Kun Fayakun

Kun Fayakun
Kejadian Di Pagi Hari


__ADS_3

Kita hanya butuh satu alasan untuk merasa senanag dan melupakan kesedihan. Hanya perlu mendoakan untuk yang sudah pergi sebab tidak ada gunanya jika terus menerus ditangisi. Toh air mata tak mampu untuk menghidupkan kembali jiwa yang sudah mati. Hanya doa yang mampu menyapa yang tak terlihat.


Sinar mentari pagi mulai muncul. Selepas sholat subuh berjamaah di masjid dekat kompleks Kahfi kembali masuk kedalam kamar milik Zeva yang sekarang sudah secara otomatis menjadi kamar miliknya.


Zeva berada didalam kamar. Tadinya Zeva telah usai melakukan sholat subuh di ruang sholat bersama dengan Bunda, Mama Veronika dan kedua sahabatnya langsung kembali ke kamar miliknya.


Hari masih menunjukkan waktu yang masih sangat pagi. Udara dinginnya pagi hari juga masih terasa menusuk tulang "Ze kenapa itu hordennya?" tanya Kahfi saat melihat Zeva tengah membenarkan horden jendela kamarnya.


Baru masuk kedalam kamar sudah melihat pemandangan indah dipagi hari. Zeva sudah sangat rapi dengan setelan gamis berwarna marun miliknya tengah membenarkan gorden jendelanya.


"Gak tau ini lepas dia makanya Ze benerin" ucap Zeva dengan masih fokus membenarkan horden tersebut tanpa melihat ke Kahfi.


"Awas jatuh Ze. Atau sini biar dibantu" ucap Kahfi sambil mendekat kearah Zeva.


Gadis ini berdiri dikursi meja rias miliknya. Tubunhya sangat mungil dan pendek untuk menjangkau gorden yang tinggi itu tanpa bantuan bangku.


"Gak usah dok ini sedikit lagi juga beres" ucap Zeva sambil mengaitkan satu kaitan lagi agar gorden tersebut menggantung dengan sempurna.


"Selesai" ujar Zeva. Sedari tadi Kahfi hanya berdiri disamping Zeva memperhatikan wanitanya membenarkan horden yang menggantung tinggi.


"Bereskan dok" ucap Zeva sembari melihat Kahfi dengan masih berdiri diatas kursi.


Hal naas yang tak dapat dihindari adalah ketika akan turun Zeva malah menginjak bagian bawah gamis miliknya sendiri "Eeeehhh" ujar Zeva saat tubuhnya mulai oleng, seketika seperti mengudara di udara dengan bebasnya.


"Ze" ujar Kahfi dengan sigab ia mendekat. Alih-alih ingin menangkap tubuh Zeva agar tak terjatuh ke lantai tapi dia malah kalah cepat dari keadaan.


Tubuh Zeva keburu jatuh dan menimpa Kahfi. Terahir keduanya malah terjatuh bersamaan. Tubuh Kahfi menyentuh ubin lebih awal sedangkan Zeva berada diatas tubuhnya. Keduanya terdiam menikmati pandangan yang saling bertemu.


"Dek, Zev..." ucapan Ahkam menggantung. Langkahnya terhenti ketika ia membuka pintu dan melihat pemandangan yang ada dihadapan matanya.


Entah darimana asalnya dan entah mau apa. Pagi-pagi begini Ahkam sudah muncul dan masuk tanpa mengetuk pintu kamar Zeva.


"Maaf maaf kayanya Kakak masuk disaat yang tidak tepat dan lagian kenapa gak kunci pintu sih kalian" ujar Ahkam.


Niatnya memanggil Zeva agar turun bersama Kahfi untuk sarapan malah menjadi hal yang memalukan. Pemandangan yang ia lihat di pagihari mampu mengalihkan atensi siapapun.


Kahfi dan Zeva tersadar dengan posisi keduanya. Hal yang sangat memalukan dan bodohnya Ahkam kenapa dia masuk tanpa mengetuk pintu? benar-benar sangat ceroboh dan membuat malu saja.

__ADS_1


"Kak" ucap Zeva sembari bangun dari posisinya "Ayo dok Ze bantu" Zeva memegang lengan kekar milik Kahfi.


Pasti tubuh Kahfi saat ini sakit fikirnya? Sudah terjatuh malah ditimpa lagi olehnya.


"Kalian tu ya makanya pintu itu dikunci sebelum.."


"Apa sebelum apa Kak? orang tadi gak sengaja Ze jatuh nimpa Dokter Kahfi" ucap Zeva memotong ucapan Ahkam.


"Emmm Ze kakak lebih paham lo. Oiya disuruh Bunda turun sarapan pagi udh siap tuh" ucap Ahkam.


"Iya Kakak duluan saja nanti Ze nyusul"


"Sarapan dulu Fi jangan dilanjutin tar habis tenaga lo. Kan gak lucu kalau masih separuh jalan sudah kecapean" ucap Ahkam menepuk pundak Kahfi dengan tersenyum.


