
📍Jangan lupa Like dan juga komen beri masukan
Semburat cahaya mentari pagi tampak malu-malu menunjukkan sinarnya kebetulan subuh tadi bumi diguyur oleh hujan jadi mentari hari ini tampak sedikit redup.
Kamu tau apa hal yang paling istimewah dari hujan? Saat hujan turun dan mengguyur seluruh bumi maka itu adalah saat ternyaman untukmu menangis mencurahkan segala isi hatimu melalui tangisan setidaknya dengan kau menangis di tengah derasnya hujan tidaak ada yang tahu selain kau dan Rabbmu bahwa saat ini kau tengah rapuh.
Tadi selesai shalat subuh Zeva berniat akan berolah raga sebentar dengan berkeliling komplek tapi rencananya harus ia urungkan sebab cuaca yang tidak mendukung. Selain hujan udara pagi ini juga sangat dingin, rasa dingin itu masuk menusuk kedalam tulang.
Sudah hampir sebulan semenjak perceraiannya dan kini ia juga telah resmi menjadi seorang janda yang sudah tak terikat dengan siapapun lagi. Kabarnya Daniel bakalan mengadakan acara pernikahan minggu-minggu ini.
Ya ada rasa sakit dihati Zeva saat tahu hal itu, tapi mau gimana lagi dia harus mengikhlaskan walau sulit diawal.
"Semoga kau bisa bahagia mas" lirih Zeva pelan sambil menatapi langit pagi yang tampak mentari sedang bersembunyi dibalik awan.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihan selama hari-harinya Zeva memilih menghabiskannya di caffe miliknya. Jangan ditanya hingga sampai sekarang pun ia belum berniat untuk masuk kuliah lagi.
"Ze sayang kamu sudah bangun kan?" suara nenek terdengar dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Zeva.
"Ada apa nek? Ze sudah bangun dari tadi hanya saja Ze malas buat turun hehe" jawabnya setelah ia membuka pintu dan terlihat wanita tua yang seperti malaikat yang ia anggab seperti ibunya setelah bundanya.
"Kamu ini! Ze tiga hari lagi Daniel akan melangsungkan pernikahan dan keluarga kita diundang jadi apa kau juga akan ikut menghadirinya?"
"Tentu saja Ze akan datang" balas Zeva dengan tersenyum.
Jangan ditanya lagi kabar mengenai Daniel ya memang benar ia akan melangsungkan pernikahan bersama gadis pilihannya. Dan siapa sangka ia benar-benar tega secepat itu ia menikah kembali.
"Apa kau tidak masalah? em maksud nenek apa kau tidak sedih?" tanya Ny Karina dengan rasa penasaran.
"Tentu saja tidak, toh hidup sudah berjalan biar bagai manapun kita harus ikhlas nek. Apa nenek lupa jika apa pun yang ditakdirkan untuk kita maka akan selamanya untuk kita namun jika sebaliknya maka sekeras apapun usahanya itu bakalan sia-sia" ujar Zeva sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kamu hebat, semudah itu mengikhlas kannya. Yasudah baiklah nenek tinggal dulu tadi aku kemari hanya ingin memberitahumu hal ini" sambil tersenyum Nya Karina pun meninggalkan kamar Zeva.
Tampak gadis itu tengah duduk di sisi ranjangnya. Bohong jika dia tidak bersedih tapi mau gimana lagi toh hidup akan tetap berlanjut.
__
Siang harinya Zeva berencana pergi ke caffenya sekedar mengisi kekosongan dan mencari kesibukan agar bisa segera move in.
Saat telah turun dari mobil dan berjalan ingin masuk kedalam caffe tanpa sengaja brukkk tubuh gadis itu ditabrak oleh seorang pemuda.
"Astaufirullah" ucap Zeva pelan dan saat mendongak menatap siapa yang telah menabraknya ia sangat terkejut.
"Aldi!" ujar Zeva. Ada apa dengan laki-laki ini kenapa suka sekali menabrak? apa tubuh Zeva terlalu kecil sehingga ia sering kali ditabrak.
__ADS_1
"Ze! maaf maaf maaf banget Ze gue kagak sengaja beneran" ucapnya sambil mengangkat tangannya membentuk hurup v.
"Ada-ada saja kenapa kau begitu ceroboh" ucap Zeva lagi sambil mengibas-ngibas gamis bagian bawahnya yang sedikit kotor.
Keduanya pun memilih berbincang sebentar didalam caffe, kebetulan sekali atau ini takdir? keduanya selalu dipertemukan tapi dengan cara bertubrukan. Ah ada-ada saja mereka ini.
Disaat keduanya selesai berbincang dan Aldipun memilih untuk kembali pergi. Dengan ramahnya Zeva mengantarkan Aldi sampai kearea depan caffe dan siapa sangka disana ia malah bertemu dengan Daniel dan citra.
"Ze!" ucap Daniel.
Zeva pun menoleh kesumber suara "Eh Mas" ucapnya.
