
Selembar daun yang jatuh tidak pernah menyalahkan angin yang meniupnya. Begitupula kita manusia seharusnya kita tidak pernah menyalahkan takdi yang telah ditentukan.
Waktu berlalu, detik berganti ke menit, menit berganti menuju ke jam. Sudah satu malam terlewati sejak siang kemarin membicarakan mengenai menerima pernikahan atau tidak.
Awalnya Tn Mahendra sempat menolak namun mendengar ancaman Ny Karina, mengurungkan niatnya untuk protes kembali.
Ny Karina memgancam jika dia tidak akan mau melakukan operasi sumsum belakang jika Zeva dan Kahfi tidak menikah. Dengan pasrah dan tak mau berdebat lagi ahirnya Tn Mahendra menyetujui saja saran ibunya itu.
Fajar telah terbit, mentari mulai menempati tahta tertingginya untuk menjalankan tugasnya. Yaitu menyinari bumi dan memberikan harapan yang baru kepada setiap umat manusia.
"Baiklah operasi akan di lakukan pukul 09.00 dan Dokter Ibrahim yang akan menanganinya" ucap Dokter yang selama ini menangani Ny Karina.
"Dok, kenapa bukan Dokter Ahkam?" tanya Zeva.
"Setiap Dokter sudah memiliki jadwal dan tugas masing-masing jadi kita harus mengikuti ketentuan pihak rumah sakit" ujar Dokter tersebut.
Hanya tinggal menunggu 1 jam lagi maka operasi akan dilakukan. Semua sudah berada dirumah sakit tak terkecuali Bunda dan Papa Malik. Mereka baru tiba tadi malam selesai bada isya.
"Ze kamu siap kan nak?" tanya Ny Karina dengan nada pelan. Zeva mengerti kemana arah pertanyaan itu.
"Iya Ze siap, asalkan nenek sembu ya. Nanti jika nenek sembuh Ze akan menikah. Tapi nenek harus janji dulu, nenek harus sembuh" Zeva berucap sambil menggengam tangan Ny Karina.
Satu jam berlalu. Rasanya hari ini begitu cepat berlalu meninggalkan cerita yang hanya akan menjadi kenangan.
Kini semua telah siap, tim medis yang akan melakukan operasi telah mengenakan pakaian tugas masing-masing. Ada dua Dokter bedah yang akan bertugas dan juga ada beberapa suster yang akan ikut.
Branka Ny Karina telah didorong oleh dua orang suster dan begitu pula branka Tn Mahendra. Hari ini dia juga akan melakukan operasi sebagai pihak yang mendonorkan tulang sumsumnya.
"Papa pasti kuat, Ze selalu berdoa untuk Nenek dan juga Papa. Semoga operasi ini lancar" Zeva berucap sambil mendekatkan dirinya ke tempat Tn Mahendra.
Selesai berbicara suster langsung izin membawa pasien kedalam. Pintu ruang operasi itu telah tertutup menandakan operasi akan dimulai.
..
Di kediaman Kahfi
"Kamu serius nak? Pernikahan bukanlah suatu permainan yang bisa kamu ahiri kapanpun kamu mau dan kamu akan memulai kembali ketika ingin. Pernikahan adalah ikatan suci yang hanya untuk seumur hidup dijalani" Ucap Abi Kahfi.
Dari kemarin malam keluarga Kahfi membahas mengenai pernikahan mendadak ini. Awalnya ada keraguan untuk Kahfi menyampaikan semuanya kepada keluarganya, namun biar bagaimana pun ini harus tetap disampaikan.
"Abi, ummi mengenal gadis yang dimaksud Kahfi. InsyaAllah dia gadis baik-baik dari keluarga baik. Abi niat anak kita itu baik, namun hanya waktunya saja yang kurang tepat" ujar Umi.
"Kamu bahagia Fi?" tanya Abi tiba-tiba.
__ADS_1
"InsyaAllah Abi, jika Umi dan Abi merestui InsyaAllah Kahfi akan bahagia"
"Kamu sangat yakin sekali. Atau jangan-jangan kamu menyukai gadis itu? makanya kamu bersedia menuruti permintaan neneknya?"
"Abi, Kahfi mohon maaf sebelumnya. Zeva itu sebelumnya sudah pernah menikah namun pernikahannya gagal, jadi dia sekarang bukan lah gadis melainkan seorang janda"
"Janda atau tidaknya biar bagaimana pun dia adalah perempuan dan masih pantas dipanggil gadis. Benarkan Do" Abi menatap Aldo dengan senyuman, yang sedari tadi menyimak pembicaraan.
"Hahah Abi benar. Gadisnya cantik Bi. Adeknya Ahkam dia" ucap Aldo.
"Ohh adiknya Ahkam to pantesan. Abi menginginkan yang terbaik untuk anak-anak Abi. Jika dia yang kamu pilih Abi dan Umi hanya bisa mendoakan saja" ucap Abi sambil menepuk pelan pundak Kahfi.
