
Tetap bertahan dengan segala kekurangannya, hingga kau mampu jatuh cinta dengan kelebihan-kelebihan yang ia miliki.
Candaan dimeja makan hanya sebatas candaan dan guyonan semata. Kehangatan keluarga kembali dirasakan Zeva. Lain halnya ketika ia berada di rumahnya, hanya keheningan yang terdapat.
Selesai makan malam Zeva membersihkan semua peralatan makan yang kotor. Abi kembali ke kamar untuk beristirahat setelah berbincang sebentar di ruang tamu.
Malam ini hanya dingin yang menyapa, layaknya sebuah kesunyian yang hadir dikala hati tengah merasa kecewa. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Zeva memilih kembali ke kamar Kahfi yang sekarang sudah menjadi kamarnya juga.
Kamar Kahfi sangat luas. Tidak hanya ada lemari pakaian yang besar serta tempat barang-barang Kahfi. Namun dikamar ini juga terdapat sebuah lemari seperti rak buku yang digunakan untuk meletakkan novel milik Kahfi.
Terdengar aneh memang, masa ia seorang lelaki menyukai novel? namun itulah kenyataanya Kahfi memang sangat suka membaca novel. Ia memiliki lumayan banyak koleksi novel bernuansa roman dan juga islami dari penulis ternama.
Zeva tengah berdiri di balkon kamar. Jendela luas yang menghadap langsung ke luar taman yang ada dirumah ini. Menatap langit gelap yang bertabur bintang serta sebuah bulan yang tampak bersinar bagaikan cahaya yang hadir untuk menerangi.
Orang bilang jangan pernah membenci kegelapan sebab ialah yang akan memberi tahumu seberapa indah cahaya yang akan hadir setelahnya.
"Ze sedang apa disini? cuacanya lumayan dingin" ujar Kahfi saat melihat istrinya itu berdiri di balkon kamarnya.
"Emm tidak ada, hanya menikmati langit dan bintang malam itu" ujar Zeva sambil menunjuk langit malam.
Tadi selepas bicara dengan Abi dan Aldo, Kahfi memilih kembali ke kamarnya. Ia pikir Zeva sudah tidur namun nyatanya tidak.
"Dokter pasti senantiasa merasa bahagia kan?" tanya Zeva sambil menatap Kahfi.
"Maksudnya Ze?" Dengan menautkan alisnya Kahfi bertanya.
"Zeva sedikit iri dengan mu dok. Keluarga Dokter sangat hangat. Ada Abi yang terkadang suka bercanda dan lebih hangat, tapi Abi juga tegas. Lalu ada Umi yang lembut dan penuh kasih sayang dan tak lupa Kak Aldo ternyata dia sangat jahil juga. Ze kira Kak Aldo adalah orang yang sangat jutek tapi nyatanya tidak" ujar Zeva sambil tersenyum ketika bercerita tentang keluarga Kahfi "Emm sangat berbeda dengan keluarga Ze" sambungnya lagi sambil menunduk.
"Eii Ze ayolah jangan sedih, mereka juga keluargamu kan?" ucap Kahfi sambil memegang kedua bahu Zeva agar menghadap ke arah dirinya "Jangan sedih. Ingatlah Ze ini semua adalah nikmat yang Allah berikan untuk kita jadi entah itu nikmat kebahagiaan atau kesedihan kita tetap harus mensyukurinya Ze" ujar Kahfi.
__ADS_1
Benar saja semakin kesini Zeva semakin dibuat jatuh cinta oleh kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh suaminya. Salah satu kelebihan yang Kahfi miliki adalah ia mampu menenangkan hati yang tengah kacau.
Tidak berucap lagi. Bahkan Zeva tak membahas lagi hal yang dibicarakan sebelumnya "Biarkan seperti ini meski hanya sejenak saja" ucapnya disaat tubuhnya telah merengkuh tubuh Kahfi.
Tak menanggapi ucapan Zeva, Kahfi langsung membalas pelukan dari Zeva. Lama keduanya larut dalam pelukan hangat dikala udara dingin menyerang tubuh keduanya.
"Ayo kita masuk Ze! disini udaranya semakin dingin" ujar Kahfi sambil melepas pelukan Zeva.
Zeva mengangguk dan keduanya masuk ke dalam kamar setelah menutup jendela besar yang menjadi penghalang antara balkon dan kamar.
"Duduklah dulu Ze" ucap Kahfi sembari menuntun Zeva duduk di sisi ranjang miliknya.
Kahfi melangkah menuju lemari pakaian yang cukup besar. Zeva hanya mengamati apa yang dilakukan Kahfi tanpa berucap apapun. Hingga Kahfi menutup kembali lemari besar itu dan berjalan kembali mendekati posisi dirinya yang tengah duduk.
"Ini untuk mu Ze" ucap Kahfi setelah duduk disamping Zeva. Ia mengeluarkan barang yang ada didalam paperbag yang berukuran sedang.
