Kun Fayakun

Kun Fayakun
Tuan Putri


__ADS_3

Ada yang hancur tapi bukan hati.


Ada yang mekar tapi bukan bunga.


Ada yang dingin tapi bukan es.


"Syukurlah" ucap Papa. Ia mengusap lembut kepala Zeva.


"Papa hari ini gak ngantor?" Ahkam bertanya sambil menatap papanya.


"Tadi habis dari kantor langsung kemari. Papa udah urus semua administrasi rumah sakit, tadi juga Papa udah konsul ama dokter. Katanya Ze besok sudah bisa pulang jika perban sudah diganti" ujar Papa. Ada kemilau cahaya bahagia di wajah Zeva.


"Pa beneran kan? Ze juga sudah bosan di rumah sakit lama-lama"


"Iya" jawab nya dengan mengangguk.


Benar tadi sehabis dari kantor Tn Mahendra langsung kerumah sakit. Kebetulan jam sudah dekat dengan waktu makan siang jadi mumpung waktu masih lenggang ia pun mampir ke rumah sakit.


Tadi saat sampai di rumah sakit ia langsung menemui dokter yang menangani Zeva. Bertanya mengenai perkembangan keadaan Zeva dan yang lainnya. Hingga kabar gembira itu hadir dokter berkata bahwa "Besok Zeva sudah bisa kembali, setelah perbannya diganti. Tetapi walau begitu ia juga tetap harus rajin periksa ke rumah sakit"


"Baiklah Ze besok kamu akan pulang. Kamu bisa pulang kemana saja, kerumah papa dan ke rumah kakak juga boleh" ujar Ahkam


"Pa! Ze besok pulang ke rumah Kakak Ahkam saja ya?" matanya memelas. Ia ingin kembali ke rumah kakanya.


"Kenapa tidak kerumah utama saja Ze?" Tn Mahendra berucap. Seulas kekecewaan tersirat di dalam perkataanya. Hatinya menginginkan Ze kembali ke rumahnya tapi kini putrinya itu malah ingin kembali ke rumah Kakanya.


"Ada Papa Malik dan Bunda di rumah Kak Ahkam. Ze mau tinggal bersama Bunda pa. Tapi kalau Papa tidak mengizinkan tidak apa, Ze akan pulang ke rumah utama" gadis itu berucap sambil menundukkan kepalanya.


Sedih itu pasti!


Tapi lebih sedih lagi saat Putri nya tidak bahagia akan keputusannya. Penyesalannya sudah cukup saatnya di menebus kesalahannya. Saatnya ia membahagiakan putri nya itu. Dengan berat hati ahirnya Tn Mahendra mengalah.


"Baiklah Ze. Pulanglah kemana yang kau inginkan" pasrah Tn Mahendra.


"Pa"


"Tidak apa. Yasudah Papa akan kembali lagi ke kantor. Kamu cepat sembuh ya. Nanti malam atau besok Papa akan kemari lagi" ucap Tn Mahendra sambil mengelus kepala Zeva.


"Assalammualaikum" pamitnya. Ahirnya Tn Mahendra pergi meninggalkan ruangan Zeva.


"Waalaikumussalam" jawab Ahkam dan Zeva bersamaan.


"Kak Ze salah ya?" Tak terasa cairan bening itu tumpah membasahi pipi.


"Tidak Ze. Sudah jangan menangis" Ahkam mengusap pipi Zeva dan memeluknya hangat.


Inilah alasannya kenapa Ze lebih memilih rumah Ahkam untuk kembalai. Sebab jika berada dekat dengan Ahkam rasa aman dan nyaman itu hadir. Lagi pula di rumah Ahkam juga ada Bunda. Kan tidak mungkin jika Bunda tinggal di rumah Papa Mahendra dengan alasan Zeva.

__ADS_1


...


Matahari telah bersiap untuk pergi meninggalkan lagit dan akan digantikan oleh bulan. Tugas matahari telah usai. Kepergian matahari menyisakan cahaya jingga yang sangat cantik. Senja. Ya itulah senja, sebelum bulan hadir dan langit menjadi gelapnya malam senja hadir terlebih dahulu sebagai tanda bahwa mentari akan pamit.


Dua anak manusia tengah duduk dibangku taman menikmati pemandangan langit sore dari taman rumah sakit.


Zeva duduk di kursi roda dan dua pemuda lagi duduk di bangku taman.


"Ze bagaimana menurutmu Kahfi?" Tanya Ahkam.


Kalimat itu? Yak kalimat itu tidak salah di dengar. Kahfi yang mendengar itu langsung berbalik menatap Ahkam dengan alis yang hampir bertautan.


