas cerita dong gimana hubungan mas dulu dengan Dr Nada?"
Kahfi terdiam sejenak ia menatap wajah istrinya. Keringat mulai mengumpul di pelipisnya sebab cuaca panas yang tanpa angin berhembus.
"Mas gak usah cerita ya. Mas malas cuma membuka luka lama saja" ujar Kahfi.
"Baiklah"
Tak ingin memaksa, Zeva memilih mengahiri obrolannya. Dan masih setianya duduk sambil menimati pemandangan taman rumah sakit.
Visual Vania Zhalia Zevanka.
__ADS_1
Visual hanya pemanis:') silahkan berimajinasi sesuka kalian yang oenting bahagia selalu:')