
Hubungan darah hanyalah sebuah alasan dari identitas pengenal dalam suatu hubungan. Namun rasa sayang seseorang kepada orang lain tidak perlu memiliki alasan apa pun. Meski ada hubungan darah atau tidak, jika sudah sayang maka tetaplah sayang
Ruang operasi tampak tertutup rapat. Semua keluarga Zeva tengah menunggu diluar ruangan, perasaan kalut, cemas dan was-was berbaur menjadi satu.
Didalam ruang operasi, alat-alat yang dibutuhkan telah tampak berjejer rapi pada meja. Lampu di ruangan itu membuat keadaan seolah mencekam. Bukanlah hal yang mudah sekali salah mengambil tindakan nyawa pasien menjadi taruhan.
Beberapa suster yang ikut mengambil alih tugas masing-masing. Selang infis nampak tergantung apik. Seragam hijau menambah suasana menjadi tegang.
Sedangkan diluar ruangan tampak kedua sahabat Zeva tengah berjalan mendekat ke arah dimana semua menunggu.
"Assalammualaikum" ucapan salam dari kedua gadis cantik berhijab dengan ciri khas pada wajah masing-masing.
"Waalaikumussalam" semua menoleh kesumber suara orang yang mengucapkan salam.
Klara dan Lena buru-mendekat dan menyalim para tetua di keluarga Zeva. "Bunda juga disini?" tanya Lena.
"Iya nak. Bunda baru sampai semalam"
"Bun yang sabar ya. Zeva kuat kok" Klara nampak iba melihat kondisi mata Bunda Laura yang tampak sembab.
"Iya nak" Dengan sayang Lena dan Klara berhambur memeluk Bunda Zeva.
"Nek. Gimana kabar nenek? terahir kata Zeva nenek sedang melakukan perawatan bukan?" Setelah melepas pelukannya Lena menghampiri Ny Karina yang tengah duduk di kursi rumah sakit.
"Iya Le, Alhamdulillah mulai membaik" Ny Karina memegang lembut pipi Lena "Kita berdoa ya buat Ze, dia itu gadis yang kuat bukan?" ucap Ny Karina.
"Emm iya nek" Klara juga mendekat dan dengan sayang Ny Karina memeluk kedua sahabat Zeva. Jangan ditanya hubungan mereka. Mereka sudah seperti saudara kandung. Saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain.
Lena dan Klara juga bercengkrama dengan Papa Malik, Tn Mahendra dan Ny Veronika.
"Mbak Nur kan?" Tanya Lena saat melihat wanita berhijab biru langit duduk tak jauh dari Bunda.
"Iya" seulas senyum manis terbit diwajah cantiknya.
"Lena dan Klara, Mbak" ucar Klara dengan mengulurkan tangannya.
"Kemarilah" Nur memeluk bergantian Klara dan Lena.
"Mbak Nur hamil?" Tanya gadis cantik berhijab hitam itu dan hanya dibalas anggukan serta senyuman dari Nur. Klara memegamg perut Nur dan mengusapnya pelan.
"Kak Ahkam dimana Mbak? Kok gak disini?" Tanya Lena.
"Dia juga lagi tugas, ada operasi yang harus dia tangani"
__ADS_1
"Loh jadi yang di dalam bukan Kak Ahkam?" kaget Klara. Dia kira yang menangani Zeva adalah Ahkam.
Setelah perbincangan itu, kini suasana menjadi hening kembali. Semua diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat. Lampu operasi sudah padam menandakan operasi sudah selesai. Semua kembali berjejer di depan pintu menanti dokter keluar dengan hasil operasi.
krekkk.....
Pintu terbuka nampak Kahfi keluar dari ruangan. Dengan melepaskan masker pada wajahnya dia berjalan mendekati Tn Mahendra yang berdiri paling dekat dengan pintu.
"Dok bagaimana operasi nya? lancar?" Tn Ahkam langsung menyerobot untuk melontarkan pertanyaan.
"Alhamdulillah, operasi lancar" ucap Kahfi, seketika semua mengucapkan hamdalah setelah mendengar pernyataan dokter.
"Nanti pasien akan dipindah ke ruang rawat. Masalah kapan akan sadar kita lihat nanti. Masih ada kemungkinan untuk pasien mengalami koma kembali. Tapi kita serahkan semuanya kepada sang pencipta"
Lega? itu pasti. Walaupun ada kecemasan setelah mendengar ucapan dokter yang berikutnya namun setidaknya mereka masih punya harapan untuk melihat Zeva sadar kembali.
Setelah berbincang sebentar, Kahfi meninggalkan semua keluarga Zeva. Pemuda itu kembali ke ruangannya untuk membersihkan diri dan berkemas.
..POV Kahfi..
"Ya Allah bagaimanapun aku akan berusaha membuatnya pulih kembali. Secerca harapan menjadi landasan agar tetap berusaha. Gadis itu? ya dia. Dia yang awalnya hanya bisa kupandangi dari kejauhan dan bahkan tak pernah berfikir bisa menyetuhnya, namun kali ini mampu ku sentuh. Namun sayang ia tak berdaya, hanya wajah pucat tanpa harapan hidup yang terlihat"
.........
