Kun Fayakun

Kun Fayakun
Martabak


__ADS_3

Sederhana saja sehingga kau mampu menjadi spesial dengan itu:')


Dua hari sudah berlalu semenjak kejadian di pagi hari itu. Kondisi Zeva juga kian kembali seperti semula. Sesuai rencana semalam Umi mengajak Zeva. Namun yang terjadi benar-benar diluar pemikiran.


Awalnya Umi berniat untuk mengajak mantunya ke dr kandungan. Sebab dari gejala yang ia lihat seperti menantunya mengalami gejala awal kehamilan. Tapi entah mengapa setelah sampai rumah sakit fikiran Umi berubah.


Mungkin Umi tidak ingin terburu-buru, ia takut jika nanti hasilnya tak sesuai harapan maka akan menyakiti perasaan Zeva.


Hari ini tampak Zeva tengah menyusuri lorong rumah sakit. Siang ini dia berniat menemui suaminya. Entah hal apa yang tengah ia rasakan tiba-tiba saja dia sangat merindukan suaminya itu.


"Assalammualaikum mas" sambil mendorong pintu ruangan Kahfi.


Saat pintu terbuka beruntung Kahfi tengah di dalam. Ia sedang fokus dengan berkas yang ada pada tangannya.


"Waalaikumussalam, Ze" Kahfi mengalihkan pandangannya dari berkas yang tengah dia pegang ke sumber suara.


Istrinya? mungkin dia merasa heran. Sambil bangkit dari duduknya ia melirik jam di tangannya. Pukul tiga sore. Kok tumben Zeva kemari? biasanya kalau kesini jam makan siang tapi ini kan sudah lewat. Berjuta pertanyaan menggelayut di fikiran Kahfi


"Habis dari cafe?" tanya Kahfi sambil menghampiri istrinya.


"enggak" Zeva bergelayut manja di tangan Kahfi seolah menyiratkan kerinduan untuk suaminya.


"Mas, mas masih lama lagi pulangnya?" Zeva mengangkat kepalanya agar bisa menatap suaminya.


"Kalau tidak ada perubahan jadwal, jam lima sore ini mas pulang. Kenapa hem?" Kahfi mengusap puncak kepala istrinya, dengan berbalik agar bisa menghadapnya.


"Mas Ze mau makan martabak manis, mas beli in ya" pintanya dengan mata memohon. Dari kemarin ia meminta ingin memakan martabak tapi suaminya tak kujung mewujudkannya.


"Astaufirullah, sayang mas lupa. Mas kira yang kemarin kamu minta di beliin martabak malam-malam terus siangnya gadak minta lagi, mas kira kamu udah gak mau" keluh Kahfi.


Dia benar-benar lupa. Pasalnya istrinya tidak memintanya kembali. Lagian kenapa hanya hal seperti ini saja dia bisa lupa?


"Yaudah ayo sekarang saja kita beli. Nanati mas keburu lupa" ajaknya sambil mengandeng tangan istrinya.


Zeva mengikuti langkah suaminya. Dengan sabar keduanya beriringan berjalan hingga ke depan rumah sakit "Mas mau beli dimana?" tanya Zeva.


"Di seberang ada penjual martabak gerobak. Setau mas kalau jam segini dia sudah mangkal. Kamu mau martabak gerobak kan?" Sambi menatap istrinya, Kahfi berujar.


Zeva hanya mengangguk meng'iya' kan pertanyaan suaminya. Dengan berjalan kaki keduanya menyebrangi jalan raya yang tampak ramai, mungkin karena sudah sore jadi banyak orang yang berlalu lalang.


"Kamu mau rasa apa Ze?" Tanya Kahfi setelah sampai di tempat tujuan.


Penjual martabak gerobak. Lumayan ramai antrian membuat tukang martabak itu terburu-buru melayani pelanggannya.

__ADS_1


"Rasa apa aja" ucap Zeva. Ia mulai mengipas ngipas ringan wajahnya.


Beruntung sore hari jadi cuaca tak sepanas di saat tengah hari. Angin sore juga lumayan berhembus meniupi dedaunan.


"Mas martabaknya lima loyang ya" pinta Kahfi kepada penjual martabak.


"Ok mas. Biasa atau spesial?"


"Yang spesial"


Setelah mendengar pesanan Kahfi, tukang martabak itu langsung membuatkan lima porsi martabak spesial. Zeva dan Kahfi menunggu dengan duduk pada kursi yang di sediakan oleh penjual martabak. Semakin lama duduk di situ pengunjung martabak gerobak juga semakin ramai.


Kata orang-orang di rumah sakit, ini adalah martabak gerobak dengan cita rasa enak yang mampu membuat pembeli ketagihan. Sebelum Kahfi tidak pernah kesini dia hanya mendengar rekomendasi para staf suster rumah sakit.


Setelah menunggu lumayan lama ahirnya pesanan mereka telah selesai. Satu kantong pelastik dengan beberapa box di dalamnya telah selesai "Ini mas pesanannya" ucap penjual martabak menghampiri Kahfi.


"Oh iya mas, berapa semua?" kahfi bangkit dari duduknya sambil meraih kantung pelastik yang di serahkan kepadanya.


