Kun Fayakun

Kun Fayakun
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Hal yang paling berharga adalah keluarga. Tempat berpulang terbaik setelah lelah adalah keluarga. Tempat terhangat adalah keluarga. Maka jadikanlah layaknya rumah sebagai tempat ternyaman sehingga tak satu pun anggota kekuarga yang akan berpaling mencari tempat kenyamanan tersendiri.


Cahaya malam telah pergi, dinginnya angin malam juga sudah pergi digantikan oleh hangatnya cahaya mentari pagi. Selepas sholat subuh semua anggota keluarga sibuk menggeluti aktifitas masing-masing.


Umi membuat sarapan bersama Bi Nani didapur, Mang Umar mencuci mobil dipagi hari. Sedangkan ketiga laki-laki lainnya tengah bersiap-siap untuk berangkat bekerja.


"Abi, Aldo, Kahfi ayo sarapan dulu ini sudah siap" teriak umi memanggi tiga pemuda di rumah ini.


Aldo muncul dari lantai atas bersamaan dengan Kahfi keduanya sudah rapi dengan setelan baju kerja masing-masing. Aldo mengenakan jas yang menjadi kebanggaannya yang membuat dirinya terlihat gagah sedangkan Kahfi sudah sangat rapi dengan pakaian kemeja nya.


"Umi Ze dimana?" tanya Kahfi dari tadi dia belum melihat istri mungilnya itu.


"Itu istri kamu lagi nyuci seprai. Umi bilang biar di cuci sama Bi Nani aja, istri kamu menolaknya" ucap Umi sambil menata piring di meja makan.


"Kahfi liat Ze dulu ya mi. Kalau Kahfi lama sarapan duluan saja" ucap Kahfi dan hanya diangguki oleh Umi.


Tak lama Kahfi beranjak pergi Abi keluar dari kamar lengkap dengan setelan kantornya. Biarpun usia sudah tak lagi muda tapi Abi masih terlihat gagah dengan pakainnya "Kahfi dan mantu kita mana Mi kok gak kelihatan" tanya Abi sembari duduk.


"Di belakang paling Bi. Jemur seprai" ucap Umi sambil tersenyum.


"Umi bilang jemur seprainya kok pake senyum-senyum gadak yang lucu ini Mi" keluh Aldo.


"Segeralah menikah Do. Kamu juga akan paham" ucap Abi.


Sementar dihalaman belakang tampak Zeva tengah menjemur seprai serta beberapa pakaian lainnya. Pagi ini sangat cerah mentari pagi bersinar dengan gagahnya.


"Kenapa dicuci sendiri? kan ada Bi Nani" ucap Kahfi sembari memeluk Zeva dari belakang.


"Dok, ih ngagetin. Masa iya ini ada noda darahnya Bi Nani yang cuci. Bikin malu saja" keluh Zeva sambil menghentikan aksi menjemurnya.


"Kenapa gak bilang. Biar Mas bantu" ucap Kahfi sembari melepas pelukannya dan membalik tubuh Zeva agar menghadapnya "Belajarlah untuk tidak memanggil ku Dokter Ze. Aku bukan doktermu dan kamu bukan pasienku" sambung Kahfi lagi.


"Iya, Iya Ze akan belajar buat gak panggil Dokter lagi. Habisnya udah kebiasaan panggil dokter"


"Yasudah udah selesaikan menjemurnya?" tanya Kahfi sambil melihat ember Zeva telah kosong "Ayo masuk sarapan, yang lain udah nungguin didalam" ajak Kahfi.


"Iya. Dokter eh maksudnya Mas, iya Mas Kahfi jalan duluan. Ze mau taruh ember ini dulu nanti didapur" ucap Zeva.


Keduanya masuk kedalam rumah. Zeva meletakkan ember bekas cuciannya tadi pada tempatnya dan langsung menuju meja makan "Umi maaf ya Ze gak bantuin Umi buat sarapan tadi" ucap Zeva.


"Iya gak papa kok nak. Sudah ayo duduk"


Sarapan pagi ini adalah hal baru. Hal pertama yang dirasakan Abi dan Umi. Ada kebahagiaan tersirat yaitu sarapan kali ini sudah berbeda, anggota keluarga bertambah satu. Hanya tinggal menunggu Aldo memiliki istri maka sarapan di mejamakan ini akan semakin lengkap.


Selesai sarapan Zeva membantu Bi Nani membersihkan meja makan dan peralatan makan yang kotor. Setelah itu ia kembali ke kamar untuk mengambil tas kerja milik suaminya.


"Umi berangkat ke rumah sakit ikut Aldo atau naik motor sama Kahfi?" tanya Aldo.


"Sama Kahfi saja nak. Lagian ini masih pagi dan polusi juga belum banyak" ucap Umi.