Rambut panjang nan hitam nampak terurai tanpa pengikat ataupun hijab pembungkusnya.
"Kata dokter pasien baru bisa ditemui setelah 3atau 4jam kedepan. Itu pun pengunjung tidak di perbolehkan masuk beramai-ramai" begitulah pesan suster wanita setelah keluar dari ruangan Zeva.
"Sus, kapan pasien akan sadar?" Papa Malik berucap.
"Kita lihat kedepan Pak. Jika pasien tidak mengalami koma makan 3hingga 4jam kedepan pasien akan sadar dari pengaruh bius"
"Baiklah pak, bu saya permisi dulu" seulas senyum terbit di bibir suster itu lalu pergi meninggalkan semua orang.
"Ma! pergilah makan siang dulu. Biar aku yang menunggu di sini" ujar Tn Mahendra.
"Aku di sini saja! aku akan menunggu cucu ku sadar" tilak Ny Karina.
"Ini sudah waktunya makan siang, Mama pergilah makan siang bersama yang lain. Biar aku yang menunggu di sini. Jangan sampai Mama dan yang lainnya sakit. Jika sakit lalu siapa yang akan menjaga Ze nantinya?"
Dengan segala bujukan ahirnya Ny Karina mau pergi untuk makan siang. Tak hanya Ny Karina yang lainnya juga ikut pergi makan siang di kantin rumah sakit.
__ADS_1
Klara, Lena, Nur, Bunda, Ny Karina, Veronika dan Papa Malik sudah berada di kantin rumah sakit. Semua memesan makanan sesuai kebutuhan.
Selera atau tidak mereka harus tetap makan, agar tetap sehat dan nantinya bisa menjaga dan merawat Zeva.
"Sayang kalian tunggulah disini. Aku akan mengantar minuman dan juga makan siang untuk Tn Mahendra" ujar Papa Malik. Ia telah menghabiskan pesananya tanpa sisa.
Bukannya rakus tapi sayang kan jika makanan itu tersisa dan terbuang sia-sia. Itu akan mubazir bukan?
"Iya baiklah" jawab Bunda sembari memegang lembut tangan Papa Malik.
Papa Malik pergi meninggalkan kantin rumah sakit dengan menenteng satu porsi makan siang dan air mineral. Tak lupa dua cup kopi ia bawa agar dapat mengilangkan rasa kantuk dan jenuh selama menunggu.
"Assalammualaikum. Ini makanlah kau juga membutuhkan tenaga untuk bisa menjaga Ze" ucap Papa Malik sambil menyerahkan makanan yang ia bawa.
"Terima kasih, tapi kau tidak perlu repot"
"Sudah makan lah" Papa Malik pun duduk disamping Tn Mahendra.
Dengan tenang Tn Mahendra menerima makanan yang di bawakan untuknya "Kenapa kau begitu peduli padaku? dan apa kau juga peduli kepada putriku" disela makannya Tn Mahendra bertanya.
"Aku peduli padamu karna rasa kemanusiaan dan kau tanya apa aku leduli pada putrimu? hah" decak Papa Malik "Jangan kautanyakan itu dia juga putriku, meskipun bukan dari darah dagingku" lanjut Papa Malik.
"Sebegitu sayang nya kau kepadanya?"
"Rasa sayang seseorang kepada orang lain tidak dapat di ukur hanya karena hubungan darah atau bukan. Aku tak harus memiliki alasan untuk menyayanginya. Lagi pula dia gadis manis, mungil dan menggemaskan waktu keci. Siapa pun yang melihatnya pasti akan menyayanginya" Jelas Papa Malik.
"Tapi kau tak pernah bertemu dia waktu kecil?"
"Aku memang tak pernah bertemu dan merawatnya sewaktu dia masih kecil, tapi aku sering berhubungan dengan gadis kecil itu melalui internet. Laura istriku juga selalu cerita mengenai gadis kecil itu. Dan tanpa terasa kini dia sudah sangat besar. Namun sayang saat ini dia tengah berjuang demi kehidupan selanjutnya"
Wajah Papa Malik menjadi sendu, ketika bercerita. Ia ingat gadis mungil kecil yang pertama kali setelah ia menikah dengan Bubda Laura memangilnya dengan sebutan 'papa malik'.
Dia tidak hanya memiliki satu putri namun Papa Malik memiliki dua orang putri dan satu orang putra. Satu putri kandung namun tak membedakan kedua anak sambu nya itu.
Tanpa disadari perbincangan kedua lelaki yang telah memasuki usia paruh baya itu di dengar oleh Bubnda dan Ny Karina.
Ada rasa syukur dan kagum dihati Ny Karina. Ternyata ada banyak orang yang menyayangi cucunya. Begitu pula dengan Bunda.
.
.
.
__ADS_1
.
Next...