
Ada beberapa hal yang tak dapat ditentukan oleh manusia sekalipun ia sangat hebat, salah satunya adalah takdir. Jika Allah telah menentukan takdir seseorang maka tidak satupun yang mampu dan berhak merubahnya
Hampir dua minggu sudah dilalui hari-hari berjalan lancar meski masih ada jejak kesedihan yang masih tertinggal. Bahtera rumah tangga yang di lalui Zeva dan Kahfi pun berjalan dengan baik.
Layaknya sepasang kekasih yang masih merajut asa dalam nama berpacaran, namun pacaran halal. Sering menghabiskan waktu bersama membuat keduanya memahami diri masing-masing. Ternyata lumayan banyak kesamaan antara keduanya. Jadi tidak terlalu sulit untuk mendekatkan diri dan beradaptasi.
Bunda dan Papa Malik juga sudah kembali ke Singapura dua hari sesudah tahlilan usai. Begitu pula Ahkam dan Nur juga sudah kembali ke rumah mereka.
Hubungan Zeva dan Kahfi harmonis-harmonis saja. Sejauh ini belum ada masalah diantara keduanya. Dan semoga seterusnya seperti itu.
Saat ini Zeva tengah berada di rumah sakit. Lebih tepatnya Zeva tengah duduk di taman rumah sakit menunggu Kahfi yang masih melakukan operasi cangkok jantung pada pasiennya.
Angin berhembus lumayan kencang menerpa dedaunan dan hijab Zeva melambai-lambai dikarenakan tiupan angin. Zeva duduk ditaman rumah sakit dengan novel yang setia menemaninya. Kahfi sudah menyuruhnya untuk menunggu di ruangan miliknya namun Zeva menolak karena alasan bau obat yang menyengat.
Yasudah tak mau memaksa Zeva. Kahfi pun mengizinkan Zeva menunggu di taman rumah sakit. Tak lupa ia memberikan satu buah novel yang akan menemani Zeva agar istrinya itu tidak bosan.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 tanpa terasa sudah lama Zeva menunggu Kahfi. Namun ia sama sekali tak menyadari sudah seberapa lamanya ia menunggu sebab novel yang ia baca mampu mengalihkan perhatiannya. Ia terus terlarut mengikuti alur dari isi novel yang ia baca.
"Assalammualaikum Ze" ujar pemuda yang masih mengenakan almameter rumah sakit sambil menghampiri Zeva.
Zeva tak menjawab salam itu bahkan ia masih dengan asiknya membalik setiap novel untuk ia baca.
"Assalammualaikum Ze" ucar pemuda itu lagi. Namun berbeda dengan yang kali ini, kali ini pemuda itu merebut novel yang berada di tangan Zeva.
"Eeeehh" keluh Zeva saat novel yang ia pegang diambil alih. Zeva langsung mengangkat kepalanya dan melihat siapa orang yang sudah memgambil novel yang tengah ia baca.
"Yah dokter, itu kembaliin dong nangung tinggal dikit lagi tamat" keluh Zeva dengan nada memelas.
"Ze kamu ini. Keasikan bacanya sampe lupa menjawab salam ku"
"Loh memangnya tadi Dokter mengucapkan salam?" tanya Zeva bingung.
Entah apa yang ada di pikiran Zeva. Apakah novel itu sangat ia sukai hingga terlalu asik membacanya dan bahkan suaminya sendiri mengucapkan salam tidak ia sadari.
"Tuh kan. Ternyata aku salah memberimu novel ini Ze. Sampai-sampai salamku pun tidak kamu sadari"
__ADS_1
"Ya maaf. Habisnya ceritanya seru. Ze jadi baper"
"Kamu ini seperti remaja SMP saja. Kamu sudah sholat Ashar Ze?"
"Memangnya ini jam berapa?" Sambil melihat jam tangannya Zeva berucap "Astaufirullah Ze kebablasan, sampai lupa kalau sudah adzan dari tadi" sambungnya ketika melihat jam ditangannya.
"Yaampun sampai segitunya kamu baca novel ini. Yasudah ayo sholat dulu di mushola rumah sakit" Ajak Kahfi.
Keduanya berjalan menuju ke mushola rumah sakit bersama-sama.
"Dokter sendiri sudah sholat?"
"Sudah Ze. Tadi tidak lama selesai melakukan operasi langsung adzan dan aku langsung ke mushola. Aku fikir kamu berada dimushola juga untuk sholat tapi ternyata tidak. Pantas saja aku mencarimu tidak ada Ze"
"Ze lupa. Bahkan saking serunya sampai adzanpun tidak kedengaran. Heeheh yasudah Ze masuk dulu ya. Dokter tunggu sebentar" ucap Zeva dan dibalas dengan anggukan oleh Kahfi.
