Kun Fayakun

Kun Fayakun
Menerima


__ADS_3

Apa yang kita minta belum tentu yang terbaik. Namun apa yang diberi Allah sudah pasti yang terbaik.


"Kita bicara di taman samping rumah sakit saja Ze" ucap Kahfi dan berlalu, berjalan mendahului Zeva.


Sebelumnya tadi mereka izin untuk bicara berdua. Dengan senang hati Ny Karina mengizinkan hal itu. Zeva berfikir ia harus membicara kan hal ini sebelum melangkah lebih lanjut lagi. Agar nantinya tidak ada kecewa didalam hubungan ini.


"Dok" ucap Zeva ketika mereka telah sampai di taman. Tadinya keduanya hanya terdiam hening, namun kali ini Zeva memberanikan diri untuk bicara dan menatap wajah Kahfi.


"Bicaralah Ze. Katakan apa yang ingin kamu kata kan"


"Kenapa harus Dokter?" nada suara itu mulai lirih dan bergetar.


"Jangan menangis Ze, kumohon. Tidak masalah jika kamu menolak aku tidak memaksamu"


"Dok. Ze sayang sama nenek dan Ze siap melakukan apapun untuknya. Bahkan Ze siap untuk menikah. Tapi...." suara itu seolah terdengar menyedihkan. Bahkan air mata sudah mulai membasahi pipi. Zeva berucap sambil menunduk.


"Tapi apa Ze. Kata kan saja. Kamu tau Ze, lelaki yang baik adalah dia yang memuliakan ketika mencintai namun tetap menghormati ketika tidak mencintai. Kamu tidak perlu takut untuk mengatakan pendapatmu Ze. Sebab semuanya itu penting agar semua jelas"


"Ze takut nantinya akan melukai perasaan Dokter" nadanya bergetar.


Dengan sekuat tenaga Zeva mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kahfi yang berada tepat disampingnya. Tatapan keduanya bertemu.


"Sesakit ini, saat melihat air mata itu jatuh namun aku tidak bisa memelukmu hanya untuk memberikan ketenangan" batin Kahfi.


"Jangan menagis Ze. Ikuti hatimu, dengarkan hatimu. Jangan terlalu egois. Jika hatimu mengatakan 'iya' maka majulah Ze tanpa rasa ragu. Setidaknya dengan begini keraguanmu akan berkurang"


Lama keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Tidak pantas jika memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain.


Secinta apapun kita kepada seseorang jangan jadikan itu sebagai alasan untuk ambisi kita. Jangan pernah melakukan hal yang salah hanya untuk mendapatkan orang yang kita cintai.

__ADS_1


"Ze siap Dok. InsyaAllah Ze tidak ragu untuk ini"


"Sulit Ze? itu memang benar tapi percayalah ikatan pernikahan hanya sekali seumur hidup. Jangan pernah berniat untuk mempermainkan pernikahan"


"Ze bahkan sudah pernah gagal dalam ikatan itu? lalu apakah Ze tidak pantas untuk memulai kembali? Dan apa Dokter mampu menerima Ze apa adanya. Sekalipun Ze bukan seorang gadis? Dan status Ze yang sebelumnya adalah seorang 'janda' apakah Dokter mampu menerima itu?"


"Ze dalam ikatan itu yang terpenting bukan masalah kamu masih gadis atau janda. Yang penting adalah seberapa yakin dan seberapa lama ikatan itu akan bertahan. Aku akan menerimamu apa adanya" ucap Kahfi.


Zeva masih terdiam. Dia beranikan dirinya untuk menatap mata Kahfi. Nyaman. Itulah yang ia rasakan. Hanya dengan menatapnya saja sudah senyaman ini. bagaimana nanti jika dia berada dalam pelukan Kahfi?


Ingatlah jika laki-laki sejati yang benar-benar mencintaimu, dia tidak perlu memiliki alasan untuk mencintaimu. Bahkan status mu bukanlah landasan dari hubungan yang akan di bangun.


"Baiklah Ze siap untuk menikah. Dok, Ze boleh minta sesuatu dari dokter? Zeva berucap sambil menatap Kahfi.


" Katakan saja Ze" Kahfi membalas tatapan Zeva.