Ada mukenah putih bersih yang dikeluarkan Kahfi, serta sajadah lembut berwarna biru langit dengan aksen warna campuran antara putih dan biru tua, tak lupa satu buah Al-qur'an dengan warna emas berukuran sedang dan yang terahir sepasang tasbih cantik berwarna biru langit dengan kilatan cantik keluar satu persatu dari dalam paperbag itu.
"Ini adalah bagian dari mahar pernikahan kita"
"Bukankah Ze hanya minta lantunan surah Ar-Rahmaan saja waktu itu? Dan Dokter juga udah penuhi kan? lalu ini apa lagi?"
"Ambillah Ze. Ini untukmu, maaf waktu itu keadaan memaksa dan sangat genting sehingga aku hanya bisa memberikanmu mahar berupa surah Ar-Rahmaan saja" ucap Kahfi.
"Dok. Bukan seberapa banyak atau apa yang menjadi mahar dalam pernikahan, tapi seberapa lama nya pernikahan itu akan bertahan? Ze tidak masalah jika hanya mendapatkan mahar berupa surah, justru Ze bangga. Setidaknya dengan berlandaskan surah Ar-Rahmaan kita mampu menjalankan pernikahan kita selayaknya seperti arti dari surah Ar-Rahmaan itu sendiri"
"Emm baiklah Ze. Tapi ambilah ini, Ini mukenah buat Ze pakai sholat beserta dengan sajadah ini. Dan tasbih ini ada sepasang yang mana satu milik kamu dan yang satu milik saya. Dan ini Al-qur'an ini akan menjadi pedoman bagi hubungan kita berdua" ujar Kahfi.
"Baiklah Ze akan ambil. Jadi ceritanya ini seperangkat alat sholat yang tertunda ya" ucap Zeva sembari mengembangkan senyuman nya
__ADS_1
"Bisa aja kamu Ze. Dan satu lagi Ze. Izinkan aku memiliki mu seutuhnya. Yang mana dalam artian seutuhnya adalah aku berhak penuh atas dirimu. Berhak memilikimu dan mencintaimu dan kita akan menjalankan pernikahan ini bagai mana selayaknya. Izinkan aku membahagia kan mu" ucar Kahfi sambil mengeluarkan kotak cincin berwarna merah dari dalam saku celananya.
Kahfi mendekat ke Zeva dan berlutut dihadapan Zeva yang tengah duduk di sisi ranjang sambil memegang kotak cincin yang berisikan cincin cantik bertahtakan berlian tersusun rapi nan indah.
"Jadilah milikku seutuhnya Ze. Aku mencintai mu saat pertama kali kita bertemu didepan caffe milikmu dan tanpa sengaja kita bertubrukan" ujar Kahfi.
Seketika Ze terdiam dalam heninggnya ia mengingat kejadian saat pertama kali bertemu Kahfi. Dimana tanpa sengaja mereka berdua bertubrukan didepan caffe miliknya. Seketika senyuman mengembang di bibirnya.
Kahfi meraih tangan kanan Zeva dan memasangkan cincin itu di jari manisnya "Ini adalah tanda jika kamu hanya milikku Ze" ujar Kahfi.
Lama tatapan keduanya saling bertemu. Senyuman dibibir Zeva tanpa henti dan tak berniat untuk memudar "Aku bahagia bisa menemukan sosok laki-laki seperti Dokter. Jujur Ze sempat takut dan trauma akan kenangan masalalu, untuk memulai kembali dalam mencintai tapi semakin kesini Ze semakin dibuat jatuh cinta oleh setiap kelebihan yang dokter miliki" ujar Zeva.
"Yakinkan hatimu Ze. Jangan pernah ragu sebab ikatan pernikahan lebih kuat dari ikatan pacaran yang belum jelas arah tujuannya. Tidak hanya kamu bahkan aku juga memiliki masalalu. Mungkin kita dapat belajar dari situ" ujar Kahfi.
"Kita saling menerima kekurangan satu sama lain sehingga nantinya kita mampu dibuat jatuh cinta oleh kelebihan dari masing-masing kita" ucap Kahfi lagi sambil meraih tubuh Zeva kedalam pelukannya.
Hangat. Itulah yang di rasakan Zeva. Pemuda yang tengah memeluk nya jauh lebih baik dari pemuda yang pernah menikah dengannya dulu.
Cinta
Tidak masalah jika cinta pertama hanya menghadirkan luka dan kecewa. Cinta pertama bukan berarti cinta terahir kan?
Yakinlah dibalik luka pasti Allah juga ciptakan obat untuk menyembuhkannya.
Dan dibalik kecewa pasti Allah juga ciptakan obat untuk mengobati rasa kecewa itu. Bukan masalah siapa yang pertama kamu kenal dan membuat mu jatuh cinta. Tapi siapa yang mampu menyembuhkan lukamu dan kembali membuatmu jatuh cinta itulah yang paling penting.
.
.
__ADS_1
.
.