Kun Fayakun

Kun Fayakun
Aldo dan Lena


__ADS_3

Hari-hari berlalu, bulan pun berganti. Kebahagiaan selalu meliputi meski terkadang berat pundak memikul beban kebenaran akan suatu hal.


Hari ini terlewati sudah dua bulan. Hari ini rumah Lena tampak ramai. Rumah megah ini sedang melangsungkan acara resepsi pernikahan putri tunggalnya.


Balutan gaun pengantin berwarna putih bersih sangat cantik membalut tubuh Lena. Dimana Aldo sangat tampan mengenakan kemeja putih dan jas hitam.


"Saya terima nikah dan kawinnya Helena putri Alexander binti Hico Alexander dengan maskawin tersebut dibayar tunai" satu tarikan nafas Aldo berhasil melafaskan ijab kabul.


Sontak saja terdengar ricuh kata 'sah' dari semua tamu undangan. Ahirnya setelah lama kini, kini keduanya sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Aldo menyematkan cincin cantik di jari manis Lena. Perasaan bahagia meliputi kedua insan. Tak pernah terpikirkan akan berada di fase ini. Sudah saatnya melangkah kedepan.


"Lee selamat ya. Ahirnya kamu menikah juga. Oya sekarang sudah jadi kakak ipar Zeva dong" ujar Klara dengan hebohnya memeluk Lena.


Baby Naufal tampak ganteng dengan setelan jas yang sama seperti Aldi. Meski usianya masih menginjak delapan bulan namun karisma kegagahannya sudah tampak.


"Heheh terimakasih Kla. Baby Naufal uuu gantengnya" ujar Lena sembari memegang gemas pipi gembul putra Klara.


Tamu undangan bayak yang hadir. Rata-rata mereka adalah tamu yang berasal dari kalangan pebisnis. Hanya beberapa saja dari kalangan dokter, tentunya yang mengenal Umi dan Kahfi.


"Mbak, Selamat ya semoga SAMAWA kedepannya. Sekarang di rumah Ze jadi ada temannya lagi. Dulu kita sahabatan dan sekarang hubungan kita semakin kuat" ujar Zeva.


Perutnya sudah besar. Seperti ia tengah membawa bola tepat di depannya. Usia kandungannya sudah tujuh bulan lebih. Dua minggu yang lalu mereka sudah mengadakan acara tujuh bulanan.


"Aamiin Ze. Aku juga gak nyangka. Kita bakal tinggal serumah" ujar Lena. Ia memeluk bumil yang menjadi adik ipar sekaligus sahabatnya.


Acara terus berlalu, tamu undangan sangat ramai. Beribu doa dan harapan terlontarkan. Kedua mempelai sangat bahagia terlihat jelas di wajah keduanya.


"Sayang, ayo duduk pasti kamu lelah kan?" ajak Kahfi.


Ia melihat istrinya mungkin kata lelah itu wajar, sebab perut buncit yang ia bawa semakin berat. Namun ia senang akan hal itu.


Kini keduanya tengah duduk di kursi. Abi dan Umi tampak mengayomi para tamu undangan. Begitupula Papa dan Mama Lena.


"Zeva!" seru wanita cantik dengan balutan hijab berdiri di depan Zeva. Sontak saja membuat Zeva mengangkat kepalanya melihat siapa yang memanggil namanya.


"Mbak Citra!" serunya. Wanita itu mengangguk seraya tersenyum ramah.


"Kamu hami Ze?" pertanyaan itu diangguki oleh Zeva sebagai jawaban 'iya' senyuman mengembang di wajah keduanya. Kahfi tampak memperhatikan keduanya. Sepertinya ia mengenal wanita di hadapannya. Tapi ia sudah agak lupa siapa dia.

__ADS_1


"MasyaAllah sudah berapa bulan Ze!" tanya citra antusias.


"Jalan delapan bulan Mbak"


"Alhamdulillah selamat ya. Jaga kesehatan selalu. Mbak boleh pegang gak?" ia meminta persetujuan intuk mengelus perut Zeva dan langsung di angguki oleh Zeva.


"Assalammualaikum baby. Semoga kamu sehat selalu ya berada di dalam. Jangan nakal-nakal kasihan ibumu" ucap Citra. Tangannya mengelus lembut perut Zeva "Ze bayinya menendang!" serunya dengan heboh.


"Iya Mbak. Mungkin dia senang" senyum Zeva. Bayinya menendang lumayan kuat.


Bukan hanya sekali. Bahkan semenjak usia kandungannya akan memasuki delapan bulan bayinya sering menendang. Apa lagi disaat Kahfi mengelus sambil melantunkan surah Ar-Rahmaan. Pasti dia sangat antusias merespon dengan menendang dari dalam.


"Yaampun Ci. Mas cari'in gak taunya disini" keluh pemuda yang baru saja datang. Ia mengedarkan pandangannya melihat pasutri di hadapan istrinya.


