
Ada luka yang tak perlu diperlihatkan. Ada keluh kesah yang tak perlu di utarakan. Ada jerih payah yang tak perlu disebutkan. Ada cerita yang tak lengkap yang harus diselesaikan. Ada harapan yang selalu di panjatkan melalui doa-doa yang senantiasa dilangitkan.
°_° °_°
Hari ini cafe milik Zeva sangat ramai. Ada yang tengah mengadakan acara reunian bareng teman-teman semasa SMA. Muda mudi dengan gaya berpakaian turut mewarnai. Serba serbi model hijab dan juga paras turut membaur. Sesekali gelak tawa antara pengunjung itu terdengar jelas. Ejekan dan guyonan sebatas candaan turut terlontarkan.
"Mbak Arum mereka ramai sekali?" tanya Zeva saat melihat hampir ada lima puluh orang dengan meja yang sangat panjang berjejer rapi.
"Iya Mbak, dua hari yang lalu mereka mesan cafe kita sebagai tempat mereka reunian" jawab Mbak Arum.
Beruntung cafe milik Zeva sekarang semakin besar. Darii dalam saja sudah dipenuhi pengunjung. Dan diarea luar juga diramaikan oleh pejalan kaki yang singgah hanya untuk sekedar santai atau bahkan untuk merileks kan diri dengan menikmati kopi racikan barista di cafe Zeva.
Zeva berlalu pergi keruangannya. Belakangan ini dia sudah sangat jarang datang ke cafe miliknya. Karena umi dan abi selalu dirumah jadi dia juga mengurangi aktifitas diluar nya. Baru saja duduk dan meraih laptop miliknya, namun pintu ruangannya sudah dibuka saja.
"Assalammualaikum Ze" ucap wanita hamil dengan langkah yang mulai tergopoh-gopoh.
Klara? tentu saja dia. Sekarang kehamilannya sudah masuki bulan ke enam. Cepat bukan? tentu saja.
"Waalaikumussalam, Kla. Kenapa buru-buru?" Zeva menjawab salam dengan menghampiri Klara. Ia membantu agar Klara duduk terlebih dahulu.
Zeva meraih segelas air putih dan menyodorkan nya kepada Klara "Ayo diminum dulu"
Klara meneguk air itu hingga tandas "Gila Ze, ini cafe kamu ramai banget" ucapnya setelah meminum air.
"Yaampun Kla, mereka sedang reunian. Kamu kok kaya ngos-ngosan gitu? habis dari mana?"
"Gak darimana- mana Ze. Cuma dari parkiran terus jalan masuk kemari" jelasnya.
"Oiya kamu sama siapa kemari?"
"Sama Lena. Dia tadi masih menerima telfon didepan, jadi aku kesini duluan" jelasnya.
Taklama Lena masuk kedalam ruangan Zeva. Hal utama yang ia tanyakan adalah mengenai cafe "Ze rame bener didepan?" ucapnya.
"Sampe lupa salam Le. Iya didepan mereka sedang reunian katanya" ucap Zeva.
"Hehe kelupaan kan" cengir kuda dari Lena mengiringi ucapannya.
__ADS_1
"Kamu sibuk Ze?" tanya Klara.
"Enggak juga kenapa Kla?"
"Makan bakso didepan yuk"
"Jadi kalian kemari cuma mau ngajakin makan bakso didepan" tanya Zeva.
"Bumil Ze yang ngajakin. Aku mah nurut aja daripada tar anaknya ileran" ucap Lena.
"Yaudah iya ayo" ucap Zeva.
Ketiganya berjalan keluar, tujuannya adalah ketempat penjual bakso gerobak yang ada di depan mall, yang tempatnya juga tak jauh dari cafe Zeva. Hanya menyebrang lalu berjalan sebentar dan sampai.
Aneh bukan? tentu saja. Mereka orang berada tapi lebih suka memakan bakso dipinggir jalan, tapi itu bukan masalah kan.
"Bang baksonya tiga" ucap Lena setelah mereka sampai.
Ketiga wanita ini duduk di bangku yang berada di bawah pohon. Cuaca hari ini lumayan panas dengan angin yang sepoy-sepoy meniup hijab hingga melambai lambai.
Pengunjung bakso juga lumayan ramai jadi mereka sedikit menunggu "Gimana Ze program bayi tabung mu? Klara membuka suara.
