
Hal yang paling sulit adalah ketika kita harus berpura-pura kuat padahal dalam hati sendiri tengah meronta meminta mengutarakan kesedihan.
Suasana malam sangat menenangkan, hembusan angin menari dengan indah. Helaan nafas masih terdengar menderu berhembus menitiki kehidupan.
"Sayang kok belum tidur?" tanya Kahfi ketika mendapati Zeva yang masih duduk dipinggir ranjangnya.
"Iya sebentar lagi mas"
Kahfi memilih duduk disamping Zeva. Keheningan menyelimuti keduanya. Masih hening seolah tak ada yang ingin memulai pembicaraan, hingga suara Kahfi memecah keheningan itu.
"Kenapa kok murung lagi?" tanyanya sambil menelisik wajah Zeva yang tengah menatap lurus kedepan.
"Ze datang bulan lagi mas" jawabnya dengan sendu, tatapan matanya mulai berkaca.
"Hemmmm, sudah tidak masalah" Kahfi berujar sambil menarik tubuh Zeva kedalam pelukannya.
"Seakan akan sia-sia saja usaha program hamil yang Ze ikuti selama hampir tiga bulan belakangan. Baby Ahzam juga sudah semakin tumbuh besar, hah dia sangat menggemaskan bukan" ucap Zeva sembari melepas pelukan Kahfi.
"Klara juga, kehamilannya sudah hampir memasuki empat bulan. Masih terkenang saja bagaimana repotnya Lena ketika ia memintanya untuk membuatkan makanan dicafe Ze, lalu makanan itu tidak ia makan" Zeva tertawa getir ketika ia mengingat saat-saat itu.
Dimana hari itu Klara mengatas namakan nyidamnya untuk merepotkan Lena dengan membuatkan makanan yang ia sukai, tapi setelah makanan tersaji ia tak memakannya sama sekali.
"Hahhah ketika saat itu, ketika melihat muka kecewa Lena sangat menggemaskan. Jangan-jangan nanti jika saat anak Klara sudah lahir pasti ia akan sangat menyebalkan seperti ibunya" Zeva terus berucap seolah mengalihkan kesedihannya.
Tapi tak bisa dipungkiri, ketika bibirnya menyatakan tawa tapi hatinya tak sejalan. Ekor matanya tampak mulai dibasahi oleh cairan bening. Miris bukan? sebegitu inginnya Zeva memiliki anak sehingga ia selalu merasa sedih akan hal itu.
"Sudah jangan dilanjutin Ze" ucap Kahfi lirih. Sebegitunya? sehingga Kahfi meneteskan air matanya.
Kahfi memegang pundak Zeva agar menghadap kearahnya, selain itu agar istrinya menghentikan ucapnya "Sudahlah sayang" pinta Kahfi untuk yang kesekian kalinya.
"Tapi kapan untuk Ze memiliki kebahagian itu?" tak bisa dipungkiri ahirnya Zeva menagis.
Sudah cukup. Sudah saatnya ia berhenti berpura-pura tegar. Bahunya juga sudah lelah memikul segala beban kesedihan itu. Ibarat kaca yang memang terlihat kuat jika dipandang dari kejauhan, tapi cobalah melihatnya dari dekat maka kita akan menemukan titik terapuhnya.
"Jangan begini Ze!" ucap Kahfi.
Walau air mata Zeva telah tumpah membasahi wajahnya tapi ia masih setianya berbicara "Mas kenapa nangis? apa semiris itu Ze dimata mas?" tanya Zeva sambil menatap Kahfi.
"Jangan begini Ze. Jangan terlalu lama memendam kesedihan sendirian. Berbagilah, Mas selalu ada disini. Masalah anak? mas tidak masalah entah satu tahun atau bahkan sepuluh tahun mas akan menanti waktu saat kita akan memiliki seorang anak" Kahfi memeluk Zeva.
Ingin rasanya Zeva meronta, tapi apa daya seolah itu tak berarti apa-apa "Jangan menyiksa dirimu, jangan bebani pikiranmu hanya karena masalah ini. Kita serahkan semuanya kepada Allah" Kahfi terus menenangkan Zeva.
Zeva hanya larut dalam kehangatan pelukan suaminya. Lama bahkan sangat lama Kahfi melontarkan setiap kalimat penenang.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis. Mulai sekarang dan seterusnya Mas mohon, Ze jangan pernah lagi membahas masalah kapan hamil atau yang lainnya. Pokonya Mas tidak mau tahu jangan pernah membahas itu lagi" ucap Kahfi dengan nada lembutnya tapi penuh dengan ketegasan.
"Sudah sini tidur, jangan menangis lagi" Kahfi bangkit dan membenahi bantal yang ada diranjang "Ayo berbaring" Kahfi menuntun tubuh Zeva agar berbaring di ranjang.
Zepa hanya menurut, begitu pula Kahfi ia juga merebahkan tubuhnya disamping Zeva. Lama keduanya diam tanpa ada kata lagi. Hingga Kahfi menghadap kearah Zeva. Ia pikir gadis itu sudah tidur, tapi nyatanya tidak. Zeva masih anteng menatapi langit langit kamarnya dengan tetap terdiam.
"Kanapa belum tidur?" tanya Kahfi sambil menopang kepalanya menghadap ke arah Zeva.
"Gakbisa tidur Mas" ucap Zeva dengan polosnya.
Kahfi membenahkan dua bantal dengan menumpuknya menjadi satu, meminggirkan guling agar membuat tempat lebih lebar diranjang "Ayo sini" pinta Kahfi kepada Zeva.
