Kun Fayakun

Kun Fayakun
Pernikahan Klara dan Aldi


__ADS_3

Tetap istikhomah dalam statusmu sebagai jomblo fisabilillah. Hingga kau temukan seseorang yang siap menghalalkanmu.


Gelapnya malam digantikan oleh cerahnya sinar mentari. Hari-hari terus berlalu meninggalkan setiap kenangan di setiap harinya. Tanpa terasa hari ini adalah hari dimana Klara akan melepas status lajangnya.


Terhitung mulai hari ini ia akan meninggalkan status dan beranjak ke status menjadi seorang istri. Seolah penantian selama berbulan-bulan terlewatkan dengan membuahkan hasil yang sesuai harapan semua orang.


Hari ini Klara sudah cantik dengan set gaun pengantin muslimah berwarna putih yang senadah dengan baju mempelai peria. Hijab berwarna putih senadah dengan gaun dan bertahtakan mahkota putih mengkilat terpasang apik di atas kepala.


Polesan make up yang tidak terlalu mencolok membuat wajah Klara menjadi semakin anggun.


Sedangkan dilantai bawah dari rumah keluarga Klara telah duduk sedia penghulu yang akan menikahkan Klara dan Aldi. Taklupa para saksi juga sudah siap menyaksikan hari bahagia ini.


Rumah mewah milik keluarga Klara semakin megah dengan dekorasi berwarna dasar putih dan biru muda menambah kesan kesegaran dan keapikan di dalam ruangan.


Semua kerabat dekat dan jauh, serta seluruh keluarga Klara sudah siap sedia hadir menyaksikan acara pernikahannya. Gaun untuk para wanita berwarna marun serta baju kemeja yang senadah untuk para laki-laki.


Suara basmala dan shalawat sebelum ijab kabul dimulai menggema terdengar dari pengeras suara yang dikenakan oleh penghulu.


"Ananda Aldi Adelio Zein sayanikahkan dan kawinkan kamu dengan putri kandungsaya Klara Arabela Hisyam binti Surya Hisyam dengan maskawin seberat 30gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" suara Papa Klara menggema saat ijab kabul terlafaskan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Klara Arabela Hisyam binti Surya Hisyam dengan maskawin seberat 30gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" dengan satu tarikan nafas ijab kabul terlantun dengan tegas dari mulut Aldi.


"Bagaimana saksi? sah?" tanya penghulu sambi melihat ke para saksi yang hadir.


"Sahhhh...." sorak seluruh saksi.


"Alhamdulillah" ucap semuanya.


Papa Klara mengucap beribu rasa syukur, hari ini putri semata wayangnya telah resmi menjadi seorang istri. Mama Klara juga tampak haru dengan meneteskan air matanya ia mengucap rasa syukur.


"Mempelai wanita sudah bisa duduk disamping mempelai pria" ucap penghulu.


Dengan segera Rania (mama Klara) naik kelantai atas untuk memanggil putrinya agar segera turun.


Pemandangan yang sempurna tiga wanita turun secara bersamaan dari tangga, menginjakkan satu persatu kaki hingga dianak tangga terahir. Dibelakang mereka ada Rania (Mama Klara) dan Irene tante Klara (adik dari papa Klara).


Gaun pengantin yang dikenakan Klara sangat kontras dengan baju yang dikenakan Zeva dan Lena. Baju pengantin Klara berwarna putih bersih dengan aksen mutiara sebagai hiasan dan baju yang dikenakan Zeva dan juga Lena berwarna marun senadah dengan yang digunakan oleh Mama dan tante Klara.


"Silahkan memasangkan cincin kepada mempelai wanita" ucap penghulu setelah Klara turun dan duduk disamping Aldi.


Senyum kebahagiaan terbit di bibir semua tamu yang menjadi saksi. Dapat ditandai bahwa yang mengenakan pakaian berwarna marun adalah pihak keluarga dari mempelai.

