
Sederhanakan syarat bahagia mu, agar sekecil apapun nikmat dari-Nya akan terasa berlimpah ruah.
Peka dan syukurilah, sebelum nikmat yang ada padamu beranjak pergi meninggal kan mu.
Sudah dua hari Ny Karina dirawat di rumah sakit. Semakin hari kondisi nya semakin memburuk saja. Tn Mahendra juga sudah tahu mengenai penyakit sang Ibu.
"Kenapa dirahasiain penyakit sebesar ini dari Arya ma?" kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut Arta Mahendra.
"Mama hanya tidak ingin membuatmu cemas, baru dua minggu yang lalu Zeva sembuh dan aku tidak ingin menambah beban fikiranmu"
Jika sudah begitu, Tn Arya Mahendra sudah tidak dapat berkata apa pun. Sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Setidaknya hal ini dapat menyadarkan dirinya. Ternyata selama ini dia terlalu sibuk dan jauh dari keluarga sehingga hal sepenting ini pun tidak ia ketahui.
"Ahkam nenek ingin bicara dengan Dokter Kahfi" ucap Nya Karina.
Ya saat ini Ahkam sedang menemani sang nenek dan berbincang berdua. Zeva selelu berpesan jika neneknya itu membahas hal yang aneh aneh jangan terlalu di tanggapi.
"Nenek mau bicara apa?"
"Ini sangat penting. Aku mohon ajaklah Kahfi kemari, nenek sangat ingin bicara padanya"
"Baiklah nek. Ahkam akan suruh Kahfi kemari" Ahkam berujar lalu ia bangkit dari duduknya dan memanggil Kahfi.
Beruntung hari ini mereka berdua tidak ada jadwal operasi. Jadi ada banyak waktu senggang untuk mereka. Tak berapa lama Ahkam sudah kembali bersama Kahfi.
Pemuda ini sangat tampan. Tubuh tinggi dan atletis dengan senyum khasnya ia banyak dikenal dan digemari banyak orang.
"Assalammualaikum nek. Nenek ingin bicara dengan Kahfi?" Kahfi menghampiri Ny Karina dan menyalim tangan Nya Karina.
"Waalaikumussalam nak" nada suara itu semakin pelan. Tangan yang diangkat untuk menerima uluran tangan Kahfi seakan semakin lemah.
"Fi nenek langsung bicara saja. Rasanya sudah tak cukup waktu untuk berlama-lama. Tubuh ini semakin menua, rasanya sebentar lagi aku akan pergi"
"Jangan bicara seperti itu nek. Bukannya esok nenek akan melakukan operasi tulang sumsum belakang? jika begitu pasti akan sembuh. Nenek harus semangat ya" Kahfi berucap seraya mengelus lembut tangan Ny Karina.
Benar adanya. Setelah semua kemoterapi yang di jalani Ny Karina. Tidak ada perkembangan pesat dari kesehatannya, yang ada semakin drob. Jadi Dokter menyarankan agar melakukan operasi tulang sumsum. Operasi itu disetujui oleh pihak keluarga. Dan rencananya akan di lakukan esok hari. Calon pendonor tulang itu adalah Arya Mahendra putra Ny Karina sendiri. Beruntung tulang sumsum mereka cocok jadi tidak terlalu lama lagi mencari pendonor.
"Fi jika nenek meminta apa kau akan mengabulkannya?"
"Nenek meminta apa? InsyaAllah Kahfi akan penuhi jika Kahfi sanggup"
__ADS_1
"Menikahlah dengan Zeva nak!"
Seketika atmosfer di ruangan itu terhenti. Oksigen serasa lari menjauhi mereka bertiga. Kaget? sudah pasti. Ahkam tak habis fikir jika permintaan neneknya itu menyangkut tentang Zeva dan Kahfi.
Benar adanya sebelumnya Ahkam pernah sedikit bercerita dan ia berpendapat agar menjodohkan Kahfi dan Zeva. Namun dia tak menyangka neneknya lebih dulu meminta hal itu sebelum dirinya. Seperti mencuri start diawal saja.
"Nek. Nenek gak bercanda kan?"
Kini giliran Ahkam yang bertanya. Sedangkan Kahfi dia masih terdiam menatap kosong ke arah Ny Karina. Ia berfikir ini nyata atau hanya halusinasinya saja.
"Nenek tidak pernah bercanda jika mengenai hidup cucu-cucu nenek" ucapa Nya Karina dengan nada meyakinkan.