Ahirnya restu orang tua sudah didapat. Doa dan harapan yang terlangitkan tidak sia-sia. Sudah saatnya hati berlabuh setelah sekian lama mencari tempat untuk melabuhkan hati.
...
Sudah beberapa jam terlalui, operasi berjalan lancar dan kini Nya Karina dan Papa Mahendra juga sudah berada di ruang perawatan. Hanya tinggal menunggu Ny karina sadar saja.
Semua menunggu dengan penuh harapan bahwa setelah sadar Ny Karina akan segera pulih.
Jari tangan Ny Karina mulai bergerak memberikan sinyal akan segera sadar. Perlahan kelopak mata itu terbuka menyesuaikan keadaan cahaya pada ruangan.
"Alhamdulillah nenek" Ucap haru dari bibir Zeva.
"Dimana Kahfi nak?" Kalimat itu lolos dari mulut Ny Karina.
"Dokter Kahfi?..."
"Ahkam panggilkan Kahfi ya, sekarang juga nenek mohon" ucap Ny Karina memotong ucapan Zeva.
"Baiklah nek, Ahkam akan menghubungi Kahfi"
Ahkam berlalu keluar ruangan dan segera menghubungi Kahfi melalui ponselnya. Setelah selesai menelfon Ahkam kembali masuk kedalam ruangan Ny Karina.
"Nenek mohon segera panggilkan penghulu nak" pinta Nya Karina.
"Untuk apa Bu?" kini giliran Bunda yang bertanya dan mendekat.
"Sudah tidak ada waktu. Ze menikahlah nak. Keinginan terahir nenek adalah bisa melihatmu menikah" suara itu semakin lirih seolah nadanya semakin pelan.
Semua berlalu dengan lancar, seolah semesta sangat mendukung. Tak berapa lama Kahfi datang bersama dengan Umi, Abi dan juga Aldo.
Disaat bersamaan pula kedua sahabat Zeva hadir. Mereka tau jika hari ini Ny Karina dioperasi dan mereka datang untuk menjenguk.
__ADS_1
"Kahfi sudah datang? Jika sudah suruhlah dia masuk" ucap Ny Karina.
Papa Malik keluar meliha apakan Kahfi sudah datang atau belum? baru saja membuka pintu ruangan telah terlihat Ahkam berjalan bersama seorang penghulu paruh baya. Dan di belakangnya ada Kahfi bersama Aldo.
"Nak Kahfi disuruh masuk kedalam" ucap Papa Malik kepada Ahkam
"Fi masuklah duluan" ujar Ahkam memerintahkan Kahfi untuk masuk.
Dengan satu kali anggukan tanda iya maka Kahfi pun masuk kedalam. Pintu terbuka didalam menampilkan Bunda, Zeva dan Ny Karina yang terbaring di brankanya.
"Assalammualaikum" ucap Kahfi dan melangkah masuk semakin mendekat.
"Waalaikumussalam" ucap orang yang berada didalam ruangan.
"Bak menikahlah segera. Nenek takut jika terlalu lama maka nenek tidak akan bisa melihat pernikahan kalian"
"Nek ini penghulu sudah datang" suara Ahkam mengalihkan pandangan semua orang.
Ahkam masuk bersama seorang penghulu paruh baya. Dibelakang mereka ada kedua orang tua Kahfi, Aldo, Lena dan Klara.
Baru saja semua berkumpul masuk Tn Mahendra yang tengah duduk di kursi roda dengan Mama Veronika yang mendorong kursi roda tersebut.
"Kalian siap kan nak jika menikah hari ini juga?" Ny Karina memandang Kahfi dan Zeva.
"Nek mahar dan juga berkas-berkas pernikahan belum Kahfi urus semua, lalu bagimana?"
"Ze kamu mau mahar apa nak? jika masalah berkas-berkas ada Ahkam yang akan mengurus semuanya. Kalian bisa menikah secara agama dahulu baru nanti secara negara" Jelas Ny Karina.
"Ze kamu siap kan nak?" kembali lagi menatap Zeva.
"Nek" air mata itu luruh jatuh bersamaan dengan kalimat yang diucapkan Zeva.
Apa yang sudah Allah gariskan untuk menjadi takdir mu maka akan tetap menjadi takdirmu.
Kun Fayaku
Sulit bagimu namun tidak bagi Allah. Dengan mudah Allah dapat merubah kehidupanmu jika dia berkehendak. Bahkan tak satu kekuatan pun mampu menolak kehendak-Nya.
Dia yang maha berkuasa, Allah berhak penuh atas takdir hamba-hambanya. Maka jika ingin mendapatkan takdir yang baik dalam kehidupan ini rayulah Rabbmu melalui doa-doa. Memintalah hanya kepadanya.
.
.
__ADS_1
.