__ADS_1


Cincin bertahtakan berlian terpasang apik dijari manis Klara sesaat setelah Aldi memasangkannya. Dengan instruksi dari penghulu Klara mencium tangan Aldi yang kini telah sah menjadi suaminya.


Tangan Klara begitu dingin. Sebenarnya yang mengucapkan ijab kabul Aldi atau Klara? kenapa malah tangan Klara yang sangat dingin?


Pemandangan yang romantis, setelah mencium tangan Aldi kini gantian Aldi meletakkan tangannya pada ubun-ubun Klara dan melafaskan doa untuk beberapa saat baru setelah itu ia mencium kening Klara. Seulas senyuman terbit di kedua wajah mempelai.


Pemandangan itu tak luput dari Zeva dan Kahfi. Dengan mata teduh Kahfi menunduk memandang wajah Zeva. Dengan tanga kanannya yang setia merengkuh pinggang istrinya itu. Satu kecupan mendarat dikening Zeva sesaat Kahfi semangkin merengkuhnya posesif.


"Malu dilihatin banyak orang. Lagian kasihan sama yang belum halal" ucap Ahkam yang berada tepat disamping Zeva.


Pemandangan hangat tak luput dari mata Aldo, Lena dan Nur istri Ahkam "Kasihan itu sama yang jomblo" ujar Ahkam lagi dengan tawa mengejek menatap Aldo dan Lena. Namun bukan Ahkam namanya.


Ahkam juga tak mau kalah ia merengkuh pinggang Nur dan mendaratkan ciuman di kening istrinya "Mata gue ternoda" ucap Aldo dengan juteknya sambil menutup matanya "Jangan pamer kemesraan disini. Sebenarnya yang menikah kalian apa Klara sih? kok malah kalian yang pakai acara ciuman" keluh Aldo.


Lena? jangan ditanya ia hanya diam melihat pemandangan itu "Makanya halalin segera" tukas Ahkam sambil menatap Lena.


"Akan ada saatnya. Jadi untuk sekarang kalian jangan pamer kemesraan" ujar Aldo.


"Sudah jangan pada berdebat tuh liat pengantinnya sajah sudah berpindah tempat" ujar Lena sembari menunjuk Klara dan Aldi yang telah siap sedia menyalami para tamu yang hadir.


Benar-benar istimewa. Rumah Klara sangat besar dan cukup luas untuk menampung setiap tamu undangan.


Tak hanya dari keluarga dan kerabat. Rekan bisnis Aldi dan Papa Surya juga mulai berdatangan. Banyak hadiah besar yang diberikan oleh para tamu yang hadir.


"Maaf Ze pernikahan kita tak semewah ini" ungkap Kahfi. Sedari tadi senyuman tak pudar dari wajah Zeva. Senyuman itu tulus? ya benar benar-benar tulus tanpa beban.


"Tidak masalah Mas. Ze bahagia atas apa yang Ze miliki dan Ze lalui. Bukan seberapa mewah suatu pernikahan yang menjadi landasan kebahagiaan" ujar Zeva sambil memegang tangan Kahfi.


"Ze bahagia bersama Mas. Ze bahagia memiliki Mas sebab Mas adalah apa yang tak dimiliki oleh orang lain" ungkap Zeva lagi. Kini ia beralih dan berdiri diikuti oleh Kahfi.


Kahfi merengkuh tubuh Zeva masuk kedalam pelukannya "Begitupula dengan Mas. Rasa syukur selalu mas langitkan bersama dengan nama mu" ungkap Kahfi.


"Sudah Mas gak baik dilihat orang, Malu" ujar Zeva sambil melepas pelukannya. Kahfi tersenyum menanggapi ucapan istrinya itu.


Ahirnya keduanya berjalan mendekat ke pengantin yang tengah berbahagia "SAMAWA buat pernikahan kalian. Aldi jaga sahabat ku yang bawel ini. Kalau dia bawel jewer saja telinganya yang penting jangan sakiti dia" ucap Zeva.


