
Sederhana saja. Buat mereka terbawa alur dalam ceritamu hingga ia lupa akan rasa sedih yang tengah di alaminya.
•••
Happy reding...
Hari-hari terus berlalu menggores kan setiap kenangan dalam setiap hari yang di lalui. Ada luka yang tampak mulai mengering. Ada perasaan yang semakin merekah melebarkan sayapnya.
Hari ini Zeva sangat bahagia seolah tengah mendapatkan undian hadiah yang memberikannya seluruh kekayaan. Haha ada ada saja bukan?
"Kenapa terus tersenyum begitu Ze?" tanya Kahfi yang tengah duduk disamping Zeva.
"Apa Mas?" masih dengan senyuman yang melebar.
Zeva terus membalik melihat setiap album yang berisikan foto masa kecil Kahfi dan Aldo. Satu foto yang berhasil membuatnya tertawa. Foto seorang anak laki-laki yang tengah menangis memegangi coklat ditangannya yang hanya mengenakan celana kolor.
"Mas kata umi foto ini diambil saat usia mas baru dua tahun. Tapi disini mas kok lucu banget? kelihatan pinter tapi kok nangis?" tanya Zeva.
Kahfi mengalihkan pandangannya menatap album foto yang dipegang istrinya "Darimana kamu dapat album ini Ze?" Kahfi balik bertanya kepada istrinya tanpa menjawab pertanyaan Zeva.
"Umi" ucap Zeva enteng dengan terus membolak balik album. Sesekali foto Kahfi membuatnya tertawa saat ekspresi yang tertanggkap kamera sangat menggemaskan.
"Kalau nanti kita punya anak, terus anaknya bakalan miri siapa ya?" Zeva berucap sambil meletakkan jari telunjuknya pada dagu seolah menerawang jauh sambil menatap langit kamar.
"Pastinya mirip kita berdua lah, kan perpaduan antara orang ganteng dengan orang ayu toh" ucap Kahfi.
"Lah tumben bilang orang ayu?" tanya Zeva.
"Iya iya orang cantik" timpal Kahfi sambil mengusap puncak kepala Zeva.
"Mas beli martabak enak kayaknya ya?" tanya Zeva yang secara tiba-tiba.
Kahfi menyerngitkan alisnya menatap istrinya dengan serius "malam-malam begini Ze?" tanya Kahfi.
"Iya" angguknya dengan mata teduh seolah meminta agar diberikan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Dijam segini? hampir jam sebelas malam ini" keluh Kahfi.
"Eemm yaudah deh gak jadi mungkin besok aja ya?"
Zeva tadi ia meinta. Sekarang gak jadi. Emm membuat deru nafas kahfi berhembus lega. Sedikit bingung kenapa tiba-tiba sekali istrinya ini menginginkan martabak.
Dan ya martabak? bukankan itu sangat enak jika pedagang gerobak keliling yang membuatnya? apalagi dinikmati dengan suguhan teh dan kopi. Terdengan sederhana dan kampungan ya. Tapi jika dinikmati bersama orang tercinta rasanya akan melebihi buatan cheff ternama.
Sudah larut malam Zeva masih antengnya menatapi album yang berisi foto-foto masa kecil suami dan kakak iparnya. Bukannya mengantuk Zeva masih tetap terjaga.
"Ayo tidur Ze, sudah larut ini. Apa kamu mau ngeronda?" tanya Kahfi dengan tersenyum berniat menjahili Zeva.
"Emmm mana ada perempuan yang ngeronda" tukas Zeva.
"Yasudah makanya ayo sini tidur" ajak Kahfi yang sedari tadi sudah merebahkan tubuhnya.
Tak mau berdebat Zeva menuruti Kahfi dengan berbaring disampingnya dan menarik selimut agar menutupi kaki hingga pingganya.
"Jangan lupa baca doa" ucap Kahfi sambil mencari tempat ternyaman disamping Zeva dengan memeluknya.
..
Siang ini dirumah Klara sangat ramai. Semenjak menikah Klara dan Aldi memilih tinggal dirumah sendiri agar lebih mandiri katanya.