Kahfi menepuk tempat yang berada disampingnya. Zeva hanya menuruti dengan bergeser dan berbaring lebih dekat dengan suaminya "Ayo tidur mas akan bacakan surah Al-Mulk"
Kahfi mengusap pelan puncak kepala Zeva dan memulai membaca basmalah sebagai pembuka dari surah yang akan ia baca.
"*Bismillahhirahmaannirahim"
"Tabarakallazi biyadihil-mulku wa huwa'ala kulli syai'ing qadir"
"Alazi khalaqal-mauta wal-hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu'amala, wa huwal-azizul-gafur*"
Bacaan Al-Mulk dari Kahfi sangat mendayu, mengalun merdu dengan pelan. Perlahan mata Zeva mulai redup. Kelopak mata mungil itu mulai tertutup. Lengkuhan nafas dari Zeva terdengar dengan teratur.
Baru sampai ayat ketiga, Zeva benar-benar menutup matanya dan larut kedalam dunia mimpi. Kahfi menyudahi bacaanya. Ia memandangi wajah teduh Zeva.
Wajah yang namapak sangat ceria, namun dibaliknya tersimpan banyak beban fikiran. Kahfi mengusap pelan pipi Zeva lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Setelah itu ia juga merebahkan tubuhnya sambil memeluk istrinya ia larut masuk kedalam dunia mimpi.
Kahfi berharap agar kelak esok pagi ketika bangun maka semua beban fikiran Zeva akan hilang bersama bergantinya hari.
..
Pagi harinya Kahfi menjalankan sholat subuh tanpa membangunkan Zeva. Ia membiarkan Zeva tidur, lagipula ia tahu jika istrinya itu tengal libur sholatnya.
Setelah selesai sholat umi menahan langkah Kahfi yang ingin kembali kekamarnya "Fi" panghil umi.
"Iya umi?"
"Ze tidak sholat nak?" dan diangguki oleh Kahfi "Istrimu sakit? kok tumben jam segini dia belum bangun?" tanya Umi.
"Mi" Kahfi menunduk untuk sejenak. Umi memahami apa yang terjadi kala anaknya tengah seperti ini.
"Cerita jika kamu ingin dan jangan cerita jika kamu tidak menginginkannya. Jika ada masalah dengan hubunganmu dan istrimu lebih baik diselesaikan dengan baik-baik nak" ucap Umi sambil mengusap pundak putra bungsunya.
__ADS_1
"Mi tadi malam Ze menangis, ia nangis lagi tentang ia yang belum juga hamil" ucap Kahfi sambil menatap umi.
Kahfi menceritakan semua yang terjadi tadi malam. Mengenai kesedihan Zeva dan harapan-harapannya.
"Kalian yang sabar ya nak. Emm mulai saat ini sudah umi akan bilang kepada yang lain bahwa jangan pernah ada yang membahas mengenai kapan Zeva akan hamil. Kita akan menghindari hal-hal yang akan membuat istrimu sedih.
Intinya kamu selalu dukung istrimu. Umi tahu rasanya berada diposisi seperti istrimu. Selalu hibur istrimu nak" ucap Umi.
Umi terus memberikan nasihat kepada Kahfi. Abi juga sama halnya dengan umi. Sosok peria tegas ini sangat hangat ketika menasehati anak-anaknya.
Semejak pensiun abi dan umi semakin dekat dengan Zeva. Sebab mereka sering menghabiskan waktu bersama.
"Lihatlah istrimu. Umi akan membuat sarapan bersama bi Nani" pinta Umi kepada Kahfi.
"Terima kasih umi nasehatnya" Kahfi memeluk Umi.
Wanita perkasa dihadapannya ini sangatlah sangat memahami setiap permasalahan anak-anaknya. Wanita paruh baya yang sangat hangat.
Kahfi kembali ke kamarnya. Ketika ia masuk ia sudah mendapati istrinya tengah menggunakan hijabnya. Mungkin ia habis mandi begitu fikirnya.
"Wangi sekali" ucap Kahfi sambil merengkuh istrinya dari belakang.
Kahfi meletakkan kepalanya di cela leher Zeva. Satu keluhan Kahfi mengenai Zeva. Istrinya ini sangat mungil. Tinggi badan yang hanya sebatas dadanya membuat ia harus extra membungkuk agar bisa memeluk istrinya.
"Mass. Berat ih kan, Ze mau turun pasti umi lagi repot didapur. Mas tadi kenapa gak bangunin Ze sih?" keluh Zeva secara beruntun.
"Umi gak repot kok. Kata umi mantunya disuruh bantuin suaminya aja dikamar"
"Bantuin apa? memangnya mas mo ngapain sampai harus Ze bantuin?"
"Tidak ada"
"Mas gak jelas ih. Udah awas dulu Ze mau jemur pakaian dal*m yang tadi sempat Ze cuci" Zeva melepaskan pelukan suaminya.
"Zee mas masih mau dipeluk ini"
Ah ada-ada saja baby besar Zeva mulai merengek meminta hal yang aneh "Udah ya" pinta Zeva sesaat dia telah memeluk suaminya "Ze mau menjemur cucian Ze dulu" sambungnya lalu pergi turun.
Ada rasa bahagia di hati Kahfi. Beginilah Zeva. Jika malam hari ia sedih makan selanjutnya ia akan melupakan kesedihannya itu.
Zeva adalah tipe orang yang pandai menyembunyikan kesedihannya. Wanita yang tak banyak maunya, tak ingin mengeluh namun selalu sedih jika dirinya tak kunjung hamil.
Masalahnya pada rumah tangga mereka adalah kehadiran seorang buah hati yang belum Allah anugrahkan.
__ADS_1
Ikhtiar, tawakal tak luput dari berjuta doa senantiasa di gawungkan agar suatu saat dapat di ijabah oleh sang pemilik kehidupan.