Zeva melangkah masuk kedalam mushola dan langsung pergi menuju ketempat wudhu untuk berwudhu. Tak lupa tadi ia menitipkan tas miliknya kepada Kahfi.
10menit kemudian Zeva sudah selesai menjalankan ibadah sholat ashar. Ia keluar dari dalam mushola dan duduk diteras mushola tepat disamping Kahfi yang menunggunya.
"Tidak Ze. Tadi belum sempat keruangan jadi yaudah dipakai aja. Lagian ini masih area rumah sakit kan" ujar Kahfi.
"Sudah selesai" ucap Zeva sambil berdiri dan menadahkan kedua tangannya meminta tas miliknya yang dipegang oleh Kahfi.
"Ini" mengulurkan tas Zeva "Kita pulang ke rumah Umi, kamu mau Ze?" tanya Kahfi.
"Kerumah Umi? iya Ze mau dong kan Ze belum pernah diajakin pulang ke rumah Umi. Lagian tadi juga Ze mau temui Umi disini malah Umi nya gak masuk"
"Yasudah ayo Ze" Kahfi melangkah sambil menggandeng tangan Zeva "Tadi kamu ada ketemu kak Ahkam Ze?" tanya Kahfi lagi.
"Emm enggak Dok. Mungkin Kakak sibuk ya. Tadi Ze sempat lewat di ruangannya dan Ze lihat ruangannya kosong"
"Oo yaudah ini pakai helm nya" Kahfi memasangkan helm kepada Zeva ketika sudah sampai di area parkir "Ayo Ze" ucapnya lagi setelah helm terpasang di kepalanya dan Zeva.
Zeva naik dan duduk dibelakang Kahfi. Semenjak menikah bersama Kahfi ia kembali merasakan rasanya menaiki motor sport. Dulu sewaktu Ahkam kuliah di Indonesia Zeva sering diajakin naik motor sport, tapi semenjak Ahkam kembali ke Singapura mereka sudah tidak pernah lagi naik motor bersama.
__ADS_1
Keduanya berlalu meninggalkan rumah sakit membelah jalanan ibu kota menuju ke rumah Umi. Zeva bahagia ahirnya dia bisa ke rumah Uminya Kahfi.
...
Malam harinya selesai sholat isya Zeva membantu Umi yang tengah berada didapur bersama Art yang sedang menyiapkan makan malam.
Tadi sesampainya dirumah Kahfi, Zeva disambut dengan baik oleh Umi. Kebetulan tadi sore hanya Umi yang berada di rumah sedangkan Abi dan Aldo belum pulang dari kantor.
Makan malam telah tersaji rapi di atas meja makan. Semua sudah duduk di kursi masing-masing. Abi, Umi, Aldo, Kahfi dan Zeva. Umi mengambilkan nasi untuk Abi, Aldo dan Kahfi. Sedangkan Zeva mengisi lauk disetiap piring.
"Abi ini masakan mantu kita lo" ucap Umi.
"Umi gak salah Kahfi milih istri. Masakan ini gak kalah enak dari masakan Umi" ujar Abi dengan tetap menikmati makanan miliknya.
"Adek ipar siapa dulu dong? Aldo gitu lo" ujar Aldo.
"Apa hubungannya Do?" tanya Umi.
"Ada dong Mi. Zeva itu adiknya Ahkam dan Ahkam adalah sahabat Aldo. Jadi gak salah kan Aldo memiliki sahabat yang punya adek kayak Zeva. Emm secara gak langsung Aldo juga ikut bagian dalam mempertemukan Kahfi dan Zeva"
"Kamu ini Do. Biar bagaimana pun jika audah jodoh ya pasti ketemu. Tanpa kamu juga jika mereka sudah ditakdirkan maka akan tetap bertemu" tukas Abi dengan nada mengejek.
"Setidaknya Aldo juga berperan penting Bi. Yakan Fi?"
"Iya-iya, Kak Aldo terima kasih sudah menjadi perantara kita. Hamba patuh kepada perkataan paduka raja" ujar Kahfi.
"Jangan mengejek Fi" ujar Aldo.
Mereka terus saja bercanda dengan sesekali saling melempar ejekan dan tidak ingin kalah. Sifat Aldo sangat hangat. dulu Zeva sempat berfikir jika Aldo adalah laki-laki yang galak namun nyatanya tidak.
.
.
.
__ADS_1
.