Hari ini akan diadakan acara untuk nujuh bulan atas kehamilan Klara. Dengan mengikuti adat dari tetua terdahulu acara tujuh bulanan berjalan lancar.
Acara tujuh bulan diadakan untuk anak pertama dari pasangan yang baru memiliki anak (Author gak buat secara rinci sebab Author cuma tau sedikit)
"Kla semoga sehat selalu ibu dan baby nya ya hingga hari lahiran nanti" ucap Lena yang berdiri disamping Klara.
"Aamiin Le". Jawab Klara, Zeva, Lena dan keluarga dari kedua belah pihak berbarengan mengaminkan ucapan Lena.
"Kalau mau elus silahkan gak papa kok" ucap Klara.
"Kla kamu tau aja dari tadi kita nungguin saat-saat begini" tambah Lena.
__ADS_1
Dengan perlahan tangan Lena mengusap pelan perut buncit Klara "Aa cepat lahir ponakan sayang" ucapnya sambil mencium perut Klara.
"Sehat selalu ya ponakan sayang. Kita nungguin kamu lahir lo. Semoga jadi baby yang berbakti ya" Giliran Zeva yang mengusap pelan perut Klara.
"Ze baby nya nenadang" ucap Klara dengan hebohnya.
Begitupula Zeva. Ia mengembangkan senyuman kala ucapannya mendapat respon dengan cepat dari baby yang dikandung Klara "Dia nendang semakin lincah saja" keluh Klara.
Perkembangan janinnya sangat pesat. Dengan asupan vitamin dan berbagai nutrisi membuat janin Klara sangat aktif.
Semua turut mendoakan calon baby yang ada di kandungan Klara. Ahirnya cucu pertama akan hadir di keluarga Klara. Sedangkan di keluarga Aldi ini adalah cucu ketiga setelah dua anak dari kakak sulung Aldi.
"Ahzam sini umi Ze gendong. Bunda Nur pasti capek kan?" ucap Zeva sambil meraih baby Ahzam kedalam gendongannya.
Putra pertama Ahkam sekarang sudah semakin besar. Pipi gembul dengan badan yang gempal berisi padat. Membuat siapa saja yang menggendong Ahzam akan mengeluh sebab berat padannya.
Selain mengeluh orang juga suka menggendong Ahzam sebab ia adalah baby laki-laki bertubuh gempal dengan pipi bulat seperti bapau. Membuat siapa saja sangat senang menciumi Ahzam.
Zeva masih menggendong Ahzam sambil melihat setiap adat dari acara tujuh bulan Klara. Sesekali Ahzam berceloteh ria membuat gelak tawanya menggema dengan nyaring.
"Sayang sini Mas gendong Ahzam nya tangan kamu pegalkan?" Ucap Kahfi yang baru saja menghampiri Zeva dan meraih Ahzam.
Kahfi sangat tinggi, lebih tinggi dari Zeva. Sehingga Ahzam menunduk menatap Zeva "Bibibi tata ahhkkk" celoteh Ahzam saat diraih oleh Kahfi.
"Umi Zeva pegal sayang. Ahzam semakin gembul saja, emmmemem" ucap Kahfi sampil menciumi pipi gembul Ahzam.
"Tata dadtahah" Ahzam menepuk nepuk pelan waja Kahfi sambil berceloteh khas ala balita yang baru berusia kurang lebih delapan bulan.
Kahfi memilih duduk di kursi yang disediakan dengan meraih sepotong cake kecil ia memberikan nya kepada Ahzam. Baby itu cepat tanggap tangan mungilnya langsung meraih cake itu dan memasukkan nya kedalam mulut kecilnya.
Cake kecil dengan rasa manis menyisakan potonga kecil-kecil dibibir Ahzam. Dengan tangan yang masih menggenggam cake ia terus berceloteh bersama Kahfi.
Acara nujuh bulan berjalan lancar hingga selesai. Semua keluarga yang hadir juga sudah kembali, Begitu pula dengan Zeva dan yang lainnya.
Pertumbuhan begitu cepat. Hanya menyisakan kenangan dalam setiap perkembangannya.
__ADS_1