"Kamu yang sabar ya Ze. Mungkin belum rezeki" ucap Klara dan Lene memberi semangat.
Benar saja sudah dua kali Zeva mengikuti program bayi tabung tapi tak satupun berhasil. Satu bulan yang lalu adalah percobaan kedua yang dimana menyatakan hasilnya gagal.
Dan dari situ Zeva memilih untuk tidak melanjutkan ikut program lagi sebab dr juga mengatakan akan sangat berbahaya jika melakukannya lagi.
Dan Kahfi tentu saja ia lebih memilih untuk berhenti dari pada harus membahayakan istrinya. Tidak masalah sekarang saatnya kita berpasrah kepada Allah. Itulah kalimat penguat dari Kahfi.
Usia pernikahan mereka juga sudah akan memasuki waktu setahun. Umi juga bilang tidak masalah. Umi mengatakan bahwa dia dulu hamil Aldo setelah lima tahun menikah baru memiliki anak.
"Ini mbak baksonya" suara kang bakso mengalihkan perhatian ketiganya.
Tiga mangkuk bakso dengan uap asap yang mengepul naik keatas dari mangkuk mengudara bebas. Tidak ingin membahas hal yang membuat Zeva sedih Lena mengajak mereka agar menikmati bakso itu keburu dingin nantinya.
"Kla jangan pedas- pesas tar kasian bayi kamu" ucap Lena sambil menarik botol cabe dari hadapan Klara.
__ADS_1
"Nanti sakit perut Kla" lotot Zeva saat melihat Klara ingin meminta pembelaan darinya.
"Sedikit lagi ini gak pedas" ucap Klara setelah ia mengaduk dan mencicipi kuah baksonya.
Huhuk.. hukk "Lo gila Kla ini pedas banget, lo mau bunuh bayi lo dasar gak waras" ucap Lena sambi terbatuk batuk setelah mencicipi kuah bakso Klara.
"Lo makan atau enggak sama sekali" ucap Lena sambil menarik botol cabai sebelum Klara melayangkan protesnya.
Zeva hanya tersenyum. Diantar mereka yang paling suka pedas adalah Klara, yang paling posesif adalah Lena dan yang paling gak banyak bicara adalah Zeva. Intinya persahabatan mereka saling melengkapi.
Ketiganya menikmati bakso dengan sesekali berbincang ringan. Es teh manis menjadi pelengkap. Jangan ditanya keringat sudah membanjiri pelipis Klara sebab baksonya yang paling pedas.
Dengan koyakan dari kerdus air mineral yang dia pinta dari Kang bakso menjadi pelengkap untuk mengipas dirinya. Dasar bumil, takutnya kalau gak dituruti nanti anaknya ileran.
Setelah selesai memakan bakso dan membayarnya, mereka memilih kembali ke cafe Zeva. Dan mengobrol ringan sebentar hingga ahirnya Klara dan Lena berpamitan pulang.
..
Malam harinya selesai makan malam Zeva ikut bergabung duduk santai di ruang keluarga. Tampak Umi yang tengah memijat lengan Abi. Aldo yang tengah asik dengan acara bola yang ia tonton di layar televisi, begitu pula dengan Kahfi.
Mang Umar baru saja kembali kerumahnya. Tadi setelah selesai makan malam ia langsung berpamitan pulang dan akan kembali lagi besok pagi. Jika di tanya Bi Nani dimana? mungkin dia sedang istirahat di kamarnya.
"Abi istirahat duluan ya" ucap Abi sambi berdiri dari duduknya.
Abi berlalu menuju ke kamarnya dan di ikuti oleh umi di belakangnya. Kini hanya menyisakan Kahfi, Aldo dan Zeva.
"Kak gimana urusan kantor?" tanya Kahfi memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar lancar saja Fi hingga saat ini. Sesekali ngantorlah jangan dirumah sakit mulu" jelas Aldo.
"Lebih enak di rumah sakit kak ketimbang ngantor"
"Iya iya pak dr ngalah dah klw udah itu jawabannya. Dari dulu gak pernah mau ngantor" decak Aldo.
Kahfi hanya tertawa mendengar omelan kakanya itu begitu pula Zeva. Jika dilihat kedua adik kakak ini adalah dua sisi mata uang yang berbeda tetapi saling melengkapi.
.
__ADS_1
.
Silahkan Like sesukanya:')