Bingung? tentu saja. Ada apa rupanya dengan dirinya? kenapa Ahkam bertanya seperti itu?


Sedangkan Zeva masih setianya menatap cahaya jingga di langit yang belum terbentuk sempurna warnanya.


"Maksud Kakak? Bagaimana apanya?"


Zeva heran. Sepertinya Kahfi adalah laki-laki dan dia adalah layaknya laki-laki.


"Ze... Jangan bercanda. Aku bertanya serius. Bagaimana Kahfi menurutmu?"


Pemuda itu bangkit dari duduknya dan mendekat ke Zeva. Dengan perlahan dia mendorong Zeva agar lebih dekat lagi dengan posisi Kahfi duduk saat ini. Setelah itu dia juga kembali ke tempat duduk semula.


"Dokter apa kau sedang berubah?" tanya Zeva dengan polosnya. Dia menelisik setiap wajah Kahfi.


"Kalian ini dasar. Baiklah kalian bicara berdua aku mau ke toilet" Ahkam geram. Niatnya ingin menjodohkan Kahfi dan Zeva melalui pendekatan ini malah hasilnya kedua orang itu sangat lamban berfikir.


Ahkam bangkit dari duduknya meninggalkan sepasang anak manusia itu menatap langit jingga itu.


"Dok, Kak Ahkam kenapa?" tanya Zeva setelah Ahkam pergi.


"Entahlah Ze" Kahfi sangat gugup. Dia mengerti maksud Ahkam apa? tapi hanya saja Zeva yang terlalu polos. Ahirnya Kahfi jadi canggung sendiri.


Sudah tidak ingin membahas lebih lanjut dan akan membuat Zeva bingung dia kembali diam menatapi langit senja itu.


Sesekali Kahfi memandang Zeva "Kau sangat suka langit senja itu Ze?" kalimat itu keluar dari bibir Kahfi.


"Iya"


"Alasanya?"


"Tidak ada"


"Bagaimana bisa kamu menyukainya tanpa alasan?"


"Dokter Abidzar Al-Kafi" Zeva berucap sambil memandangi nametag yang ada di jas putih yang di kenakan Kahfi.

__ADS_1


Kahfi mengikuti arah pandangan Zeva, lalu ia tersenyum. Teryata gadis ini sedang membaca namanya, makanya dia tahu nama panjangnya.


"Apa kita harus memiliki alasan untuk menyukai sesuatu. Jika kita suka yasudah suka! tidak harus ada alasan dulu mengapa kita suka. Tidak semua hal itu harus memiliki alasan termasuk saat kita menyukai......"


"Seseorang" potong Kahfi.


"Dokter" Ze menggelengkan pelan kepalanya. Ia ingin melayangkan perotesnya. Mengapa kalimatnya di pitong? dan jawaban itu? jawaban itu bukan yang akan di ucapkannya.


"Aku tidak salah kan Ze?"


"Iya jugak sih"


Suasana kembali hening diantara keduanya.


"Semenjak aku menjadi pasien di rumah sakit ini kita semakin dekat bukan?" kalimat itu hadir dari bibir Zeva.


"Emm kau merasa begitu?" tanya Kahfi yang hanya di angguki oleh Zeva.


Tanpa terasa senja juga mulai menghilang. Suara adzan dari mushola rumah sakit pun terdengar dengan jelas.


"Sudah adzan Ze. Aku akan mengantarmu ke kamarmu"


"Aku ikut ke musholah ya dok. Dokter mau kemushola juga kan?"


"Iya Ze"


"Yasudah aku ikut ya. Aku juga ingin sholat di mushola"


"Tapi Ze lukamu? dan apa kamu kuat untuk berdiri lama?"


"Lukaku dikening kanan kan, dan ubun-ubunku ditengah jadi tidak akan kena. Berdiri insyaAllah Ze sudah kuat" seulas senyum terbit di bibirnya sambil memandang Kahfi yang berada di belakangnya sudah bersiap untuk mendorongnya.


"Baiklah tuan Putri, hamba menurut saja"


"Haha jangan bercanda dok"


"Aku tidak bercanda. Jika kau mengijinkan aku untuk menjadikanmu tuan putri di hati ku ini" garis bibir membentuk lengkungan tertarik dari kedua sudut bibir Kahfi saat berucap.


"Ada-ada saja"


Keduanya menuju ke mushola rumah sakit. Kahfi mengantar Zeva sampai ke depan tempat wudu perempuan. Dan dia menuju ke tempat wudhu laki-laki untuk berwudhu.


..


..


..

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2