"Panggil saja Daniel" ucapnya.
"Em iya, oh hai Cit" dengan senyum manisnya ia juga menyapa Citra calon istri dari mantan suaminya.
"Oh halo Ze" ucap Citra dengan tersenyum juga"oiya Ze ini kita bakalan menikah tiga hari lagi dan kamu jangan lupa dateng ya, soal undangan nanti aku kirim kerumah mu" sambungnya lagi.
"Tentu" balas Zeva"Oiya kalian mau kemana?"sambungnya lagi.
"Kita berdua mau makan dan kebetulan langsung ketemu pemilik caffenya" ucap Daniel.
"Oh silah kan masuk, aku juga mau lanjutin pekerjaan" ujar Zeva ramah mempersilahkan Daniel dan Citra masuk.
"Tentu!" ucap keduanya dan masuk meninggalkan Zeva.
Jauh dari kejauhan tampak seorang pemuda yang mengenakan kemeja biru langit dengan jas berwarna putih tengah memandangi Zeva.
"Gadis itu, senyumnya dan caranya ketika bicara sangat manis namun saya ia istri orang" gumam pemuda itu sambil tersenyum dan melanjutkan tujuannya.
Pemuda itu ternyata mengunjungi caffe milik Zeva. Mungkin caffe ini adalah caffe favoritnya saat waktu makan siang tiba. Entah caffe yang menjadi faforitnya atau bahkan pemiliknya.
Ahirnya pemuda itupun memesan makanan setelah membuka dan meletakkan jasnya pada kursi tempat yang ia duduki.
Entah kebetulan yang bagi mana tapi setelah tadi masuk Zeva memilih berkeliling memantau caffenya yang baru saja di renovasi dengan nuansa baru.
"Assalammualaikum Pak Dokter" ucap Zeva ramah menegur pemuda yang tengah menikmati pesannanya.
Pemuda yang ditegur oleh Zeva pun langsung menoleh dan melihatnya"Waalaikumussalam Mbak Ze"ucapnya.
Entah angin apa yang membuat Zeva berani menegurnya, jika di ingat mereka sebelumya hanya bertemu dua kali dan kali keduanya pemuda itu yang memakan bekal makan siang yang ia bawa waktu itu untuk Daniel.
"Pak Dokter Zeva saja jangan pakai Mbak" dengan menampilkan senyuman manis Zeva berkata.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah Ze ayo duduk apa kau akan berdiri saja sampai aku selesai?"
"Heheh boleh?"
"Tentu" ucap pemuda yang dusebut Pak Dokter itu.
"Oya Ze kamu ngapain disini?" tanya Kahfi dari tadi dia heran sedang apa gadis ini disini?
"Pak Dokter ini caffe saya jadi saya berada disini" ucap Zeva dengan senyuman.
Memang dari awal Kahfi belum tahu jika pemilik caffe ini adalah gadis yang ia kenal.
"Oya bagaimana dengan suamimu?" entah angin apa yang membuat dokter yang satu ini menanyakan hal itu.
"Emm kita sudah bercerai dan lebih tepatnya sudah lebih dari satu bulan yang lalu" jawabnya berterus terang dengan senyuman ketegaran yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Tampak dimeja lain Daniel juga Citra memperhatikan hal ini terlihat Zeva sangat akrab dengan dokter itu.
"Sayang itukan Dokter muda yang terkenal itu dan dia juga adiknya Aldo" ucap Citra.
"Kau serius dia adiknya Aldo?" dan dijawab dengan anggukan oleh Citra"benar-benar hebat kakanya seorang pengusaha dan adiknya seorang dokter" sambung Daniel lagi.
Kembali ke meja Zeva dan Kahfi
"Oh maaf Ze tidak bermaksud membuatmu sedih"
"Tudak masalah, lanjutkan makan siangmu bukannya kau juga akan bertugas?"
"Baiklah" dengan tersenyum"oh iya kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi kan?"tanyanya lagi.
"Tentu Pak Dokter, yasudah lanjutkan makanmu aku ingin kembali bekerja" ucap Zeva dan ia juga berlalu meninggalkan Kahfi menikmati makan siangnya sendiri.
Entahlah setiap orang tidak tahu isi hati orang lain, seperti kata pepatah 'rambut sama hitam! hati siapa yang tau?'
Mungkin sekarang adalah saatnya Zeva berbahagia begitupula dengan Daniel dan Citra. Saatnya melanjutakan hidup meski dengan atau tanpa orang yang dicintai.
Ikhlas banyak artian yang dapat menjelaskan mengenai arti dari ikhlas. Namun sangat sulit mendefenisikan nya kedalam kehidupan. Disaat orang lain akan berbahagia namun saat itupula sang pemilik hati sedang terluka.
Banyak hal yang tak bisa di defenisikan secara gamblang dihadapan orang lain, salah satunya mengikhlaskan yang tadinya milik kita untuk dimiliki okeh orang lain
.
.
__ADS_1
.
Tbc......