
Sesingkat apapun ceritanya, merelakan dan melupakan masih bukanlah suatu perihal yang mudah.
Malam ini acara tahlilan telah usai dilakukan. Semua keluarga dan juga tetangga sudah pulang kerumah masing-masing. Abi, Umi dan Aldo juga pamit pulang setelah acara tahlilan selesai.
Semua kembali kekesibukan masing-masing. Malam ini cuaca lumayan dingin. Zeva tengah duduk di taman belakang, menikmati pemandangan malam. Ia mencerna dan mencoba memahami takdir hidupnya.
Dua hal dalam hidupnya terjadi secara bersamaan dihari yang sama. Ia bingung harus kah bahagia atau malah bersedih? kedua nya seolah seperti dua sisi koin yang saling mendampingi.
"Ze ayo masuk udaranya semakin dingin disini" ujar Lena
"Duluan saja Le, aku masih mau disini" dengan tetap menatap langit yang bertabur bintang Zeva berucap.
"Yaudah kita masuk duluan ya. Udaranya semakin dingin saja. Jika berlama-lama disini bisa-bisa kita sakit kenak angin malam" ujar Klara.
"Emm masuklah duluan. Kalian tidur di kamar ku saja. Jika ingin ganti baju pakailah, seperti biasa jangan sungkan ya. Aku masih mau disini" Ujar Zeva menatap kedua sahabatnya.
"Ze kita tidur di kamar tamu saja. Masa iya tidur dikamar kamu? lalu dokter Kahfi mau di kemanain coba? masa iya kita tidurnya berempat kan gak lucu. Emm apa kamu mau kita jagain pas lagi anu-anu, ini kan harusnya malam pertama kalian" Ucap Klara dengan nada sedikit genit dan mengejek.
"Hahah Ze apa kamu mau? ah bisa-bisa mata ku yang suci ini ternodai gara-gara jagain malam pertama kalian" ujar Lena menambahi sambi tertawa.
"Jangan ngada-ngada kalian" Zeva berucap sambil mencubit gemas kedua sahabatnya itu.
Lena dan Klara tersenyum setidaknya candaan yang tidak lucu ini mampu membuat garis lengkung terbentuk indah di bibir Zeva.
"Yaudah Ze. Tapi kita dua tetap minjem baju kamu loh ya. Cuma tidurnya aja yang gak di kamar kamu" ucap Klara.
Zeva hanya mengangguk menanggapi ucapan Klara. Kini kedua sahabatnya telah masuk dan meninggalkan dirinya sendiri.
"Anu-anu? dasar Klara ada-ada saja" Zeva kembali tersenyum sambil menggelengkan pelan kepalanya.
Kembali menatapi langit hitam bertabur bintang. Malam ini sangat sunyi hanya suara jangkrik yang terdengar. Udaranya sangat dingin menusuk ke tulang.
"Ze" suara itu membuyarkan lamunan Zeva. Mengalihkan pandangan kearah sumber suara dan didapatinya seorang pemuda yang kini telah menjadi suaminya.
"Dok" sejenak keduanya terdiam dan hanya menatap satu sama lain "Duduklah" Zeva berucap sambil memandang kearah sampingnya.
Kahfi menurut dengan perlahan ia melangkah dan duduk disamping Zeva. Suasana malam ini sangat tenang. Ditambah cahaya lampu yang sedikit meremang sebab Zeva duduk di taman belakang rumah. Tempat dimana almarhumah neneknya sering menghabiskan waktu jika merasa bosan.
"Disini dingin Ze. Apa kamu gak kedinginan?" ucap Kahfi memecah suasana hening.
"Sedikit. Walau dingin disini rasanya tenang" Zeva berujar dengan tetap menatap langit.
"Masih sedih?" Kahfi mengalihkan pandangan nya menatap Zeva. Tatapan keduanya bertemu dan dengan segera Kahfi kembali menatap langit hitam.
"jika iya menangislah. Jika menangis membuatmu merasa lebih tenang maka lakukan lah Ze" ujar Kahfi dengan tetap menatap langit.
"Jujur Ze bingung harus bahagia atau bersedih. Jika bahagia utuk alasan apa dan jika bersedih juga karena apa? Ze mendapatkan keduanya secara bersamaan. Seolah semuanya saling berdampingan menghampiri Ze" ujar Zeva.
__ADS_1
Zeva mengusap-usap kedua lenganyya sendiri. Udara dingin semakin menusuk tulang.
"Dingin? kemarilah" ujar Kahfi sambil melebarkan sebelah tangannya. Zeva menatap Kahfi dengan masih terdiam.
"Kemarilah" Kahfi menarik pelan tubuh Zeva agar lebih dekat dengannya.
"Kamu harus bahagia Ze. Sebab Allah maha baik, ia hadirkan kesedihan dengan cara kehilangan lalu Allah beri kebahagiaan dengan cara menghadirkan orang baru sebagai pelengkap hidupmu kelak" Kahfi berucap sambil merengkuh tubuh Zeva.
"Tapi dok sesingkat apapun kenangannya, melupakan dan mengikhlaskan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan saat ini" Zeva membuka kedua tangannya dan merengkuh pinggang Kahfi.
Sejenak Kahfi bahagia. Pelukan darinya tidak ditolak oleh Zeva bahkan Zeva membals pelukan itu.
"Lakukan dengan perlahan agar tidak menyakitkan. Merelakan bukan berarti kita juga harus melupakan secara keseluruhan, kita masih bisa mengenang semuanya namun kita harus tetap melangkah maju agar tidak terlalu lama terpuruk" ungkap Kahfi.