"125ribu mas" jawab tukang martabak dengan senyuman "Istrinya ya mas?" lanjutnya saat melihat Zeva yang masih anteng duduk di kursi.


"Iya mas" Kahfi memberikan uang seratus ribu dan uang lima puluh ribu.


"Tunggu sebentar ya mas, saya ambil kembaliannya"


"Kok gitu mas?"


"Tidak apa, anggab saja saya bakalan langganan disini"


"Baiklah terima kasih mas"


Dengen senyuman Kahfi mengajak Zeva berlalu dari situ. Mereka kembali lagi ke rumah sakit. Sesampainya di ruangan Kahfi keduanya duduk dengan martabak yang berada di atas meja.


"Ayo dimakan Ze. Sebentar lagi kita pulang" Kahfi mengeluarkan satu porsi martabak dan meletakannya di meja.


Dengan cepat Zeva meraih sepotong martabak. Jika dilihat dari luar saja sudah menggoda apalagi nanti ketika masuk ke dalam mulut.


"Mas ini martabaknya enak banget" sambil mengunyah martabak di mulutnya.


Benar saja rasa manis berpadu dengan rasa empuk dari martabak. Dengan selai coklat yang lumer pecah di mulut "Pelan-pelan makanya" tegur Kahfi saat istrinya itu tengah sibuknya melahap martabak.


"Mas gak mau?"


"Mas masih kenyang. Kamu makan saja ya" dengan senyum manisnya. Bahkan sangat manis di pandangi Kahfi mengelus pelan puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Cukup puas dengan memakan satu porsi martabak dalam sekejap. Kahfi baru tahu jika istrinya ini sangat menyukai jajanan pinggir jalan yang bernama martabak. Dia kira Zeva hanya menyukai sate padang saja.


Beruntung sekali Kahfi memiliki istri seperti Zeva. Yang mana istrinya lebih suka jajanan pinggir jalan ketimbang restoran. Lebih suka belanja di supermarket dan pasar ketimbang mall besar. Meski berasal dari keluarga serba berada tapi Zeva tak banyak maunya.


"Alhamdulillah Ze sudah kenyang" ujarnya setelah menegak habis air putih dari dalam gelas yang Kahfi ambilkan.


Kahfi merasa gemas melihat istri kecilnya ini. Lihat saja bibir mungilnya belepotan coklat lumer. Dan tangannya juga. Seperti bocah saja.


"Sayang bersihin dulu itu tangannya" tegur Kahfi.


Zeva bangkit dan mulai mencuci tangannya di wstafel ruangan Kahfi. Setelah itu ia meraih tisu untuk mengelap sisa-sisa air yang masih basah.


"Mas" Zeva kembali duduk di samping suaminya.


"Hemm" deheman Kahfi membuat Zeva memeluknya "Kenapa sayang?" sambil mengelus puncak kepala istrinya.


"Bulan ini Ze telat lama banget. Ini sudah hampir ahir bulan kok Ze gak menstruasi juga"


"Lalu masalahnya kenapa hemm" dengan nada lembut Kahfi bertanya dengan tangan yang masih setia mengusap kepala istrinya.


"Ya gak papa mas, Ze cuma cerita saja. Memangnya gak boleh Ze cerita sama mas hem" sambil mendongakkan kepalanya agar ia bisa menatap suaminya.


"Loh kok gitu mas kan cuma tanya sayang" Kahfi mendaratkan ciuman di kening istrinya.


Sedikit bingung kenapa dengan istrinya? baru juga ditanya lalu kok gitu jawabannya?


"Ehh tunggu tunggu, sudah berapa kali kamu telat sayang?" tanya Kahfi lagi.


"Seingat Ze cuma bulan ini? emm bulan kemarin Ze menstruasi di tanggal 5 dan harusnya bulan ini Ze juga menstruasi tanggal segitu. Tapi ini sudah tanggal 22 kok Ze gak datang bulan. Emm mungkin telat lagi kali yam mas" Tak ingin memikirkannya lagi Zeva memilih kembali memeluk suaminya.


"Eemm yaudah gak usah di bahas lagi. Kan bagus jadinya mas gak lerlu puasa" senyum jahil terbit di wajah Kahfi.


Tau arti dari puasa yang di ucapkan suaminya "Mulai deh" keluh Zeva sambil menepuk ringan lengan kekar suaminya.


"Hahah, kan dirumah gak diaini. Tapi kalau mau disini juga gak papa"


"Apa sih mas. Udah jam berapa? gak jadi pulang?" Zeva bangkit dan meluruskan tubuhnya.


Bisa bahaya jika berlama lama meladeni ucapan suaminya. Yang ada dia yang akan menjadi korban.


"Yasudah ayo pulang" Kahfi menginting pelastik berisi empat porsi martabak.


Ia akan membawanya pulang. Dia tau jika dirumah Abi dan Aldo sangat menyukai martabak makanya dia membeli banyak, tak terkecuali untuk dirinya juga.

__ADS_1


Keduanya berlalu meninggalkan rumah sakit. Jalan raya mulai di padati pengguna jalan. Kemacatan di sore hari juga sudah menjadi hal biasa. Polusi dari truk juga mulai timbul. Suara bising dari ramainya kendaraan juga sudah tak asing bagi mereka.


__ADS_2