"Jika nanti setelah kita menikah, jika Ze menyakiti perasaan Dokter maka katakanlah. Jangan hanya diam dan menghindari Ze. Dan jika hubungan kita memiliki masalah maka Ze mohon jangan pernah meninggalkan Ze. Ze takut jika harus gagal lagi"


"Kita jalani dengan Bismillah atas nama Allah. Jika hubungan dibangun karena Allah dan berlandaskan agama maka InsyaAllah sekuat apapun badai yang menerpa hubungan kita tidak akan goyah. Aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu Ze. InsyaAllah aku akan menjagamu agar tak lagi kembali mengalami luka dari rasa kecewa"


Zeva tertegun mendengar jawaban Kahfi. Kenapa pemuda ini seyakin itu? bukankan pernikahan ini karena permintaan nenek? lalu kenap dia setenang itu? seolah hubungan ini adalah hubungan yang dilandasi rasa cinta antara keduanya? Berjuta pertanyaan mampir memenuhi hati Zeva.


Keraguan? seakan semua sirna saat pemuda itu meyakinkan untuk melangkah bersama. Hubungan yang didasari oleh ketakwaan jauh lebih baik dari hubungan yang berdasarkan perasaan.


Jika cinta dia akan memuliakan, namun jika tidak cinta dia akan tetap memuliakan dan tidak menyakiti.


...


"Ahkam mintalah Bunda kalian untuk kemari" ujar Ny Karina.

__ADS_1


Sesaat ada rasa bahagia ketika mendengar jika Zeva bersedia menikah. Namun terlintas difikiran apakah Zeva terpaksa melakukan ini?


Namun seketika keraguan itu sirna ketika melihat Zeva tersenyum manis tanpa beban saat Ny Karina meminta Ahkam untuk menyuruh Bunda mereka kembali ke Indonesia.


Dengan segera Ahkam menghubungi Bunda Laura dan menjelaskan semuanya. Bahagia itu pasti. Orang tua mana yang tak bahagia ketika mengetahui bahwa putrinya akan menikah. Bunda pun memutuskan untuk segera terbang ke Indonesia bersama dengan Papa Malik.


"Kakak harap ini yang terbaik untuk kalian berdua. Fi kakak hanya berpesan jika kamu tak lagi menginginkannya maka kembalikan dia kepada kakak dengan cara terhormat. Jangan menyakiti dirinya seperti yang pernah terjadi sebelumnya" Ahkam berujar sambil memegang sebelah pundak Kahfi.


"Dan Zeva, kamu adalah adik Kakak. Jadilah istri yang baik, jika tidak mencintai maka usahalah untuk menghormati. Lakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Jangan menyakiti laki-laki yang tulus untukmu. Kakak hanya bisa berdoa untuk kalian berdua 'semoga selalu bahagia dan Allah meridhoi hubungan kalian"


"Kak" Zeva memeluk tubuh Ahkam. Nyaman dan kehangatan akan kasih sayang seorang kakak dapat ia rasakan.


"Jangan menangis. Kahfi adalah laki-laki baik, dia pasti akan menjagamu" Ahkam mengusap puncak kepala Zeva dengan lembut dan penuh rasa sayang.


Yakinlah kesedihan akan berlalu seiring dengan waktu yang berjalan. Hanya saja luka lama yang akaan sembuh masih tetap menyisakan cerita sedih yang membuat luka itu hadir.


Alasan dari kebahagiaan bukanlah mengenai harta, tahta dan kejayaan. Apalagi cinta? setia orang tetap memiliki hak untu bahagia meski tak bersama orang yang dicintai sebelumnya.


Cinta pertama?


Bukan masalah jika cinta pertama hanya menimbulkan luka. Yang terpenting adalah orang yang hadir setelah cinta pertama itu pergi dan meninggalkan luka.


Sakit?


Sesakit sakitnya luka yang ditimbulkan karena kekecewaat kepada cinta pertama lebih sakit lagi ketika kita kehilangan cinta Allah.


Cukup dengan Cinta dari Allah kita mampu menghadirkan cinta lainnya. Namun jika kita tak memiliki cinta Allah lalu bagaimana mungkin cinta yang lainnya akan hadir?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2