"Ada-ada saja memangnya mau ngapain Kak" decak Kahfi sambil menggelengkan kepala.


"Sudah ayo cepat turun. Kakak duluan" ucap Ahkam dan pergi meninggalkan Zeva dan Kahfi.


"Maaf Dok! yang mana yang sakit biar Ze obati dulu baru kita sarapan" ujar Zeva setelah Ahkam pergi.


"Tidak ada Ze. Kamu sangat kecil dan gamis ini kepanjangan untuk dirimu yang pendek makanya sampek keinjak dan jatuh kan. Kalau tadi aku gak ada gimana pasti udah ngeluh kamu kesakitan" ujar Kahfi.


Karena tinggi badannya yang kurang ini lah ia sampai terjatuh. Dan gamis yang dia kenakan memang sedikit lebih panjang dari yang biasanya.


"Jangan manyun Ze. Kamu pendek tapi imut kok" ucap Kahfi sambil mengusap pelan kepala Zeva "Sini peluk biar cepat tinggi" Kahfi menarik tubuh Zeva kedalam pelukannya.


"Mana ada orang pendek dipeluk terus jadi cepat tinggi" keluh Zeva dalam pelukan Kahfi.


"Ada Ze kalau peluknya begini" Kahfi langsung mengangkat Zeva agak sedikit lebih tinggi darinya.


"Ini namanya di gendong bukan peluk" keluh Zeva sembari memegang pundak Kahfi dan menunduk kan kepalanya untuk menatap wajah Kahfi "Udah ayo turunin dok. Tar yang dibawah nungguin lama"


Kahfi menurunkan Zeva. Pagi ini ia dibuat gemas dengan Zeva. Benar adanya gadis ini pendek tapi sangat suka memakai gamis yang lebih panjang dari dirinya.


"Sebentar Ze benerin kursinya dulu" ujar Zeva sambi melangkah dan mengangkat kursi hias itu lalu menarunya pada tempatnya.


"Biar kecil kamu kuat ya Ze" Keduanya melangkah dan langsung turun kebawah untuk sarapan.

__ADS_1


Meja makan telah ramai. Semua sudah berkumpul pada posisi masing-masing. Bunda dan Mama Veronika menata makanan dibantu oleh Bibi dan Klara. Sedangkan Lena mengisi air putih kedalam setiap gelas.


"Udah dibilang juga jangan dilanjutin eh malah lanjut" Keluh Ahkam saat Zeva dan Kahfi mulai mendekat ke meja makan.


"Mas udah jangan dibahas" Keluh Nur yang berada disamping Ahkam sambil memegang lengan Ahkam.


Kahfi hanya tersenyum menanggapi ucapan Ahkam. Ada-ada saja kaka iparnya ini. Gara-gara salah paham itu membuatnya malu saja. Papa Malik hanya tersenyum mendengar Ahkam mengejek mantunya itu.


"Gimana Fi rasanya?" tanya Ahkam lagi saat Kahfi telah duduk disampingnya.


"Apa? rasa apa kak? memangnya kita ngapain?"


"Memangnya tadi kalian ngapain? pake acara dilantai lagi kayak gada ranjang saja" decak Ahkam.


"Memangnya kakak fikir apa? ngapain? ya kita gak ngapa-ngapain. Jangan aneh-aneh ya kak" Ucap Zeva sambil mendekat dan sedikit menyubit lengan Ahkam.


"Ahkam kayak gak pernah saja kamu ini" ujar Papa Malik yang mengerti arah pembicaraan dan ejekan Ahkam.


"Papa juga jangan aneh-aneh ya" ujar Zeva.


Papa Malik dan Bunda hanya menanggapi dengan senyum manisnya. Sedangkan Klara dan Lena merasa heran. Mereka hanya terdiam melihat dan mendengar interaksi mereka semua. Setidaknya Klara dan Lena bahagia kesedihan Zeva akan kehilangan mulai memudar.


Sedangkan Papa Mahendra dan Mama Veronika hanya menyimak dengan sesekali tersenyum. Mungkin luka dari rasa kehilangan masih membekas dihati Papa Mahendra makanya dia tidak terlalu menanggapi candaan pagi ini.


Baru juga kemarin almarhumah berpulang kepada sang pemilik kehidupan. Bukannya tidak sedih, tapi buat apa terlalu berlarut dalam kesedihan sehingga melupakan orang-orang yang berada disekitar kita.


Bahagia tak harus selamanya. Tetkadang kita juga perlu merasakan kesedihan dari kehilangan agar kita paham caranya mensyukuri kebahagiaan yang masih tersisa.


Yang telah pergi biarkanlah. Kita hanya lerlu mendoakan. Biar bagaimanapun kehidupan tetap akan berlanjut. Jika kita berhenti maka waktu tak akan menunggu kita.


Satu hal yang Allah hadirkan untuk memberikan kesedihan namun Allah juga hadirka beribu alasan untuk kita merasa bahagia.


.


.


.

__ADS_1


Lop lop buat yang ngevoteđź’™


Terima kasih banyak support nya:')


__ADS_2