"Yasudah Abi berangkat Mi. Assalammualaikum" ucap Abi.


"Waalaikumussalam Bi" Umi mencium tangan Abi dan setelah itu Abi mencium kening Umi. Dan dilanjut dengan Aldo mencium tangan Umi untuk berpamitan. Begitu pula Kahfi juga mencium tangan Abi dan di ikuti oleh Zeva.


Keluarga ini sangat hangat. Walaupun semua anggota keluarganya bekerja tapi kehangatan keluarga tetap melekat. Rasa sayang dan kepedulian terbaur sempurna tanpa rasa kesombongan.


"Fi, Jangan kebut-kebutan bawa Umi. Kaka sama Abi duluan" ucap Aldo setelah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Aman pangeran mahkota. Hamba senantiasa menurut" ujar Kahfi sembari membungkukkan setengah tubuhnya seperti memberi hormat.


"Udah punya istri jangan bercanda terus malu tuh ama adek ipar gue punya lakik kaya lo" ucap Aldo sambil tersenyum mengejek "Ze kakak pamit cari jodoh hahaha(tawa mengejek). Assalammualaikum" lanjut Aldo lagi sembari memajukan mobilnya.


"Waalaikumussalam kak" dengan senyum manisnya Zeva menjawab salam Aldo.


"Jangan ditanggepi Ze. Aldo memang kayak gitu rada gak waras" ucap Umi sambil tersenyum.


"Yaudah kita juga berangkat Ze" ucap Kahfi.


"Iya, Umi hati-hati dijalan ya" ujar Zeva sembari mencium tangan Umi Nyimas.


"Ini dok, eh Mas tas kerjanya. Nanti makan siang Ze anterin" ujar Zeva sembari memberikan tas milik Kahfi.


"Iya kita berangkat Ze assalammualaikum" Kahfi mengulurkan tangannya dan disambut oleh Zeva. Setelah Zeva mencium tangan Kahfi, Kahfi membalas dengan mencium kening Zeva dan keduanya tersenyum.


Umi mengamati pemandangan hangat di pagi hari. Ia bersyukur putranya bahagia dengan pernikahan yang bisa di bilang pernikahan mendadak. Dan mengenai guyona antara Kahfi dan Aldo. Umi bangga kedua anak laki-laki nya hidup rukun dan damai hingga saat ini dan semoga kedepannya juga begitu.


Hingga motor sport Kahfi pergi meninggalkan halaman rumah Zeva masih setia berdiri di depan pintu. Dan setelah motor Kahfi tak terlihat barulah ia masuk kedalam.


"Bi biar Ze yang siram tanaman ya" ucap Zeva.


"Gak usah non biar Bibi aja. Itu sudah menjadi tuganya bibi" larang Bi Nani


"Tidak masalah Ze juga suka melakukannya lagian pekerjaanya tidak berat. Dan jangan panggi non dong bi. Panggi Ze aja biar lebih akrab gitu" ucap Zeva tulus dengan senyumannya.


"Masa cuman panggil nama gak enak atuh bibi. Yaudah bibi panggil Mbak Ze aja ya"


"Senyaman bibi aja ya" Zeva berlalu menuju halaman belakang.


..


Waktu berjalan cepat tepat pukul 10pagi Zeva sudah rapi dengan gamis panjang perpaduan antara warna hijau dan putih, hari ini ia akan ke caffe miliknya. Tinggal di rumah Umi sangat menyenangkan untuknya di rumah ini ada Mang Umar supir keluarga yang tak kalah ramah dengan Mang Mamat supir keluarga Zeva.


Begitupula Bi Nani dia sangat baik dan juga ramah. Membuat Zeva nyaman dan tak merasa canggung. Hari ini Zeva diantar oleh Mang Umar ke caffe miliknya.


Tak berapa lama dia sudah sampai di caffe miliknya. Caffe sudah di buka dan para pegawai juga sudah merapikan dan membersihkan stiap meja agat terlihat lebih rapi dan lebih bersih.


Hingga waktu berlalu menunjukkan jam makan siang Zeva segera berlalu dari caffe menuju ke rumah sakit dengan membawa makan siang yang sebelummnya sudah ia buat sendiri di caffe miliknya.


Dua kantung yang berisi kan makan siang ia bawa. Dengan berjalan kaki di trotoar Zeva menuju ke rumah saki. Lumaya jarak anata rumah sakit dan caffenya tidak jauh. Hanya perlu menyebrang dan berjalan sedikit.


"Selamat siang Mbak. Cari Dokter Kahfi ya?" Tanya resepsionis rumah sakit.