"Ze!" serunya lagi.


"Iya Mas Daniel" senyum ramah mengembang dari bibir Zeva.


"Apa kabar? kamu mengandung?" tanya Daniel memperhatikan gamis longgar Zeva yang nampak membuncit.


"Iya" Zeva hanya merespon seadanya.


"Iya terima kasih Tuan" ujar Kafi.


"Panggil saja Daniel. Mungkin kita seumuran? tidak usah terlalu kaku" ujar Daniel.


"Ok Daniel" senyum dari Kahfi.


Kahfi tentunya tahu siapa pemuda yang ada di hadapannya ini. Tentunya dia banyak mengenal Daniel dari istrinya Zeva.


Jika kalian tanya kenapa Daniel bisa ada disini maka jawabannya simpel. Papa Lena merupakan rekan bisnisnya. Jadi secara otomatis ia menghadiri undangan ini karena Papa Lena langsung yang mengundang.


..


Hingga acara berahir semuanya berjalan lancar. Abi, Umi, Kahfi dan Zeva berpamitan pulang ke rumah mereka. Sedangkan Aldo mungkin malam ini ia akan menginap di rumah mertuanya ini.


"Mas kaki Ze lumayan pegal" keluhnya kepada sang suami.


Bagaimana tidak. Jika kaki pegal adalah hal yang wajar bukan? sebab semua bumil pasti mengalaminya.

__ADS_1


"Biar mas pijitin ya" Kahfi meraih kaki istrinya dan meletakkannya di pangkuan. Ia mulai memijit ringan kaki Zeva.


Kini keduanya tengah berada di kamar mereka. Jam sudah menunjukkan tengah malam. Sudah jam dua belas. Tapi mata keduanya enggan terpejam. Padahal mereka lelah setelah menghadiri resepsi besar.


Sedangkan di lain tempat. Kususnya di kamar pengantin. Tampak dua pengantin baru yang tengah melabuh memupuk cinta yang kian hari semakin membesar.


"Gak nyangka ya kak, kita bisa sampai di fase ini. Dimana kini apapun yang kita lalui menjadi halal untuk kita"


"Berhenti memanggilku dengan sebutan kakak. Aku ini suamimu bukan kakak mu. Belajarlah memanggilku dengan sebutan romantis" keluh Aldo.


Tangannya meraih pinggang Lena yang tengah duduk di sampingnya. Keduanya telah berganti dengan pakaian tidur.


Urusan diluar semuanya di bereskan oleh WO yang menangani resepsi pernikahan mereka.


"Aku harus memanggilmu apa? bukannya kau lebih tua dari ku kak?" tanya Lena dengan kepolosan nya.


"Resiko jika menikahi bocil ya begini. Tidak romantis!" decak Aldo.


Beginilah sifat aslinya "Kau bilang aku bocil sayang?" ucap Lena dengan nada lembut mengalun dihadapan Aldo.


"Kau memanggilku sayang? apa aku tidak salah dengar Le? dan apa kau mencoba menggodaku dengan bicara dengan nada seperti itu?" tangan kekar Aldo menarik pinggang Lena agar lebih mendekat ke dia.


Perlahan jarak antara wajah Keduanya mulai terkikis. Tidak tau siapa yang memulai namun kini bibir keduanya sudah saling bertautan. Tangan Lena bertengger apik di leher Aldo.


Perlahan tautan keduanya terlepas "Bisakah aku memiliki mu malam ini?" suara sensual dari Aldo. Peria dingin namun aslinya somplak.


Lena hanya menganguk. Toh keduanya sudah sah menjadi pasutri. Tentunya itu hal yang lumrah bukan. Kini keduanya sudah berad di bawah selimut tanpa sehelai benang pun.


Aldo memulai kewajibannya dengan lembut. Sebab ini kali pertama bagi keduanya. Heningnya malam menjadi saksi penyatuan keduanya. Peluh membasahi seolah menjadi teman di keheningan.


Suara dari keduanya saling bersahutan. Benar-benar pasangan serasi. Lena yang terlihat tenang ternyata lebih agresif. Aldo tak menyangka hal itu. Namun ia bangga, istrinya mampu menjaga hal berharga dalam dirinya.


"Akh..." keluhan Lena kala Aldo menghentak memasuki tempat sepantasnya.


"Maaf sayang, terima kasih sudah menjaganya untuk ku" Aldo mendaratkan ciuman di kening Lena.


Ekor mata Lena berair, menjadi satu dengan keringat yang jatuh dari pelipisnya. Ia hanya mampu tersenyum. Ini adalah awal dari ibadah terpanjangnya bersama Aldo, suaminya.


Hingga ahir permainan keduanya ambruk saling berpelukan. Larut memasuki dunia mimpi. Dimana hari esok adalah nyata dan hari ini akan menjadi kenangan. Kenangan terbaik bagi siapapun yang melalui dengan rasa syukur.

__ADS_1


__ADS_2