"Bismillah walau sulit, namun semua hanya akan menjadi kenangan. Cepat atau lambat setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada sang pemilik kehidupan" ujar Kahfi lagi.
Sedari tadi Zeva hanya terdiam dalam pelukan Kahfi. Rasa nyaman ia dapatkan. Bahkan sebelumnya diantara keduanya tidak ada yang menyatakan cinta atau perasaan masing-masing. Namun entah kenapa tanpa penolakan dan rasa canggung Zeva menerima bahkan membalas pelukan Kahfi.
Sedari tadi Kahfi berbicara namun tidak mendapatkan respon dari Zeva. Dengan perlahan Kahfi memegang kedua pundak Zeva. Sedikit menggeser tubuh Zeva agar dapat melihat wajah Zeva.
"Kamu tidak tidur lalu kenapa diam saja Ze?" Tanya Kahfi ketika melihat Zeva.
Tatapan keduanya bertemu "Entahlah Dok, berada dekat dengan mu rasanya nyaman. Tadinya rasa tak percaya diri muncul namun sejenak mendengar penjelasan mu, Ze merasa lebih tenang lagi" ujar Zeva.
"Kamu ini" Kahfi mencubit gemas pipi Zeva dengan kedua tangannya "Kemarilah" Kahfi kembali merengkuh tubuh Zeva kedalam pelukannya.
"Dok"
"Suatu hati nanti, Dokter tidak akan meninggalkan Ze kan?" Zeva melepas pelukannya dan menatap wajah Kahfi.
"Kenapa bertanya begitu Ze"
"Ze hanya takut. Ze takut kembali kecewa disaat cinta telah hadir dihati namun kembali ditinggalkan seperti dulu lagi" ucap Zeva dengan jujur, sambil menundukkan kepalanya.
"Aku akan berusaha menghadirkan cinta diantara kita berdua. Dan aku juga akan berusaha untuk tidak meninggalkan mu Ze. Tidak hanya dengan kata-kata namun aku hanya akan membuktikan melalui tindakan Ze" ucap Kahfi meyakin kan Zeva.
"Kita akan jalani rumah tangga ini bersama. Maka berusahalah untuk mempercayai satu sama lain. Kita saling berkomitmen satu sama lain. Bismillah sebab segala sesuatu yang di mulai dengan bismilah tidak akan berhenti ditengah-tengah"
Zeva hanya diam mendengar penjelasan Kahfi. Benar adanya cinta memang belum hadir dihatinya. Namun bukankah cinta tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata namun yang terpenting adalah tindakan seseorang.
"Ayo masuk Ze. Sudah hampir pukul 11malam, malam semakin larut dan cuaca disini juga semakin dingin" ujar Kahfi.
Keduanya bangkit dan berlalu masuk kedalam rumah. Pembicaraan malam antara kedua makhluk Allah itu tak luput dari perhatian Bunda dan Papa Malik.
Tadi sehabis dari dapur Bunda dan Papa Malik tak sengaja melihat Zeva tengah duduk ditaman belakang dari jendela dekat dapur. Niatnya ingin menghampiri Zeva namun langkahnya terhenti ketika melihat Kahfi muncul menghampiri Zeva.
Dengan melihat interaksi keduanya dari jauh Bunda merasa senang, setidaknya Kahfi hadir sebagai sosok yang mampu memahami kesedihan dan keadaan Zeva.
__ADS_1
"Semoga Kahfi adalah laki-laki dan sosok imam yang baik buat Ze ya Mas" ujar Bunda menatap Papa Malik dengan senyuman.
"Kita hanya mampu mendoakan saja sayang" ucap Papa Malik.
Dikamar Zeva telah membersihkan tubuhnya dan akan tidur. Zeva mengenakan baju tidur berlengan panjang dengan hijab instan yang biasanya sering ia gunakan untuk tifur dimalam hari.
"Kenapa masih pakai hija Ze" tanya Kahfi saat melihat Zeva.
"Kebiasaan Ze begini dok"
"Kitakan suami istri dan sudah muhrim jadi buka saja hijabnya jika hanya ada kita berdua" ucap Kahfi memandang Zeva.
Seketika Zeva terdiam mengikat perkataan Klara mengenai malam ini. Malam ini apakah mereka akan anu-anu seperti yang dikatakan kedua sahabatnya.
"Emmm, begini saja ya dok. Ze masih belum terbiasa tanpa hijab" ucap Zeva.
"Yasudah senyaman mu saja" senyuman terbit di bibir Kahfi.
Zeva mulai merebahkan tubuhnya disisi kiri tempat tidur.
"Dok, apa dokter tidak akan tidur" tanya Zeva saat melihat Kahfi masih duduk di soffa kamarnya.
"Iya Ze sebentar"
"Apa dokter marah?"
"Emm marah kenapa Ze?"
"Itu apa emm itu, emm baiklah Ze akan buka hijab ini sekarang" ucap Zeva. Tangannya sudah memegang hijab itu dan akan ia buka.
"Tidak usah jika itu membuatmu tidak nyaman, ayo tidurlah" Cegah Kahfi.
Zeva masih menatap Kahfi "Aku tidak marah Ze" ujar Kahfi dan memeluk gemas Zeva.
"Baiklah"
Keduanya pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan mulai larut dalam dunia mimpi masing-masing.
Laki-laki sejati tidak akan marah jika hanya ada masalah kecil. Bahkan masalah itu tidak digubrisnya.
.
.
.
Follow me:')
__ADS_1
ig:pmhh03
fb:Patmah