" Siang sus, iya saya cari Dokter Kahfi"


"Oo kayanya Dokter Kahfi di ruangannya tadi sehabis melakukan operasi dia langsung kembali ke ruangannya. Langsung saja Mbaknya lurus, baru belok kanan ruangan Dokter Kahfi berhadan dengan ruangan Dokter Ahkam" jelas suster tersebut.


Para suster dan pekerja lainnya yang berada di rumah sakit sudah mengenal Zeva jadi mereka sangat ramah. Lagian sebelum menjadi istri Kahfi Zeva juga sering kemari untuk mengantar makan siang Ahkam dan Ze juga pernah menjadi pasien disini.


"Iya sus terima kasih. Saya langsung kesana ya" ucap Zeva lalu beranjak pergi menuju ruangan Kahfi.


Tak berapa lama sampai juga dia diruangan yang bertuliskan nama Kahfi. Terdengar dari luar seperti ada yang sedang berbicara di dalam. Zeva mengetuk pintu sebelum masuk.


Hingga di ahir ketukan Kahfi sendiri yang membuka pintu "Assalammualaikum dok" ucap Zeva ketika pintu terbuka.


"Waalaikumussalam Ze. Ayo masuk didalam ada Kah Ahkam dan Dokter Ibrahim juga"

__ADS_1


Kahfi membawa Zeva masuk dan di dalam terlihat Ahkam dan Dokter Ibrahim tengah duduk di sofa tamu "Ze" ucap Ahkam dan langsung bangkit mendekat ke arah Zeva.


"Kak, apa kabar? Mbak Nur juga dan gimana dede bayi sehat" tanya Zeva dengan sedikit mengangkat kepalanya agar bisa menatap Ahkam.


"Alhamdulillah sehat Ze. Kamu sendiri gimana? semenjak menikah belum pernah ke rumah Kaka lagi, Mbak Nur juga nanyain" tanya Ahkam sambi merangkul dan mencium puncak kepala Zeva yang terbalut hijabnya.


"Iya nanti kapan-kapan Ze kerumah ya. Ini Ze bawain makan siang, pasti belum makan kan?"


"Baiklah nanti kita ngobrol lagi. Saya permisi kekantin buat makan siang dulu" ucap Dokter Ibrahim.


"Dok disini saja. Makan bereng Dokter Kahfi, ini Ze bawa banyak makan siang"


"Tidak usah Ze nanti merepotkan kamu" tolak Dokter Ibrahim dengan ramahnya.


Hampir semua Dokter mengenal Zeva. Selain sebagai adik Ahkam dia juga merupakan istri dan menantu dari pemilik rumah sakit ini.


"Tidak merepotkan. Ayolah Kak Ahkam juga disini. Kalian makanlah bertiga Ze akan siapin"


"Duduk saja Dok. Hitung-hitung kita gak capek-capek jalan kekantin lagi" bisi Ahkam kepada Dokter Ibrahim.


Dokter Ibrahim adalah Dokter senior yang sangat ramah jadi wajar saja jika Ahkam sangat dekat dengannya.


Ahirnya ketiga Dokter itu pun duduk dan menikmati makan siang yang di bawa Zeva. Menu makan siang ini sangat sederhan, sup ayam dengan berbagai jenis sayur seperti brokoli, kentang, wortel, jagung dan buncis menjadi pelengkap.


Yang terpenting bukanlah seberapa mahal dan istimewa makananya tapi yang terpenting adalah dengan siapa kita menikmatinya dan seperti apa cara kita mensyukurinya.


"Masakanmu sangat enak Ze" ucap Dokter Ibrahim sambil meneguk air putih miliknya "Kahfi sangat beruntung" tambahnya lagi.


"Allhamdulillah jika Dokter suka masakan Ze"


Keempatnya larut dalam pembicaraan. Beruntung Zeva sangat mudah bergaul dan terbuka. Lagian Dokter Ibrahim juga sangat ramah. Sesekali ia mengejek Kahfi dan Zeva. Ia mengatakan semenjak menikah Kahfi banyak berubah mungkin punya penyemangat dirumah dan selalu mendapat energi tambahan.


Ada saja yang menjadi guyonan Dokter senior ini. Kahfi dan Zeva hanya tertawa menaggapinya.


.


.


.


Maaf semalam Author gak up karna kebanyaan tugas sekolah:')


Komen yang panjang dong biar buat stamina Author untuk ngetik wkwkwk....


Buat reders rahasia yang gak lernah komen tapi diam-diam like, komen dong biar Author kenal dengan pembaca semua:')


Seperti kata pepatah tak kenal maka tak saya. Jadi mari kenalan biar tambah sayang hehehe:')


lop lop buat pembaca setia, buat yang suka like diam-diam, buat yang suka komen, rate5 dan juga buat yang suka vote.....💙


Follow me:')


ig:pmhh03


fb:Patmah


wa: 08..........

__ADS_1


__ADS_2