"Fi. Kamu gimana? apa keputusan mu?" Ahkam beralih menatap Kahfi.
"Kak. Jujur Kahfi menyukai adik kakak. Tapi Kahfi takut untuk mengungkap kannya. Menikahinya adalah keinginan Kahfi. Namun aku tidak ingin menyakitinya" ucap Kahfi.
Tidak habis fikir. Ternyata dugaan Ahkam benar Kahfi menyukai adiknya. Itu terlihat ketika Kahfi sangat memperhatikan Zeva sewaktu dia dirawat dulu.
Belum sempat mereka melanjutkan perbincangan sudah terdengar suara salam dari luar pintu.
"Assalammualaikum" ucap seseorang sambil membuka pintu.
Tiga orang yang ada didalam ruangan itu serentak menoleh kesumber suara yang mengucap kan salam.
"Waalaikumussalam" jawab ketiganya.
"Loh Kak Ahkam? Ada Dokter Kahfi juga" ucap gadis itu sambil melangkah masuk.
"Ze" ujar Nya Karina.
"Iya nek ini Ze. Ze kemari sama Lena dan Klara juga" Zeva berucap sambil mendekat ke branka sang nenek.
Dua lelaki itu mengedarkan pandangan mereka untuk mencari dua gadis lagi yang ikut datang kemari.
"Dimana mereka dek?" tanya Ahkam.
"Tadi masih di luar ka. Le ada telfon jadi Ze disuruh masuk duluan. Nanti Klara dan Lena nyusul katanya" penjelasan Zeva ditanggapi Ahkam dengan kata 'O' yang diucapkan dengan nada panjang serta anggu kan kepala.
"Dokter Kahfi tumben disini?" Zeva mengalihkan pandangannya menatap Kahfi.
__ADS_1
"Emm iya Ze, tadi...."
"Ze nenek mau bicara sesuatu padamu" Ny Karina memotong ucapan Kahfi.
"Fi biar nenek aja yang menjelaskan pada Zeva ya" Ucapan Ny Karina pun diangguki oleh Kahfi.
"Ze kamu maukan turutin permintaan nenek?"
"Ya mau dong nenk, buat nenek mah Ze selalu nurut yang penting nenek sembuh dulu ya" Zeva menggenggam sebelah tangan nenekya yang tidak terdapat infus.
"Kamu serius kan" Zeva hanya mengangguk "Jika nenek meminta mu menikah apa kau mau"
"Nek semua orang pasti mau menikah dan tidak terkecuali Ze. Cuma masalahnya Ze belum menemukan dengan siapa Ze harus menikah" ujar Zeva.
"Bagaimana dengan Dokter Kahfi? jika nenek memintamu untuk menikahinya apa kamu mau Ze?"
"Emm kenapa Dokter Kahfi nek?"
Rasanya sangat bingung. Mana disitu Kahfi hanya menjadi pendengar. Seketika rasa canggung menyelimuti keadaan mereka.
"Nenek pilihkan dia untukmu. Dan nenek ingin Ze menikah dengannya. Apa kamu mau Ze?" Nya Karina memandang wajah Zeva dengan penuh harap.
Kembali Zeva menatap Kahfi. Akan tidak adil jika dia menjawab 'Iya' hanya karna terpaksa. Takutnya nanti itu akan menyakiti dia dan Kahfi.
"Ze perlu bicara dengan Dokter Kahfi nek" Zeva berucap sambil menundukan kepalanya.
"Baiklah, kalian bicara lah berdua" Ny Karina memegang lengan tangan Zeva.
Ia berharap Zeva mau menikah dengan Kahfi. Ny Karina tahu jika Kahfi adalah pemuda baik-baik dan dia yakin Kahfi mampu menjaga Zeva dan memuliakan meski tidak mencintai.
Setidaknya Ny Karina berfikir jika nanti dia pergi, Zeva ada yang menjaga dan dia takutnya nanti Papa Zeva akan memiliki rencana untuk menjodohkan Zeva kembali dengan orang yang salah. Setidaknya agar Zeva tak kembali terluka dan kecewa dia harus melaku kan ini.
Bagi Zeva posisi ini adalah suatu dilema yang besar. Antara harus berkorban dan mengorban kan. Demi neneknya Kahfi harus menorbankan dirinya dan demi kesembuhan neneknya pula Zeva harus berkorban.
Ada dua hati dan perasaan yang akan terlibat masuk kedalam hubungan yang nantinya akan di tentukan. Jika salah mengambil keputusan akan banyak yang terluka.
.
.
__ADS_1
Next...