"Siap Ze. Kalian juga bahagia selalu atas pernikahan kalian ya" balas Aldi.


Klara merengkuh tubuh Zeva. Pelukan hangat dari seorang sahabat "Le" panggil Klara. Ia membentangkan tangannya agar Lena merengkuhnya.


Ahirnya ketiga sahabat itu larut dalam pelukan hangat "Sudah lepasin pelukannya itu tamu-tamunya masih banyak lo" ungkap Lena.

__ADS_1


Dengan senyuman Klara melepas pelukannya "Kita foto bareng" ungkapnya.


Dengan segera ia mengambil posisi disamping Aldi dan Kak Ahkam disamping Aldi dengan Nur disampingnya dan Zeva disamping Klara dengan Kahfi disampingnya dan tak lupa pula Aldo berdiri disamping Kahfi dan Lena berada ditengah antara Klara dan Zeva.


'Cekrek' suara kamera dari photografer yang mengabadikan momen itu. Tak hanya mereka seluruh keluarga besar Klara dan Aldi juga ikut berfoto ria.


Warna baju yang senadah memancarkan keharmonisan dan kebahagian antar setiap anggota keluarga. Setelah selesai berfoto ria Papa Surya dan Mama Rania kembali menyapa setiap tamu yang hadir.


Tak lupa Tn Adelio Zein dan Ny Amira yang merupakan orang tua Aldi juga turut membaur bersama para tamu yang hadir.


Diantara tamu undangan rekan bisnis dan lainnya Tn Mahendra dan Mama Veronika juga turut hadir, begitupula dengan Abi dan Umi yang datang sebagai tamu undangan sekaligus sebagai pengusaha yang mengenal keluarga kedua mempelai.


Tak luput dari pemandangan Daniel dan Citra juga hadir sebagai rekan bisnis yang turut diundang. Daniel mengenakan jas berwarna navi dengan Citra yang mengenakan gaun berwarna navi senadah dengan Daniel.


Ada yang berbeda dengan Citra. Ia hadir tak memakai gaun pendek melainkan memakai gaun muslimah lengkap dengan hijab. Entah sejak kapan ia berhijab tapi yang pasti itu hal yang baik.


"Zeva" sapa wanita cantik yang memanggil nama Zeva.


"Iya" jawab Zeva. Ia memandang wanita yang berada di hadapannya. Cantik! itu pasti. Wajah tak asing namun Ze masih diam memandangi.


"Citra Ze" ucap wanita itu.


"Mbak Citra? istri Mas Daniel?" tanya Zeva yang diangguki oleh Citra.


"Ze turut berduka cita ya atas meninggalnya nenek kamu dan selamat juga buat pernikahan mu. Satulagi Ze terima kasih karena waktu itu kamu sudah menyelamatkan ku dari kecelakaan hingga membuatmu koma"


"Iya Mbak tidak masalah"


"Maaf jika semenjak kecelakaan aku tidak pernah menemuimu. Aku dan suami sibuk mengikuti berbagai macam program kehamilan. Setelah kehamilan pertama keguguran dalam kecelakaan itu kami berusaha buat mengikuti program kehamilan agar segera hamil lagi. Tapi seperti yang terlihat sampai sekarang juga belum hamil" ungkap Citra.


Citra. Dasar Citra dengan mudahya ia bercerita segala keluh kesahnya kepada Zeva. Entah dia sadar atau tidak dulu dia adalah orang yang menyakiti hati Zeva.


"Mbak yang sabar ya. Mungkin belum rezekinya. Tetap ikhtiar dan tawakal kita meminta kepada Allah. Sesungguhnya rezeki diberikan seorang keturunan adalah kehendak dati Allah"


Zeva. Sungguh wanita ini sangat lembut. Tanpa rasa dendam ia tetap menerima kehadiran orang yang pernah menyakitinya dengan terbuka.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih buat yang senantiasa vote dan support novel ini:')


Yang nungguin up silahkan komen tanggapan kalian di part ini:')


__ADS_2